
"Hah....?" Adelia melotot tidak mengerti. Pikiran nya terlalu jauh tentang Rasya yang mengatakan kata 'Melayani' Pikiran Adelia berarah ke suatu dirinya yang memberikan tubuhnya kepada Rasya. Adelia menelan ludahnya dengan susah, ada hal mesum kini masuk ke otaknya.
Rasya yang melihat Adelia sedang berpikir, bahkan matanya sedikit melotot itu, Rasya tersenyum menyeringai.
"Apa yang kamu pikirkan?." Tanya Rasya.
"Eng-enggak. Aku gak berpikir apa-apa." Jawab Adelia gelagapan.
Adelia langsung berdiri membereskan piring bekas makan dirinya dan Rasya, Kalau Tante Lia, Serly, dan Rara sudah di bereskan sama Rara. Adelia pun menaruhnya ke Washtafel yang di sana Ada Rara sedang mencuci piring.
"Ra... Aku mau mandi dulu ya."
"Iya Del." Sahut Rara.
Adelia pun cepat bergegas melangkah menaiki tangga, tanpa sepengetahuan Adelia dari belakang Rasya mengikuti langkahnya dengan mengendap-endap seperti pengintai.
Adelia pun sampai ke dalam kamar tanpa mengunci pintunya. Ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi ingin cepat-cepat membersihkan dirinya karena badan nya yang sudah terasa lengket akibat berkutat tadi masak di dapur.
Beberapa menit kemudian Setelah selesai dengan mandinya Adelia ke luar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang panjangnya hanya sebatas paha. Rasya yang melihat tubuh Adelia yang begitu seksi dengan handuk mininya matanya tidak berkedip, bahkan jantungnya berdetak begitu kencang, bahkan tenggorokannya seakan tercekat hingga menelan ludah pun terasa begitu sulit.
Oh tidak. Aku salah. Tadinya aku ke mari hanya ingin menggoda Adel. Tapi malah diriku yang tergoda. Sial..... Rasya Junior langsung berontak.
Rasya berbicara dalam hatinya merutuki dirinya yang tadi niatnya hanya untuk menggoda Adelia, namun malah berbalik dirinya lah yang tergoda.
Terlihat Adelia sudah memilih baju dari dalam tas besarnya yang tadi ia bawa. Adelia terlihat gerakannya mau membuka handuk.
"Jangan di sini." Suara Rasya mengagetkan Adelia yang hendak ingin membuka handuk nya.
Adelia membalikkan badan nya, dan tercengang melihat Rasya yang sedang duduk di tepi tempat tidur sedang menatap ke arah dirinya.
"Rasya tutup mata mu. Ngapain kamu ada di sini. Sejak kapan?." Adelia dengan mencoba menutup tubuhnya yang masih memakai handuk mini itu dengan pakaian yang sudah ia pilih tadi. Tapi usahanya percuma tetap saja tidak bisa menutupi tubuhnya yang seksi itu.
Adelia pun bergegas melangkah lebar masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk memakai bajunya di sana. Tanpa mendengar ucapan Rasya terlebih dahulu.
"A-aku. Dari tadi pas kamu ma-masuk ke dalam kamar mandi." Jawab Rasya terbata dengan matanya masih terpejam dan di tutupi telapak tangan nya.
Namun hening Rasya tidak mendengar Adelia berbicara kembali kepadanya.
Adelia gak bicara?.
Apa dia marah.
Ah..... ini salahku.
Pasti dia marah.
Rasya yang masih berbicara dalam hatinya, kaget akan tepukan tangan pada bahu nya. Rasya pun cepat membuka matanya dan menoleh ke belakang terlihat Adelia yang sedang melotot kepadanya.
"Kamu marah?." Tanya Rasya. Dasar Rasya masih bertanya tentulah Adelia pasti akan marah karena membuat Adelia kaget dengan keadaan Adelia memakai handuk sungguh Adelia pasti merasa malu.
Adelia memutar bolanya.
__ADS_1
"Maaf ya. Tadinya aku ke sini mau menggoda kamu. Tapi ternyata salah malah aku yang tergoda sama kamu." Ucap Rasya dengan suara sangat pelan tapi masih terdengar oleh Adelia.
"Kamu itu mesum ya... aku malu tahu." Adelia dengan menunduk.
"Iya maaf sayang. Aku sudah membuat kamu malu. Tapi aku gak berniat untuk mesum koq sumpah." Ucap Rasya dengan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Terus kamu mau apa?." Tanya Adelia dengan datar.
"Aku ingin mengatakan tentang hal tadi. Aku serius. Aku ingin kamu yang menjadi asisten pribadi ku. Kamu hanya menyiapkan schedule kerja ku. Terus menemani aku untuk bertemu para klien." Rasya dengan serius mengatakan nya.
Adelia pun menatap dengan serius.
"Itu saja?."
"Iya itu. Memang apa lagi, mudah bukan?." Rasya dengan mulai menaik turunkan alisnya.
Adelia tersenyum bahkan ingin tertawa karena pada saat tadi pikiran nya sungguh benar-benar ke hal negatif.
"Hei... Sayang apa ada yang lucu?." Tanya Rasya karena melihat Adelia yang terus tersenyum.
Seketika tawa Adelia pecah. "Eng-enggak gak ada yang lucu." Adelia masih dengan tertawa.
Rasya kini menautkan kedua alisnya. "Lalu apa yang membuat mu tertawa?." Tanya nya lagi.
"Sudahlah. Aku hanya ingin tertawa saja." Adelia tidak mau mengatakan yang sesungguhnya.
"Benarkah?." Rasya dengan mulai mendekatkan wajahnya mengikis jarak antara wajah dirinya dengan wajah Adelia.
Sontak Adelia gugup akan perilaku Rasya yang seperti itu. Bagaimana tidak kini manik mata hitam Rasya beradu pandang dengan manik mata coklat milik Adelia.
Baru saja Rasya ingin meraih dagu Adelia terdengar pintu kamar terbuka. Rasya pun dengan cepat melepaskan tangan nya dari dagu Adelia, dan berusaha duduk tegak di samping Adelia.
Terlihat Rara yang membuka pintu.
"Eh ternyata kalian ada di sini?." Tanya Rara.
Adelia mengangguk. Tidak dengan Rasya yang hanya berwajah datar.
"Oh Iya Sya... Di-Di bawah A-ada Om Hadi sudah pulang." Rara menyampaikan nya dengan terbata.
Rasya pun dengan cepat berdiri dan melangkah keluar kamar.
"Del. Gue takut." Rara seperti ketakutan.
"Takut apa?. Ayo kita ke bawah temui Om Hadi." Ajak Adelia, namun langkahnya terhenti kala tangan Adelia di tarik oleh Rara.
"Please Del elu di sini dulu. Jangan dulu turun ke bawah. Gue takut bener. Setelah Om Hadi melihat Gue berada di sini dia seperti tidak suka." Rara menyampaikan apa yang membuatnya takut.
"Gak usah takut Ra. Emang Om Hadi roman wajahnya seperti itu." Adelia mengatakan agar Rara tenang tidak merasa takut.
"Yuk kita samperin." Ajak Adelia kembali.
__ADS_1
Rara pun mengangguk dan ikut keluar dari dalam kamar, dan mulai menuruni anak tangga. Ketika Adelia dan Rara baru saja ingin melangkah ke arah Ruang tengah terdengar Suara Om Hadi yang membentak Rasya.
"Apa Karena Gadis itu kamu menceraikan istri mu, Rasya?." Teriak Suara Om Hadi memenuhi Isi Rumah itu.
"Bukan karena siapa pun Pah. Aku hanya tidak bisa meneruskan pernikahan itu. Bahkan Mama juga tahu dari awal bahwa Rasya tidak mau melakukan pernikahan itu kalau bukan karena Rasya menghormati Mama dan Papa." Rasya berusaha dengan tenang menyampaikan semua alasan nya.
"Papa menjodohkan kamu. Itu buat kebaikan kamu. Agar kehidupan mu lebih baik kedepan nya Rasya. Karena Papa sudah terjerat hutang di masa lalu."
"Hutang apa Pah?. Dan kenapa setiap Rasya menanyakan nya Papah tidak pernah mengatakan nya?." Rasya dengan cepat memotong ucapan Papa nya itu. Dan membuat Om Hadi seketika naik pitam.
Sudah emosi setelah mendengar Rasya bercerai. Kini emosi nya bertambah dengan ucapan Rasya yang memotong kata-katanya.
Om Hadi berdiri dan dengan cepat menampar Putra nya itu.
Plak.... Plak....
Suara tamparan itu sungguh jelas terdengar ke arah Adelia dan Rara yang berada di balik dinding tembok itu. Adelia dan Rara pun seketika meringis. Apalagi dengan Rasya yang kini merasakan Panas di kedua pipinya. Bahkan rasa kebas kini memenuhi wajahnya. Rasya memegang kedua pipinya.
"Pah, tidak perlu seperti itu. Kasihan anak kita." Mama Rasya dengan merangkul Rasya ke dalam pelukan nya.
"Mama terlalu memanjakan nya. Lihat dia sudah menantang Papa. Bahkan Sikapnya sudah tidak mempunyai kesopanan lagi. Pasti karena pengaruh gadis yatim itu." Om Hadi dengan bertolak pinggang menunjuk-nunjuk wajah Rasya.
"Cukup Pah. Jangan Libatkan Adelia dalam masalah ini. Adelia tidak pernah memberikan pengaruh apa-apa kepada Rasya. Ini hanya jalan Rasya. Ke inginan Rasya. Rasya ingin menentukan kehidupan Rasya sendiri. Rasya bukan boneka Pah. Yang harus terus menuruti apa mau Papah. Rasya juga ingin menentukan hidup Rasya." Sahut Rasya.
"Hah. Terus selama ini kamu bekerja di mana hah, Papa mendengar kamu tidak bekerja di perusahaan Rony, bahkan di perusahaan Papa tidak. Lalu kamu dimana Rasya?." Suara Om Hadi kembali menggelegar mengisi Ruangan rumah itu.
"Papa tidak perlu tahu. Rasya ingin mandiri. Rasya tidak mau terus bergantung kepada Papa apalagi kepada Mantan Mertua Rasya. Rasya punya Harga diri. Tidak mau terus tunduk kepada perintah siapapun." Kata-kata Rasya benar-benar membuat emosi Hadi naik kembali.
Hadi sudah mengangkatkan tangan nya untuk menampar Rasya. Namun tangannya itu terhenti kala Rasya dengan cepat bersuara.
"Ayo Pah. Tampar lagi. Kalau itu membuat Papa puas. Rasya terima asal Rasya sudah lega mengungkapkan apa yang selama ini Rasya pendam. Rasya tidak akan mengubah ke inginan Rasya. Rasya akan menikahi gadis yang selama Rasya cintai. Papa tidak perlu takut kehilangan harta benda Papa karena Rasya akan menafkahi dari Hasil jerih payah Rasya sendiri. Karena Rasya Laki-laki Rasya akan bebas menikah walau tanpa Kehadiran Papa. Rasya permisi." Ujar Rasya dengan dadanya naik turun menahan emosi karena melihat Papanya yang akan hendak menampar Pipinya kembali. Rasya pun dengan cepat berdiri dan melangkah. Namun langkahnya terhenti kala melihat Adelia dan Rara berdiri tidak jauh dari arah tangga.
Rasya dengan cepat menghampiri Adelia. Lalu ia menggenggam tangan nya dan menarik untuk ikut melangkah. Adelia pun menurut melangkah, tapi Rasya terus membawa Adelia hingga ke depan Pintu Utama.
"Ingat Rasya. Jika Kamu sampai pergi dari rumah ini. Maka Nama kamu akan tercoret dari ahli waris Papa. Bahkan Tercoret dari Kartu keluarga. Jangan sampai Nama mu memakai Nama Argadinata. Ingat itu." Suara Hadi membuat langkah Rasya terhenti. Bukan terhenti karena takut mendengar namanya tercoret dari ahli waris. Namun Rasya terhenti hanya ingin mendengar dengan baik.
"Baiklah." Ucap Rasya tanpa membalikkan tubuhnya. Kemudian Ia terus melangkah dengan tangan nya masih menggenggam tangan Adelia.
Sampai di depan Mobil Rasya baru melepaskan genggaman nya itu.
Kini menatap Adelia yang terdiam.
"Ayo masuk." Rasya menyuruh Adelia masuk, dengan pintu mobil yang sudah ia buka kan.
"Tapi Sya.. Kamu salah."
"Sudah masuk dulu. Aku tidak mau untuk membahas itu dulu. Aku ingin menenangkan pikiran ku." Bantah Rasya.
Adelia pun menurut dan masuk ke dalam mobil Rasya. Rasya pun masuk dan mulai duduk di balik kemudinya. Lalu Rasya dengan cepat melajukan mobilnya.
Adelia masih terdiam mungkin karena Syok mendengar pertengkaran antara Ayah dan Anak tadi. Hingga membuat tubuh Adelia bergetar ketakutan.
__ADS_1
Rasya fokus pada setirnya tanpa menoleh ke arah Adelia yang sedang bergetar, karena Jalanan malam ini begitu padat. Ia tidak mau harus tidak fokus karena memikirkan pertengkaran yang baru saja Rasya lakukan bersama Papanya itu.
...Bersambung....