You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 248.


__ADS_3

"Oek ... oek ...," bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki menangis saat Lia menciumnya dengan gemas.


Rasya langsung berubah panik. Sedangkan Adelia sedang memberikan Asinya kepada bayi perempuannya, dengan menggunakan kain penutup karena Adelia merasakan malu. Setelah dua jam lamanya Asi Adelia keluar dengan deras. Dan langsung saat Asi pertama, Adelia berikan kepada dua bayi mungil itu secara bergantian.


"Ah ... ini pasti karena Mama," gerutu Rasya yang memang sejak tadi ia memperhatikan Mamanya terus menciumi bayi laki-lakinya itu dengan gemas.


Lia hanya terkekeh, dengan masih mendusel-duselkan hidungnya pada pipi mungil bayi tersebut, "Sya ... bayi laki-laki ini mirip sekali denganmu saat bayi," cicit Lia.


Hadi sang Papa, yang sekarang sudah menjadi Kakek tersenyum senang melihat kebahagiaan keluarganya dengan adanya dua bayi mungil tersebut.


"Dari tadi ribut terus, kasih nama sampai lupa pastinya?" celetuk Hadi seperti mengingatkan.


Rasya langsung menepuk dahinya. Ia benar-benar lupa untuk memberikan nama pada bayi kembarnya. Rasya kemudian mendekati Adelia yang bersandar, yang masih memberikan Asi kepada bayi perempuannya.


"Sayang ada rekomendasi gak, buat nama kedua bayi kita?" tanyanya dengan duduk di sampingnya, lalu tangannya terangkat membelai kepala Adelia dengan sayang.


"Terserah kamu saja, Mas. Yang berhak memberikan namanya adalah ayahnya. Dan Nama yang baik itu adalah nama yang mengandung doa," sahut Adelia dengan tersenyum.


"Benar. Kata istrimu. Jangan asal pilih nama. Awas jangan sampai kamu memilih nama penyanyi-penyanyi kesukaan mu itu," Hadi menimpali.


Rasya manggut-manggut. "Kalau gitu apa arti namaku?" tanyanya. Rasya saat ini belum tahu arti namanya sendiri.


Hadi terkekeh, "Mau tahu kamu?"


"Iya mau tahu. Aku lupa buat tanya sama Papa arti namaku sendiri," Rasya dengan menatap bayi mungil yang masih Adelia susui.


"Rasya itu artinya tinggi, tegap, memperbaiki dan menjaga hubungan dengan sesama," jelas Hadi mengatakan arti nama putranya itu.


"Makanya kamu sejak kecil pandai bergaul," tambah Hadi.


Rasya manggut-manggut. Bahkan pikirannya kini memikirkan nama yang baik untuk dua bayinya. Rasya membuka sebuah situs tentang nama bayi yang bagus. Rasya tersenyum saat mendapatkan nama yang cocok untuk dua bayinya.


"Bayi laki-laki itu, akan aku berikan nama Arsya Daffa Adnan. Yang artinya Seorang pemimpin berwibawa yang kuat dan adil."


Rasya dengan menatap bayi laki-laki yang masih di gendong Mamanya.


"Bagus juga," sahut Lia. "Apa, kamu tidak akan memakai nama belakangmu?" lanjut Lia.


Rasya menggeleng, kemudian berkata, "Dan Arsya itu adalah gabungan dari Adelia Rasya," Rasya dengan menyengir.

__ADS_1


Membuat kedua orang tuanya geleng-geleng serta berdecak.


"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Rasya kini kepada Adelia untuk memastikan nama yang ia pilihkan untuk bayi laki-lakinya.


"Aku suka, Mas." Adelia dengan tersenyum. "Lalu untuk bayi perempuannya?" lanjut Adelia bertanya.


Rasya kembali berpikir. "Tunggu dulu," ucapnya. Kemudian membuka kembali situs untuk nama bayi perempuannya. Setelah merasa ada yang cocok untuk bayinya itu. Rasya kembali tersenyum. Dan mengatakan nama yang ia pilih untuk bayi perempuannya itu.


"Delisha Saffa Alea,"


"Yang artinya?" tanya kedua orang tua Rasya secara bersamaan.


Rasya terkekeh, menanggapi kekompakan kedua orang tuanya itu.


"Yang Artinya, Pembawa bahagia, Bersih dan Rendah hati," ucapnya.


"Dan Delisha adalah gabungan dari--"


"Adelia Rasya," jawab kompak kedua orang tuanya. Sengaja memotong apa yang akan Rasya ucapkan. Membuat Rasya tergelak, begitupun Adelia yang tersenyum lebar saat melihat suami dan kedua orang tuanya berbinar dalam kebahagiaan.


Di ruangan itu. Memang hanya tinggal Adelia, Rasya, dan kedua orang tuanya. Rara dan Serly sudah pulang ke rumah. Begitupula dengan Aldi. Yang pulang ke Apartemen. Setelah bekerja bersama Rasya, Aldi sudah mampu membeli Apartemen yang tidak begitu mewah, namun sangat sederhana.


"Jadi panggilan untuk keduanya apa?" tanya Lia kini menyerahkan bayi laki-laki itu pada Adelia untuk di susui. Sementara bayi perempuan tadi sudah Rasya tidurkan pada keranjang bayi.


"Iya, Bagus Mas." sahut Adelia dengan tersenyum.


"Kamu suka, Sayang?"


"Iya, aku suka," lagi-lagi Adelia menyukai apa keputusan suaminya itu.


Hadi kini berbaring di atas sofa. Lalu Lia menggelar Kasur Lantai yang cukup lebar, dan berbaring di sana.


"Kenapa kalian tidur terpisah?" celetuk Rasya.


"Ini rumah sakit. Bukan Hotel. Memangnya kamu yang tidak tahu tempat," seloroh Hadi dengan sengaja menggoda putranya itu.


Rasya terkekeh, "Iya. Sih, emang ini Rumah Sakit," dengan menyengir.


"Ingat Sya ... kamu harus berpuasa sampai sembilan puluh hari," peringatan dari Lia. Yang tahu bahwa anaknya itu selalu mengajak pertempuran kepada istrinya.

__ADS_1


"Perasaan nifas sampai empat puluh hari, deh" Rasya dengan sudah berubah sendu.


"Iya itu jatah nifas. lima puluh harinya jatah dari si kembar. Emang kamu gak tega apa. Mulai dari sekarang istrimu itu akan begadang sampai usia tiga bulanan. Dan kamu seenaknya akan mengajak bertempur?" Lia kembali memperingati Rasya dengan sengaja mendramatisir keadaan.


Rasya terdiam saja.


"Papa saja dulu. Baru usia kamu satu tahun. Papa ngajak untuk memulai lagi pertempuran itu," celoteh Lia. Membuat Hadi berdehem.


"What setahun?" Rasya melotot tidak percaya.


"Apa aku bisa? Oh tidak ... empat puluh hari saja aku sudah merasa lesu membayangkannya. Apalagi sampai setahun seperti Papa, mungkin sudah loyo rasanya," lanjut Rasya di dalam hati membayangkan kalau saja ia seperti Papanya, menahan pertempuran sampai setahun.


"Sudah. Mama sama anak ini ya, kalau cerita tentang yang satu itu ... nyambungnya klop banget. Mending sekarang tidur. Nanti si kembar bangun karena berisik ulah kalian!" Hadi memperingati agar Lia dan Rasya berhenti mendebatkan unfaedah tersebut. Kemudian Lia dan Rasya menurut. Lia langsung memejamkan kedua matanya.


Adelia hanya tersenyum menanggapi. Baby Daffa sudah tertidur di samping Baby Saffa. Adeliapun mencoba memejamkan kedua matanya. Sebelum merasakan ada pergerakan pada ranjangnya.


"Mas," lirih Adelia menatap Rasya gerangan yang ikut berbaring.


"Apa Sayang, Mas hanya ikut tidur saja. Lagian Mas tahu, kamu masih nifas. Gak mungkin ngajak yang aneh-aneh," cicitnya dengan mulai berbaring di samping Adelia.


Adeliapun diam. Kembali melanjutkan memejamkan kedua matanya. Namun, baru saja ia hampir terlelap. Tangan nakal suaminya sudah bermain di daerah gunung yang sekarang adalah milik si kembar dari balik selimut.


"Mas," protes Adelia.


Rasya yang matanya sudah terpejam, "Sttt ... Mas hanya pegang saja. Mas tahu sekarang, gunung ini sudah memiliki mata air pegunungan. Jadi, gak masalah ya, Mas pegang doang!"


Adelia menggeleng, dengan menepuk tangan nakal Rasya tersebut.


"Tentu Masalah sekali. Aku tidak bisa tidur kalau Mas seperti ini. Kalau Mas mau nakal. Mas tidak boleh seranjang dengan aku," rajuk Adelia dengan penuh ancaman.


Tangan nakal Rasya langsung terhenti. Lebih baik tidak bermain-main, jika ingin tidur seranjang dengan istrinya pikirnya begitu.


"Iya Sayang. Jangan marah ya, Mas hanya kangen," ucapnya. Kemudian Rasya mengecup kening, dan bibir Adelia sekilas.


"Selamat Malam. Bunda Daffa, dan Saffa. Mimpi indah ya," lanjutnya dengan mengucapkan kata-kata manis, yang membuat Adelia seketika tersenyum.


"Iya, Selamat Malam juga Ayah Daffa dan Saffa," sahut Adelia. Kembali memejamkan kedua matanya.


Rasya memeluk tubuh Adelia, "Mas sangat mencintaimu," bisiknya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2