
"Auw ... sayang sakit!" pekik Rasya yang terkena cubitan di pinggangnya dari sang istri.
Keduanya kini sudah berada di dalam kamar setelah selesai melakukan makan malam. Sedangkan baby twin Daffa dan Saffa masih berceloteh di atas kasur orang tuanya.
"Itu belum puas Mas, setelah aku merasakan sakitnya tersedak tadi karena ucapan kamu," Adelia dengan tangannya kini bersedekap di dada. Matanya menatap tajam sang suami.
Rasya tersenyum. "Tapi, Mas beneran tadi mengungkapkan isi hati Mas, kepada semuanya. Kalau sudah ada Baby Sister, Mas pengen bulan madu," ujarnya dengan santai.
Adelia menggeleng, merasakan suaminya itu begitu santai. Tanpa merasa ada sedikit malu untuk mengatakan di hadapan semua orang.
"Tapi, aku malu Mas. Kenapa, harus bahas itu sih, apalagi ada Serly dan Rara? malu sekali aku, mendengarnya," ucap Adelia dengan jujur. Bahkan kedua pipinya masih merona membahas percakapan tentang yang Rasya katakan tadi saat di meja makan.
"Sudahlah Sayang ... yang penting kamu jangan banyak protes, atau menolak! nanti setelah ada baby sister kita harus bulan madu. Titik!" Rasya langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Adelia hanya bisa menghela nafas. Setelahnya, ia menghampiri dua bayinya yang kini sudah pada tengkurap.
"Sayang, Bunda. Belum pada ngantuk, hmm?" Adelia dengan mengelus kepala Baby Daffa dan Baby Saffa secara bergantian. Lalu membaringkan Baby Daffa terlebih dahulu, sehingga bayi itu kini terlentang dengan kedua kaki dan tangannya bergerak aktif. Begitupun, kepada Baby Saffa, Adelia melakukan yang sama.
"Sayang, Bunda sebenarnya berat sekali jika kalian harus di asuh oleh orang lain. Tapi, mudah-mudahan pengasuh itu baik ya, Sayang ... agar Bunda tidak khawatir," cicit Adelia kepada Baby Saffa dan Baby Daffa.
Adelia tersenyum saat menatap Baby Daffa menguap. Adelia memilih berbaring dan menyusui baby Saffa terlebih dahulu. Dengan tangan kanannya ia usap-usapkan pada kepala baby Daffa, yang sebentar lagi sepertinya akan tertidur.
"Sayang, kamu tampan sekali sih, mirip sekali dengan ayahmu!" puji Adelia dengan menatap baby Daffa. Tangannya masih terulur mengusap-usap kepala baby Daffa. Sedangkan Baby Saffa sedang menyedot Asi dengan mata sayu yang sama-sama akan terpejam.
Keunikan Baby Daffa jika mendengar Adelia atau Rasya berceloteh saat ia terbaring. Bayi itu mulai terpejam. Seakan celotehan Adelia bagaikan sebuah dongeng untuk mengiringi ia tidur. Sedangkan Baby Saffa harus di susui dahulu baru ia tertidur.
Rasya yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap tiga orang kesayangannya yang berada di atas ranjang. Rasya tersenyum senang. Ia tidak pernah membayangkan akan sebahagia ini. Mendapatkan seorang istri yang sangat ia cintai, dan mempunyai dua bayi kembar yang sangat menggemaskan.
"Baby Daffa sudah tidur, ya?" Rasya berucap dengan perlahan mendekati ranjang. Lalu tangannya terulur untuk mengusap-usap kepalanya baby Daffa.
__ADS_1
"Iya, Mas," Adelia dengan berbisik.
Baby Daffa perlahan di gendong oleh Rasya untuk ia pindahkan ke ranjang bayi. Begitupun dengan Adelia ia sudah memastikan jika Baby Saffa sudah tertidur lelap. Pasangan suami istri itu menidurkan bayi kembarnya secara bersamaan. Kebetulan ranjang bayi itu ukurannya luas. Sehingga Adelia dan Rasya bisa menidurkan nya secara bersamaan.
"Terima kasih sayang, karena adanya kamu. Aku bisa menjadi seorang Ayah. Dan karena adanya kamu aku mempunyai dua bayi yang begitu tampan dan cantik," ucap Rasya dengan merengkuh tubuh Adelia untuk masuk ke dalam pelukannya. Dengan keningnya ia cium dengan lama.
"Sama-sama, Mas. Aku juga jika tanpa kamu, tidak akan menjadi seorang istri sekaligus menjadi seorang ibu. Aku bahagia bisa mengandung dan melahirkan generasi Rasya Argadinata. Aku sangat mencintai mu Mas," sahut Adelia dalam pelukan sang suami.
Rasya tersenyum lebar. Hidupnya benar-benar bahagia. Ujian rumah tangga yang pernah singgah dan menerpanya ia bisa lalui. Dan dalam hatinya Rasya berdoa semoga Rumah tangganya selalu harmonis dan bahagia.
"Iya, Sayang. Aku lebih sangat mencintaimu."
Adelia mendongak dan tersenyum. Rasya tidak bisa menahan untuk tidak melahap bibir Adelia yang tersenyum itu. Dengan cepat Rasya menautkan bibirnya pada bibir milik sang istri. Adeliapun tidak bisa menolak. Ia menikmati setiap lum@tan dan ses@pan yang Rasya berikan. Dengan bibir yang masih bertautan. Rasya menuntun tubuh Adelia untuk menuju ranjang.
Dan dengan lembut Adelia oleh Rasya di dorong. Sehingga tubuh Adelia kini terlentang di atas ranjang.
Adelia dengan tersenyum malu mengangguk.
"Malam ini malam pertama kita, Sayang" ucap Adelia dengan nada yang sensual. Menambah gairah sang suami yang mendengarnya.
Rasya dengan cepat merangkak mengungkung tubuh istrinya. Menyatukan kembali bibirnya dengan bibir sang istri. Sedangkan tangannya mulai meraba-raba tubuh sang istri dari balik dress. Membuat Adelia semakin bergairah.
Setiap sentuhan yang Rasya berikan sudah lama juga Adelia rindukan. Sehingga des@han dari mulut Adelia keluar saat bibir Rasya mulai *****@* leher jenjangnya. Dengan tangan Rasya mulai meloloskan baju yang ia pakai. Sehingga Adelia bisa melihat jelas dada bidang suaminya yang menggoda itu.
Entah karena Adelia sudah sangat bergairah. Adelia langsung memberikan sentuhan bibirnya pada dada bidang suaminya itu. Membuat Rasya memejamkan kedua matanya menahan gelenyar nikm@t yang istrinya berikan.
"Sayang," satu kata yang Rasya ucapkan dengan suara beratnya.
Rasya yang tak bisa menahan itu. Tangannya mulai meloloskan dress yang Adelia kenakan. Lalu Rasya langsung membuka pengait bungkusan yang menutupi dua gunung yang kini jadi milik dua bayi kembarnya. Dengan hati-hati Rasya menghis@pnya dan melum@tnya. Takut asinya itu terhis@p. Dengan tangan kanan memainkan salah satu gunung tersebut. Dan tangan yang satunya memainkan Gua milik sang istri yang sudah mulai membasah.
__ADS_1
Adelia mendes@h menggelinj@ng nikm@t. Tangannya merem@s kepala sang suami. Menahan rasa yang bergelora, yang saat itu ingin cepat ia tuntaskan.
"Mas," suara Adelia tertahan.
Rasya yang tahu dan mengerti. Dengan cepat mengarahkan benda pusakanya yang kini sudah terlihat menegak dan menegang.
Dan dengan satu hentakan benda itu sudah menelusup masuk. Membuat sang gua langsung menjepitnya.
"Ah sayang, sungguh nikm@t sekali" racau Rasya dengan gerakan menghentak tubuh sang istri. Adelia hanya tersenyum menikmati gerakan-gerakan yang suaminya berikan.
Pergerakan panas itu akhirnya selesai setelah hampir satu jam lamanya. Dengan suara er@ngan dari keduanya menandakan sudah mulai puncaknya kegiatan tersebut. Terasa hangat pada gua milik Adelia setelah suaminya terkulai lemas. Namun, masih berada di atas tubuhnya.
"Sayang, terima kasih. Sudah menjadi milikku seutuhnya. You are my mine. Adelia Cahaya Lestari," ucap Rasya setelah berbaring di sebelahnya. Mengecup kening Adelia dengan lama. Lalu merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukan.
"Aku milikmu, Mas. Hanya milikmu," sahut Adelia dengan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
...End...
Readers, Cerita Rasya Adelia di End ya. Part Ekstranya nanti akan menceritakan Serly dan Aldi. Begitu juga dengan Albi dan Rara.
Terima kasih yang sudah setia membaca cerita author yang masih belajar ini.
Terima kasih yang sudah memberikan Like.
Salam Manis dari Author.
Selamat Tahun Baru Masehi 2022.
Selamat Ketemu di tahun baru.
__ADS_1