You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 225.


__ADS_3

Adelia dan Rasya baru saja pulang dari Vila. Keduanya sampai di saat jam delapan malam. Tepat orang-orang rumah sedang melakukan makan malam.


Rasya dan Adelia ikut bergabung. Karena memang keduanya tidak sempat singgah dahulu di kedai makan.


"Serly belum pulang, Ma?" tanya Rasya dengan meraih piring yang sudah Adelia isi makanan.


"Belum. Mungkin besok. Kalau bisa kamu jemput, Sya di sekolahnya!" Lia menyahuti dengan melahap makanannya.


Terlihat Ariyanti dan Rara juga sedang asyik melahap makanannya.


Rasya kini menatap ke arah Hadi, "Pa. Ada yang akan Rasya bicarakan sama Papa," ucap Rasya.


"Bicarakan saja." Hadi menyuruh Rasya berbicara saat itu juga.


"Tidak di sini. Ini masalah kerjaan," Rasya tentu tidak akan berbicara di hadapan semua orang rumah. Karena yang akan Rasya bicarakan adalah masalah keluarga Ariyanti. Rasya akan menanyakan dan memastikan apa yang di sampaikan, di dengar Adelia waktu itu.


Hadi mengangguk, "Nanti datang saja keruang kerja Papa," titahnya.


Rasya tersenyum tipis, " Baik, Pa."


Yang lain hanya menanggapi biasa saja. Tapi tidak dengan Ariyanti. Ia merasa penasaran akan apa yang di bicarakan Rasya pada Hadi. Ariyanti mencuri-curi pandang ke arah Rasya.


Kebetulan Adelia melihatnya. "Oh tidak. Sepertinya dia sangat menyukai Mas Rasya," batin Adelia. Ia memperhatikan Ariyanti yang menatap penuh kagum kepada Rasya suaminya.


Adelia kini beralih menatap sang suami. Rasya yang merasa di tatap oleh Adelia dari samping, ia tersenyum.


"Ada apa Sayang? apa yang tadi masih kurang?," bisiknya pada telinga Adelia.


Adelia hanya menggelengkan kepala. Sungguh suaminya itu bisa menggodanya di mana saja, tidak tahu tempat dan waktu. Adelia akhirnya tersenyum merasa gemas pada suaminya yang selalu bercanda soal mesumnya.


"Terus kenapa menatap seperti itu?. Apa karena ketampanan ku?" Rasya narsis. "Sudahlah. Jangan di tatap seperti itu. Aku sudah jadi milikmu," lanjutnya menggoda Adelia dengan sama masih berbisik.


Adelia berbisik kepada Rasya, "Bukan aku yang menatapmu, tapi mantan mu!" Adelia berucap dengan penuh penekanan.


Rasya repleks langsung menatap kepada Ariyanti yang duduk di seberang meja. Dan benar. Ariyanti sedang anteng menatap Rasya. Cepat-cepat Ariyanti mengalihkan tatapannya. Saat ketahuan oleh Rasya.

__ADS_1


Rasya kembali melahap makanannya. Hingga berselang lama. Acara makan malam berakhir.


"Papa tunggu, di ruang kerja," Hadi bangkit terlebih dahulu dari kursi meja makan.


Rasya mengangguk, "Iya Pa," sahutnya.


"Ayo sayang, aku antar ke kamar dulu. Pasti kamu kelelahan," Rasya sengaja mengatakan itu di hadapan Ariyanti. Tapi yang sewot adalah Lia.


"Rasya?" pekiknya dengan melotot. "Jangan bilang, istrimu lelah karena kamu!" tuduhnya dengan benar.


Rasya memutar matanya malas, "Rasya juga sama-sama lelah, Ma" ucapnya santai.


Adelia yang mendengarkan tentu merasa malu. Apalagi Lia sekarang mengarah menatap Adelia.


"Adel ... bisa kamu tolak kalau kamu lelah atau sedang merasa gak mood. Jangan di turutin terus. Laki-laki itu mau kalau di turutin maunya lebih,"


Seketika membuat wajah Adelia merona. Sementara Rara dan Ariyanti yang mendengar. Pura-pura tidak tahu saja. Mereka berdua membersihkan meja tanpa terusik oleh perdebatan Lia dan Rasya.


Rasya menggeleng-gelengkan kepala, "Mama kok, malah mempengaruhi istriku seperti itu. Gak baik Ma. Nanti istri Rasya, ngikutin omongan Mama. Terus istri Rasya nanti berdosa. Karena menolak ajakan suaminya," cicit Rasya tidak mau kalah. Sepertinya sampai manapun akan di jabanin oleh Rasya, masalah Lia yang mempengaruhi Adelia.


Lia berdecih, "Ish ... kamu sok tahu, bawa-bawa dosa segala, Mama jadi takut. Karena Mama suka nolak ajakan Papa," ucapnya dengan berakhir curhat.


Adelia langsung memukul lengan suaminya.


"Kamu gak boleh gitu, Mas. Nakutin Mama saja!" ujarnya.


Adelia dan Rasya berjalan memasuki kamar. Rasya setelah masuk ke dalam kamar langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Sayang, aku setelah ini mau menemui Papa ya, di ruang kerjanya," Rasya dengan meraih baju ganti yang sudah Adelia siapkan.


"Iya Mas. Kalau boleh tahu, apa yang akan Mas bicarakan sama Papa? apa benar tentang pekerjaan?" Adelia yang penasaran sejak tadi, akhirnya mempertanyakannya kepada Rasya.


Rasya dengan memakai baju di hadapan Adelia, menyahuti. "Sebenarnya bukan masalah pekerjaan. Aku akan membicarakan perihal yang kamu dengar tentang wanita itu. Dan nanti hasil pembicaraannya tenang, akan aku bicarakan lagi sama kamu," Rasya sudah rapih dengan pakaian gantinya. Ia mendekati Adelia lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Aku temui papa dulu, ya!," pamitnya.

__ADS_1


Adelia tersenyum, " Iya Mas. Aku juga mau mandi dulu," sahutnya.


Rasya dengan tersenyum lalu keluar dari kamar. Ia melangkah menuju ruang kerja Hadi yang berada di lantai dua. Setelah berhasil menaiki anak tangga. Rasya mempercepat langkahnya. Dan mengetuk ruangan Hadi yang tertutup.


"Masuk," terdengar suara Hadi menyuruh Rasya untuk masuk.


Rasya masuk dan menutup kembali pintu itu kemudian ia kunci. Membuat Hadi mengernyitkan dahi tidak mengerti. Lalu Rasya mendekati meja Hadi. Dan duduk di kursi hadapan Hadi.


"Langsung saja apa yang akan kamu bicarakan?" Hadi to the point. Karena Hadi merasa penasaran apa yang akan Rasya bicarakan. Karena masalah pekerjaan. Hadi tahu betul saat ini tidak ada masalah besar.


Rasya tersenyum menyeringai. Ia berubah menatap Hadi dengan tajam. Seolah ia memberitahukan bahwa apa yang akan ia bicarakan adalah masalah serius.


"Aku ingin tahu. Apa Papa menjanjikan sesuatu kepada Ariyanti?" pertanyaan Rasya membuat Hadi terbelalak. Hingga Hadi terdiam. Seperti menyusun kata-kata apa yang akan di sampaikan kepada Rasya.


"Pa. Jawab aku!!" pekik Rasya sedikit meninggi. Untung saja ruangan Hadi kedap suara.


Hadi menghirup nafas dalam-dalam. "Sebelum Papa menjawab pertanyaan mu. Papa ingin menyampaikan sesuatu masalah yang sangat besar. Dalam keluarga kita. Dan dalam persahabatan Papa," Hadi lalu membuka laci meja kerjanya. Kemudian mengambil sebuah photo yang terlihat puluhan tahun lamanya.


Rasya langsung mengambil photo itu. Lalu Rasya menatapnya. Terlihat di photo itu Papa Ariyanti, dan Papa Rasya, namun seorang lagi Rasya tidak mengenalinya.


"Maksudnya ini apa, Pa?" Rasya belum mengerti.


Hadi menatap Photo yang Rasya pegang, "Itu Papa. Dan Kedua teman Papa," sahutnya.


"Iya aku tahu. Ini Om Rony, dan satu siapa Pa?"


"Wira Atmaja,"


Rasya terdiam. Mengingat nama yang baru saja Hadi katakan. Seperti tahu bahwa nama tersebut adalah nama Ayah dari seseorang.


"Namanya, seperti nama Ayahnya Adelia, Pa"


Hadi mengangguk, "Benar. Wira Atmaja yang di dalam Photo itu adalah ayah dari Adelia, istri kamu."


Rasya tercengang. Karena baru tahu kalau Hadi berteman baik dengan Ayah Adelia.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2