
Rima yang di kabarkan Tante Meli pergi ke Singapore ternyata itu tidak benar, Rima berbohong kepada Mama nya sendiri. Karena Bagi Rima, Mama nya menyuruh nya untuk ke Psikiater terbaik, Rima di anggap seperti sudah gila saja. Rima berpura-pura membeli tiket penerbangan ke Singapore, padahal ia pergi ke suatu Tempat.
Rima tinggal di suatu tempat kamar Kost, bersama Teman nya yaitu Indri. Indri merupakan teman baik Rima dari sejak SMA. Indri selalu mendukung Apa yang Rima mau, bahkan Rima menyukai dan menginginkan Martin pun Indri mendukung nya. Dengan beralasan Cinta tak memandang itu Siapa statusnya.
Photo yang sempat di kirimkan ke Nomor Ponsel Martin ternyata adalah ulah Rima.
Yang memang Rima sendiri memotret kala Adelia mencoba membantu membangunkan Dimas yang saat itu telah menolongnya.
Rima tersenyum kala berhasil mengirimkan photo itu, dan membayangkan hubungan Adelia dan Martin berantakan.
Rima terus akan menyusun rencana jahatnya, agar hubungan Martin dengan Adelia kacau balau. Rima tidak Rela jika Martin menjadi milik orang lain.
Dan Kini Rima sedang berada dalam mobil milik Indri teman nya, ia sedang mengintai Aktivitas Martin, entah apa yang sekarang Rima rencana kan.
Terlihat Martin memasuki Sebuah Club malam, untuk menghadiri teman bisnis nya yang meminta bertemu di tempat itu.
Rima menyeringai, kala ada sebuah ide jahat terlintas di pikiran nya. Seketika ide Jahat itu ia bisikkan ke telinga Indri yang duduk di sebelahnya.
"Hah, Lu serius Rim?". Indri kaget mendengar Ide Jahat yang Rima bisikkan ke telinganya.
"Iya tentu gue serius. Gue ingin Martin menjadi milik Gue." Rima sepertinya mantap dengan ide jahat nya.
"Tapi, gimana kalau Lu gak berhasil kali ini?". Tanya Indri sedikit ragu akan Ide Jahat Rima kali ini.
"Sudah, kenapa gak kita coba dulu." Rima dengan tersenyum lebar.
Rima dan Indri pun turun dari dalam mobil. Dan bergegas masuk ke dalam Club tersebut. Rima dan Indri menghampiri salah satu pelayan Club itu, dan membisikkan sesuatu dan menyerahkan banyak uang. Pelayan tersebut mengangguk, dan pamit ke belakang terlebih dahulu. Terlihat Martin sedang duduk bersama rekan Bisnis nya yang berjumlah dua orang. Rima berpura-pura tidak melihat Martin di tempat itu, dengan berpura-pura mengobrol serius bersama Indri. Dan datanglah Pelayan yang tadi, ia memberikan sebuah bungkusan kecil seperti obat serbuk.
Rima terus berpura-pura mengobrol. Terlihat Martin mulai memandangi ke sekitar Club, dan mata nya tertuju kepada Rima. Martin dengan ragu ingin memastikan itu Rima atau bukan, Namun ia tidak berani mendekatinya di karenakan takut salah orang.
Rima keluar Club bersama Indri. Kini Rima ingin pulang ke rumahnya, dan di antar oleh Indri.
Sesampai nya, Rima pun langsung masuk. Dan Indri pun pulang.
Rima berpapasan dengan Mama nya yaitu Tante Meli.
"Loh Rima, kamu sudah pulang Nak?." Tanya Tante Meli.
"Iya Ma. Rima sudah gak betah di sana. Rima langsung ke kamar ya. Rima Capek." Rima dengan langsung menaiki anak tangga bergegas menuju kamar nya.
Rima pun membaringkan tubuhnya di atas kasur, kala sampai di kamarnya. Rima kini memikirkan bagaimana cara nya Agar bisa menjebak Martin dengan benda yang tadi ia terima dari pelayan Club.
Sementara itu Martin keluar dari Club dengan perasaan kesal, karena teman bisnisnya memaksa Martin untuk meminum minuman Alkohol yang selama hidup Martin tidak pernah meminumnya.
Martin merasa pusing kepalanya. Ia memasuki mobilnya dan mulai menyetir.
Martin melajukan mobilnya ke Kediaman nya, karena jarak dari Club memang lebih dekat ke rumahnya, daripada ke Apartemen milik nya. Martin turun dari mobilnya dengan sedikit sempoyongan, ia melirik jam tangan nya terlihat pukul 01.00.
"Apa mungkin Tante Meli sudah tidur?." Martin bergumam ketika memencet Bel, namun belum ada yang membuka nya.
Martin membalikkan badan bergegas ingin masuk ke dalam mobilnya kembali, tapi Seketika Pintu Rumah terbuka. Dan terlihat Rima yang membuka nya.
"Martin..." Sapa Rima setelah membuka pintu.
"Ah iya. Aku ingin tidur di sini." Martin menoleh ke arah Rima, dengan berjalan sedikit sempoyongan.
"Ada apa dengan kamu?." Tanya Rima sok polos.
__ADS_1
"Aku tadi sedikit minum. Bisakah kamu membantu ku mengantarkan ke kamar?." Martin meminta bantuan Rima untuk membantunya menuju kamar.
Rima dengan wajah berbinar mengangguk, ia akan membantu Martin menuju kamarnya.
Dengan cepat Rima menggandeng tangan Martin, ia sungguh sangat senang bisa menyentuh tangan orang yang selama ini ia cintai. Martin pun tidak menolak nya, karena memang saat ini Martin butuh bantuan untuk bisa menaiki anak tangga.
Setelah di lantai atas, Martin melepaskan pegangan tangan Rima. Ia berniat hendak ke dalam kamarnya sendiri tanpa Rima yang mengantar.
"Terima kasih." Martin dengan berjalan sempoyongan.
Rima masih pada tempatnya, dan masih melihat Martin yang berjalan menuju kamarnya, Namun tak lama Martin ambruk pingsan. Rima pun dengan cepat menuju ke arah Martin pingsan, ia mulai membangunkan tubuh Martin dan memapahnya ke dalam kamar milik Martin.
Rima pun membaringkan tubuh Martin ke atas kasur. Ia terus menatap lekat wajah Martin, dan membelai nya. Seringai jahat muncul di bibirnya. Rima mulai mengunci pintu kamar Martin, dan membuka baju kemeja yang Martin kenakan. Setelah itu Rima membuka baju nya sendiri hingga benda yang menutupi kedua gundukan di dadanya pun ia buka. Kemudian Rima mulai mengarahkan ponsel milik nya, ke arah berbaring nya Martin, ia menghidupkan kamera ponselnya. Setelah terlihat pas, Rima pun ikut membaringkan tubuhnya. Dan Tubuhnya di selimuti bersama Martin. Tangan Martin ia lingkarkan ke tubuhnya, seolah seperti Martin yang memeluk. Terlihat Tubuh Martin dan Rima seperti bertelanjang. Rima pun tersenyum setelah melihat hasil jepretan yang di beri waktu itu hasilnya memuaskan.
Rima pun berbaring kembali di sisi Martin, dengan tangan nya memeluk Martin. Sesekali ia mengecup Wajah tampan milik Martin.
Setelah puas Rima pun memakaikan bajunya kembali, takut Martin akan terbangun. Rima pun keluar dari kamar Martin, dan masuk ke kamar Rima sendiri.
...****************...
Martin terbangun, dengan kepalanya terasa berat. Ia heran dengan tubuhnya yang tidak memakai baju. Namun Martin mengingat-ingat kejadian semalam, tidak ada terlintas membuka baju dalam ingatan nya.
Martin pun tak ambil pusing, ia cepat bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Di meja Makan sudah duduk Rima dan Tante Meli, sedang melakukan sarapan nya.
Meli heran melihat Rima yang terus tersenyum mengembang. Tak lama Martin datang dan duduk di meja makan tersebut.
"Martin, kamu ada di sini nak?." Tante Meli sedikit terkejut, karena Martin berada di rumahnya.
"Iya Tante. Semalam Tante sudah tertidur mungkin, karena yang membuka pintu adalah Rima." Jawab Martin dengan mulai memasukkan makanan ke atas piringnya.
Tante Meli pun melirik ke arah Rima sekilas.
Pantas saja Rima dari tadi tersenyum, ternyata karena ada Martin di rumah ini.
Tante Meli berbicara di dalam hatinya, yang merasa tahu arti senyuman Rima itu karena keberadaan Martin di rumah itu.
Padahal Rima tersenyum karena telah memiliki Sebuah alat untuk menghancurkan hubungan Adelia dengan Martin.
"Martin bagaimana dengan acara pertunangan nya?." Tante Meli di sela makan nya.
Yang Membuat gerakan suapan Rima terhenti, kala Mama nya sendiri menanyakan perihal pertunangan Martin.
"Itu tak perlu, karena Martin sudah bertukar cincin dengan Adelia." Ucap Martin.
"Oh ya?. Jadi kapan kamu akan menikahi Adelia?." Tanya Tante Meli.
"Sebulan lagi Tante, dan Martin akan pastikan pernikahan Martin akan meriah. Karena Martin ingin mengundang semua colega bisnis Martin." Jawab Martin dengan tersenyum.
Rima yang mendengarnya sedikit melotot akan apa yang di tuturkan Martin.
Sebulan lagi pernikahan Martin akan di selenggarakan, ia harus bergerak cepat sebelum pernikahan itu terjadi.
Rima berdiri dari duduk nya, ia telah selesai dengan sarapan nya.
"Auw...." Rima berpura-pura meringis sakit ketika berjalan.
__ADS_1
"Rima kamu kenapa?." Tante Meli khawatir.
Rima menatap ke arah Martin. Dan Martin pun menatap Rima dengan bingung. Dan mengingat-ingat apa yang membuat Rima menatapnya seperti itu.
"Ti-tidak apa-apa Ma." Rima sengaja berbicara terbata-bata.
"Terus kenapa kamu berjalan seperti kesakitan, apa yang terjadi?." Tante Meli terus menanyakan keadaan Rima karena memang khawatir.
Rima menggelengkan kepalanya, dan mulai berurai air mata. Ia hendak pergi dari Ruang makan tersebut.
Tante Meli dan Martin pun heran apa yang terjadi dengan Rima.
Seketika Martin mengingat dirinya yang ketika bangun tidur bertelanjang dada.
Ah Astaga, apa mungkin?
Tidak. Tidak. itu tidak mungkin.
Aku memang meminta dia membantu ku untuk memapah berjalan di tangga.
Tapi?
Ah aku tidak mengingatnya.
Martin berbicara dalam hatinya, dan menepis apa yang ada di pikiran nya terhadap Rima.
Martin pun berdiri, dan pamit kepada tante Meli. Ia bergegas ingin memantau cafe milik nya yang berada di kota itu.
......................
Sementara itu Rima yang sudah bersama Indri teman nya, tertawa bersama. Rima menceritakan kejadian semalam, dengan memperlihatkan photo hasil potretan nya.
"Gila Lu, gue gak nyangka. Secepat itu rencana Lu berhasil!." Tutur Indri.
"Iya Gue juga gak nyangka. Mungkin semalam Keberuntungan telah berpihak kepada gue." Rima dengan tersenyum bangga.
"Terus rencana Lu selanjutnya gimana?." Tanya Indri.
"Sekarang Target Gue, Adelia. Cewek Udik itu harus masuk dalam jebakan gue." Rima dengan menyeringai jahat di bibirnya.
"Terus, gimana caranya?." Indri dengan penasaran.
"Lu sekarang telpon si Yuda. Dan kita Janjian di tempat biasa." Rima menyuruh Indri untuk menelpon Yuda, yang merupakan teman baik mereka.
"Apa sih koq Lu bawa-bawa si Yuda?." Indri masih dengan tidak Mengerti akan ide Rima, yang melibatkan Yuda teman nya itu.
"Lu banyak nanya In. Udah lakuin aja perintah gue." Rima sedikit kesal akan Indri yang terus banyak bertanya.
Indri pun langsung menelpon Yuda, sesuai apa yang di katakan Rima.
Kini Rima berdiri dari duduknya.
"Eh, Lu mau kemana Rim?." Tanya Indri yang melihat Rima berdiri dan seperti ingin melangkah.
"Gue, mau ke rumah Adelia. Nanti gue kasih instruksi nya, apa yang harus Lu lakuin sama Yuda." Rima dengan mulai melangkah menuju mobil nya.
"Ok. Semoga berhasil." Indri sedikit berteriak karena Rima sudah pergi jauh melangkah.
__ADS_1
...Bersambung....