
Rima terus mengamuk dan dengan menangis histeris. Tante Meli pun sampai ikut menangis melihat putri nya menjadi seperti itu. Indri dan Yuda yang sedari tadi melihat Rima mengamuk, kini mencoba mendekat dan menenangkan Rima. Rima pun sedikit mereda Tangis dan Histeris nya. Indri dan Yuda pun cepat memapah Rima menuju kamar nya yang berada di lantai atas. Rima pun tertidur dengan pulas seperti biasa jika habis mengamuk histeris ia akan tertidur lelap.
Indri dan Yuda yang masih menemani nya kini mengobrol berdua di balkon kamar Rima.
"Gak sangka segitu Cinta nya Si Rima, sama Tuh Cowok. Sampai Histeris begitu." Yuda yang baru melihat Rima seperti itu merasa kaget.
"Iya Gue juga baru tahu sekarang. Cuma dari dulu Rima hanya bercerita saja bahwa suka sama sepupu nya." Tutur Indri Juga yang baru tahu akan Sikap Rima.
"Jadi Dia suka sama sepupunya?." Tanya Yuda.
"Iya. Makanya mama nya gak ngijinin. Mungkin setidak nya masih ikatan darah." Kata Indri.
Lalu tiba-tiba datang Tante Meli menghampiri.
"Terima kasih ya, kalian sudah membantu tante untuk menenangkan Rima." Ucap Tante Meli, kepada Yuda dan Indri.
"Sama-sama Tante." Ucap Yuda
"Tante gak usah berterima kasih. Rima sudah bagian dari hidup kami. Kita bertiga sahabatan dari SMP." Indri tersenyum kepada Tante Meli, mama nya Rima.
"Tante bersyukur, bahwa Rima mempunyai teman seperti kalian." Tante Meli yang belum mengetahui akan rencana jahat Rima yang berencana bersama ke dua teman nya.
Yuda dan Indri pun hanya menjawab dengan tersenyum.
"Tante pergi dulu. Titip Rima ya" Tante Meli hendak ingin pergi dan menitipkan Rima kepada Yuda dan Indri.
"Iya Tante." Jawab Indri dan Yuda bersamaan.
Tante Meli pun pergi. Tinggallah Yuda dan Indri. Tak Lama Rima pun bangun dari tidur nya.
"Kalian masih di sini?." Tanya Rima yang sudah berdiri mendekati Indri dan Yuda.
"Iya. Lu udah mendingan?." Tanya Indri kemudian.
Rima pun mengangguk.
"Rim. Rencana Lu gagal bukan, yang membuat Lu ngamuk histeris gitu?." Tanya Yuda yang belum mengetahui penyebab Rima menjadi mengamuk dan histeris.
"Iya Gue gagal. Gue lupa bahwa Martin itu cerdik. Martin menyimpan kamera tersembunyi di depan dan dalam kamarnya. Jadi semua kebohongan gue terbongkar. Adelia pun jadi marah sama gue. Tadi nya Adelia akan menyerahkan Martin sama Gue, dengan menikahkan gue dengan Martin." Rima menceritakan sebab ia mengamuk, dan menangis histeris.
"Tapi Lu punya cara lain Rim. Dengan Video rekaman itu. Lu bisa menjauhkan Adelia dan Martin." Indri mengingatkan Rima akan Rekaman Video Adelia dan Yuda.
"Lu benar In. Gue akan menggunakan Rekaman Video itu. Gue akan Kirim Video itu dengan memakai nomor ponsel baru ke nomor Martin." Rima dengan mulai menyunggingkan bibirnya tersenyum jahat.
"Tapi Rima, itu akan membuat Martin membenci Adelia." Yuda mengatakan apa pendapat nya.
"Itu yang Gue mau. Martin jadi Membenci Adelia. Dengan ia benci, ia akan cepat meninggalkan Adelia." Tutur Rima.
"Ayo Rim kirim video nya. Gue udah gak sabar ingin melihat reaksi Martin." Perintah Indri dengan tidak sabar.
Rima pun memasukkan nomor baru yang sempat waktu itu ia gunakan mengirim photo Adelia yang sedang di tolong Dimas. Rima pun dengan cepat mengirim Video durasi panjang itu ke nomor Martin. Namun terlihat belum Martin buka pesan video tersebut.
*
*
*
Martin dan Adelia kini sudah berada di rumah Adelia. Mereka berdua terus berpandangan dengan tersenyum. Hingga Rara yang baru saja turun dari kamar, memperhatikan Adelia dan Martin dengan heran.
"Woii.... Kalian ngapain sih senyum-senyum aja?." Teriak Rara.
"Ra. Aku kaget." Adelia kaget akan teriakan Rara yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Martin hanya dapat tersenyum melihat tingkah Rara dan Adelia kekasihnya.
"Bagaimana masalah kalian, dah Kelar?." Tanya Rara menanyakan masalah Martin, Rima, dan Adelia.
"Kelar." Jawab Martin.
"Terus Lu mau ngawinin tuh si Rima?." Tanya Rara Lagi. Adelia hanya bisa tersenyum mendengar percakapan Rara dan Martin.
"Ya enggaklah." Ucap Martin.
"Wah elu tega Martin. Giliran tanggung jawab gak mau." Rara sewot karena masih mengetahui akan Rima yang diperkosa nya.
"Ngapain ngawinin dia. Orang Aku gak salah." Ucap Martin.
"Benar Lu gak salah?. Del Lu diam aja ngomong napa!." Rara masih bingung akan tingkah sepasang di hadapan nya.
"Iya Martin gak salah Ra. Itu hanya akal-akan Rima untuk menjebak kami." kata Adelia.
Martin kini merogoh ponselnya, di lihat ada notifikasi chat masuk yang begitu banyak ke nomor ponselnya, Martin sudah tahu pasti itu pesan dari teman-teman bisnis nya yang meminta bekerja sama. Martin pun membuka chat yang sudah lebih lama masuk, Martin pun membaca nya. Martin langsung berdiri dari duduk nya.
"Del. Aku Harus pergi dulu ada kolega ku yang menunggu di suatu tempat." Ucap Martin.
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya. Jangan lupa jaga kesehatan mu." Pesan Adelia dengan tersenyum.
Martin pun memeluk Adelia terlebih dahulu, lalu mencium keningnya.
"Aku pergi sekarang ya. Kamu juga jangan sampai telat makan. Nanti Magh kamu kambuh. Ya udah Bye.. " Pamit Martin dan pergi berlalu keluar untuk menuju mobilnya.
"Dasar Orang sibuk. Katanya sebentar lagi mau merit tapi sibuk mulu..." Rara berceloteh.
Adelia pun hanya bisa tersenyum menanggapi Rara teman nya itu yang membicarakan Martin orang sibuk.
Martin dengan cepat mengendarai mobil nya, lalu tak lama ia pun sampai pada tempat yang di tuju. Sudah ada seseorang yang menunggu nya di tempat itu.
Kolega Martin sudah meninggalkan tempat tersebut lebih dulu. Kini Martin juga keluar dari tempat itu untuk menuju Apartemen nya, ia merasa lelah karena memang hari telah berganti malam.
Martin pun tiba di kamar Apartemen nya. Dengan membaringkan tubuh nya, lalu sebelum Martin beranjak Mandi, Martin berniat memainkan ponselnya. Ia mulai membuka chat satu persatu, sehingga sampai chat yang tersisa yang Rima kirimkan dengan nomor baru. Martin pun penasaran dengan chat berupa video berdurasi hampir tiga puluh menit itu. Martin pun mulai menekan play.
Namun sontak Mata Martin melotot seperti mata nya mau keluar. Melihat dalam Video itu adalah Adelia yang mulai berciuman dengan seorang lelaki, lalu lelaki itu menggendong nya, dan membaringkan Adelia ke atas ranjang. Lelaki itu mulai menciumi Adelia kembali, dengan menciumi leher milik Adelia. Adelia pun tak kalah agresif, ia menaiki tubuh lelaki itu dengan membuka kan bajunya. Lalu Adelia menciumi tubuh lelaki itu dengan *****. Hingga Adelia akan melepaskan baju nya sendiri. Video itu langsung terhenti.
Martin langsung membantingkan ponsel milik nya ke atas kasur. Kini Martin emosi setelah melihat adegan demi adegan yang ia tonton tadi. Martin menggertakan giginya, hingga urat leher nya terlihat mengeras. Martin mengingat-ingat wajah lelaki tadi yang bersama Adelia, ia seperti melihat nya. Tapi entah dimana. Martin terus memutarkan ingatan nya, hingga sampai Martin melotot kembali. Ia ingat Wajah lelaki itu adalah Lelaki yang berada di rumahnya tadi siang. Lelaki itu adalah teman Rima.
Martin pun langsung menyambar ponsel, dan kunci mobil nya. Ia ingin bergegas menuju rumah nya yang di tinggali Tante Meli dan Rima. Mungkin saja Lelaki itu masih ada di sana, Martin akan memberikan pelajaran terhadap nya yang telah menyentuh Adelia milik nya.
Martin pun dengan cepat sampai ke rumah itu, karena ia tadi mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Martin langsung membuka Pintu rumah itu tanpa menekan bel atau mengetuk pintu. Martin dengan wajah nya yang sudah memerah, tangan nya yang mengepal, ia masuk ke dalam rumah. Terlihat Tante Meli sedang menonton tv sendiri.
"Martin..." Tante Meli kaget melihat Martin yang sudah masuk tanpa menyapa nya.
Martin pun menoleh ke Tante Meli. "Di mana Rima dan teman nya, Tante?." Tanya nya.
"Rima ada di kamar nya, Namun temannya sudah pada pulang." Jawab Tante Meli sedikit takut melihat Martin yang sudah matanya berwarna merah.
Martin pun dengan cepat menaiki anak tangga. Ia bergegas masuk ke dalam kamar Rima tanpa mengetuk nya. Terlihat Rima sedang duduk bermain ponsel, wajah nya kaget melihat Martin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
"Martin?." Rima dengan kaget.
Martin memutar otaknya kembali, ia tidak akan langsung menanyakan tentang teman lelaki nya itu.
"Hai..." Martin dengan menutup pintu kamar Rima dan mengunci nya.
Rima pun melotot kaget dengan sikap Martin yang seperti itu.
"A-ada a-apa ka-kamu masuk ke kamar ku?." Tanya Rima gugup dengan bingung.
__ADS_1
Martin melangkah mendekati Rima dengan tersenyum. Ia mendekatkan wajah nya. Sampai Rima menelan ludahnya merasa gugup akan Wajah Martin yang begitu dekat dengan nya.
Martin mengungkung Tubuh Rima yang sedang terlentang di atas ranjang. " Apakah ini yang kamu mau?." Tanya Martin dengan menatap tajam Rima yang berada di atas tubuh Rima.
Rima benar-benar seperti jantungan, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Martin. Ia malah terus menatap Wajah Martin yang selalu di dambakan nya.
Martin mengelus wajah Rima. Rima pun sontak terpejam merasakan sensasi panas akan akibat belaian Martin.
"Ayo kita bermain." Bisik Martin ke telinga Rima. Rima pun mengangguk dengan matanya masih terpejam.
"Tapi aku mau bertanya dahulu. Dimana Teman lelaki mu?. Katakan alamat rumah nya dan nama nya.!" Bisik Martin dengan lembut.
Rima pun seperti hilang ingatan nya. Yang ia rasakan kini Rasa panas akan sentuhan tangan Martin di wajah nya. Sampai ia tidak mengingat akan rencana Liciknya yang tadi ia lakukan dengan mengirim rekaman Video itu.
"Nama nya Yuda, Ia tinggal di Kota D, perumahan xx, no 4." Rima mengatakan Nama dan alamat tinggal teman lelaki nya itu.
Martin pun terdiam mengingat Akan Nama dan Alamat lelaki itu. Martin pun dengan cepat bangkit berdiri, dan melangkah dengan cepat meninggalkan kamar Rima.
Rima pun malah senyum-senyum sendiri, dengan tangan nya memegang bekas sentuhan Martin tadi di wajah nya.
Tiba -tiba Tante Meli mengagetkan nya." Rima, apa yang di lakukan Martin tadi?".
Rima pun dengan cepat mencerna pertanyaan Mama nya.
"Astaga.... Gue udah di tipu. Dia memberikan sentuhan nya. Untuk aku bisa mengatakan Nama dan Alamat Yuda. Aku harus cepat-cepat beritahu Yuda." Rima bergumam yang terdengar oleh tante Meli.
"Rima ada apa hubungan nya dengan Yuda?". Tante Meli bertanya kembali.
"Mama tidak perlu tahu. Ini urusan Rima dengan teman Rima." Rima dengan cepat melangkah keluar menuju mobilnya.
Rima pun dengan cepat melajukan mobilnya, ia bergegas ingin datang ke Rumah Yuda, sebelum Martin tiba lebih dulu.
Rima akan memberitahukan nya dulu kepada Yuda dengan mencoba menelpon nya.
"Yud Lu dimana?." Tanya Rima.
"Gue di Vila. Ada apa?." Jawab Yuda di telpon.
"Hah... Yud Lu jangan dulu pulang. Martin sedang menuju ke rumah mu. Sepertinya dia Marah sama kamu, karena Video itu." Ungkap Rima.
"Apa??. Ini benar di luar dugaan gue. Gue Kira ia bakal marah ke Adelia, dan membenci nya. Namun ia akan menemui ku terlebih dahulu." Yuda di seberang telpon mengatakan hal yang tak di duga nya.
"Ya sudah, mending sekarang Lu lakuin rencana baru gue. Giimana?. Lu ajak Teman Berandal Lu. Untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ekstrim. Lu mau?." Tanya Rima.
"Rencana apalagi?. Sudah cukup gue ya membantu Lu. Gue gak mau terbawa-bawa nantinya." Tolak Yuda.
"Ok. kalau Lu gak mau bantu gue. Gue akan membayar orang untuk lakuin ini. Dan Lu jangan pernah mencegah gue." Rima marah akan Yuda yang menolak perintahnya.
"Ya sudah Lu suruh orang lain saja. Tapi gue mau tahu apa rencan Lu ini?." Yuda penasaran akan Rencana baru Rima.
"Gue akan menyuruh orang untuk membakar Ruko Adelia." Tegas Rima mengatakan nya.
"Apa?. Lu gila Rim. Ini suatu tindakan Kriminal. Lu jangan lakuin itu. Lu nanti akan kena hukum." Cegah Yuda.
"Sudah gue katakan. Lu jangan mencegah gue apalagi menceramahi gue. Pokok nya gue akan lakuin itu malam ini juga." Rima langsung menutup sambungan telpon nya.
Yuda yang berada di Vila itu. Sungguh tegang akan penuturan Rima yang malam ini ia akan membakar rumah milik Adelia.
Yuda merasa kasihan kepada Adelia, ia ingin berniat menolong Adelia saat ini. Namun ia ingat, ia belum tahu alamat tempat tinggal Adelia. Yuda terus berpikir, sampai pikiran nya tertuju kepada Tante Meli ibu Rima.
Yuda pun langsung bergegas untuk menuju Rumah Rima kembali, pikirnya semoga saja upaya nya untuk menyelamatkan Adelia ia tidak terlambat.
......Bersambung.......
__ADS_1