
Kedua insan itu. Telah selesai menjalani ibadahnya. Dengan merapihkan kembali bekasnya. Dan setelahnya duduk berdua di sofa kamar.
Adelia merbahkan kepalanya di bahu Rasya. Sedangkan Rasya terdiam, sedang tengah berpikir. Membuat Adelia merasa heran dan bingung. "Mas, ada masalah?" tanya Adelia. Karena merasa Rasya terdiam sedari tadi.
Rasya tersenyum, "Tidak Sayang," lalu mengecup kening Adelia. Padahal pikiran Rasya sedang mencari cara agar terhindar bertemu dengan Ariyanti di rumahnya sendiri.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rasya.
Saat melihat Adelia berdiri dan seperti akan keluar kamar.
Adelia tersenyum, "Aku mau ke dapur, buat sarapan untuk kita, Mas" ucapnya.
"Aku ikut," Rasya langsung mendekati Adelia dan membukakan handle pintu. Adelia tersenyum lalu menggandeng tangan Rasya seraya keluar dari kamar.
Setiap ruangan terlihat sepi. Sepertinya belum ada yang turun ke lantai bawah. Adelia dan Rasya langsung saja bergegas ke arah dapur.
"Mas, mau sarapan apa?" tanya Adelia saat sudah berada di area dapur.
"Apa saja deh, Aku akan memakannya asal kamu yang buat," sahut Rasya dengan tersenyum.
"Ya sudah. Tapi Mas, siap-siap dulu sana. Bukannya, Mas harus berangkat kerja?!"
"Hari ini hari minggu, Sayang ... jadi aku libur. Dan aku akan seharian bersama kamu,"
"Ya Ampun maaf Mas. Aku sampai lupa ...," ujar Adelia dengan menyengir.
Rasya menatap dalam manik mata Adelia. Ia tersenyum lalu mengecup bibir Adelia dengan lama.
"Morning kiss," ujar Rasya. Sebelum Adelia akan memberikan protesnya.
Adelia menggeleng-gelengkan kepala, merasa risih, "Ish ... ini di dapur Mas. Bagaimana kalau ada yang lihat, malu tahu ...," protes Adelia.
"Enggak ada kok. Sudah. Bukannya kamu mau buat sarapan?, aku bantu ya??!" Rasya menawarkan bantuan.
Adelia berpikir terlebih dahulu. "Nasi goreng saja ya ... Mas, mau?" tanya Adelia terlebih dahulu. Sehingga Rasya mengangguk.
"Aku mau. Apalagi kasih rasa pedas pada Nasi gorengnya," pinta Rasya.
"Baiklah. Lebih baik Mas, duduk saja"
Rasya pun menurut, ia duduk di kursi meja makan dengan memperhatikan gerak-gerik istrinya. Tak lama datang Lia, dan Rara secara bersamaan.
__ADS_1
"Sya ... ngapain kamu di dapur?" tanya Lia yang melihat Rasya terduduk di kursi meja makan.
"Aku, lagi nemenin istriku," sahut Rasya.
Seketika Lia menatap ke arah Adelia yang sedang mencuci bahan masakannya di Washtafel. Lia tersenyum hangat. Merasa senang mempunyai menantu seperti Adelia yang serba bisa.
"Tante ... kalau gitu, saya ke ruang Laundry saja ya," Rara berniat akan mencuci pakaian.
"Tapi Ra, beneran kamu mau cuci pakaian kita?" tanya Lia memastikan.
Rara tersenyum, "Tentu Tante. Rara ingin membalas kebaikan tante serta keluarga tante yang sudah menerima saya tinggal di sini, dan bahkan memperlakukan saya dengan baik," Rara sangat berterima kasih kepada keluarga Rasya yang memberikan tempat tinggal dan memperlakukan dirinya dengan baik.
Rasya menatap obrolan antara Lia dan Rara, dan akhirnya ia membuka suara, "Sama-sama Ra ... bagaimana mulai hari ini kamu aku gajih, kerjaanmu hanya cuci gosok, dan kalau rumah terlihat berantakan kamu rapihkan juga bersihkan, bagaimana?"
Rara tersenyum dengan berbinar, tentu ia senang mendapat pekerjaan serta penghasilan untuk sehari-harinya, jadi tidak perlu menerima secara cuma-cuma yang selalu Rasya beri, setidaknya ia mengeluarkan tenaga dulu baru mempunyai penghasilan.
"Saya mau. Terima kasih sekali,"
"Sudah. Ra ... kamu tidak perlu seperti itu. Anggap saja kami keluargamu," Lia menimpali.
Sebenarnya Rasya tidak enak. Jika Rara melakukan pekerjaan rumah kalau tanpa gajih. Sehingga Rasya menawarkan seperti itu kepada Rara.
Wangi menyeruak dari aroma masakan yang Adelia buat. Mengalihkan perhatian Rara, Lia, dan Rasya. Ketiganya memandang Adelia yang sedang khusyu memasak.
"Adel ... buat nasi goreng Ma ...," sahut Adelia dengan tersenyum. Tangannya terus mengaduk masakan yang berada di dalam wajan.
"Sepertinya enak," puji Lia.
Adelia hanya tersenyum. Kemudian setelah bumbu merasa pas. Adelia mematikan kompornya dan menaruh nasi goreng itu di wadah besar khusus nasi. Kini Adelia ingin menggoreng telur. Hingga selang beberapa menit. Semua hasil masakan Adelia sudah terhidang. Dengan di bantu Lia, menata piring di atas meja, sesuai penghuni rumah.
Kini terlihat Serly, datang. Dan di susul juga Hadi. Mereka langsung terduduk di kursi khusus mereka. Lia menatap ke arah depan, yang belum terlihat Ariyanti turun.
"Ser ... coba kamu panggilkan Ariyanti! kita sarapan bareng," titah Lia kepada Serly. Serly menatap Lia dengan tidak suka.
"Kak Ariyanti ada di sini?" tanya Serly dengan kerutan dalam pada dahinya.
"Iya. Ayo kamu panggil ke kamar tamu di atas!"
"Tidak perlu Tante. Yanti sudah ada di sini," ujar Ariyanti seraya ikut bergabung duduk di sebelah Serly.
Sementara Adelia terdiam. Ia merasakan tidak suka jika bertemu dengan Ariyanti. Pertama bertemu, saat itu yang kebetulan syukuran empat bulan kehamilan. Adelia sudah merasa cemburu.
__ADS_1
Rasya menarik kursi agar Adelia duduk. Adelia pun menurut. Ia duduk dengan rasa tidak nyaman. Sedangkan Rasya melenggang ke arah kitchenset. Ia ternyata membuatkan susu untuk Adelia.
Rara datang dari arah ruang Laundry, dan ikut bergabung untuk melaksanakan sarapan bersama.
"Ayo, Nak kita sarapan!" ujar Lia kepada Adelia. Adelia menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.
Rasya sudah duduk di sebelah Adelia dengan menaruh gelas yang berisikan susu, di depan Adelia.
"Ayo Sayang ... sarapan dulu, setelah itu jangan lupa minum susunya," tutur Rasya.
"Terima kasih, Mas" Adelia seraya tersenyum. Lalu ia mengisi piring Rasya, setelah yang lain selesai.
"Sayang, kita sepiring berdua saja ya. Aku takut nasinya gak habis, ini terlalu banyak" ucap Rasya. Entah mengapa dirinya tiba-tiba ingin makan sepiring berdua.
"Enggak ah, Mas ...," sahut Adelia menolak.
Lia menatap heran ke arah Rasya, dan merasa Rasya sedang menginginkannya.
"Turuti saja Del ...," titah Lia.
"Tuh, Mama saja nyuruh. Ayo, kita makan!" Adelia pun akhirnya pasrah. Ia makan sepiring berdua dengan Rasya.
Mereka pun akhirnya makan dengan hening. Tidak ada pembicaraan di meja makan pagi ini. Tanpa ada yang menyadari. Sedari tadi Adelia dan Rasya terus di perhatikan oleh Ariyanti. Ariyanti menatap tidak suka kepada Adelia yang mendapat perlakuan manis dari Rasya.
"Lihat saja, aku akan membuatmu enyah dari rumah ini. Wanita perebut!" batin Ariyanti. Ia sangat murka dengan pernikahan Rasya dan Adelia yang tidak ia ketahui. Bahkan, Ariyanti tahu setelah mendapat undangan syukuran empat bulan kehamilan Adelia. Jika saja pernikahan itu Ariyanti tahu, tentu Ariyanti tidak akan diam. Ia akan mencari cara untuk menggagalkannya.
"Ma ... Pa ... aku dan istriku duluan ya," ucap Rasya setelah makanan yang ia santap habis.
"Sebentar Mas, aku belum meminum susunya," Adelia seraya meraih segelas susu yang Rasya tadi buat. Lalu meneguknya hingga habis.
"Ajak jalan-jalan istrimu itu, Sya ... mumpung kamu hari ini libur," celetuk Hadi. Membuat Rasya tersenyum kepadanya.
"Tentu, Pah ... Ayo sayang!" ucap Rasya. Lalu menggenggam tangan Adelia.
"Semuanya, Adel pamit ...," Adelia berpamitan. Dan dapat anggukan dari semua, kecuali Ariyanti ia hanya mengulas senyum tipis kepada Adelia.
...***...
...Bersambung....
Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote-nya Readers!!
__ADS_1
Hadiah Poinnya juga!
Terima kasih 😊