You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 194.


__ADS_3

Adelia langsung berjalan cepat ke arah toilet. Ia sengaja akan datang dari arah sana. Agar Rasya tidak mempertanyakan, jika ia datang dari arah lain.


Rasya yang duduk sedari tadi terus menatap ke arah lorong toilet, ia terus menunggu Adelia di tempat meja makannya. Rasa khawatirnya lenyap saat melihat Adelia yang sedang berjalan ke arahnya. Tepat Adelia duduk, Rasya langsung meluapkan rasa paniknya, dan mempertanyakan hal yang membuat lama Adelia di toilet.


"Sayang, syukurlah kamu datang juga. Tadinya aku mau datang ke toilet. Dan akan mengetuk satu persatu pintu toilet di sana. Jika kamu belum datang. Tapi akhirnya kamu datang juga, Sayang ...,"


Adelia mengulas senyum menatap wajah suaminya yang terlihat panik. Ia akan mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan Rasya, jika sampai Rasya menanyakan perihal yang membuat lama dirinya di toilet.


"Sayang ... kamu kenapa lama sekali? apa di toiletnya mengantri?"


Adelia menggeleng, "Maaf Mas. Aku mules banget, mungkin karena tadi makan yang pedas-pedas," alasan Adelia yang di berikan kepada Rasya.


"Terus sekarang perut kamu masih sakit?" Rasya langsung panik. "Lebih baik sekarang kita ke dokter kandungan. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada kandunganmu, Sayang ...." Rasya mengusap kepala Adelia.


"Ti-tidak perlu Mas. Aku yang salah tadi karena tidak menurut, saat kamu melarang aku makan yang pedas-pedas," tolak Adelia. Dengan mengingatkan hal tadi saat Rasya melarang Adelia makan cimol di pinggir jalan dengan bubuk cabe yang sangat banyak.


"Tuh, kan. Kamu sih ngeyel Sayang ... yang aku takutkan, terjadi kan?!" ujar Rasya dengan meraih tangan Adelia, lalu ia genggam.


"Maaf Mas ... aku telah berbohong. Aku tidak yakin kamu akan baik-baik saja, saat aku mengatakan yang sebenarnya." Adelia membatin. Ia merasa bersalah telah membohongi Rasya. Tapi lebih baik begitu, dari pada Rasya menjadi emosi, jika Rasya tahu bahwa Adelia bertemu dengan Albi dan kedua temannya.


Adelia menempelkan tangan Rasya ke pipinya, "Sudah ya Mas. Aku gak apa-apa kok, sekarang sudah ngemplong," ucapnya dengan menyengir.


Rasya mengangguk. "Sekarang lebih baik pulang saja, yuk!" ajak Rasya. Adelia pun tersenyum dan mengangguk.


Keduanya bangkit dari kursi. Dan berjalan melangkah meninggalkan Cafe. Rasya tadi sudah membayar pesanannya saat menunggu Adelia. Sehingga sekarang ia langsung keluar dari Cafe itu.


"Loh, Mas itu kan Serly, Rara, dan anak teman Papa," tunjuk Adelia ke arah Serly, Rara, dan Ariyanti. Rasya dan Adelia kini sedang berjalan melewati toko pakaian.


"Iya. Bahkan tadi mereka makan-makan di cafe tadi," sahut Rasya.


Mata Adelia membola. Terkejut, karena sampai selama itu ia meninggalkan Rasya. Sampai Serly, Rara, dan Ariyanti makan, hingga selesai.


"Terus, Mas jadi bareng makan sama mereka?"


"Enggak. Mereka duduk di meja sebelahnya,"


Entah kenapa Adelia langsung merasa cemburu kalau melihat wajah Ariyanti. Adelia teringat saat di acara empat bulanan kehamilannya, Ariyanti menatap Rasya dengan tatapan berbeda.


"Ayo, Mas!" Adelia menarik tangan Rasya dengan cepat. Berjalan dengan melangkah lebar. Membuat Rasya mengerutkan dahinya, bingung. Namun, kemudian Rasya jadi tersenyum saat sadar bahwa istrinya telah menarik tangannya.


"Sayang ... kamu mau kemana?. Ini salah tahu jalannya. Kalau ke parkiran, arah sana! kalau ke sini, ini ke arah outlet elektronik," Rasya dengan tersenyum menahan Adelia yang terus berjalan ke arah lain.

__ADS_1


"Ya sudah ke outlet elektronik saja. Aku ingin ponsel Mas."


Rasya manggut-manggut, ia sampai lupa untuk membelikan benda itu, untuk istrinya.


"Ayo, Sayang ... terima kasih ya, kamu sudah mengingatkan," ujarnya. Kini Rasya berjalan dengan merangkul bahu istrinya, ke arah outlet elektronik.


Langkah keduanya terhenti saat sampai pada outlet penjual ponsel. Dengan berbagai ragam merk ponsel yang di jualnya.


"Ayo, Sayang ... kamu mau pilih yang mana?!"


Adelia menatap ke arah Rasya, "Mas saja yang pilihkan, aku akan menerimanya kok," Adelia menyerahkan pilihannya kepada Rasya.


"Beneran? gak mau kamu yang pilih?" Rasya memastikan lagi.


Adelia mengangguk, "Iya Mas. Aku akan suka apa yang kamu pilih," ujar Adelia.


"Ya sudah,"


Rasya memanggil pelayan outlet tersebut. Kemudian meminta ponsel keluaran terbaru, dan Rasya langsung memilihkan untuk Adelia, dengan merk yang terkenal, dan tentu harganya yang tidak murah.


Adelia melotot, saat Rasya menyerahkan struk dari bukti pembayarannya, yang melalui kartu debit milik Rasya.


Rasya tersenyum, "Enggak kok. Kalau mahal, aku pasti gak bisa beliin buat kamu," ucapnya. Kini keduanya meninggalkan outlet itu. Dan berjalan melangkah ke arah parkiran.


Adelia seperti biasa di persilahkan masuk terlebih dahulu, dengan di bukakan pintunya oleh Rasya. Setelah itu Rasya baru masuk ke arah pintu sampingnya.


"Mas, terima kasih ya," ujar Adelia dengan tersenyum.


Rasya pun tersenyum dengan mengangguk, "Sama-sama. Tapi itu gak gratis Sayang ...," seloroh Rasya, seraya tangannya mulai menyetir mobilnya.


"Jadi, aku harus bayar?" tanya Adelia dengan menautkan kedua alisnya.


"Iya."


"Tapi aku gak punya uang Mas, semua keperluan ku, kamu yang tanggung. Dan aku juga gak berkerja. Aku harus bayar pakai apa?"


Rasya terkekeh, inilah kesukaan ia menggoda istrinya yang berubah menjadi polos setelah kehilangan ingatannya.


"Pakai apa, ya?" Rasya berpura-pura berpikir.


"Atau begini, Mas. Mas ijinin aku kerja, agar aku bisa membayar hutang ponsel ku,"

__ADS_1


Rasya langsung tergelak, mendengar penuturan istrinya yang meminta ijin untuk bekerja, karena untuk bisa membayar ponsel yang telah ia berikan.


"No. Sayang ... sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan kamu bekerja. Kecuali satu, kamu harus bekerja setiap malam denganku," goda Rasya.


"Kerja setiap malam denganmu? emang kerja apa Mas? perasaan Mas, kalau malam gak kerja. Selalu ada di rumah," tukas Adelia dengan mengingat-ingat tentang Rasya yang selalu berada di rumah kala malam.


"Nanti deh. Mas, jelaskan pas malam," tukas Rasya.


Adelia mengangguk. Sedangkan Rasya mengulum senyum bahkan menahan tawa. Sungguh Rasya senang bisa menggoda Adelia seperti itu, dengan ucapannya yang selalu tidak di mengerti langsung oleh Adelia.


Mobil Rasya pun terhenti kala di depan halaman rumah. Ia keluar terlebih dahulu. Dan membukakan pintu untuk Adelia keluar.


Adelia dan Rasya pun masuk ke dalam rumah. Dan terlihat Serly, Rara, Ariyanti, dan Lia tengah berada di ruang tengah dengan berbincang dan memperlihatkan hasil belanjaan dari Serly, Rara, dan Ariyanti.


"Eh, kalian sudah pulang?" tanya Lia dengan tersenyum ke arah Rasya dan Adelia.


"Iya Ma," sahut Adelia dengan tersenyum.


"Loh, istrimu gak di ajak belanja, Syaa ...?," tanya Lia dengan memindai tangan Adelia dan Rasya yang kosong. Hanya satu paperbag yang Liapun tahu itu adalah dari outlet elektronik.


"Istriku, gak minta Ma,"


"Belanja kok, Ma. Mas Rasya beliin aku ponsel," ujar Adelia dengan memperlihatkan isi dari paperbagnya.


Lia melotot kagum, dengan ponsel yang Rasya belikan untuk Adelia. Karena Lia tahu bahwa harganya tidaklah murah.


"Wah, ponsel ini kan, yang Serly mau dari kemarin. Tapi, Mama belum belikan. Ini mahal loh," Lia dengan membolak-balikkan ponsel tersebut.


Adelia tersenyum, dan melirik Rasya sekilas, "Iya Ma sangat mahal. Bahkan Adel harus membayarnya. Untung Mas Rasya mau ngajak Adel kerja setiap malam, untuk bisa membayarnya," celetuk Adelia.


Membuat Rasya menggaruk tengkuknya yang gak gatal. Sedangkan Lia langsung mengerti, dan melotot ke arah Rasya seraya menggeleng-gelengkan kepala.


"Mama gak sangka, kamu itu nakal Sya ...," tangan Lia terangkat untuk menjewer telinga Rasya.


"Auw, sakit Ma!!" pekik Rasya meringis.


Sedangkan Adelia melongo, karena tidak mengerti kenapa Mama mertuanya itu menjewer anaknya sendiri, setelah mendengar celetukannya.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2