You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 46.


__ADS_3

Setelah Serly merasa tenang, Dido mengantarkan Serly untuk pulang. Meski dalam lubuk hati Serly sangat tidak ingin kehilangan Aldi. Tapi, bagaimana lagi inilah keputusan yang terbaik. Serly akan mengikuti alur hidupnya akan membawa kemana begitulah pikirannya.


"Sayang ...," Dido menatap Serly dengan penuh cinta. Sementara Serly merasa gugup di panggil seperti itu. Dido baru saja menghentikan laju kendaraannya di halaman rumah Serly.


Dido tersenyum gemas, "Bukannya kamu ingin cepat mencintai kakak? maka jangan protes jika kakak panggil kamu dengan kata sayang!"


Serly menjawab senyuman Dido. Jujur dalam hatinya ada rasa getaran yang kini ia rasa. Seperti rasa getar yang sama saat ia menatap Aldi, apalagi berdekatan seperti sekarang ini.


"Kakak, mau mampir dulu?" Serly sengaja tidak merespon atas ucapan Dido tadi. Memilih mengajukan ajakan untuk Dido mampir ke dalam rumahnya.


"Mau dong," jawab Dido selalu dengan senyuman manisnya.


Serly tersenyum dengan mengangguk, kemudian keluar dari dalam mobil. Dido pun keluar, mengikuti langkah gadis pujaan hatinya.


"Assalamualaikum ...," ucap Serly hampir bersamaan dengan Dido saat membuka pintu.


"Wa'alaikum salam," balas Adelia yang kebetulan sedang berada di ruang tengah bersama Rara.


Rara sengaja berkunjung ke rumah keluarga Rasya. Setelah jam kerjanya usai dan tidak mengikuti jam lembur.


Serly terbelalak saat menatap Rara ada di rumahnya. Seketika Serly berhambur memeluk Rara, dengan erat.


"Kak Rara, aku kangen banget," ucap Serly setelah melepas pelukannya.


Rara tersenyum, "Aku juga kangen kamu Ser," sahutnya. "Ehem ... ciyee, sebentar lagi mau tunangan ni," goda Rara membuat Serly tersenyum dengan salah tingkah.


Rara baru saja tahu dari Adelia tentunya. Bahwa Serly beberapa hari lagi akan melaksanakan acara pertunangan bersama Dido. Rara pun di ikut sertakan sebagai keluarga pihak Serly.


"Eh, ternyata ada Dido," kata Adelia terkejut saat menoleh ke arah datangnya Serly saat tadi.


Dido tersenyum dengan mengangguk.


"Kakak, ayo duduk!" ujar Serly mempersilahkan Dido untuk duduk bergabung di sofa yang melingkar di ruang tengah tersebut.


Dido merasa senang. Sekarang Serly mau menyuruhnya untuk duduk saat berkunjung. Dan Dido merasa ada sedikit peningkatan hubungannya kini.


Adelia senyum-senyum sendiri melihat pasangan muda di depannya. Di tambah Adelia gemas saat memperhatikan Serly yang terlihat malu-malu. Namun, ada yang membuat Adelia terdiam saat menatap wajah Serly yang sembab seperti sudah habis menangis. Membuat Adelia bertanya-tanya.


'Apa mungkin mereka habis bertengkar?' tanya Adelia di dalam hatinya.


'Tapi mereka nampak baik-baik saja,' lanjut Adelia berbicara di dalam hati.


Serly merangkul bahu Rara manja seperti biasanya.


"Kak, aku nanti boleh 'kan main ke rumah baru kakak?" tanya Serly.

__ADS_1


Rara tersenyum dengan mengangguk, "Tentu boleh. Waktu itu juga tante Lia main,"


"Kamu udah nangis?" lanjut Rara dengan bertanya. Rara seperti Adelia sedari tadi sudah memperhatikan wajah Serly yang memang sangat sembab.


Serly menggeleng dengan cepat, "Enggak kak. Aku tadi habis bersin-bersin sampai air matanya keluar, jadi sembab kaya gini," dengan jari-jari Serly mengusap-usap hidung.


"Aku ke kamar dulu ya," tambah Serly.


Kemudian Serly menoleh kepada Dido, "Kak ... aku ke kamar dulu ya," ujarnya.


Dido menjawab dengan mengangguk.


Serly dengan cepat melangkah menuju tangga untuk naik ke kamarnya yang ada di lantai atas. Serly tidak mau sampai Rara dan Adelia bertanya lebih tentang kondisi wajahnya yang sekarang. Sehingga Serly memilih untuk menghindar, dan akan melakukan ritual mandi agar wajahnya terlihat fresh kembali.


"Kak, si kembar kemana?" Dido yang merasa canggung berada di antara dua wanita cantik memilih untuk bertanya menanyakan keberadaan si kembar Daffa dan Saffa.


"Lagi pada tidur Do," sahut Adelia.


"Eh, Ra mau kemana?" Adelia bertanya saat melihat Rara berdiri dari duduknya.


"Aku mau bawa minum buat Dido," balas Rara.


"Oh ya udah silahkan!" kata Adelia dengan menyengir. Harusnya dirinya yang menyuguhkan minuman untuk Dido, jadi Adelia menyengir merasa malu.


Rara tersenyum dengan melenggang ke arah dapur.


"Iya. Adik angkat aku Do ...," jawab Adelia tanpa mengatakan asal-usulnya.


Dido manggut-manggut.


"Emang kenapa Do?"


"Ah enggak kak. Pantas aja beda gitu," jujur Dido dengan ucapannya.


"Tomboy ya?"


Dido tersenyum dengan mengangguk.


"Tapi cantik, 'kan?" tanya Adelia lagi.


"Iya kak." jawab Dido. "Semua yang namanya wanita pasti cantik," lanjutnya.


Adelia terkekeh, "Oh gitu ... tapi, yang lebih cantik ada 'kan?" Adelia sengaja ingin menggoda calon tunangan adik iparnya.


Dido tersenyum, "Tentu ada kak. Calon istriku pastinya," tegas Dido tanpa malu.

__ADS_1


"Iya benar," Adelia manggut-manggut.


Rara kembali dengan nampan yang berisikan empat gelas jus dan cemilan. Lalu Rara menaruhnya di atas meja.


"Silahkan di minum!" kata Rara seraya duduk di kursi bekasnya semula.


"Terima kasih, kak" sahut Dido.


Adelia teringat akan sesuatu hal, "Eh iya Do ... tadi ada pihak butiq utusan Ayah kamu menyuruh kami memilih pakaian yang akan di kenakan di acara pertunangan kalian nanti. Bagus-bagus loh, model dengan warnanya," ujar Adelia kepada Dido memberitahukan.


"Jadi sudah di pilih kak?" tanya Dido yang sebenarnya tidak tahu menahu. Dido berpikir Ayahnya sangat bergerak cepat mengutus anak buahnya untuk mempersiapkan semua, tanpa mengganggu jadwal kuliah dirinya dan juga Serly.


"Iya udah. Warnanya kesukaan Serly. Kakak yang pilihkan, karena Mama dan Papa juga Mas Rasya menyerahkan semua pilihannya sama kakak. Dan kakak, tentu memilih warna kesukaan calon tunangannya," tutur Adelia.


Dido mengangguk dengan tersenyum.


Tidak lama kemudian Serly datang dengan wajah yang sudah terlihat fresh, harum tubuh serta aroma parfumnya sudah tercium dari jarak yang masih jauh.


"Udah mandi ya?" Adelia bertanya tentu ingin menggoda adik iparnya tersebut.


Serly duduk seraya menjawab, "Iya sudah kak,"


"Kalian mau kencan?" celetuk Adelia kemudian. "Makan malam di luar ya?" lanjutnya.


Dido sontak menatap Serly. Sehingga mereka berdua saling pandang.


"Kalau mau pergi sana! kakak ijinkan kok. Gak usah malu-malu," cicit Adelia yang merasa gemas dengan tingkah pasangan muda yang terlihat malu-malu menurutnya.


Dido beralih menatap Adelia, "Emang boleh kak?"


"Ya tentu boleh. Beberapa hari lagi kalian akan bertunangan, terus menikah. Jadi gak apa-apa kalian sering keluar juga,"


Dido tersenyum senang. Sementara Serly merasa ragu untuk pergi keluar saat ini. Sebetulnya, Serly ingin menenangkan pikiran serta tubuhnya.


"Tunggu apa lagi?" timpal Rara yang sedari tadi ikut memperhatikan Dido dan Serly yang masih saja terdiam.


"Yuk!" Dido menganggukan kepala mengajak Serly untuk pergi.


Serly tidak bisa menolak. Serly pun mengangguk menyetujui ajakan Dido.


"Kak, kami pergi dulu," kata Dido seraya berdiri dari duduknya.


"Iya hati-hati ya! pulangnya jangan terlalu malam," pesan Adelia.


Dido tersenyum serta mengangguk.

__ADS_1


"Siap kak!" ucapnya.


...***...


__ADS_2