You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 22.


__ADS_3

Esok Paginya...


"Ser, mulai hari ini kamu tidak di antar jemput sama Aldi. Karena Aldi lagi pulang dulu," kata Rasya saat setelah selesai sarapan bersama. Rasya memang begitu perhatian kepada adiknya tersebut. Hingga mengutarakan apa yang sudah Serly tahu.


"Iya kak, aku tahu" sahut Serly dengan mulai meraih segelas susu yang sudah di buatkan Bi Ida. Lalu meminumnya.


"Tapi kamu akan di antar jemput oleh seseorang," ucap Rasya membuat Hadi dan Lia yang sedari tadi diam, kini menatap ke arah putranya tersebut.


"Seseorang?" alis tebal milik Serly bertaut. Merasa penasaran siapa yang di maksud seseorang oleh kakaknya itu.


"Siapa Sya? kamu menyuruh siapa lagi untuk jadi sopir adikmu itu?" Hadi kini bersuara menanyakan perihal seseorang yang akan menjadi sopir pribadi anak bungsunya. Jika bersama Aldi, dirinya saat itu tidak protes. Karena tahu Aldi adalah pria baik, apalagi masih saudaranya Anton asisten pribadinya di kantor.


"Kak ... lebih baik aku bawa mobil sendiri lagi, atau aku naik taksi dari pada kakak harus menyewa sopir," sela Serly menolak.


"Enak saja. Aku gak mau dengar kamu nabrak orang atau kecelakaan jika kamu bawa mobil sendiri. Sudahlah, menurut sama kakak" Rasya lebih dulu membalas ucapan adiknya yang menolak.


Kemudian ia menatap ke arah Hadi, "Ada Pa ... nanti juga Papa dan Mama tahu," katanya.


Adelia yang sedari tadi menyimak. Kini teringat akan keputusan Rara hari kemarin. Adelia melihat dari sikap kedua mertuanya masih terlihat biasa saja, pasti Rara belum menyampaikannya. Hingga, ia yang merasa Rara adalah sebagai adiknya, kini ia harus menyampaikan keputusan Rara tersebut. Walau bagaimana pun, dirinya dan Rara sudah di terima dengan baik di kediaman keluarga Rasya.


"Ma ... Pa ...," panggil Adelia kepada kedua mertuanya.


"Ada apa Del?" sahut Hadi.


"Iya ada apa sayang?" kata Lia menyahuti.


Adelia melirik ke arah Rara terlebih dahulu, "Mulai hari ini. Rara katanya akan memilih tinggal sendiri. Jadi aku sebagai keluarga Rara. Mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Mama, Papa, dan Mas Rasya yang sudah menerima Rara tinggal di sini,"


Lia tersentak. Begitupun dengan Hadi. Tidak dengan Rasya dan serly, kakak beradik itu hanya terdiam saja ingin mendengarkan respon dari kedua orang tuanya.


"Jadi Rara akan tinggal dimana?" tanya Hadi.


Rara kini menatap ke arah kedua mertua Adelia, "Tidak jauh dari Kantor Om. Aku sudah mengkreditnya satu minggu yang lalu,"

__ADS_1


"Ra, sebenarnya tante sudah sangat menyayangimu, dan tante sudah anggap kamu sebagai anak tante sendiri. Tapi, semua keputusan ada di kamu. Kamu berhak memilihnya. Mungkin kamu memutuskan ingin hidup mandiri. Tante akan dukung kamu. Hanya pesan dari tante jaga diri baik-baik, jangan sampai salah pergaulan." kata Lia kemudian ia menatap ke arah putrinya, "Kamu juga Nak, Mama mohon jaga diri, jaga kehormatan keluarga. Dan jangan sampai salah memilih teman," katanya memberikan wejangan kepada anak gadisnya.


Rara menjawab dengan mengangguk. Begitupun dengan Serly.


"Mohon Maaf, Pak Rasya ... di depan ada tamu," tiba-tiba suara Nina membuat semua menoleh kepadanya.


Rasya mengangguk, "Tolong bilang suruh tunggu, Mbak!" ucapnya memberikan perintah. Nina mengangguk dan kembali ke arah depan.


Rasya kembali fokus menatap wajah kedua orang tuanya.


"Ma ... Pa ... hari ini istriku mau ke kantor. Aku sengaja ajak dia. Untuk melihat perkembangan perusahaannya," kata Rasya menyampaikan.


"Jadi si kembar sama pengasuhnya saja?" tanya Hadi.


"Iya Pa. Adel sudah gak merasa khawatir lagi, karena Adel sudah memperhatikan dua minggu ini. Mereka terlihat baik dan sayang kepada si kembar," sahut Adelia.


"Ya lebih baik kamu pantau sendiri perusahaan mu. Dampingi suamimu." Hadi akhirnya menyetujui dengan kalimat akhir memberikan candaan.


"Sudah bekerjalah. Mama juga ada di rumah. Mama akan menemani si kembar juga sama Nina dan Sarah," Lia menimpali.


"Ser, ayo kita temui sopir untukmu itu," ajak Rasya kepada Serly setelah pembicaraan berakhir.


Serly terlihat pasrah. Menerima apa yang kakaknya perintahkan.


Rasya berjalan beriringan dengan Adelia. Kemudian Serly dan Rara. Terakhir Hadi yang sudah bersalaman dengan sang istri tercinta.


"Mas, itu 'kan Dido!" kata Adelia saat keluar menuju teras. Menunjuk Dido yang sedang memangku baby Saffa yang sedang di jemur Nina. Dan terlihat Baby Daffa sedang di beri makan oleh Sarah.


"Iya sayang ... Dido akan mengantar jemput Serly. Ya, dan kebetulan mereka satu Kampus, 'kan?"


Serly terdiam setelah menatap keberadaan Dido. Dan Serly sudah menduga seseorang yang akan menjadi sopirnya itu adalah Dido, karena Serly tidak melihat keberadaan orang lain di sana selain Dido.


Rara sudah siap naik dengan motor maticnya. Kemudian menglakson sebelum menancapkan gasnya.

__ADS_1


Hadi yang sudah berada di teras menatap selidik kepada Dido yang sedang menggendong cucu perempuannya.


"Maaf apa kamu putranya, Tuan Malik Arlino?" tanya Hadi. Membuat Dido tersenyum mengangguk.


"Om kok, bisa tahu?" Dido bertanya dengan tersenyum.


"Tentu Tahu, wajah tampanmu mirip sekali dengan Tuan Malik," jawab Hadi dengan memuji ketampanan Dido yang menurun dari wajah Ayahnya.


Rasya mengernyit dengan ucapan kata 'Tuan' yang di katakan Papanya.


"Papa kenal sama orang tuanya?" tanya Rasya kini.


Hadi tersenyum lebar, "Tentu Papa kenal. Karena, beliau adalah salah satu pemegang saham di kantor Papa," ucapnya. "Namun, kenapa bisa putranya Tuan Malik ada di sini?" lanjut Hadi merasa bingung dengan keberadaan putra salah satu pengusaha tersukses di kota ini setelah Albian.


Dido yang masih menggendong Baby Saffa mendekat, dan mengulurkan tangan menyalami tangan Hadi.


"Saya temannya, Serly. Om"


"Oh teman ya?" Hadi seperti menekankan kata Teman yang Dido katakan. Dido mengangguk dengan tersenyum merespon apa yang Hadi ucapkan.


Hadi tersenyum. Kemudian melirik ke arah putrinya yang hanya terdiam. Apa mungkin penolakan perjodohannya itu karena seorang Dido Arlino? ya kalau benar, Hadi sangat senang. Tidak mendapatkan menantu seperti Albian pun tidak masalah, jika putrinya itu memilih putra Malik Arlino. Karena bagi pikiran Hadi putrinya harus mendapatkan pendamping yang Mapan, yang bisa mempengaruhi pada bisnis keluarganya.


"Silahkan jika kalian mau berangkat! tolong jaga putri Om!" ucap Hadi memberikan kelegaan terhadap Rasya yang mempercayai Dido untuk menjemput adiknya itu berangkat bersama.


"Terima kasih Om. Tentu Serly akan saya jaga," sahutnya. "Ser ... ayo!" Dido pun langsung mengajak Serly cepat.


Serly lagi-lagi pasrah saja. Ia langsung melangkah ke arah Dido yang sudah menaiki motor sport dengan tersenyum ke arahnya, tanpa menyapa kepada Kakak dan Papanya.


"Mari kak, Om ..." kata Dido sebelum menarik gas melajukan motornya.


Serly lagi-lagi terdiam. Bahkan selama dalam perjalanan pun, Serly tidak membuka suara. Memikirkan hubungannya yang akan rumit dengan Aldi. Setelah melihat respon sang Papa yang begitu ramah terhadap Dido. Apalagi setelah mengetahui bahwa Dido adalah anak Seorang pemilik saham di perusahaan keluarganya. Serly sudah mencium dari sikap Hadi papanya tersebut seperti pria matre.


"Semoga pikiranku sangat salah!" Serly menepis pikiran yang menilai Papanya jelek.

__ADS_1


...***...


__ADS_2