You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 33.


__ADS_3

Sesuai jadwal Rasya akan meeting dengan model yang menjadi ambasador produk barunya. Adelia yang sedari tadi sudah meminta ingin ikut. Tentu Rasya ijinkan. Hingga sekarang kini Adelia dan Rasya sudah duduk bersampingan di ruang meeting, berhadapan dengan model yang akan menjadi ambasador tersebut.


"Selamat pagi," sapa Rasya menyapa sang model yang sudah duduk manis di ruang meeting.


Model tersebut termangu. Menatap wajah tampan sang CEO yang akan meeting bersamanya. Lalu tersenyum membalas sapaan Rasya.


Adelia mencoba bersikap biasa saja. Saat menatap sang Model yang benar-benar sesuai pemikirannya yang begitu cantik, seksi, dan berpenampilan modis.


"Perkenalkan nama Saya Rasya, sebagai CEO di ACL corp," kata Rasya memperkenalkan. "Dan ini Bu Adelia pemilik ACL corp, yang akan memantau meeting antara kerja sama kita," ucap Rasya selanjutnya memperkenalkan Adelia yang sebagai pemilik perusahaan.


Sang Model tersenyum, "Salam kenal, nama Saya Maharani. Saya senang bisa bertemu dengan anda sekaligus pemilik perusahaan ini,"


Rasya mengangguk, lalu fokus pada berkas yang sudah ia siapkan, "Baiklah, saya akan menyerahkan surat kontrak kerja untuk anda baca dan pelajari. Silahkan di baca terlebih dahulu dengan seksama. Agar tidak ada keraguan, dan penyesalan di suatu hari," kata Rasya dengan menyerahkan berkas yang di sampuli map berwarna biru.


Maharani menerima dengan tersenyum, kemudian tangan halusnya membuka Map tersebut dan membacanya dengan seksama sesuai di perintahkan Rasya.


"Jadi, saya akan menandatangi kontrak jika saya berhasil menarik banyak konsumen selama tiga bulan lamanya?" tanya Maharani setelah selesai membaca berkas kerja sama antara dirinya dengan perusahaan Adelia.


Rasya mengangguk, "Betul. Maaf, perusahaan kami baru saja mengeluarkan produk skin care ini. Sebelumnya hanya memproduksi obat-obat kimia dan alat-alat medis. Jadi, kami ingin melihat bagaimana setelah produk skin care ini di ambasadori anda apa iklan kami akan di terima para konsumen, sehingga tergiur dan ingin membeli produk kami," jelas Rasya panjang lebar.


Maharani mengangguk paham. "Oh begitu. Saya akan menerima. Namun, saya ingin keyakinan bahwa produk skin care ini aman bagi wajah saya. Perawatan wajah saya mahal loh, kalau sampai terjadi sesuatu pada wajah saya, maka saya akan tuntut perusahaan anda!" cetus Maharani memberikan nada ancaman jika sampai terjadi sesuatu pada wajah cantiknya.


"Kami jamin bahan yang di buat untuk produk skin care di olah dari bahan alami, serta telah di uji coba lalu sudah terdaftar di BPOM. Bahkan Dokter kecantikan langsung yang meracik. Seperti obat-obat kimia juga Dokter ahlinya yang langsung meracik," jelas Rasya yang ingin mendapat keyakinan dari Maharani agar tidak ragu.


Sementara Adelia hanya mendengar dan menyimak apa saja yang di bicarakan antara suaminya dengan Maharani. Dengan bibir yang terus mencoba tersenyum kepada Maharani.


Maharani mengangguk, "Baiklah ... saya deal. Saya akan menerima kerja sama ini. Semoga saya tidak mengecewakan," tangan Maharani terulur untuk menandakan bahwa kerja samanya telah ia sepakati. Rasya dengan tersenyum senang membalas uluran tangan Maharani.


"Terima kasih, di pertemuan yang akan datang kami akan membahas tentang honor kerja anda setelah melakukan pemotretan," ujar Rasya seraya mengurai jabatan tangannya.


Maharani mengangguk kemudian kini tangannya mengulur menyalami tangan Adelia.

__ADS_1


"Semoga saya tidak mengecewakan Ibu Adelia," katanya dengan tersenyum.


Adelia membalas uluran tangan Maharani dengan membalas senyumannya, "Sama-sama, semoga kerja sama kita berjalan dengan baik,"


Maharani mengangguk kemudian menatap ke arah Rasya yang sedang merapihkan berkas dokumen. "Saya undur pamit. Jika ada hal tentang lainnya, hubungi manager saya," katanya.


"Baik. Asisten saya akan mengurus semuanya," balas Rasya.


Maharani pun berlalu. Kini di ruang meeting tinggal Adelia dan Rasya.


"Mas, cantik ya?" tanya Adelia yang matanya masih menatap ke arah pintu dimana Maharani melenggang keluar.


Rasya menautkan kedua alisnya, "Jangan tanyakan lagi tentang kecantikan mu, Sayang ...," tanggap Rasya yang salah mengartikan.


Giliran Adelia kini yang menautkan alisnya, "Maharani, Mas. Bukan aku,"


Rasya menggeleng, lalu merengkuh bahu Adelia, "Kita makan siang yuk! Jangan membahas orang lain selama kita berdua," Rasya yang memilih tidak mau menanggapi ucapan istrinya yang sudah di pastikan akan terjadi perdebatan kecil nantinya. Apalagi Rasya sudah tahu bahwa istrinya saat ini tengah cemburu.


Adelia tidak meneruskan ucapannya, karena Rasya langsung mengecup bibir Adelia dengan lembut.


"Mau secantik apapun orang lain. Tetap, hanya kamu yang sangat cantik di penglihatan Mas. Kamu bahkan wanita yang paling hebat, yang telah melahirkan buah cinta kita, sekaligus dua. So ...," tangan Rasya mengelus pipi Adelia yang kini tengah merona. "Jangan meragukan cinta Mas. Tak perduli, siapapun itu yang cantik. Tetap. Hanya kamu yang cantik, yang Mas cintai,"


Adelia tersenyum dengan hatinya merasa luluh. Perasaan yang tadi begitu cemas. Kini merasa tenang atas ucapan manis sang suami.


"Baiklah, kita makan siang," kata Adelia kini dengan merangkul lengan Rasya dan melangkah keluar dari ruang meeting.


***


Serly baru saja berhasil mengikuti makul. Dan kini jam istirahat sebelum makul yang baru. Serly kini berjalan bersama Kikan menuju kantin.


"Ser, aku butuh penjelasan dari kamu," kata Kikan to the point.

__ADS_1


Serly mengerutkan keningnya merasa tidak paham apa yang Kikan maksud. Oh, apa mungkin tentang reaksi obat yang Rindu perulah? begit pikiran Serly. Serly menjadi panik luar biasa. Ia mendadak menghentikan langkahnya. Dengan pikiran yang mulai mencari kata-kata dusta pastinya.


"Ser, kok kamu malah diam?" kata Kikan yang menatap bingung dengan reaksi Serly yang malah terdiam.


"Jangan-jangan kamu di ancam Bang Aldi, agar tidak menceritakan kepada ku?" tebak Kikan yang membuat Serly kini melongo.


"Hah? Maksud kamu apa, Kikan?"


Kikan menepuk jidatnya sendiri, kemudian menarik lengan Serly dengan cepat, "Aku tahu hubungan kamu dengan Bang Aldi, dari Kevin. Beneran kalian telah jadian?"


Serly tersenyum tipis, "Nanti aku jelasin. Sekarang kita makan dulu, aku sudah laper banget rasanya," alasan Serly yang sengaja tidak ingin menceritakan yang menurutnya sangat privasi walau itu kepada sahabatnya sendiri.


"Benar ya? awas kalau bohong!" kata Kikan dengan wajah sedikit garang. Membuat Serly tergelak.


"Ya ampun, wajah kamu mirip preman pasar, Ikan ...," Serly meledek Kikan dengan sengaja.


"Pasar ikan? oh tidak ...," Kikan tersenyum kemudian melangkah dengan tangan yang masih merangkul lengan Serly menuju kantin.


Kini keduanya sudah berada di kantin, dan menikmati makanan masing-masing yang sudah mereka pesan.


"Oh, iya ... tadi kamu ke kampus gak bareng Bang Aldi?" tanya Kikan membuat Serly tersedak.


Kikan langsung menyodorkan minuman untuk Serly. Lalu lanjut berucap meledek Serly.


"Baru saja di ucap namanya sudah buat kamu tersedak, Ser! bagaimana kalau ketemu orangnya, jantung kamu pasti dag-dig-dug gak karuan,"


Serly mengunyah sambil memikirkan ucapan ledekan Kikan. Entah, belakangan ini Serly hampir saja melupakan sosok pria dingin yang biasanya selalu ada dalam hati dan bayangan pikirannya. Namun, kali ini berbeda. Ia teringat saat Kikan mengingatkan.


'Apa iya, aku sudah mulai lupa dan tidak mencintai dia?' ucap Serly dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2