
Maharani terus tersenyum di sepanjang jalan. Merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bisa resmi menjalin hubungan dengan Aldi merupakan hal yang ia inginkan semenjak bertemu dengan Aldi. Ada rasa tak nyaman saat dirinya teringat menyatakan cinta. Yang membuat tak nyaman nya dirinya adalah seorang perempuan. Namun, Maharani mengingat kembali. Jika tidak mengungkapkan seperti tadi, mana bisa ia akan resmi menjadi pacarnya Aldi. Dan yang paling berjasa atas hubungan dirinya terjalin karena Ibu Aldi yang telah salah paham.
"Mau ke toko yang mana?" tanya Aldi setelah berhasil memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko.
Maharani yang sedari melamun dengan terus tersenyum, merasa kaget. Ternyata, mobil Aldi sudah berhenti.
"Al kok, gak keMall?" tanya Maharani saat menatap kesekelilingnya. Hanya terdapat ruko-ruko yang beragam. Terlihat banyak toko baju, accesoris, sepatu, bahan sembako, dan peralatan tulis.
"Maaf! Mall dari sini agak jauh," ucap Aldi dengan merasa bersalah.
Maharani tersenyum, "Ya udah gak apa-apa. Yuk turun!" ajaknya kemudian.
Aldi mengangguk.
Setelah keduanya turun. Maharani dengan cepat menggandeng lengan Aldi, merasa telah punya hubungan membuat Maharani tidak ragu untuk merangkul lengan Aldi.
Sementara Aldi merasa tidak nyaman. Entahlah ... mungkin ini hal pertama bagi dirinya yang jalan bersama wanita selain bersama Serly saat itu. Di gandeng lengannya, di depan banyak orang. Aldi jadi mengingat kembali sosok Serly, ada denyut nyeri di dadanya saat mengingat Serly yang sudah mencampakkan dirinya dengan tiba-tiba.
"Al, kamu ngelamun?" tanya Maharani saat memperhatikan wajah Aldi yang menatap kosong ke depan.
"Ah e-enggak," sahut Aldi dengan terbata.
Maharani mengangguk-angguk, "Ya udah, aku sekarang mau pilih baju dulu ya," katanya dengan tersenyum.
"Saya tunggu di luar," kata Aldi kemudian.
Maharani menjawab dengan mengangguk. Kemudian masuk ke dalam toko pakaian.
Hingga beberapa menit kemudian. Maharani sudah mendapatkan pakaian yang menurutnya lumayan, karena biasanya dirinya berbelanja di sebuah butiq. Tapi, saat ini tidak masalah karena dalam keadaan darurat. Dan jarak tempuh ke sebuah Mall lumayan jauh.
Maharani sengaja memilih banyak pakaian. Agar bisa memberi untuk Alma adiknya Aldi. Dan sekalian membelikan beberapa pakaian untuk Ibu dan juga Aldi pria yang sangat di cintainya.
Saat tiba di depan meja kasir. Penjaga kasir tersebut sedikit melotot. Karena baru kali ini ada pelanggan yang sangat royal membeli pakaian dengan jumlah banyak.
Saat penjaga kasir menscan barcode belanjaan. Aldi masuk dan mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya. Sontak membuat Maharani bertanya dengan keheranan.
"Al, jangan bilang kamu bermaksud mau membayar belanjaan ku?" tanyanya menebak.
"Iya. Biar saya yang membayar,"
Maharani langsung mengambil kartu debit milik Aldi, "Gak usah Al. Biar aku saja yang bayar. Jika kamu berniat ingin membelikan sesuatu, di lain waktu saja ya!" tolaknya dengan halus dan memasukan kartu debit milik Aldi ke dalam saku jaket milik Aldi.
__ADS_1
"Tapi, Non--"
"Kamu masih panggil aku nona?" Maharani memotong ucapan Aldi saat mendengar Aldi masih memanggilnya dengan sebutan kata nona.
Aldi terdiam dengan menatap wajah Maharani, "Ya terus saya harus panggil apa?" tanya nya dengan wajah bingung.
Maharani tersenyum menggoda, kemudian berbisik di telinga Aldi, "Panggil aku sayang!" titahnya.
Aldi terdiam. Dengan menahan remangan bulu kuduk yang seketika berdiri, saat terkena terpaan hembusan nafas Maharani yang mengenai daun telinganya.
"Gak mau ya?" tanya Maharani saat melihat Aldi hanya terdiam.
"Ya sudah. Panggil saja aku, Rani! itu nama panggilan ku, tidak usah dengan nama lengkapnya Maharani Ratuliu, apalagi di tambah kata nona di depan nya," kata Maharani panjang lebar.
Membuat Aldi sedikit tersenyum, "Bawel juga ternyata," batin Aldi menilai Maharani saat ini.
"Permisi Mbak ... semua total belanjaan nya, tiga juta lima ratus delapan puluh ribu," ucap pelayan kasir. Seketika membuat Maharani menatapnya.
"Ini pakai debit ya!" kata Maharani setelah mengeluarkan kartu saktinya dari dalam dompet.
Pelayan itu menerima dengan tersenyum, "baik mbak ...," ucapnya.
"Oh iya, kenapa mbak tidak mau menerima belanjaan nya di bayarin sama si mas gantengnya? padahal ini lumayan loh jumlahnya banyak," lanjut si pelayan kasir ingin tahu alasan Maharani.
Pelayan kasir itu menyengir.
"Ya, aku gak mau. Karena aku juga punya. Tidak setiap wanita selalu ingin di beri oleh si pria. Karena, aku orangnya tidak seperti itu ... yang tiap apa-apa di bayarin," ujar Maharani akhirnya tetap memberi tahu alasan nya kepada pelayan kasir yang ingin tahu.
Aldi menyimak setiap yang terucap oleh Maharani dengan memandang wajah Maharani dari arah samping. Ada rasa kagum saat menatap wajah Maharani serta mendengar tutur katanya yang tegas serta jelas.
Maharani menerima kartu debit, serta belanjaan nya yang kini sudah menjadi empat paper bag.
"Al, aku mau ganti baju dulu ya!" katanya.
"Kan belum mandi? masa mau main ganti baju aja!" ledek Aldi.
Maharani tersenyum senang walaupun di ledek. Ini hal langka baginya. Yang mendapat ledekan dari Aldi seakan ledekan itu sebuah perhatian untuknya. Karena Aldi yang biasa, cuek, datar dan dingin tanpa ekspresi.
Kini Aldi mengerutkan dahi merasa aneh menatap Maharani yang senyum-senyum sendiri. Dengan gerakan cepat tangan nya mengambil alih semua paper bag yang di pegang Maharani.
"Al," Maharani tersentak kaget.
__ADS_1
"Mau senyum-senyum terus? gak apa-apa, biar barang-barangnya saya yang bawa," ujarnya.
Maharani kembali tersenyum. Senyumnya kini lebih lebar, "Terima kasih ya, Al!" ucapnya dengan menyenderkan kepalanya di bahu Aldi.
"Hei, kenapa seperti ini? dan kenapa harus berterima kasih?" tanya Aldi keheranan dengan perilaku Maharani.
"Aku bahagia Al, sungguh bahagia," ucap Maharani dengan mata berkaca-kaca.
"Pulang ya?" Aldi kini langsung merangkul pundak Maharani. Aldi melakukan itu, karena merasa malu dengan pengunjung toko lain yang banyak memperhatikan ke arahnya, apalagi pelayan kasir sedari tadi terus memperhatikan nya.
Maharani menurut tanpa banyak bertanya. Sungguh perlakuan Aldi membuat Maharani semakin tersentuh hatinya.
Kini Maharani dan Aldi sudah duduk di jok mobil masing-masing.
"Setelah ini kemana lagi?" tanya Aldi memastikan jika ada yang Maharani butuhkan lagi.
"Ke mini market ya," jawab Maharani.
"Ok!" sahut Aldi dengan langsung menancapkan gas.
Lalu Maharani dengan perlahan menyenderkan kepalanya di bahu Aldi. Sontak membuat Aldi menjadi kurang fokus, karena merasa gugup.
"Al, jika kamu sudah jatuh cinta suatu saat nanti. Cepat katakan ya! agar aku tahu," ujar Maharani.
Aldi diam tidak merespon ujaran Maharani tersebut.
"Al, kamu tahu? kamu adalah pria ke dua yang mampu membuat luluhnya hatiku. Padahal baru pertama saja bertemu, aku sudah merasakan jatuh cinta." Maharani memberitahu soal perjalanan cintanya, walaupun tidak jelas dan detail tapi, mampu membuat Aldi mencerna.
"Aku pria ke dua? terus siapa pria pertama yang telah membuatnya jatuh cinta?" batin Aldi bertanya. Mau bertanya langsung namun Aldi gengsi, takut di sangka lebih ingin tahu soal Maharani.
...***...
Informasi sedikit saja ya readers!
Sosok Maharani adalah gadis cantik, berprofesi model yang sangat jatuh cinta kepada Aldi.
Sosok Maharani ini, agresif, bawel, serta barbar.
Bagaimana kelangsungan hubungan Aldi yang super duper kaku, dingin, dan gengsi bersama Maharani?
Terus tunggu kelanjutan nya ya ... saya akan membahas dulu tentang Aldi dan Maharani di beberapa episode ke depan.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia membaca cerita saya!