You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 181.


__ADS_3

Adelia berjalan setengah berlari dengan nafas yang terengah-engah. Di tambah rasa yang berkecamuk kini di dalam dadanya. Ia mengingat kejadian baru saja yang tengah di alaminya bersama Albi di toilet, membuat rasa bersalah dan ketakutan terhadap Rasya suaminya.


"Oh Tuhan ... aku telah melakukan salah besar. Aku telah berciuman dengan pria lain," gumam Adelia dengan masih berjalan. Ia ingin segera sampai di perkumpulan Senam yang ia tinggali tadi.


"Del, kamu gak kenapa-napa, Nak? kenapa ke toiletnya lama sekali? dan kenapa kamu berlari seperti itu?" tanya Lia beruntun kepada Adelia. Ia sedari tadi menunggu Adelia. Dan merasa cemas karena Adelia tak kunjung datang. Lalu kini menantunya itu datang dengan nafas yang terengah-engah.


Adelia masih mengatur nafasnya, ia meraih botol air mineral yang tergeletak di atas bangku dekat tas miliknya, dan meneguknya. Setelah merasa tenang. Adelia baru menjawab pertanyaan Lia.


"Maaf Ma ... tadi aku ke sasar. Terus aku panik jadi aku setengah berlari ke sini," ucap Adelia bohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Lia.


"Tadi Mama bilang apa? biar Mama antar. Tapi kamu tidak mau," ujar Lia.


"Iya Ma. Maaf ... em, kita pulang saja yuk Ma! aku merasa tidak ingin melanjutkan senamnya," ajak Adelia. Ia langsung meraih tas miliknya dan ia selempangkan di bahu kanannya.


Lia merasa heran kepada Adelia. Tapi Lia pun tidak mempermasalahkan. Ia pikir karena mood ibu hamil, yang sering berubah-ubah maka Adelia tidak ingin melanjutkan kegiatan senamnya. "Ya sudah ayo, Nak!" sahut Lia. Ia langsung menggandeng lengan menantunya itu, menuju pintu keluar dari gedung Sanggar Senam tersebut.


Dari kejauhan Albi memperhatikan Adelia yang pergi keluar. Albi merasa bersalah yang tak bisa menahan rasa hasrat ingin mencium Adelia tadi. Albi merutuki dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan yang ia anggap sudah sangat fatal.


"Arumi sekarang membenci aku. Padahal sebelumnya ia telah memaafkanku. Astaga ... kenapa aku bodoh sekali?!!" rutuk Albi di dalam hatinya. Ia kini melangkah cepat menuju pinggir jalan untuk menunggu taksi. Setelah memastikan Adelia dan Mertuanya sudah tidak terlihat lagi.


Sementara itu...


Adelia terus melamun di dalam taksi. Sampai ia tak sadar taksi telah berhenti di depan rumah. Lia terus memanggil Adelia untuk turun.


"Ya Tuhan ... Maaf Ma," ucap Adelia setelah mendengar Lia mengajak turun yang sudah ketiga kalinya.


Lia menggelengkan kepala merasa lucu kepada Adelia yang malah asyik melamun. Akhirnya Adelia keluar dan tidak lupa dengan di gandeng kembali lengannya oleh Lia.


"Nak, lebih baik kamu istirahat. Mama juga rasanya ingin tidur siang ini," Lia dan Adelia kini sedang menaiki tangga untuk menuju kamarnya masing-masing.


Dengan hati-hati Adelia melangkah. "Iya Ma, Adel ke kamar ya ...," sahut Adelia.


"Iya Nak ...,"


Adelia pun langsung bergegas ke dalam kamar. Ia langsung melepaskan tas dan menaruhnya di atas nakas. Adelia merebahkan tubuhnya. Ia masih memikirkan kesalahannya.

__ADS_1


"Mas Rasya ... aku tak ada sedikitpun untuk mengkhianati mu. Aku sudah berusaha menolaknya, tapi tenagaku kalah. Aku tidak bisa lepas dari cengkraman tangannya,"


Adelia bergumam. Ia terus mengingat kejadian tadi saat berciuman dengan Albi. Adelia berusaha berontak, tapi kalah tenaganya. Hingga ciuman itu terjadi.


Kini rasa takut dan bersalah bersarang di dalam benak Adelia. Takut jika Rasya menyangka bahwa dirinya mengkhianati. Dan rasa bersalah saat Adelia tidak bisa lepas dari cengkraman Albi.


Hingga Adelia terlelap dengan sendirinya. Setelah pikirannya bercabang-cabang. Rasa kantuk itupun datang.


***


Di Kantor Argadinata group.


Rasya yang tadi datangnya terlambat menjadi bahan pembicaraan para karyawan. Banyak yang berasumsi. Bahwa Rasya dengan setengah hati bekerja. Dan banyak yang mengatakan mentang-mentang anak dari pemilik perusahaan, ia bisa datang dengan seenaknya.


Pembicaraan itu terdengar langsung di telinga Rasya saat ia melintas hendak menuju Kantin. Rasya menggeleng-gelengkan kepala. Ia bersikap acuh. Seakan pembicaraan yang isinya menggosipkan dirinya itu tidak begitu penting. Ia terus berjalan bersama Aldi dan Mita menuju meja.


"Pak ... bapak mau makan apa? biar saya pesankan?" tawar Mita. Ia ingin memesankan makanan yang saat ini Rasya mau. Sedangkan untuk Aldi. Ia sudah tahu, karena Mita sudah menanyakannya terlebih dahulu saat tadi berjalan menuju Kantin.


Rasya berpikir terlebih dahulu. Dan setelah merasakan makanan yang ia inginkan, baru ia sampaikan kepada Mita.


"Nasi sama telur ceplok. Kuningnya jangan sampai pecah. Terus di atasnya pakai kecap,"


"Pak, Itu serius?" Mita meyakinkan kembali kepada Rasya bahwa yang di pesannya sudah benar.


"Kau ini, bukannya ingin memesankan makanan untuk ku? sudah jangan banyak tanya!" pekik Rasya. Ia tidak habis pikir Mita malah bertanya kembali.


Tiba-tiba Aldi teringat bahwa Istri Bigboss itu sedang hamil. Jadi Aldi berpikir bahwa Rasya tengah mengidam.


"Mbak Mita ... sudah pesankan saja!" ujar Aldi kini dengan memberikan isyarat agar Mita tidak usah banyak bertanya.


Mita pun akhirnya beranjak pergi untuk memesankan makanan untuk dirinya, Aldi dan Rasya.


Kini di meja Rasya yang berhadapan dengan Aldi berbincang sebelum makanan yang di pesannya datang.


"Al ... Sorry ya tadi saya terlambat!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pak. Lagian tidak ada jadwal penting hari ini," sahut Aldi.


"Em ... Pak Rasya. Saya tahu dari ibu di kampung, kalau istri bapak sempat hilang, benarkah?"


"Iya Al. Panjang ceritanya. Kamu pasti tahu juga dari Beni, Ivan, dan Damar, kan?"


Aldi mengangguk, "Syukur Pak, kalau akhirnya istri bapak sudah kembali,"


Rasya menghela nafas. "Alhamdulillah istriku kembali. Tapi, aku harus bersabar lagi. Karena istriku saat ini tengah amnesia," ujarnya.


"Amnesia?"


"Iya Al. Mau terapi seperti semacamnya. Istriku tengah hamil. Jadi saya bingung. Tunggu nanti saja saat Istriku sudah melahirkan,"


Aldi manggut-manggut mengerti. Dan akhirnya antara Aldi dan Rasya tidak ada percakapan lagi. Kebetulan Mita datang dengan membawa nampan di tangannya.


Mita memyodorkan pesanan Rasya terlebih dahulu. Yaitu sepiring nasi putih, dengan telur ceplok, di tambah kecap di atasnya. Di tambah minumnya air teh tawar.


"Ini pesanan Bapak!" ucap Mita.


Rasya mengangguk dan menatap pesanannya dengan sangat antusias, bahkan matanya berbinar senang. "Terima kasih," ucapnya.


"Iya Pak sama-sama," sahut Mita dengan mengernyitkan dahi merasa bingung beserta aneh melihat Rasya yang begitu antusias melihat pesanannya.


Mita kini menyodorkan pesanan Aldi. Nasi dengan satu mangkuk soto daging. Dengan minuman yang sama dengan Rasya.


Akhirnya mereka bertiga makan dengan keadaan hening. Hingga acara makan selesai.


"Pak, masih ngidam yang aneh-aneh, ya?" celetuk Aldi saat Rasya menaruh sendok bekas makannya di atas piring.


Rasya terkekeh. Ia kini ingat saat tadi menginginkan makan dengan telur ceplok.


"Benar Al ... seperti iya. Saya masih ngidam," ucapnya tergelak.


Sedangkan Mita yang belum tahu apa-apa tentang Rasya. Ia melongo. Bahkan bertanya-tanya siapa yang menjadi istri Rasya itu.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2