You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 242.


__ADS_3

Di Restauran Milik Albi...


Albi mempersiapkan acara makan malam yang begitu spesial. Tentunya spesial bagi Rony dan Alin mereka berdua yang begitu takjub melihat deretan makanan di atas meja. Menu-menu yang sungguh menggiurkan, hingga tanpa canggung mereka makan dengan lahap. Di temani Albi dan Pak Sanjaya yang Albi perkenalkan sebagai rekan bisnisnya, padahal profesi sebenarnya sebagai penyelidik yang sengaja Albi datangkan untuk menyelidik Rony dan Alin. Dan di bawah meja terdapat alat perekam suara. Lalu di pilar dekat Albi terdekat kamera kecil tersembunyi. Tentunya Rony dan Alin tidak mengetahui itu. Restauran tersebut sengaja Albi kosongkan.


Kini semuanya sedang bersantai dengan minuman yang sengaja pelayan Albi suguhkan sesuai perintah Albi. Ke empatnya mulai meminum minuman itu. Sampai ngobrol serius tentang kerja sama yang Rony ajukan.


"Tuan Albi ... sungguh saya senang. Bisa makan malam spesial seperti ini," ujar Rony setelah meneguk satu gelas wine. Dan di angguki Alin sang istri yang menyetujui.


Albi tersenyum menyeringai, "Syukurlah jika apa yang kami suguhkan tidak mengecewakan Pak Rony beserta istri," Albi basa-basi sebelum mengorek informasi. "Dan ini adalah makan spesial terakhir untuk kalian berdua," lanjut Albi di dalam hati.


Sanjaya mulai menatap dengan ilmu selidiknya, kepada Rony dan Alin, "Pak Rony, Bu Alin. Apa saya boleh bertanya tentang sesuatu?" tanya Sanjaya yang sudah tahu bahwa Rony dan Alin sudah dalam pengaruh alkohol. Berharap semua apa yang Rony dan Alin bicarakan adalah sebuah kejujuran. Karena kebanyakan orang jika sudah terpengaruh alkohol setiap apa yang di ucapkannya adalah ucapan tanpa kebohongan.


Rony dengan tersenyum, "Silahkan Pak Sanjaya, apa yang akan bapak tanyakan pada saya dan istri saya?!" dengan kembali meneguk satu gelas Wine kembali.


"Apa Pak Rony kenal dengan Pak Hadi dan Pak Wira Atmaja?" tanya Sanjaya langsung. Ia takut Rony dan Alin keburu tidak sadarkan diri, hingga ia tidak dapat informasi dari mulut mereka langsung.


Rony tergelak benar-benar sudah dalam pengaruh Alkohol, begitupun Alin. Sementara Albi diam menyimak.


"Mereka berdua adalah teman baik saya. Tapi bagi saya mereka adalah musuh saya. Perusahaannya begitu berkembang pesat. Hingga saya iri pada mereka berdua. Saya diam-diam menghancurkan persahabatan yang sudah kami bangun. Dengan mebunuh Adik Hadi, yaitu Bara. Adik saya hingga gila karena hamil oleh Bara. Maka saya sangat marah, hingga menyuruh seseorang untuk membunuhnya," Rony menjeda ucapannya.


Dan Kini Alin yang bersuara, "Suami saya juga telah menyebabkan Wira Atmaja dengan keluarganya kecelakaan karena sudah menguping pembicaraan antara suami saya dengan pembunuh itu. Hingga suami saya mengejar dengan mobilnya lalu menyerempet mobil Wira hingga tabrakan dengan Truk besar," Alin kemudian tertawa.


Sanjaya benar-benar merasa beruntung. Belum juga ia menanyakan hal apa saja yang sudah mereka berdua lakukan, namun sebelumnya mereka sudah mengatakan langsung. Albipun sama tersenyum senang karena selangkah lagi. Ia akan membuat Rony dan Alin beserta anaknya itu mendekam di penjara.


"Wah begitukah?" Sanjaya menanggapi.

__ADS_1


Rony dan Alin mengangguk kemudian kembali meminum minumnya.


"Saya juga sudah mengambil alih perusahaan Wira Atmaja dengan membuat surat wasiat palsu. Bahwa Semua perusahaannya di wariskan kepada saya Rony Darmawan," ucapnya lalu tergelak.


Alin kini menyahut, "Iya. Dan suami saya memanipulasi keuangan di perusahaan Argadinata grup melalui suruhan terpercaya kami. Hingga uang itu mengalir lima puluh persen ke rekening kita. Hingga waktu itu perusahaannya hampir bangkrut, dan kami mengajukan perjodohan. Dan bodohnya Hadi serta istrinya menyetujui. Walau anaknya bersikeras menolak. Hingga pernikahan itu tidak lama terjalin,"


Albi menatap tidak percaya, bahwa Rasya suami Adelia sudah pernah menikah.


Sanjaya manggut-manggut senang. Semua informasi yang memberatkan mereka terjerat hukuman sudah jelas terbukti. Kini Sanjaya bertanya kembali.


"Dan apalagi yang sudah kalian lakukan kepada Hadi dan Wira?"


Alin tersenyum, "Kami sengaja memasukkan putri kami agar tinggal di kediaman Hadi dan masuk bekerja untuk mencari berkas surat kuasa Perusahaan Argadinata. Beralaskan bahwa kami sedang sibuk di Thailand. Dan Kami menawarkan putri kami yang memang sudah sangat mumpuni dalam bidang bisnis untuk membantu perusahaan Hadi hingga pulih. Dan kami meminta Hadi untuk menikahkan Rasya dengan putri kami jika usahanya berhasil. Karena saya sangat tahu bahwa putri kami sangat mencintai Rasya,"


Sanjaya dan Albi saling pandang setelah melihat Rony tertidur, dengan kepalanya sudah jatuh pada meja. Namun Alin masih Meracau.


Alin terkekeh, "Iya benar. Karena putri saya menginginkan istrinya Rasya itu enyah, begitupun dengan saya. Namun, usaha saya sia-sia ... karena tidak berhasil menabraknya, sebab ada yang tiba-tiba menolongnya," Alin meletakkan gelas dengan kasar. Kemudian tidak lama ia tertidur menyusul Rony di sampingnya.


Sanjaya langsung menelpon anggota polisi yang sudah menunggu di luar. Dan tidak lama empat orang polisi datang dengan membawa borgol untuk Alin dan Rony.


Dan di luar juga Arman sudah menunggu Albi dengan Ariyanti yang sudah tertidur lelap di dalam mobilnya. Karena sudah berhasil meminum air yang sudah Arman campur dengan obat tidur.


"Awalnya saya sudah menaruh hati padamu, Nona. Namun, saya kecewa karena ternyata anda seorang wanita jahat," gumam Arman dengan memandang wajah Ariyanti yang terlelap.


Mata Arman menatap ke arah pintu Restauran terlihat Dua polisi membopong seorang pria paruh baya yang di borgol dalam keadaan pingsan, dan dua polisi lagi membopong wanita paruh baya yang dalam keadaan sama.

__ADS_1


"Pasti mereka orang tua nona ini," gumam Arman yang tahu informasinya dari Albi.


Albi datang dan langsung masuk pada mobil yang di tumpangi Arman. "Rio, jalan. Kita langsung ke kantor polisi!" titahnya.


Sementara Sanjaya, ikut gabung dengan para polisi yang datang.


Di tempat lain. Hadi, dan Bowo sedang menunggu ke datangan Albi beserta yang lainnya. Kini mereka berdua tengah berada di kantor polisi. Didin sudah menyerahkan diri, dan di tanyai tentang kasusnya. Sehingga Didin sudah lebih dulu masuk dalam sel tahanan.


Tak lama dua buah mobil polisi, serta sedan mewah datang. Dan turun dengan tiga calon tahanan yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Hadi menatap tajam dengan mata memerah menahan emosinya. Amarahnya itu masih ia pendam karena percuma memarahi jika Rony dan Alin dalam keadaan pingsan.


Tanpa menunggu lama. Rony di masukkan dalam sel tahanan bersama Didin. Sedangkan Alin di masukkan bersama Ariyanti. Mereka bertiga masih dalam keadaan pingsan.


Hadi melangkah mendekati Albi. Ia tersenyum dengan rasa haru. Karena jika tanpa bantuan Albi. Musuh dalam selimutnya itu tidak akan tertangkap dengan cepat. Hadi memeluk Albi dengan penuh haru.


"Terima kasih Tuan Albi. Saya punya hutang budi kepadamu. Tuan dengan senang hati mau membantu masalah rumit yang saya hadapi. Jika tanpa Tuan, maka mereka tidak akan cepat tertangkap," ujar Hadi dalam pelukan Albi terisak.


Albi menepuk-nepuk punggung Hadi dengan lembut. "Sama-sama Pak Hadi. Saya melakukannya dengan ikhlas. Hitung-hitung saya membalas kesedihan keluarga anda karena telah kehilangan Adelia saat itu," ucap Albi jujur dengan kesalahannya. Membuat Hadi langsung melepaskan pelukan itu dan menatap Albi dengan raut wajah tidak mengerti.


"Maksud Tuan apa?"


Albi menggeleng, "Besok saja kita bahas. Sekarang lebih baik kita pulang dan beristirahat. Dan besok saya akan menunggu anda diruangan rawat Adelia dengan rekaman yang sudah saya dapat," tutur Albi.


Hadi mengangguk walau dalam benaknya masih ada tanda tanya besar, "Baiklah Tuan. Mari"

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2