
Albi sangat gercep. Ia sudah mengantongi bukti dari sebuah video cctv yang berada di pinggir jalan saat Adelia akan di tabrak. Bahkan Video itu terlihat jelas, dimana mobil Alin sedang menunggu kehadiran Adelia. Lalu mobil Alin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat sudah melihat Adelia berdiri di bahu jalan. Dan Albi menyuruh Dirga untuk mencari tahu pemilik mobil dari plat nomor kendaraan sesuai dari rekaman cctv.
Albi kembali memasuki area Rumah Sakit. Sebelumnya ia sudah menelpon Hera, bahwa dirinya tidak bisa menjemput, Namun Albi menyuruh Hera untuk menunggu di depan kursi tunggu UGD. Albi mengurus biaya Administrasi pengobatan Adelia. Bahkan Albi sudah memesan kamar VIP jika Adelia sudah siuman.
"Ma ...," Albi mendekati Hera yang sudah duduk di dekat Rara.
"Dari mana dulu, Nak?" tanya Hera yang belum tahu apa-apa. Hera sempat bertanya kepada Rara. Namun Rara hanya menggeleng, dengan berurai air mata, tanpa bersuara.
Albi menoleh sebentar kepada Rara yang duduk di sebelah kiri Hera, "Em ... Albi dari luar, Ma."
Hera mengerutkan dahinya, lalu seperti yang di lakukan Albi tadi, ia menoleh ke arah Rara.
"Lalu apa yang terjadi, kenapa gadis ini berada di depan UGD? siapa yang sakit, Albian?"
Albi menghela nafas dengan dalam, "Adelia, Ma. Tadi hampir saja tertabrak. Dan Albi belum mengetahui bagaimana keadaannya," tutur Albi.
Hera menganga, "Astagfirullah ... kok, bisa? lalu bagaimana, apa dia terluka parah?" Hera berwajah cemas, tidak di pungkiri Hera sudah jatuh hati kepada Adelia sebagai menantu palsunya itu.
Albi menggeleng, "Dari fisik tidak kenapa-kenapa. Beruntung saja Albi tadi berhasil menyelamatkan. Namun, Adelia meringis kesakitan pada perutnya,"
"Oh ya Tuhan, semoga saja kandungan Adelia tidak kenapa-kenapa," Hera mengkhawatirkan Adelia. Kini Hera merangkul bahu Rara dan mengajaknya berbicara.
"Nak, apa kamu sudah tahu dari Dokter bagaimana keadaan Adelia?" Hera bertanya dengan lembut.
Rara mengangguk. Ia tadi sempat berbicara dengan Dokter yang menangani Adelia, saat Dokter itu berhasil keluar dari UGD. Kondisi Adelia saat ini sedang kritis, dan Dokter mengatakan bahwa Adelia mengalami syok hipovolemik.
Syok hipovolemik merupakan kondisi yang berbahaya karena dapat terjadi secara tiba-tiba ketika tubuh kehilangan banyak darah atau cairan. Gangguan ini dapat menurunkan volume darah seseorang, yaitu jumlah darah yang beredar di tubuh. Maka dari itu, gangguan ini disebut juga dengan guncangan volume rendah.
Penyakit ini merupakan keadaan darurat yang dapat mengancam nyawa pengidapnya, terlebih lagi jika terjadi pada ibu hamil. Darah berguna untuk menjaga suhu tubuh agar tetap stabil dan memindahkan oksigen serta nutrisi lainnya ke semua sel yang ada di tubuh. Jika volume darah rendah, organ sulit untuk bekerja. Pada ibu hamil, janin mungkin kekurangan asupan oksigen karena darah yang beredar sedikit. Apalagi Adelia syok saat hampir saja tertabrak.
Rara menceritakannya kepada Hera sesuai apa yang di katakan Dokter tadi, bahkan Albi mendengarkan dengan secara seksama.
"Tapi tadi Adelia tidak pendarahan saat, Albi pangku Ma?" Albi merasa terkejut saat mendengar Adelia pendarahan.
"Memang. Namun, Adel di periksa melalui area pribadi oleh Dokter, dan Adel mengalami pendarahan karena syok itu," timpal Rara menjelaskan.
"Sudah jangan terlalu sedih. Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhannya," Hera menenangkan Rara dengan mengusap-usap punggung Rara dengan lembut. Walau jauh dari lubuk hatinya sangat mencemaskan keadaan Adelia.
__ADS_1
Albi mengepalkan tangannya, saat mengingat bahwa Adelia seperti itu karena ada seseorang yang sengaja ingin mencelakainya. Albi geram, dan akan mengusut siapa pemilik mobil dan orang yang sudah ingin menabarak Adelia itu.
"Suaminya sudah tahu?" tanya Hera kepada Rara.
"Belum, Tante," jawab Rara.
"Jangan di beri tahu!" Albi menyuruh Rara untuk tidak memberitahukannya kepada Rasya, membuat Rara menatap sedikit tajam karena Rara berpikir Albi akan mengambil Adelia kembali dari Rasya.
Albi yang di tatap tajam oleh Rara seakan mengerti. "Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saya ingin menyelidiki terlebih dahulu. Karena saya mendapatkan rekaman cctv saat mobil itu, sengaja menunggu dan melaju saat Adelia turun dari Taksi,"
"Jadi saya harap jangan dulu memberitahu kepada suaminya. Nanti saya akan sengaja memberitahu kepada Pak Hadi, mertua Adelia. Karena saya memiliki kejanggalan di sini. Em ... apa kamu tahu, apa ada seseorang yang membenci Adelia atau keluarga suaminya?" Albi memperjelaskan keinginannya, kemudian bertanya perihal seseorang yang telah membenci Adelia.
Rara berpikir, dan pikirannya tertuju kepada Ariyanti. Karena Adelia pernah bercerita saat Adelia tidak sengaja mendengar Ariyanti berbicara pada lawan bicaranya di telepon.
"Aku tahu. Namun, apakah mungkin dia yang melakukannya, tapi saat ini dia sedang keluar kota juga bersama Rasya," tutur Rara.
Albi menautkan kedua alisnya, "Dia wanita atau laki-laki?"
"Wanita," sahut Rara.
Albi manggut-manggut. Kemudian ia merogoh ponselnya untuk mengirim pesan kepada Arman. Yang memang Arman juga sama sedang keluar kota untuk meninjau proyek kerja sama mereka kembali.
"Albi, Mama bagaimana kalau pulang saja?" Hera bersuara.
"Biar Pak Tono yang menjemput ya, Ma. Maaf Albi harus di sini dulu," kata Albi.
Hera mengangguk seraya mengulas senyum, "Mama keluar sekarang ya, Oh iya--" Hera tidak melanjutkan ucapannya, karena Hera memilih mendekatkan mulutnya pada telinga Albi untuk berbisik. "Dekati gadis itu, untuk Mama!" bisiknya.
Albi hanya diam tanpa merespon. Hera kemudian pamit kepada Rara.
"Tante, pulang ya Nak." Rara menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan seulas senyum pada bibirnya.
Kini tinggal Rara dan Albi di kursi tunggu. Keduanya sama-sama terdiam. Albi menatap ponsel memeriksa email yang masuk dari Dirga. Dirga mengirimkan laporannya, karena Dirga telah berhasil mendapatkan siapa pemilik mobil itu.
"Alinda Sailandri, istri Rony Darmawan," gumam Albi yang terdengar oleh Rara. Namun Rara tidak berani menanyakan.
Dan kini Albi mendapat pesan balasan dari Arman.
__ADS_1
["Ariyanti Sailandri Darmawan"]
Albi kini manggut-manggut mengerti, dari nama wanita yang bersama Rasya jelas berkaitan dengan penabrakan Adelia. Di lihat dari nama pemilik mobil dan di cocokan dengan nama Ariyanti yang di duga wanita yang membenci Adelia dari keterangan Rara.
"Benar wanita itu namanya Ariyanti?" Albi bertanya dengan datar kepada Rara.
Rara mengangguk.
"Ok. Apa kamu tahu nama ibunya?" Albi kembali bertanya.
"Alin. Tante Alin" jawab Rara dengan menatap lurus ke depan.
"Damn it!! sudah kuduga!!" pekik Albi membuat Rara terkejut dan sontak menoleh ke arahnya. Terlihat rahang Albi mengeras, dengan sorot mata memerah tajam, seperti sedang menahan emosi amarahnya.
"Jangan bilang, kalau pelaku penabrakan ada kaitannya dengan Ariyanti?" tebak Rara. Namun, Albi terdiam. Ia menghirup nafas dengan dalam. Menetralkan emosinya agar menghilang sebelum merespon pertanyaan Rara.
"Sangat tepat. Saya akan menanyakan langsung kepada Pak Hadi tentang keluarga mereka. Bukannya, mereka sangat dekat?"
"Memang sangat dekat. Bahkan Ariyanti kini tinggal di kediaman Om Hadi," sahut Rara.
Albi manggut-manggut. Albi harus menghubungi Hadi secepatnya. Dan kini ia menelpon nomor Hadi di hadapan Rara.
"Selamat siang Tuan Albian," sapa Hadi dari sebrang telepon.
"Siang Pak Hadi. Maaf mengganggu waktu Pak Hadi. Bisakah, Pak Hadi menemui saya. Ada sesuatu yanga akan saya bicarakan dengan anda!"
"Tentu bisa Tuan. Apa sesuatu itu tentang kerja sama antar perusahaan kita?" tanya Hadi.
"Iya. Dan tolong Pak Hadi datang sekarang juga. Saya tunggu di Rumah Sakit Xx di depan ruang UGD,"
"Loh ada apa Tuan, kenapa di Rumah Sakit?" tanya Hadi bingung tentang tempat yang Albi janjikan.
"Nanti Pak Hadi juga akan tahu sendiri. Kalau begitu, saya tutup!"
Albi langsung menutup panggilan secara sepihak. Begitulah, jika bersama dengan relasi-relasinya Albi terkenal dingin dan datar. Tapi sudah banyak yang mengetahui tentang kehidupannya. Hanya saja Albi belum di kabarkan mempunyai pasangan.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....