
"Ekhemm ... ekhemm ... aduuh tenggorokan gue sakit," ucap Dirga saat melihat Albi menatap dirinya dengan tajam. Ia terus berdehem berpura-pura sakit tenggorokan.
Dirga melewati Albi tanpa menyapa, "Eh, Arumi ... permisi ya, aku mau bawa air minum. Soalnya haus," kini Dirga berujar kepada Adelia yang sedang menahan malu.
Adelia mendongak sebentar, lalu mengangguk. Dirga melewati Adelia, untuk menuju lemari pendingin. Ia membawa beberapa botol minum untuk di bawa ke lantai dua.
"Kalau begitu silahkan Arumi, lanjutkan lagi memasaknya!" ucap Dirga dengan melewati kembali Adelia. Lalu Dirga pergi meninggalkan area dapur. Seperti tadi ia tidak menyapa Albi.
Adelia kini menatap tajam ke arah Albi yang sedang menarik kursi meja makan.
"Mas, kamu sudah dua kali buat aku malu ya?" ucap Adelia. Karena ulah Albi yang hendak ingin menciumnya, ia merasa malu saat kepergoki Alina dan kini sama Dirga, bahkan di tempat yang sama.
Albi menjawab dengan tersenyum.
"Awas kalau kamu ulangi lagi!" ujar Adelia dengan masih menatap tajam pada Albi.
Masih sama Albi hanya menjawab dengan tersenyum.
"Senyum aja kamu Mas, bicara dong! iya gitu, atau apa kek," seloroh Adelia merasa kesal karena Albi hanya terus menjawab dengan tersenyum.
"Iya" ujar Albi menurut.
"Iya apa? hah," Adelia kini melotot matanya.
"Iya kan, tadi aku harus jawabnya?" ucap Albi sengaja ingin menggoda Adelia yang kini tengah kesal pada dirinya. Albi dengan menahan tawa, menatap Adelia yang melotot dengan cemberut, menurut Albi kini wajah Adelia sangat menggemaskan.
Adelia memilih diam, seraya ia menghampiri kompor yang masih ada hasil masakan di atas wajan. Adelia menuangkan hasil masakan di atas piring. Lalu Adelia taruh di atas meja yang Albi duduki di hadap nya.
Adelia membisu, lalu ingin berjalan melewati Albi. Tapi tangan Albi cepat menahannya, bahkan tubuh Adelia ia duduki di atas pangkuannya. Membuat Adelia terkejut, dan merasa gugup karena tubuhnya yang kini terduduk di atas pangkuan Albi.
"Bumil, jangan marah-marah!" ucap Albi dengan lembut seraya tangannya mengusap pipi mulus Adelia.
Adelia terdiam tidak menyahuti, ia memilih menatap ke arah lain.
"Hei, kamu menggemaskan sekali kalau lagi marah seperti tadi!. Maaf ya, aku telah buat kamu marah!" ujar Albi seraya tangannya meraih dagu Adelia, lalu wajah Adelia ia hadapkan padanya.
Kini Adelia bertatapan dengan Albi. Bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Jantung Adelia berdebar kencang, merasa gugup bercampur tidak kuasa untuk menatap Albi lebih lama. Adelia mengangguk, lalu memilih turun dari pangkuan Albi, tapi lagi-lagi Albi menahannya.
Malah kini tubuh Adelia berada di atas gendongannya. Sontak Adelia mengalungkan tangannya ke leher Albi, karena takut terjatuh.
"Mas ...."
Adelia mendongak dengan terus menatap Albi, hingga tanpa terasa Albi membawanya ke dalam kamar mereka. Kemudian Albi membaringkan tubuh Adelia di atas ranjang.
Lalu Albi mengungkung tubuh Adelia.
"Mas mau apa?" ucap Adelia dengan rasa gugup menatap Albi yang kini berada di atasnya.
Albi tersenyum menyeringai, "Menurut kamu, aku mau apa?" jawab Albi dengan bertanya.
Adelia menggeleng cepat. Membuat Albi terkekeh.
"Aku ingin melahap mu sayang," ucap Albi dengan masih mengungkung tubuh Adelia.
"Melahap ku?" sahut Adelia dengan bertanya.
__ADS_1
"Iya. Aku ingin melahap mu. Tapi ...." Albi sengaja tidak meneruskan ucapannya.
Tapi aku tidak sejahat itu. Aku mencintaimu, tapi aku tidak akan merusakmu. lanjut Albi berucap di dalam hatinya.
Albi kemudian memilih berbaring di samping Adelia, lalu merengkuh tubuh Adelia untuk ia peluk. Adelia pun tidak menolak. Karena bagi Adelia, Albi adalah suaminya.
Tak terasa Albi dan Adelia berpelukan hingga satu jam lamanya. Walau tubuhnya berpelukan memberikan kehangatan pada tubuh masing-masing, tapi tidak dengan pikiran keduanya. Pikiran Albi dan Adelia tengah berkelana. Albi pikirannya terus mencari cara bagaimana untuk menyembunyikan keberadaan Adelia. Sedangkan Adelia pikiran dan hatinya kini tengah terusik oleh sosok Pria yang telah berani memeluknya tadi siang, yaitu Rasya.
"Auw ...," pekik Adelia merasa sakit dengan kepalanya, saat pikirannya terus bersusah payah mengingat siapa sosok Rasya.
"Arumi, ada apa?" tanya Albi. Albi buyar lamunannya saat mendengar pekikan Adelia yang seperti kesakitan.
Adelia memegang kepalanya, "Kepalaku sakit Mas," jawabnya.
Albi pun panik, lalu merengkuh kembali tubuh Adelia kedalam pelukannya.
"Mending kita makan ya, mau?. Masakan mu sudah menunggu kita untuk melahapnya," ajak Albi kepada Adelia untuk makan.
Adelia mengangguk, dan Albi pun melerai pelukannya. Kemudian menuntun Adelia turun dari ranjang, dan keluar dari kamar.
"Akhirnya kalian keluar juga," pekik Arman saat melihat Albi dan Adelia keluar kamar, dan melewati ruang tengah.
"Ada apa?" tanya Albi menghentikan langkahnya.
"Kita lagi nunggu kalian untuk dinner," sahut Dirga.
"Ayo!" seru Albi berjalan kembali meneruskan langkahnya menuju dapur, dengan menggenggam tangan Adelia.
Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur. Dan setelah berada di depan meja makan, Albi menarikkan kursi untuk Adelia duduki.
Adelia hanya tersenyum menanggapi.
"Kalau mau makan, gak usah berisik!" sahut Albi memberi peringatan agar Arman tidak banyak bicara.
"Siap bos!!" ucap Arman.
Mereka akhirnya makan dalam keadaan hening, tidak ada yang membuka suara. Hanya suara sendok dan garfu yang terdengar berdenting pada piring.
Selesailah makan malam mereka dengan hasil masakan yang Adelia buat. Menu sederhana namun, rasanya tidak kalah dengan resto yang pernah Albi singgahi.
"Terima kasih," ucap Albi kepada Adelia.
"Untuk?" jawab Adelia.
"Untuk makanannya. Hasil masakan mu selalu enak," puji Albi.
"Mas sekarang memuji masakan ku?" ujar Adelia yang merasa tidak percaya. Biasanya kedua temannya yang selalu memuji hasil masakan dari Adelia.
"Iya," ucap Albi dengan tersenyum.
Alaah gue tahu, elu itu bos takut keduluin kita untuk memuji masakan Arumi yang enak. Akhirnya gengsi Lu kalah dengan sebuah kata cemburu!! ucap Arman di dalam hatinya dengan memperhatikan Albi yang sedang tersenyum kepada Adelia di hadapannya.
Bucin deh dia. Tapi gue masih takut, tadi soalnya ganggu aksi si bos yang lagi nyosor. Gak berani banyak bicara deh gue. Dirga dengan menunduk berbicara di dalam hatinya. Dirga masih merasa segan untuk membuka suara, karena dirinya tadi Albi gagal mencium Adelia. Membuat Albi terus menatap tajam mengarah pada dirinya.
Dirga dan Arman lebih memilih meninggalkan dapur setelah acara makannya selesai. Di dapur kini tinggal Albi dan Adelia. Albi memilih membuatkan susu untuk Adelia, sedangkan Adelia membersihkan piring kotor dan merapihkan kembali meja makan.
__ADS_1
"Ayo minum! selagi masih hangat," ujar Albi dengan menyerahkan segelas susu yang sudah ia buat kepada Adelia.
"Terima kasih Mas," ucap Adelia. Kemudian mengambil gelas susu tersebut, dan meneguknya.
Albi tersenyum, "Sudah ini. kamu tidur duluan ya, aku ada hal yang akan di bicarakan mengenai pekerjaan bersama Dirga dan Arman," sahut Albi.
Adelia mengangguk. Dan mereka pun meninggalkan dapur. Setelah Adelia di pastikan masuk ke dalam kamar, Albi langsung menaiki anak tangga untuk menemui kedua temannya yang berada di lantai dua.
"Gue mau ngomong serius sama kalian," ucap Albi setelah berada di depan Arman dan Dirga.
"Silahkan bos!" sahut Arman.
Albi memilih masuk ke dalam ruangan kerjanya dan disusul oleh Arman dan juga Dirga.
"Tadi saat gue dan Arumi di cafe. Gue ketemu suami Arumi," tutur Albi langsung pada inti pembicaraannya, setelah duduk terlebih dahulu di sofa single.
"Dan gue sendiri yang telah mempertemukannya," sambung Albi.
"Suami Arumi?" tanya Arman.
"Iya. Gue yakin tadi itu adalah suaminya Arumi," kata Albi.
"Bukankah, kita menemukan Arumi di kota B? tidak mungkin kan, suaminya sampai mencari ke sini?" pekik Dirga.
"Bisa saja," sahut Arman.
"Lalu kalau benar itu adalah suami Arumi, apa yang akan elu lakukan bos?" tanya Dirga.
Albi dengan menatap lurus, "Jauhkan Arumi dari hal keramaian, dan jangan sampai pria itu datang ke sini," titah Albi.
Arman dan Dirga mengangguk bersamaan.
"Kalau boleh tahu bagaimana ciri-ciri suami Arumi itu, bos?" tanya Arman ingin tahu ciri-ciri suami Adelia.
Albi seperti berpikir, "Keren, tampan, dan seumuran dengan kita," ujar Albi menyebutkan ciri-ciri Rasya.
"Wow, gak salah Arumi cantik kalau suaminya saja keren?!" celetuk Dirga dan langsung mendapat tatapan tajam dari Albi.
"Elu bisa lihat di media sosial. Penyanyi pria yang tengah viral, itulah suami Arumi," tutur Albi.
Dirga dan Arman saling pandang.
"Bukannya, penyanyi itu yang Kak Alina lihat semalam bersama suami dan Tante Hera?" tanya Arman.
"Kalian sudah tahu?" pekik Albi.
"Ya kita lihat di sosmed doang. Belum lihat secara langsung," tutur Dirga dan di angguki Arman.
"Jauhkan dia. Dan jangan sampai dia berhasil merebut Arumi dariku!!!"
Rasa cinta pada diri Albi terhadap Adelia, membuat rasa takut kehilangannya sangat membesar. Walaupun suami Adelia sendiri yang akan merebutnya, Albi tidak ingin sampai semua itu terjadi. Albi akan mencari cara untuk menjauhkan Adelia dari suaminya itu.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1