
Serly dan Dido sudah sampai di Parkiran Kampus. Serly menghirup nafas panjang. Serly tentunya merasa gugup kala memasuki area Kampus, tidak seperti biasanya yang semangat dan ceria di wajahnya. Namun, kali ini berbeda. Serly merasakan kecemasan, dan kekhawatiran sebab ada yang berubah pada dirinya yang orang lain tidak tahu.
"Serly ...," sapa Dido yang melihat Serly seperti melamun dan enggan untuk turun.
Serly menoleh kepada Dido tanpa bersuara.
"Kenapa?" tanya Dido yang merasa Serly terus terdiam.
Serly menggeleng dengan mengulas senyum tipis.
"Are you okey?" tanya Dido lagi memastikan keadaan Serly.
Serly mengangguk.
Dido menggeleng yang tahu bahwa Serly berbohong, "Kamu bohong," ujar Dido seraya tangannya membuka seat belt yang membelit tubuhnya.
Alis Serly terpaut dengan dahi berkerut, "Bohong? maksudnya?" suara lembut Serly akhirnya keluar dengan tangannya membuka seat belt.
"Maaf. Kakak tahu apa yang di pikiran kamu saat ini." Ucap Dido sendu. "Bersikaplah seperti biasa. Jangan cemas. Belajarlah yang baik!"
Serly menatap wajah Dido yang sendu itu, "Kak ... apa aku terlihat berubah?" tanyanya ingin memastikan dari penampilan. Itulah kekhawatiran dan kegelisahan Serly. Takut orang lain bisa mengenali bahwa dirinya sudah kehilangan hal yang paling berharga yang ada pada dirinya.
Dido menggeleng, "Kamu tetap cantik. Sudah jangan khawatirkan hal yang akan bisa membuatmu ketakutan. Kakak akan menanggung jawab semuanya."
Dido berusaha menenangkan Serly dan meyakinkan Serly bahwa dirinya akan mempertanggung jawabkan semuanya.
"Tapi, kak ... itu semua kesalahanku,"
Dido menggeleng, "Kakak yang salah. Setidaknya, kalau kakak bisa menahan. Tentu semuanya tidak akan terjadi. Dan hal yang paling kamu jaga. Tidak akan hilang!" tegas Dido yang mengakui kesalahannya.
Serly terdiam.
"Apakah ada rasa benci di hatimu pada kakak?" Dido bertanya ingin tahu jika Serly membencinya atau tidak.
Serly menggeleng.
"Kenapa kamu tidak benci sama kakak?" Dido memberikan pertanyaan yang membuat raut wajah Serly keheranan.
__ADS_1
"Kenapa aku harus benci sama kamu, kak?" tanya Serly yang merasa heran dan tidak mengerti.
"Kakak telah merusak kamu. Seharusnya kamu benci kakak! atau pukul kakak, atau tampar kakak!" Dido meraih tangan Serly. Dan Dido tamparkan pada pipinya sendiri.
"Kakak, apaan sih?" Serly tidak menyangka bahwa Dido meraih tangannya untuk di tamparkan pada pipi Dido sendiri.
"Kakak ingin kamu meluapkan rasa marah dan bencimu pada kakak!" Dido memejamkan kedua matanya. "Kakak, tidak suka jika kamu berdiam diri. Dan hanya menahannya di hati. Luapkanlah!" kata Dido kini dengan membuka mata menatap lekat wajah Serly.
"Tapi aku tidak benci kamu, kak. Ini semua kesalahan murni dari ku," ucap Serly dengan matanya mulai berembun. Ia teringat saat kemarin melihat rekaman cctv memperlihatkan dirinya yang begitu liar tidak terkendali. Malu. Hanya itu yang ada di benak Serly kala berhadapan dengan Dido. Di tambah kini selalu gugup dengan detak jantung yang bergetar tidak seperti biasanya.
Dido memberanikan diri untuk merengkuh tubuh Serly. Memeluk Serly bertujuan untuk memberikan ketenangan.
"Maaf," kata Dido dengan lirih. "Jangan menangis! Kakak semakin merasa bersalah melihat kamu seperti itu! maka, terimalah kakak mulai sekarang untuk menjadi seseorang yang akan menemanimu di hari-hari mu." Dido dengan mengusap-usap punggung Serly.
Serly menangis tanpa suara. Masih enggan untuk berkata 'ya' atas ucapan Dido barusan. Serly cepat-cepat melerai tubuhnya dari pelukan Dido. Kemudian mengusap pipinya yang basah.
"Maaf, kak. Aku harus ke kelas," Serly dengan cepat membuka pintu mobil dan melenggang keluar tanpa menunggu sahutan Dido.
Dido tertegun. Menatap kepergian Serly. Dan Dido terus menatap punggung Serly yang berjalan semakin jauh dari area parkiran.
Dido memilih terus berada di dalam mobilnya. Kebetulan hari ini Dido baru ada kelas pada jam 10. Lalu saat ini baru menunjukkan jam setengah 9.
"Mas, kok aku merasa ingin di rumah saja deh. Gak mau kerja," kata Adelia saat ini yang baru keluar dari mobil bersama Rasya sang suami.
Rasya menoleh kepada Adelia dengan dahi yang berkerut. "Kenapa sayang? tadi kekeh ingin ke kantor. Tapi, saat ini bilang ingin di rumah,"
"Aku ingin bersama anak kembar kita, Mas. Entah kenapa, saat aku berangkat wajah mereka seolah mengatakan tidak ingin di tinggal," Adelia kini berjalan dengan menggandeng tangan Rasya dan kepalanya menyandar pada bahu Rasya.
Nampak para karyawan yang berpapasan dan yang melihat Adelia bersama Rasya merasa heran. Karena belum tahu akan hubungan Adelia dan Rasya di kantor itu.
"Mungkin, kamu belum terbiasa meninggalkan anak-anak sayang ... jadi, ya begitu pasti berat rasanya," kata Rasya memberikan pendapatnya.
Rasya memencet angka lantai yang dituju di depan pintu lift. Lalu Rasya masuk seraya merangkul bahu Adelia.
"Loh, Mas ini kan lantai ruang kerja kamu?" Adelia baru menyadari bahwa dirinya kini berada di lantai ruang kerja Rasya setelah keluar dari lift.
"Iya. Lebih baik sekarang kamu berada di ruang kerjaku. Tidak usah di ruang Divisi Keuangan," kata Rasya seraya mengecup kening Adelia.
__ADS_1
Adelia mengangguk patuh.
"Selamat pagi Pak Rasya, Bu Adel ...," sapa sekretaris Rasya yang bernama Ria.
"Pagi," sapa Adelia dan Rasya secara bersamaan.
"Jadwal saya hari ini apa saja Ria?" tanya Rasya yang ingin tahu agenda kerjanya.
"Bapak ada Meeting jam 11 bersama model yang akan menjadi ambasador produk baru kita," kata Sekretaris Rasya membaca agenda kerja Rasya dari Macbook yang di pegangnya.
Adelia menyimak pembicaraan suaminya beserta sekretarisnya.
Rasya langsung menatap jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu setengah satu jam lagi.
"Apakah Aldi sudah datang?" Rasya tentu harus mengandalkan asistennya itu untuk menemui para klien nya.
"Beliau sudah datang Pak. Dan sekarang sudah ada di dalam ruangannya," sahut Ria.
Rasya mengangguk. "Ya sudah. Saya mau keruangan saya," Kemudian merangkul bahu Adelia kembali untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Mas, kenapa kamu tidak bilang bahwa produk skincare kita sudah di produksi?" kata Adelia saat sudah masuk dalam ruangan suaminya. Tadi mendengar Rasya akan meeting bersama seorang model. Hati Adelia langsung merasa tak tenang.
"Maaf sayang ... Mas lupa, kamu sih lagian nyaman banget di ruang Divisi Keuangan. Jadi saat di rumah Mas juga lupa, kalau sudah bermain dengan anak-anak," Rasya mengisyaratkan bahwa dirinya cemburu kala Adelia berada di ruangan lain.
Adelia mendelik merasa tidak terima di sebut nyaman di ruangan lain selain di ruangan kerja suaminya.
"Aku hanya memeriksa keuangan Mas. Sesuai apa yang aku katakan saat pertama yang akan aku tinjau. Dan setelah itu aku akan ke Divisi lain," sahut Adelia menjelaskan serta mengingatkan .
"Iya Sayang ...." Rasya mengiyakan. Walau dalam benaknya ingin mengatakan bahwa dirinya cemburu kala melihat Adelia duduk serius di depan Manager keuangan yaitu Dimas. Apalagi Dimas yang selalu sengaja mencuri pandang pada Adelia.
Lalu kali ini Adelia merasa cemburu bahwa suaminya akan meeting bersama model yang akan menjadi ambasador produk skin care-nya. Adelia sudah membayangkan modelnya itu pasti sangat cantik dan berpenampilan modis.
"Mas, nanti aku ikut meeting ya," katanya selanjutnya memberanikan untuk ikut bergabung.
"Ya harus sayang ... kamu harus ikut!" sahut Rasya kini yang sudah duduk di kursi kerjanya.
Adelia tersenyum. Tidak menyangka kalau suaminya itu tidak menolak atau mencurigai keinginannya.
__ADS_1
...***...