
Rasya dan Adelia kini tengah berada di dalam mobil. Dengan Rasya sendiri yang mengendarainya. Tangan kanan ia pakai untuk menyetir, dan tangan kiri ia pakai untuk menggenggam jari jemari tangan Adelia. Dengan sesekali ia cium tangan Adelia itu. Membuat Adelia terus tersenyum.
Rasya hendak akan membawa Adelia ke salah satu Rumah Sakit besar. Untuk memeriksakan kandungan dan serta memeriksakan penyakit yang kini Adelia derita. Yakni amnesia-nya.
Setelah tiga puluh menit lamanya. Rasya kini memarkirkan mobilnya tepat di parkiran khusus Rumah Sakit X tersebut. Lalu keluar dari mobil, dan membukakan pintu sebelahnya untuk Adelia keluar.
Ini kan, Rumah Sakit yang sama saat Mas Albi memeriksakan kandungan untuk ku. batin Adelia.
Adelia tidak mau membicarakan kepada Rasya. Bahwa Rumah Sakit yang kini ia dan Rasya masuki adalah Rumah Sakit yang sama saat Albi memeriksakan kandungannya.
"Sayang, kamu tunggu dulu di sini. Aku mau ke meja itu, meminta formulir pendaftaran ibu hamil," titah Rasya agar Adelia duduk di kursi tunggu depan meja Resepsionis.
"Baik Mas," sahut Adelia menurut dan mendudukan tubuhnya.
Rasya pun menghadap ke meja Resepsionis. Dengan sesekali melirik ke arah istrinya yang terduduk. Rasya benar-benar takut sampai Adelia hilang kembali. Ia terus menoleh dan tersenyum kepada Adelia. Dengan senyuman nya Adelia balas.
"Ayo Sayang, kita ke bagian ruang Obygin," kata Rasya menuntun Adelia bangun dari duduknya. Dan Rasya menautkan jari jemarinya pada tangan Adelia, lalu berjalan melangkah menuju ruangan yang ia maksud.
Terlihat sudah banyak Ibu hamil yang mengantri dengan di dampingi suaminya masing-masing. Membuat Rasya tersenyum bangga, karena dirinya pula ikut mendampingi istrinya. Satu persatu sudah terpanggil. Kini bagian Adelia yang di panggil. Dan Rasya ikut masuk ke dalam.
Kentara raut wajah sang Dokter menatap bingung kepada Rasya.
"Nama Nona Adelia?" tanyanya. Saat membaca formulir pendaftaran yang Rasya tulis tadi.
Adelia tersenyum dan mengangguk.
"Dan--" ucap Sang Dokter mengarah ke arah Rasya.
"Saya Suaminya," sahut Rasya.
Bukankah Nona ini Nona Arumi? Istri dari Tuan Albi? Tapi, Nona Ini bernama Adelia dan Suaminya bukan Tuan Albi. Batin Dokter Risa yang sempat memeriksa kandungan Adelia saat waktu itu bersama Albi. Dan Albi adalah seseorang yang mempunyai pengaruh besar di Rumah Sakit tersebut. Sehingga sosok Albi sangat di segani dan di hormati.
"Baik, Silahkan Nona timbang dahulu berat badannya!" titah Dokter Risa.
Adelia pun menurut kemudian menimbang berat badannya yang di dampingi oleh Asisten Dokter Risa. Terus pemeriksaan Tensi darah. Pengukuran lengan. Dan terakhir pemeriksaan kehamilannya.
Kini Adelia berbaring di salah satu Ranjang Pasien. Adelia di selimuti. Kemudian Dress yang Adelia kenakan di singkapkan hingga perut. Terlihat jelas perut Adelia yang putih mulus di penglihatan Rasya yang duduk tidak jauh dari ranjang pasien.
Ah gila. Baru saja lihat perutnya. Membuat benda Pusaka ku Memberontak. Istriku benar-benar magnet. batin Rasya.
Rasya merasakan benda pusaka miliknya terbangun saat menatap perut putih mulus istrinya. Dengan sesekali Rasya menelan susah salivanya.
"Lihat, Tuan. Ini yang berupa kantung adalah janin. Sebentar lagi saat sudah memasuki empat bulan atau enam belas minggu. Janin ini akan berubah wujud menjadi wujud bayi dengan perlahan." Dokter Risa dengan menggerakan alat di atas perut Adelia. Lalu matanya tertuju pada Layar monitor yang besarnya empat puluh dua inci.
Rasya tersenyum mendengar penuturan Dokter Risa, begitu pula Adelia.
"Alhamdulillah, janinnya baik-baik saja dalam kandungan. Yang terpenting. Nona Jangan banyak pikiran. Dan harus banyak makan makanan yang bergizi," ucap Dokter Risa kepada Adelia.
Adelia merespon dengan menganggukan kepalanya, di tambah tersungging senyuman yang begitu manis di bibirnya.
__ADS_1
"Kandungan Nona sudah memasuki empat belas minggu. Itu tandanya trimester pertama telah Nona lalui. Dan akan memasuki trimester kedua, yaitu dari usia kandungan empat belas minggu sampai dua puluh tujuh minggu. Apa ada keluhan selama ini Nona?"
Adelia yang kini sudah duduk menghadap di kursi Dokter. "Tidak Dokter. Hanya saya merasakan ingin makan terus," ucapnya.
Membuat Dokter tersenyum begitupun Rasya.
"Itu bagus Nona. Karena janin yang akan bertambah besar. Ia membutuhkan asupan makanan. Sehingga timbul rasa lapar terhadap sang ibu. Saya akan berikan resep vitamin dan penguat kandungan ya,"
Adelia mengangguk.
"Ini, silahkan di tebus resepnya di apotek Rumah Sakit," titah Dokter seraya menyerahkan resep itu kepada Adelia.
"Baik Dokter. Kalau begitu, kami pamit. Dan terima kasih," ucap Adelia dan di respon oleh Dokter Risa dengan anggukan.
Kini Adelia dan Rasya sudah keluar dari ruang Dokter Kandungan tersebut. Lalu Rasya menebus resep yang tadi di Apotek Rumah Sakit.
"Sayang, aku mau tanya dulu. Boleh aku memeriksakan kamu ke dokter spesialis saraf agar hilang ingatan mu cepat pulih?!" tanya Rasya dengan hati-hati. Ia kini menatap Adelia yang terduduk di kursi tunggu depan Apotek setelah Rasya menebus resep obat tadi.
"Apa tidak akan mempengaruhi pada kandungan ku, Mas?"
Rasya terdiam. Ia menimbang ucapan Adelia. Ia juga takut kalau pemeriksaan pada Dokter saraf bisa mempengaruhi kandungannya.
"Belum tahu Sayang, tapi kita coba dulu. Konsultasi saja. Ya misalkan kalau gak bisa. Kita lakukan saja nanti setelah kamu lahiran. Bagaimana?"
"Aku serahkan saja sama kamu Mas!"
"Mas, ini di Rumah Sakit. Kamu gak malu apa?" pekik Adelia dengan menengok kiri dan kanan takut ada yang melihatnya tadi.
Rasya nyengir. Ia tidak sadar bahwa sekarang dirinya sedang di Rumah Sakit. "Maaf Sayang, aku lupa. Seakan Di tempat ini hanya ada aku dan kamu," selorohnya. Membuat Adelia tersenyum gemas.
"Ya sudah ayo Mas. Bukan nya tadi Mas mau ngajak aku ke dokter Saraf?!"
"Ah iya, ayo sayang!" Rasya langsung menggandeng tangan Adelia. Dan berjalan melangkah menuju ruangan Dokter Saraf.
Rasya menatap setiap nama yang tertulis di bagian papan pintu. Dan akhirnya Rasya menemukan ruangan Dokter Saraf yang Rasya tuju.
Rasya mengetuk pintu. Dan terdengar sahutan dari dalam untuk Rasya masuk.
"Permisi, Dok" sapa Rasya yang sudah masuk dengan Adelia.
Dokter tersebut tersenyum dengan berbinar.
"Rasya, Adel? Ini beneran kalian, kan?" katanya membuat Rasya mengingat-ingat.
Dokter itu mendekati Adelia yang terdiam menatapnya. Dokter itu memeluk Adelia seperti melepas rindu.
"Adel, ini aku Desi. Kita dulu temenan saat kuliah," ucapnya setelah melerai pelukannya.
"Oh Desi, yang saat itu kalian bertiga sama Mita?" Rasya akhirnya ingat.
__ADS_1
"Iya. Ya Tuhan. Akhirnya aku bertemu dengan kalian," ucap Desi.
Rasya hanya tersenyum menanggapi.
"Maaf. Aku tak ingat semuanya," ucap Adelia membuat Desi menatap bingung.
"Kenapa Del?."
"Maaf. Desi, kedatangan kami ke sini.. Justru mau memeriksakan keadaan Adelia. Adelia saat ini sedang kehilangan ingatan nya," ujar Rasya menjelaskan.
"Ya Ampun. Kenapa bisa?"
"Panjang ceritanya," sahut Rasya.
Sedangkan Adelia merasa risih bahkan cemburu melihat Rasya berbicara dengan Desi. Padahal hanya membicarakan tentang dirinya sendiri.
"Sebentar. Apa kalian ini sudah menikah?" selidik Desi saat menatap jari manis Adelia dan Rasya terdapat cincin yang sama.
Rasya tersenyum, "Iya kami sudah menikah. Hampir sepuluh bulan," sahut Rasya.
"Wah ... kalian masih baru ternyata," ucap Desi dengan tersenyum.
"Iya" sahut Rasya. "Tapi apa tidak apa-apa jika Istriku di periksa tentang saraf nya dalam keadaan hamil?" lanjut Rasya dengan bertanya.
Desi tersenyum kembali, "Benar-benar pertemuan ini mengejutkan sekali. Kalian sudah menikah, lalu sudah hamil, di tambah keadaan Adel yang memprihatinkan,"
"Benar Des, semua ini sudah kehendak-Nya."
Sedangkan Adelia kini menekuk wajahnya. Ia merasa tidak di tanggapi keberadaannya. Entah karena hormon kehamilannya, membuat hatinya begitu sensitif. Di tambah rasa cemburu datang menghinggapinya.
"Mas, lebih baik kita pulang saja," ujar Adelia seraya berdiri dan langsung membuka pintu untuk keluar.
Sementara Rasya dan Desi menatap bingung.
"Des, Maaf ya. Ada yang gak beres sepertinya. Nanti aku dan Adel akan kembali. Permisi!" Rasya langsung keluar dengan melangkah cepat menyusul Adelia yang sudah jauh berjalan.
Sedangkan Desi menatap kepergian Rasya dengan bingung. Ia ingin tahu alamat keberadaan mereka. Terutama ia ingin bertemu kembali dengan Adelia. Teman baiknya saat dulu kuliah di Kota J ini. Setelahnya Desi meneruskan kuliahnya di Luar negeri. Namun, kepergian keduanya yang mendadak membuat Desi tidak mendapatkan alamatnya.
...***...
...Bersambung....
Jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah Poinnya ya Readers!!
Oh iya sekarang Hari Senin, Jangan Lupa Vote-nya juga 😉😊
Terima kasih...
Salam dari Adelia ❤ Rasya
__ADS_1