
Rasya kini jadi ragu untuk makan yang Ariyanti siapkan di meja makan. Setelah mendengar langsung percakapan mereka melalui rekaman yang Rasya sengaja rekam pada ponselnya.
"Ayo sayang ... di makan!" titah Ariyanti yang menatap Rasya malah terdiam.
Rasya menatap wajah Ariyanti yang tersenyum kepadanya, "Apa ini kamu yang masak?" tanyanya mengalihkan rasa ragu dan mencari kecurigaan dari gerak-gerik Ariyanti.
Ariyanti menggeleng, "Ini Bibi yang masak. Aku mana bisa memasak," jawabnya.
"Kok, gak bisa?. Padahal kalau ingin menjadi istriku harus pintar masak," Rasya sengaja ingin membuat Ariyanti kesal. "Lihat istriku, dia pandai mengurus suami, dari segi pakaian dan masalah perut,"
Ariyanti terdiam. Memang dirinya tidak bisa memasak. Tapi setelah mendengar Rasya membandingkan dirinya dengan Adelia. Ariyanti menjadi geram, dan tentu sangatlah tidak suka.
"Aku ingin mie instan saja," ujar Rasya. Membuat Ariyanti melotot. Sungguh dirinya telah merasa lelah membantu Bi Ijah Art nya untuk menyiapkan makanan. Dan kini Rasya dengan se-enaknya meminta makanan yang lain.
"Sayang, kenapa tidak mau makanan yang ada?" Ariyanti masih lembut menyikapi sikap Rasya.
"Kamu keberatan? Ya sudah aku pulang saja. Dan meminta istriku yang membuatkannya," Rasya langsung berdiri dari duduknya. Namun dengan cepat Ariyanti menghentikan langkah Rasya, saat Rasya akan meninggalkan ruang makan.
"Jangan pergi!" pekik Ariyanti. "Baiklah. Aku akan membuatkannya untukmu," Ariyanti akan membuatkan mie yang di inginkan Rasya.
Rasya berbalik badan, dan menatap Ariyanti dengan tersenyum. "Emang kamu bisa bikin?" tanyanya.
Ariyanti mengangguk pelan, "Aku bisa,"
"Ya sudah. Mie goreng ya, pakai telur ceplok!" ujar Rasya.
Ariyanti menganggukkan kepala, dan melenggang menuju dapur. Namun Rasya mengikuti dari belakang. Membuat Ariyanti menatap Rasya dengan heran.
"Kok kamu ikut ke dapur?"
"Kenapa memang? aku hanya ingin melihat bagaimana kinerjamu dalam membuat mie?!" Rasya seakan mengejek Ariyanti.
"Lebih baik kamu tunggu saja di sana!" tunjuk Ariyanti pada kursi yang tidak jauh dari dirinya.
"Enggak, aku di sini saja." Rasya tidak menurut.
Ariyanti dengan mendumel di dalam hati tetap melakukan perintah Rasya.
"Untung aku cinta. Nyebelin banget sih." Ariyanti seraya menaruh panci kecil yang sudah di atas kompor, dan ia nyalakan. Kemudian Ariyanti mengambil mie instan goreng dari lemari kitchenset. Membuka dan menuangkan bumbunya pada piring. Dan memasukkan mie kedalam panci yang sudah mendidih.
"Telur ceploknya!" suara Rasya mengintrupsi.
"Iya," Ariyanti seraya mengambil teplon kecil, dan menuangkan minyak sayur ke dalamnya.
Menunggu minyak sayur panas. Ariyanti meniriskan mie yang sudah matang, dan memasukkannya pada piring, lalu mengaduknya. Kini giliran menggoreng telur. Dengan gerakan kaku Ariyanti memecahkan telur dan memasukkannya ke dalam teplon.
Seketika telur itu meletup-letup karena Ariyanti menuangkan minyak sayurnya terlalu banyak. Membuat Ariyanti berteriak histeris.
"Auw ... panas!" pekiknya dan bersembunyi di balik punggung Rasya. Rasya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu mengambil alih menggoreng telur ceplok tersebut, dan mengecilkan api kompor.
"Bagaimana kamu mau menjadi istriku, masak telur saja kamu gak bisa?!!" Rasya mengejek Ariyanti. Seraya tangannya membalikkan telur dengan spatula.
"Aku nanti akan belajar memasak untuk mu sayang ...," Ariyanti kini dengan memeluk Rasya dari belakang. Rasya yang sedang menaruh telur ceplokpun tidak bisa menghindar, namun mencebikkan bibirnya tidak suka.
"Menyingkirlah dulu. Bagaimana aku bisa melangkah kalau kamu peluk aku?!"
Ariyanti pun melepaskan pelukannya. Dan menatap Rasya yang sudah melewati dirinya menuju meja makan.
__ADS_1
"Kok, serbuk perangsang itu gak bereaksi sih? apa Mama salah memasukkan obatnya?" Ariyanti berbicara di dalam hati seraya menatap Rasya yang sedang memakan mie goreng dengan kondisi biasa saja. Padahal Ariyanti sudah melihat bahwa jus jeruk milik Rasya telah kosong pada gelasnya. Dan Ariyanti yakin bahwa Rasya telah meminumnya sampai habis.
"Pasti dia lagi merhatiin aku. Karena jus itu telah habis. Teruslah tatap aku sampai lelah! karena aku tidak akan bersikap sesuai apa yang kamu inginkan," Rasya seraya mengunyah mie membatin. Ia bisa melihat jelas dari ekor matanya, bahwa Ariyanti sedang menatapnya selidik.
"Untung saja jus itu aku bisa membuangnya dengan cepat," lanjut Rasya di dalam hatinya.
"Terima kasih," ucap Rasya saat berhasil menyelesaikan makan mie-nya, dan kini ia meraih gelas kosong dan menuangkan air minum dari dispenser air, dan meminumnya. Padahal sudah ada air pada gelas yang sudah Ariyanti sediakan di meja makan.
"Sama-sama," ucap Ariyanti dengan tatapan masih penuh selidik.
Rasya berpura-pura memijit pelipisnya, dan mengundang perhatian Ariyanti yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kamu kenapa?" tanya Ariyanti dengan cemas.
"Aku pusing, dan rasanya badanku panas sekali," ujar Rasya bohong. Ia sengaja mengatakan ciri-ciri orang yang sudah terangsang. Dengan tangannya mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Ariyanti menelan salivanya dengan susah saat Rasya sedang membuka kancing kemejanya, dan sudah terlihat dada bidang atasnya membuat Ariyanti langsung mendekati Rasya.
"Sayang, jangan di sini. Ayo ikut aku!" ajaknya.
Tentu Rasya mengikuti langkah Ariyanti. Untuk memainkan peran kepura-puraannya. Ariyanti mengajak Rasya masuk ke dalam kamarnya. Dan dengan cepat Ariyanti mengunci pintu kamarnya.
Membuat Rasya menjadi was-was.
"Bagaimana ini? dia ternyata benar-benar gila!" Rasya dengan sedikit takut tidak bisa mengendalikan emosinya pada Ariyanti, yang Rasya kini sedang berpura-pura menjadi orang yang terangsang.
Ariyanti mendekati Rasya yang sedang berdiri mematung. Mengikis jarak antara dirinya dengan Rasya dengan begitu dekat. Tangannya, mulai mengusap-usap wajah Rasya, dan turun ke arah leher kokohnya.
"Kamu mau apa?" Rasya bertanya dengan suara yang di buat-buat serak.
Rasya mendorong bahu Ariyanti dengan kasar. Sungguh dirinya benar-benar merasa geram. Dan tentunya Rasya tidak ingin di sentuh oleh wanita selain istrinya, yaitu Adelia.
"Jangan sentuh aku!"
Ariyanti tetap tersenyum, "Ayolah sayang ... aku akan memberikanmu kepuasan. Aku tahu kamu sedang menginginkan sesuatu," Ariyanti dengan mendekati Rasya kembali.
Rasya menggeleng, "Aku hanya kegerahan dan sedikit pusing. Apa maksudmu? jangan kurang ajar, ya!" Rasya menahan agar Ariyanti tidak mendekatinya lagi. Namun Ariyanti terus mendekat. Rasya bisa saja mendorong tubuhnya atau menendangnya, namun tidak bisa ia lakukan karena mengingat Ariyanti adalah seorang wanita.
Wajah Ariyanti kini sudah berada tepat pada wajah Rasya. Bahkan hembusan nafas Ariyanti dan Rasya sudah terasa berhembus pada wajah masing-masing.
"Gawat. Jangan sampai wanita ini merenggut bibirku!!"
Seketika suara ketukan pada pintu kamar Ariyanti mengalihkan tatapan Ariyanti dan Rasya.
"Siapa sih, ganggu saja?" gerutu Ariyanti. "Apakah Mama?" gumam Ariyanti seraya melenggang ke arah pintu.
Sedangkan Rasya langsung mengancingkan kemejanya dengan cepat, dan pura-pura tertidur di sofa.
Ariyanti membuka pintu, dan matanya terbelalak saat melihat Alin Mamanya, dengan Adelia di hadapannya. Seketika Ariyanti menyunggingkan senyumannya, menatap Adelia yang sudah berwajah cemas.
Ternyata Alin sudah merencanakannya sendiri. Ia sengaja pergi ke rumah Rasya untuk menjemput Lia dan Adelia. Namun, di rumah hanya ada Adelia sendiri. Alin dengan mengarang cerita, bahwa Rasya kini sedang menggagahi Ariyanti di dalam kamarnya. Membuat Adelia perasaannya benar-benar sesak.
"Suamiku, mana?" tanya Adelia. Kemudian masuk melewati Ariyanti. Ia mengedarkannya ke atas ranjang, yang terlihat nampak masih sangatlah rapih. Dan pandangannya tertuju pada sofa, yang terlihat Rasya sedang berbaring memejamkan mata.
"Mas," panggil Adelia dengan mendekati Rasya. Mata Adelia sudah berkaca-kaca. Bagaimanapun ia merasa sesak melihat suaminya berada dalam kamar dengan wanita lain.
Rasya mengerjapkan matanya dan menatap Adelia yang sedang menatapnya dengan mata kesedihan, "Sayang? kenapa kamu bisa berada di sini?" tanyanya.
__ADS_1
Adelia hanya terdiam. Dan kedua matanya kini sudah tidak bisa membendung air mata yang sedari tadi ia tahan. Membuat Rasya merasa bersalah, karena Rasya tahu bahwa istrinya itu susah salah paham.
Ariyanti mendekat ke arah Rasya dan Adelia. Dan membuat Rasya memekik menyuruh untuk meninggalkannya bersama Adelia.
"Boleh aku pinjam kamarmu? aku ingin menyelesaikan sesuatu dengan istriku?!" pekik Rasya membuat Ariyanti melotot tidak percaya. Ariyanti mengira bahwa Rasya akan menuntaskan hasratnya kepada Adelia.
"Kenapa harus pada istrimu? aku masih bisa," Ariyanti dengan tidak tahu malu.
"Tolong tinggalkan kami!" Rasya dengan menatap tajam pada Ariyanti.
"Baiklah," Ariyantipun melenggang keluar kamar. Dan Rasya langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Sayang kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Rasya. Namun, Adelia masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir pada pipinya.
Rasya mengusap pipi Adelia dengan lembut, "Sayang ... kamu jangan salah paham dulu, aku dan wanita itu tidak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan sekarang juga, aku ingin mendengarkan!" Adelia dengan sorot mata tajam menyuruh Rasya untuk menjelaskan semuanya.
"Ok. Aku akan mengatakan semuanya. Aku sengaja berada di rumah ini, tentu sedang melancarkan rencana kita." Rasya lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan memutar rekaman yang ada di ponselnya. Rekaman yang berisi percakapan Ariyanti dengan Alin ibunya.
Adelia mendengar dengan seksama. Hingga Adelia melotot merespon saat Ariyanti dan Alin mengatakan akan menjebak Rasya. Dan Ariyanti mendengar sendiri, bahwa Perusahaan Wira ayahnya telah di rebut oleh Rony.
"Terus apa kamu meminumnya, Mas?" saat Rekaman itu terhenti Adelia melayangkan pertanyaan.
Rasya menggeleng, "Untungnya belum, Sayang ... saat aku merekam pembicaraan mereka. Saat aku pergi ke toilet. Dan beruntungnya aku mendengarkan dahulu rekaman ini, sebelum meminum jus yang di suguhkan,"
Adelia bisa bernafas lega, namun masih ada yang Adelia tidak mengerti dengan keberadaan Rasya yang berada di dalam kamar Ariyanti dengan keadaan terkunci.
"Lalu kenapa kamu bisa ada di kamar ini?"
Rasya tersenyum, "Tentu aku berpura-pura seakan aku sudah terangsang,"
"Kamu mencium wanita itu?" tuduh Adelia.
Rasya menggeleng, "Tidak. Aku gak berselera. Seleraku adalah kamu," dengan mengecup bibir Adelia sekilas.
"Mas, aku sudah sedih loh," ujar Adelia.
"Maaf Sayang!" Rasya merengkuh tubuh Adelia kedalam pelukannya.
"Terus kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rasya yang belum tahu, dengan Adelia tiba-tiba berada di rumah Ariyanti.
"Tante Alin, yang sengaja menjemputku,"
Rasya menggelengkan kepala samar, "Sudah kuduga, ternyata mereka memang licik. Aku jadi gemas ingin segera memboyong sekeluarga itu untuk mendekam di tahanan. Namun, bukti-bukti itu belum aku dapatkan,"
"Sabarlah dulu, Mas. Tetap rencana kita harus berlanjut sebelum bukti-bukti itu kita dapatkan," ujar Adelia menyemangati Rasya.
"Kamu tidak apa-apa Sayang?" Rasya meyakinkan Adelia. Bagaimanapun Rasya sangat ingin menjaga perasaan istrinya.
"Enggak, Mas. Aku gak apa-apa. Semoga kita berhasil," Adelia dengan tersenyum meyakinkan Rasya.
Sungguh Adelia merasa sakit di hatinya kala mengingat dulu dirinya berjuang sendirian di kala Ibunya sakit dan dalam keadaan koma. Dan Adelia ingin membuktikan Jika memang benar, kematian Ayah dan Adiknya karena di sengaja oleh Rony, tentu Adelia tidak ingin mengampuni keluarga Rony tersebut, di tambah lagi kenyataan perusahaannya memang di rebut oleh Rony membuat Adelia emosinya mendidih.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1