You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 172.


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Tidak terasa hari ini adalah hari acara empat bulanan kehamilan Adelia. Acara tersebut di adakan di kediaman orang tua Rasya. Lia selaku Mama Rasya sangat antusias menyambut hari acara tersebut. Lia mengundang kerabat, dan para tetangga untuk serta mengikuti acara syukuran.


Dan Lia tak lupa mengundang keluarga Rony. Membuat keluarga tersebut tercengang kaget saat mendapat telepon dari Lia. Bahwa mengundang untuk acara syukuran kehamilan menantunya. Dengan banyak ragam pertanyaan di benak Rony, ia mengiyakan undangan tersebut. Rony dan keluarganya akan datang. Karena lebih penasaran siapa istri Rasya yang kini hamil itu.


Acara pun tiba. Ruang tamu beserta ruang tengah di sulap menjadi banyak hamparan karpet permadani. Dengan sengaja acara syukuran tersebut duduk dengan lesehan. Mengingat karena akan ada Pengajian serta ceramah dari salah satu Ustadz ternama di komplek itu.


Makanan Perasmanan sudah tersedia beserta minuman dan cemilannya. Lia sengaja memesan semua tersebut dengan jasa Catering. Dengan di tambah kue-kue buatan Adelia.


Kini Adelia dan Rasya tengah berada di dalam kamar. Mereka bersiap-siap dengan memakai Pakaian berwarna putih. Rasya kemeja koko putih, beserta kopiah hitam. Adelia mengenakan gamis putih, dan kerudung hitam. Terlihat begitu serasi. Bahkan wajah Adelia yang memakai kerudung, terlihat semakin cantik.


"Sayang, kamu cantik banget pakai hijab begitu," puji Rasya saat menatap Adelia selesai memakai kerudung pashmina di kepalanya.


Adelia tersenyum, "Terima kasih, Mas." Adelia selalu malu jika di puji suaminya itu.


"Bagaimana, kalau mulai dari sekarang kamu pakai hijab seperti itu. Aku suka melihatnya," ucap Rasya memberi pendapat seraya terus menatap kagum pada wajah istrinya yang begitu sangat cantik.


"Aku usahain ya, Mas. Tapi aku gak janji," ujar Adelia. Ia sebenarnya masih ragu. Namun, ia juga ingin sekali merubah penampilannya. Maka ia akan berusaha untuk melakukannya. Apalagi Rasya menginginkannya seperti itu.


"Ya Sayang ... yang penting di niatkan dari sekarang ya," kata Rasya. Kini Rasya berjongkok sejajar dengan perut Adelia yang sudah terlihat buncit. "Hai ... Baby Ayah dan Bunda. Sehat terus ya, dalam perut Bunda. Sekarang, kami akan melaksanakan syukuran empat bulan mu di perut Bunda. Ayah berdoa semoga kamu, sehat dan lahir selamat," ucap Rasya seraya mengelus dan mencium perut Adelia tersebut.


"Aamiin," sahut Adelia mengamini apa yang di ucapkan suaminya. Membuat Rasya tersenyum seraya berdiri mensejajarkan dengan tinggi Adelia. Kemudian Rasya kini mengecup kening Adelia dengan begitu lama.


"Terima kasih Sayang ... kamu sudah mau mengandung anak kita," ucap Rasya kini merengkuh tubuh Adelia kedalam pelukannya.


"Sama-sama. Aku juga terima kasih pada mu, Mas. Sudah mau menikahi aku, dan memberikan aku banyak kasih sayang, dan juga rasa cinta," tutur Adelia dengan mendongak menatap Rasya yang lebih tinggi dari dirinya.


Rasya mengangguk dengan tersenyum. Lalu mengecup bibir merah Adelia yang selalu membuatnya tergoda.


"Oh tidak, Astaga mataku," pekik Serly dari arah pintu. Membuat Adelia dan Rasya menoleh ke arahnya secara bersamaan. Serly datang tanpa mengetuk. Dan saat pintu terbuka. Tersaji pemandangan Rasya yang sedang mengecup bibir Adelia.


"Anak kecil. Kenapa gak ketuk dulu pintu?" ujar Rasya.

__ADS_1


"Maaf Kak. A-aku tadi di suruh Mama untuk memanggil Kakak dan Kak Adel agar segera turun. Acaranya mau di mulai, dan para tamu undangan sudah berdatangan,"


"Tamu undangan?" tanya Rasya. Ia tidak tahu bahwa Lia mengundang para kerabat dan juga tetangganya.


"Iya Kak. Mama heboh telpon sana sini waktu kemarin. Mengundang tetangga juga," ucap Serly.


"Ya sudah kamu boleh pergi. Kakak akan segera turun bersama Kakak ipar mu,"


Serly pun menurut untuk kembali ke lantai bawah. Kini Adelia dan Rasya mengikuti dari belakang. Sudah terdengar suara ricuh dari bawah saat Rasya dan Adelia menuruni anak tangga. Saat sudah sampai di ruang tengah Rasya melotot heran dengan banyaknya orang-orang memenuhi ruang tamu dan ruang tengah.


Mama ada-ada saja. Kenapa harus seramai ini? seperti acara menikah saja. Rasya menggerutu di dalam hatinya.


Adelia dan Rasya terus melangkah hingga sampai di tempat duduk Lia, Serly, dan Rara.


"Ma, Papa mana?" tanya Rasya saat tidak melihat keberadaan Papanya.


"Lagi di luar. Lagi menyambut kedatangan Sahabatnya itu," sahut Lia.


"Sahabat Papa? yang mana?" tanya Rasya.


Membuat Rasya membolakan matanya. Ia sebenarnya tidak mau bertemu dengan keluarga Rony lagi. Apalagi harus bertemu dengan Ariyanti, mantan istrinya itu.


Adelia menangkap wajah suaminya seperti menahan sesuatu. Ia memegang lengan Rasya, seraya bertanya. "Mas, kamu baik-baik saja?" tanyanya. Rasya tersenyum, "Aku baik-baik saja Sayang. Em ... lihat banyak makanan!, apa ada yang kamu inginkan di antara makanan itu semua?."


Adelia tersenyum, "Ada Mas, itu!" tunjuk Adelia pada sebuah toples besar yang berada di hadapan Rara.


"Ra. Tolong ambilkan toples besar itu!" titah Rasya kepada Rara. Dan Rara pun langsung mengambilnya dan menyerahkannya kepada Rasya. "Terima kasih," ucap Rasya setelah menerima toples besar itu. Sedangkan Rara meresponnya hanya dengan mengangguk.


"Ini Sayang," Rasya menyerahkan toples itu setelah ia buka terlebih dahulu.


"Mas, ini makanan apa?" tanya Adelia. Tangannya sudah memegang makanan dari dalam toples tersebut.


"Itu keripik Pisang, Sayang ...," sahut Rasya dengan tersenyum.

__ADS_1


Adelia mengunyahnya dan tersenyum karena rasanya yang enak, "Enak Mas," kata Adelia dengan terus mengambil lagi dan lagi.


"Kalau kamu suka, nanti kita bawa keripik itu ke kamar," ucap Rasya. Dan Adelia mengangguk mengiyakan apa yang Rasya ucapkan.


Lia hanya tersenyum melihat anak dan menantunya yang terus bercengkrama. Kini terlihat salah satu Ustadz datang dengan Hadi dan Rony dari belakangnya. Membuat para tamu yang sudah duduk, menjadi terdiam dari suara obrolannya.


Mata Rasya bertemu dengan mata Rony. Membuat Rasya mengulas senyum, memberikan tanda senyuman ramah kepada bekas mertuanya itu. Begitupula dengan Rony, ia membalas senyuman Rasya.


Ustadz tersebut sudah berdiri di suatu tempat yang sudah di sediakan. Seperti meja mimbar yang seperti di mesjid-mesjid.


"Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh," ucap salam dari Ustadz Rizal namanya. Membuka acara syukuran kehamilan Adelia melalui microfon.


Dan terdengar serempak salam sebagai jawabannya, dari Para undangan yang berada di Ruang tengah beserta dari ruang tamu, "Wa'alaikum Salam Warohmatullahi Wabarakatuh,"


"Alhamdulillah, Wasyukrulillah, Ama'ba'du. Segala puji beserta syukur. Mari kita Panjatkan kepada Sang Maha Khaliq, Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pemurah, dan Sang Maha Penyayang. Yaitu Allah Subhanahu Wata'ala. Serta semoga tercurah limpahkan shalawat beserta salam, kepada Nabi Kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam." Ustadz Rizal menjeda ucapannya.


Dan kini ia melanjutkan kembali, "Hadirin dan Hadirat. Terima kasih saya ucapkan kepada para tamu undangan yang sudi hadir di acara syukuran empat bulanan dari istri Mas Rasya Argadinata, anak dari Bapak Hadi Argadinata. Saya sebagai perwakilannya, mengucapkan banyak terima kasih."


"Mari kita sama-sama bershalawat serta bermunajat." Ucap Ustadz Rizal. Kemudian ia menuntun bacaan istighasah kepada para tamu undangan beserta keluarga Rasya. Terdengar lantunan-lantunan, dan bacaan do'a-do'a dari semua yang hadir. Hingga memakan waktu satu jam lamanya menyelesaikan acara bacaan-bacaan tersebut.


Dan tersedia do'a khususnya untuk bayi yang ada dalam kandungan Adelia. Agar sehat, sempurna, serta selamat saat nanti lahir. Bahkan Ustadz Rizal langsung mengucapkan do'a kepada Adelia dan Rasya dari microfon yang sedang ia pakai.


"Selamat ya buat Mas Rasya beserta istrinya. Saya do'akan semoga kandungannya sehat, memberikan keberkahan, serta keselamatan. Dan jangan lupa dari mulai empat bulan, sang ibu harus rajin mengajak janin tersebut untuk berbicara. Karena dari umur empat bulan, janin tersebut sudah mendapatkan ruh. Hingga bisa mendengar dan merasakan apa yang sang ibu ucapkan. Lalu jangan lupa dengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an serta perbanyak shalawat, untuk pendengaran si janin."


Rasya dan Adelia tersenyum dengan mengangguk. Mereka berdua mendapatkan ilmu baru dari ustadz Rizal, yang memberikan nasehat-nasehatnya kepada sepasang suami istri tersebut.


...***...


...Bersambung....


Mohon Maaf Author baru bisa up. Karena sedang ada urusan di kehidupan Nyata.


Jangan lupa, Like, Comment, dan Hadiah poinnya!!!.

__ADS_1


Terima kasih,


Selamat membaca.


__ADS_2