
Adelia yang sedari tadi terdiam sepulangnya dari kediaman Martin, kini bersandar di bahu Martin dengan menatap langit malam yang cerah penuh dengan banyak bintang.
Adelia merasa lega setelah tahu tentang Rima bahwa hubungan Rima dan Martin sebatas saudara.
Adelia pun kini sudah tahu semua tentang Martin, karena Martin sudah menceritakannya.
"Martin, apa kamu serius tentang yang kamu bicarakan dengan Tante Meli tadi?" tanya Adelia dengan masih menatap ke atas langit.
"Tunangan?" Martin menjawab dengan bertanya.
Adelia pun mengangguk.
"Tentu aku Serius,, " Tegas Martin.
"Tapi kita baru saja menjalin hubungan beberapa bulan, Martin...?" Ujar Adelia.
"Kenapa memang jika hubungan kita baru beberapa bulan, kita melakukan pertunangan, apa masalahnya?"
"Ya tidak masalah, hanya itu terlalu cepat bagi ku" Ucap Adelia.
"Justru kalau bisa aku ingin cepat -cepat nikah Del, aku tidak mau yaaa.... terus menjalin pacaran sampai berbulan-bulan, atau bertahun-tahun... karena aku serius sama kamu" Tegas Martin
Adelia kini menatap Martin, ingin mencari tahu kejujuran dari sorot mata Martin,dan Adelia pun menemukannya.
"Del,, tahu gak. aku takut khilaf kalau terus pacaran sama kamu..." bisik Martin dengan sengaja.
"Maksudnya,,?" Adelia tidak paham khilaf yang Martin katakan.
"iya aku takut khilaf, aku takut lupa..." Ucap Martin.
"khilaf apa? Lupa Apa? aku gak ngerti..." Adelia masih belum mengerti saja.
"Sayang, aku takut melakukan yang lebih dari ciuman... aku takut itu terjadi, ya walaupun sebenarnya ingin.." Tegas Martin membicarakannya secara gamblang.
Adelia pun melotot, dan mencubit pinggang Martin dengan kuat.
"Kamu Mesum yaa..." Adelia masih dengan mencubit pinggang Martin.
"Auw... Adel sakit sayang,,, " Martin mengaduh kesakitan, dan memang benar adanya Martin merasa sakit karena Adelia mencubitnya dengan sangat kuat.
Adelia melepaskan cubitannya, dan seakan tidak peduli dengan suara Martin yang tengah mengaduh, bagi Adelia pasti itu Martin berpura-pura.
"Auw Adelia... Lihat ini ulah kamu..!" Seru Martin ketika mencoba di buka bajunya sedikit, dan melihat yang habis di cubit Adelia.
Adelia pun mencoba mengintip, dan mulut Adelia pun sampai menganga ketika melihat bekas cubitan nya merah gelap dan besar.
Adelia pun sekarang merasa bersalah, memang Adelia akui tadi ketika mencubitnya sangat kuat karena dengan rasa gemas.
"Martin Maaf,,, aku tak tau akan seperti ini" Adelia merasa bersalah.
"Kamu harus tanggung jawab,!" Martin sok jutek kepada Adelia.
"Ya Maaf, aku abisnya kesel sama kamu..." Adelia beralasan, memang tadi ia sangat kesal sama Martin.
"Kesal karena apa? karena Aku mesum hmmm...???" Martin menjawab sendiri pertanyaan nya,
"iya itu..." Adelia pun kini berbicara dengan memanyunkan bibirnya.
"Tuh kamu sendiri yang buat pikiran ku Mesum.." Martin yang masih dengan memegang bekas cubitan nya.
__ADS_1
"Hah... apa maksudnya tuan Martin?" Adelia merasa heran, Martin mengatakan Adelia sendiri yang membuat pikirannya mesum, Adelia pun mengingat dari segi pakaian Adelia tidak terlalu terbuka malahan biasa saja.
"hmmm....." Martin sedikit menghela nafas, dan mencoba Menarik Adelia untuk menghadapnya, Martin melupakan sejenak rasa sakit di pinggangnya. Adelia dan Martin kini saling menatap satu sama lain.
"Adelia, entah kenapa setiap aku dekat sama kamu, tubuhku selalu bereaksi tak jelas. Jadi aku berpikir ingin cepat menikah sama kamu agar tak terjadi sesuatu yang membuat jiwa kelakianku berontak. karena aku normal. makanya bagiku tak masalah walaupun kita baru menjalin hubungan beberapa bulan, karena aku sendiri tak mau menjalin hubungan setahun, dua tahun, tiga tahun dan seterusnya, seperti menyicil mobil,atau seperti menyicil Rumah. karena aku serius sama kamu.." Ucap Martin dengan serius.
Adelia malah terkekeh mendengarnya,
"Hei apa yang membuat mu ketawa?" Martin bingung.
"itu... kamu bisa bisanya bilang seperti menyicil mobil, menyicil rumah, jadi aku mencoba mendengarkan dengan serius pun jadi ingin ketawa Martin.." ucap Adelia dengan masih tertawa.
"Memang benarkan, kadang menjalin hubungan bertahun-tahun tapi kagak jadi nikah, tapi kadang baru bertemu satu bulan langsung nikah. seharusnya kita lihat seseorang yang benar-benar seriusnya, jangan sampai hubungan bertahun tahun eh ternyata malah jadi mainannya.",Ucap Martin dengan Sok Bijak.
"Jadi kata-kata mu serius?" Tanya Adelia.
"Tentu. mendekati mu itu susah Del, mana bisa aku main-main. perjuangan ku sia-sia dong.." Kata Martin seraya mengecup tangan Adelia.
Adelia pun tersenyum melihat Martin yang begitu Manis di matanya.
Adelia berpikir sejenak, jika menikah ia belum siap.
"Tapi aku belum siap Martin ," Adelia dengan menunduk.
"Kenapa?" Tanya Martin.
"Aku belum siap menikah karena, aku masih ingin bebas Martin.." Alasan Adelia.
"Bebas yang seperti apa maksud kamu?" tanya Martin ingin lebih tahu tentang alasan Adelia.
"ya Bebas, seperti kegiatan ku sehari hari. aku takut setelah menikah kamu tidak mengijinkan nya.." Ujar Adelia dengan menatap Martin.
"Tentang itu, ya aku pasti ngijinin kamu sayang,,, yang penting kamu nyaman, dan tidak melupakan kewajiban mu sebagai seorang istri, aku dukung kamu sayang apa yang kamu lakukan," Martin tersenyum dan membelai rambut Adelia.
"Hai, kenapa tak berkedip.?" Martin mulai usil.
Adelia malah menggelengkan kepalanya.
Adelia mulai mendekat dan memeluk Martin.
Martin pun membalas pelukan Adelia.
Di lain Tempat
Rima tercengang mendengar apa yang Tante Meli sampaikan bahwa kedatangan Martin tadi memberitahukan ingin segera bertunangan.
"Mama Serius, tadi Martin bilang begitu..?" Tanya Rima yang masih dengan rasa kagetnya.
"Iya sayang, tadi Martin serius membicarakannya. Sepertinya Martin sangat mencintai Adelia.." Kata Tante Meli tersenyum mengingat akan hal tadi tentang Martin.
"Tapi ini tidak boleh terjadi Maa... Martin harus menjadi milik Rima. Jangan sampai Martin bertunangan maa..." Rima yang seakan tidak Rela Martin menjadi milik orang lain.
"Rima, kamu harus sadar. Cinta mu salah tempat. Martin itu Sepupu kamu nak... Dan seharusnya kita malu, kita sudah di beri tempat tinggal dan pasilitas Keuangan oleh Martin. Karena kita sudah tidak punya apa apa." Ucap Tante Meli mengingatkan Rima.
Memang Setelah Om Andre meninggal, Semua fasilitas yang om Andre punya di sita oleh pihak bank, karena perusahaannya yang bangkrut tidak bisa membayar angsuran yang sudah menunggak beberapa bulan sebelum Usahanya benar benar gulung tikar.
"Tidak maa.... aku tidak mau Martin menjadi milik orang lain, Martin harus menjadi milik ku, menjadi milik ku,,," Ucap Rima yang kini tengah di peluk Tante Meli dengan sedikit histeris.
Tak lama Rima pun tertidur, dan di usapnya kepala Rima oleh Tante Meli. Sedih rasanya melihat anaknya yang histeris seperti tadi, tapi tidak mungkin Tante Meli menyatukan Martin dengan Rima. itu tidak mungkin baginya.
__ADS_1
Dan Rima pun di tidurkan, dan di selimuti oleh Tante Meli. tak lupa Tante Meli mengecup kening Rima sebelum beranjak keluar kamar.
Tante Meli pun sekarang berada di dalam kamarnya, mengingat tentang Adelia yang di bawa Martin tadi, Tante Meli mempunyai penilaian kalau Adelia memang anaknya baik, sopan, dan yang tepatnya sangat di cintai Martin, Tante Meli bisa menilai dari cara Martin menatap Adelia.
Di sisi lain Rima anaknya sendiri, Begitu tersiksa ketika Tante Meli menceritakan Martin akan bertunangan.
Malam ini Tante Meli sedikit banyak pikiran, mengingat Rima yang sangat terobsesi oleh diri Martin.
Jam sudah Menunjukan pukul 23.00.
Martin sedang Di depan Ruko Adelia, ia baru saja sampai mengantarkan Adelia.
"Setelah ini, kamu cepat tidur ya.. jangan mikirin aku" Ucap Martin dengan canda nya.
"Apa sih harus mikirin kamu, gak ada kerjaan banget..." Ujar Adelia.
"Hehe,,, iya iya.. Aku pamit ya sayang. Selamat Malam, See you.." Martin pamit dengan mencium kening Adelia lembut.
"Iya hati-hati... See you juga" Adelia melambaikan tangannya, dan bergegas membuka pintu Ruko.
Martin Menghidupkan mesin mobilnya. sebelum itu ia terus melihat ke arah Adelia sampai Adelia benar benar masuk ke Ruko nya.
Setelah Adelia Masuk Martin baru menancapkan gas nya untuk bergegas ke apartemen nya.
Tak lama Martin pun sampai di halaman parkiran apartemennya.ia langsung bergegas menuju lift. Setelah itu Martin sampai di lantai 11, yang merupakan Ruang apartemen Martin ada di situ.
Di buka nya pintu Apartemen dengan memasukan kata sandi ,yang hanya Martin yang tahu.
Martin pun langsung berbaring di ranjang empuknya,
"Sumpah Gue pengen cepet memiliki kamu seutuhnya Adelia.." Ucap Martin pada dirinya sendiri.
Sementara itu Adelia masuk ke kamarnya dan ternyata di lihat Rara belum tidur, Rara masih anteng Nonton drama korea di ponselnya.
Adelia pun tak banyak bicara, ia cepat cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju nya.
Adelia pun selesai dengan urusannya, kini Adelia membaringkan tubuhnya di sebelah Rara yang sedari tadi tidak bergeming dari tempatnya.
Adelia tersenyum mengingat Hari ini, sehari ini Adelia melihat Sosok Martin yang begitu Manis dari segi apapun. Adelia terus tersenyum mengingatnya.....
"Woy, senyum-senyum...?" Rara seperti biasa mengacaukan lamunan Adelia. dengan bantal ia lemparkan tepat ke wajah Adelia.
"Iih Rara... ",Adelia kini mengembalikan bantal itu dengan di lempar tepat juga ke wajah Rara.
"Lagian sih Lu datang datang tiduran eh senyum-senyum... pastikan yang membuat Lu seperti itu tak jauh dan tak salah Karena Martin Gading.." Ucap Rara sedikit canda.
"Martin Ra.. gak ada Gading nya.." Adelia membetulkan apa yang Rara ucapkan.
"Iya Martin... hmmm... Lu dari mana sih jam segini baru pulang? atau Lu nerusin yang lu lakuin tadi di kamar ini di tempat lain. Wah Del... lu jangan sampai",Celetuk Rara yang berpikir tidak-tidak.
"Ra apaan sih, enak aja... aku sama Martin gak lakuin apa apa ya, tadi Martin ngajak aku ke rumahnya. dan Ra tau gak...." Adelia menghela nafas sebentar.
"Apa Del, tau apa?" Rara tak sabaran.
"Rima itu, Sepupunya Martin. dan Rima sama nyokapnya tinggal di rumah Martin." Ujar Adelia.
"Hah jadi... uuh pantesan aja tadi pagi Martin langsung nyapa itu si Rima." Rara mengingat kejadian pagi tadi.
"Tapi yang herannya, si Martin kaya cuek gitu ke saudaranya. lebih tepatnya Martin berwajah dingin" Tambah Rara lagi.
__ADS_1
Adelia pun mengangguk membetulkan yang di ucapkan Rara, Adelia pun berpikir mengingat lagi benar adanya Martin seakan cuek kepada Rima, tapi Adelia akan menanyakannya suatu saat nanti kepada Martin langsung.
Bersambung.........