
Rara dan Adelia pun sudah berdiri di depan pantai. Gemuruh suara ombak, menambah kesan Indah Pemandangan Pantai tersebut. Rambut Adelia yang tergerai bergerak-gerak di terpa angin pantai. Rara pun sudah duduk dengan kaki nya yang di selonjorkan ke depan sehingga air pantai sudah membasahi kaki nya. Adelia masih berdiri menatap lurus ke depan Pantai. Yuda yang sudah memegang Kameranya, tersenyum kala mendapat gambar Adelia yang sedang berdiri dengan menatap lurus ke depan, seperti Pose yang di sengaja. Padahal Adelia sedang memandang Pantai.
Rima dan Indri menghampiri dengan membawa Botol minuman yang di masukkan ke dalam paper bag. Paper bag itu ia taruh. Dan langsung menghampiri Adelia yang berdiri mematung. Rima menyipratkan air pantai ke arah Adelia yang terdiam.
Byuuur..... Adelia pun tercengang kaget, namun seketika tersenyum kala melihat Rima yang menyipratkan air pantai itu. Adelia pun bergerak ingin membalas Rima. Rima pun berlari dengan terus tertawa. Hingga akhirnya mereka bertiga berenang, hanya Yuda yang tidak ikut berenang. Ia hanya memotret saja.
"Del... Lu mau kemana?.." Tanya Rara. Yang melihat Adelia berjalan keluar dari permukaan air pantai.
"Aku ingin membeli air kelapa muda. Tapi aku lupa tidak membawa uangnya." Ujar Adelia.
Yuda yang mendengar Adelia ingin membeli Air kelapa Muda, menghampiri Adelia.
"Pakai uang ku saja. Atau sekalian biar aku yang membelinya." Yuda menawarkan.
"Tidak usah Yuda. Biar aku kembali dulu ke Vila untuk membawa uang nya terlebih dahulu." Tolak Adelia.
Rara langsung menghampiri Adelia dan Yuda.
"Ambil aja Del. Dari pada Lu harus balik dulu ke Vila, makin lama. Nanti aja pas udah di Vila Lu ganti. Ya kan Yud?." Rara memberi saran untuk meminjam dulu uang Yuda, baru nanti sudah berada di Vila uang nya di ganti.
Adelia pun menurut.
"Ya udah. Maaf ya Yud aku pinjam uangnya dulu." Adelia degan tersenyum.
"Gak apa-apa. Ya udah sekalian bareng, aku juga mau ke sana." Yuda pun berjalan beriringan dengan Adelia menuju tempat penjual kelapa muda.
Dari kejauhan Rima dan Indri tersenyum menyeringai karena Yuda sudah mulai bergerak.
"Sekarang kita harus mulai dari mana?." Tanya Indri.
"Kita kasih minum yang di isi obat tidur itu ke Rara. Agar Nanti Rara tertidur, dan tidak akan tahu tentang apa yang kita akan lakukan ke Adelia." Rima mengatakan pertama targetnya adalah Rara.
Rima dan Indri pun melangkah untuk mendekati Rara.
"Ra, ini minum takut kamu haus." Tawar Rima setelah dekat Rara. Dengan menyerahkan botol minum.
"Ah iya Rim makasih. Tapi aku minumnya nanti ya. Soalnya Adel lagi beli air kelapa muda dulu." Rara dengan menerima Botol minum dari Rima.
'Iya Ra. Buat nanti di Vila aja. Soal nya di Vila lagi gak ada stok Air tadi." Ujar Indri.
Rara pun mengangguk.
Adelia dan Yuda memegang buah kelapa muda yang sudah di lubangi penjualnya, dan bergegas untuk menghampiri Rara, Rima, dan juga Indri.
"Ni buat Lu." Yuda menyerahkan satu buah kelapa ke Rima.
__ADS_1
"Loh koq cuma ngasih satu. Terus buat gue mana?." Tanya Indri.
"Udah itu aja. Kalian minum berdua." Jawab Yuda yang mulai. menyeruput air kelapanya.
Indri pun kesal dan memanyunkan bibirnya.
"Eh Del. Iya aku ingin bicara sesuatu dengan kamu tapi berdua." Ajak Rima kepada Adelia.
"Bicara apa Rim?." Tanya Adelia bingung.
"Udah kita ngobrol nya di sana. Ra, In, Yud gue tinggal dulu ya." Pamit Rima.
Rima pun dengan cepat menggandeng Adelia menuju Kursi yang tidak begitu jauh dari tempat tadi mereka berkumpul.
Adelia dan Rima pun terduduk bersebelahan.
"Del. Aku sebenarnya berat sekali menceritakan ini ke kamu. Tapi bagiku kamu harus tahu." Rima mulai merubah wajahnya menjadi sedih.
"Tentang apa Rim?." Tanya Adelia penasaran.
"Tapi kamu jangan marah atau sedih ya. Biar aku saja yang bersedih." Ucap Rima.
Adelia pun bingung dengan apa yang akan Rima katakan. Adelia pun mengangguk.
"Aku... Di perkosa Del." Ucap Rima.
"Kapan Rim, sama siapa?." Tanya Adelia penasaran.
"Ingat pas hari aku main ke rumah mu, aku sedikit meringis kesakitan ketika duduk?. Nah Malam nya aku di perkosa." Rima menceritakan nya dengan berurai air mata.
"Ya Tuhan Rim. Aku tak menyangka musibah ini akan menimpa mu. Lalu siapa yang memperkosa mu, katakan!. Kamu harus melaporkan nya ke Polisi Rim.!"Adelia dengan wajah nya yang sedih akan musibah yang menimpa Rima.
"Itu tidak mungkin bisa melaporkan nya Del. Huuu... huuu.... Karena Yang melakukan nya... Huuu...huuu...." Rima terus menangis hingga tidak sampai mengatakan orang yang dia maksud.
"Siapa Rim?." Tanya Adelia dan mencoba menggenggam tangan Rima untuk menguatkan.
"Ma... Martin.." Ucap Rima.
Dan Membuat Adelia melotot kaget, dengan apa yang baru saja ia dengar. Adelia pun menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak percaya bahwa Martin yang melakukan nya.
"Itu tidak mungkin Rim." Ucap Adelia.
Lalu Rima, mengeluarkan Ponselnya, dan membuka Fitur Galeri. Kemudian Rima mulai menunjukkan ke Adelia.
Adelia pun tangan nya bergetar, dan berurai air mata setelah melihat Photo Martin orang yang di cintainya tidur bersama Rima.
__ADS_1
"Ceritakan Rim. Kenapa bisa?". Adelia dengan terus mengalir air matanya di pipi.
"Malam itu, aku baru saja pulang dari Singapore. Kebetulan tengah malam itu aku tidak langsung tidur, karena memang belum mengantuk. Aku mencoba menonton tv saja di ruang tengah. Dan kebetulan terdengar suara bel, aku pun membuka pintunya. Terlihat Martin sedang mabuk, entah dari mana dia. Lalu Martin meminta ku memapah nya untuk menuju kamarnya, ya aku pun membantu nya. Setelah aku antar dia masuk kamar, dia menarik ku, mencium ku, bahkan menelanjangi ku. Aku tak bisa lepas darinya, karena tenaga nya yang begitu kuat. Aku hanya bisa memencet kamera Ponsel ku, untuk sebuah bukti. Aku telah di perkosa olehnya." Rima menceritakan nya dengan sedih.
Adelia pun sangat Syok mendengarnya.
Adelia tidak menyangka Martin akan seperti itu, di belakang nya. Padahal Jika sedang merasakan Hasrat yang memuncak bersama Adelia, ia akan menahan nya.
Adelia terus menggelengkan kepala nya dengan terus menangis.
"Aku. Sengaja baru mengatakan nya kepada mu. Aku tidak mau menceritakan nya ke Mama. Takut Mama marah dan kecewa kepada Martin. Aku hanya percaya pada mu Del. Kamu berhati baik, dan mempunyai perasaan yang lembut." Tutur Rima.
Adelia pun merangkul Rima untuk memeluknya. Memberikan kekuatan dengan mengusap-usap punggung Rima. Tapi Rima Yang di peluknya malah tersenyum puas akan rencana nya yang berhasil mengelabui Adelia.
"Yang kuat ya Rim. Aku sungguh tak menyangka Martin yang selalu baik di mata ku, ia bejat sekali kepada mu." Ucap Adelia dengan terisak memeluk Rima.
"Sudah Del. Aku suka sakit jika mengingat itu. Tapi... hanya Satu yang aku takutkan." Rima mencoba melepaskan pelukan Adelia.
"Apa Rim?". Tanya Adelia.
"Aku Takut Hamil." Rima dengan menangis.
Adelia pun terdiam sejenak.
"Jika kamu hamil, kamu harus menikah dengan Martin. Jangan sampai kamu hamil di luar nikah." Tutur Adelia memberikan saran nya.
Rima pun melotot kaget atas ucapan Adelia yang mengatakan Ia harus menikah dengan Martin.
"Tapi kamu calon istri nya Del?."
"Tidak jadi. Yang jadi calon istri nya kamu. Aku tidak mau menikah dengan Martin, sedangkan kamu menderita karena nya. Aku tidak mungkin bahagia Rim..." Adelia berusaha akan melepaskan Martin untuk Rima.
"Tapi Del itu tidak mungkin." Rima tidak percaya akan ucapan Adelia.
"Aku akan melepaskan Martin untuk kamu Rim. Demi kamu. Agar tidak akan terjadi aib di masa depan." Adelia dengan menatap serius kepada Rima.
Rima pun memeluk Adelia dengan terharu.
"Makasih Del. Kamu ternyata benar-benar baik. Kamu sudah mau melepaskan Martin untuk ku. Demi Aku yang sudah menjadi korban nya." Isak Rima.
"Sudah kamu tidak perlu banyak pikiran dari sekarang. Aku yang akan merencanakan nya untuk kamu bisa bersama Martin. Agar ia tidak lari dari tanggung jawab nya." Adelia mencoba tersenyum untuk menenangkan Rima.
Rara dan Indri begitupun Yuda menghampiri mereka. Karena Rara cemas melihat Adelia dan Rima dari kejauhan berurai Air mata. Rara takut terjadi sesuatu pada keduanya.
"Del,Rim. Kalian kenapa menangis?." Tanya Rara yang khawatir.
__ADS_1
"Ah Ti-tidak. Kita gak apa-apa." Jawab Adelia.