You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 160.


__ADS_3

Di Kediaman Albi...


Pak Tono dan Pak Budi merasa heran dan bingung. Karena tidak menemukan Alsa yang menggantikan mereka di Pos jaga. Begitupula Adelia tidak terlihat setelah mereka menyelesaikan makan siang saat tadi. Membuat keduanya bertanya-tanya.


"Ton, sepertinya Non Arumi berada di kamarnya," pendapat Pak Budi.


"Terus kalau Alsa kemana, bukan nya tadi dia akan menggantikan kita di sini?" tanya Pak Tono yang merasa heran tidak menemukan keberadaan Alsa saat setelah makan.


"Iya ya ... apa Alsa tadi ke dalam kamarnya juga?" Pak Budi mencoba menebak.


"Ya mungkin. Untung saja tidak ada penyelinap masuk, ya?!" seloroh Pak Tono.


"Iya Ton," sahut Pak Budi.


Pak Tono dan Pak Budi pun kembali berjaga di Pos. Mereka menyangka Alsa dan Adelia masuk ke kamarnya masing-masing.


Di tempat lain, Pulau K...


Albi, Dirga, dan Arman baru saja tiba di lokasi penginapan yang berada di tempat penggalian batu bara, sebelumnya mereka telah sampai di salah satu Bandara Pulau K tersebut.


Mereka menyewa satu rumah yang terdapat tiga kamar. Dan kini sekarang mereka sedang duduk bersantai di ruang tengah mengistirahatkan badan yang begitu penat setelah melakukan perjalanan.


Albi mengirim pesan kepada Adelia untuk menyampaikan bahwa dirinya sudah sampai. Namun, pesan tersebut tidak di baca. Membuat Albi khawatir, tentang Adelia yang ia tinggalkan. Albi terus mondar mandir saat melakukan panggilan. Dan panggilan tersebut tidak di angkat sama sekali. Bahkan hingga Albi berkali-kali melakukan panggilan lagi, masih dengan hasil yang sama. Tidak di angkat.


Albi mendesah, ia mulai frustasi bahkan khawatir. Dan semua gelagat Albi sedari tadi di perhatikan Dirga dan Arman. Membuat kedua temannya itu bertanya-tanya.


"Albi, Lu kenapa sih dari tadi mondar-mandir seperti setrikaan saja?" pekik Arman bertanya.


Albi hanya menatap datar kepada Arman, tanpa menjawab.


"Iya Bro. Ada apa? Masalah Arumi?" tebak Dirga dan membuat Albi mengangguk.


"Coba lu telepon!, atau hubungi Pak Tono dan Pak Budi!" titah Dirga kini.


Albi pun menurut, ia bahkan tidak punya pemikiran sampai ke sana yang apa di katakan Dirga. Akhirnya Albi mencoba menelpon ke nomor telpon rumah. Namun, tetap sama tidak di angkat. Dan sekarang Albi mencoba menghubungi Pak Tono.


Pada deringan pertama pun, langsung di jawab oleh Pak Tono.


"Pak Tono, apa istri saya baik-baik saja?" tanya nya langsung saat Pak Tono sudah mengangkat panggilannya.


"Baik Tuan," sahut Pak Tono dari sebrang telepon.


"Coba, bapak lihat ke dalam rumah. Dari tadi saya menelpon tidak di angkat olehnya!!" titah Albi.


"Baik Tuan. Tunggulah sebentar, saya akan masuk ke dalam rumah," ucap Pak Tono.


Dan percakapan di telpon pun terjeda. Setelah beberapa menit, terdengar kembali suara Pak Tono.


"Tuan ... Non Arumi mungkin di dalam kamarnya, soalnya saya memanggil dan mencari di ruangan lain saya tidak menemukannya," ujar Pak Tono.

__ADS_1


"Ya sudah. Terima kasih," ucap Albi langsung mematikan panggilannya sepihak.


Albi merasa tenang saat sudah mendengar penuturan Pak Tono yang mengatakan bahwa Adelia tengah berada di dalam kamarnya. Ia berniat akan menghubungi kembali nanti.


***


Sementara itu di Sebuah Vila. Sosok wanita cantik terus memandang ke arah Pria yang kini berada di hadapannya. Pria itu terus tersenyum kepadanya. Senyuman yang manis, membuat siapa saja yang melihatnya tergoda. Sedangkan sang wanita terus menatapnya dengan terpana.


"Kruyuuuuk,"


Suara dari perut sang Wanita memecah suasana. Suasana saling tatap, memuji paras masing-masing. Membuat Sang Pria tersenyum lebar. Ia merangkul, dan mengusap lembut perut sang istri dengan gemas.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya nya.


Adelia tersenyum menahan malu. Entah kenapa saat ini ia begitu malu dan berdebar-debar jika berdekatan dengan Rasya. Seakan ia baru pertama kali bertemu. Mungkin karena ingatannya yang belum pulih. Seakan semuanya serba baru.


Adelia menjawab dengan mengangguk serta menunduk menahan malu.


"Kita makan sekitaran Pantai, Yuk!!"


Adelia mengangguk kembali.


Akhirnya mereka berdua keluar dari Vila tersebut. Mencari tempat makan di sekitaran Pantai. Rasya terus menggenggam jari jemari Adelia, seakan tidak ingin terlepas walau sebentar saja. Hingga pengunjung Pantai seakan iri melihat Rasya yang selalu menggenggam tangan Adelia. Berbagai pujian dengan kata Romantis terdengar di telinga Rasya dan Adelia. Bahkan banyak para wanita pengunjung Pantai menatap Rasya dengan penuh kekaguman, membuat Adelia mendelik kesal.


"Aku gak suka, ada wanita lain menatap Suamiku seperti itu," gumam Adelia di dalam hati. Ia mendongak menatap Rasya yang berjalan cuek, tanpa menatap mereka yang sedang menatapnya.


Adelia menggeleng. Ia malu jika mengatakan tengah kesal kepada para wanita yang kini terus menatap pada suaminya itu.


Akhirnya Rasya pun merasa ada yang memperhatikan. Ia mulai menatap ke arah banyak wanita yang kini sedang menatapnya. Tapi Rasya tidak bereaksi sedikitpun. Ia memandang datar, tanpa senyuman. Membuat Adelia merasa lega.


"Mas, kita mau makan di mana?" tanya Adelia kini.


Rasya mengedarkan pandangan, banyak Resto, dan kedai di pinggir Pantai tersebut.


"Bagaimana kalau kita makan, di Resto Sefood itu?!" tunjuk Rasya pada Resto Seafood yang terlihat sederhana.


"Boleh, Mas" jawab Adelia.


Adelia dan Rasya pun melangkah menghampiri Resto tersebut. Dan mencari meja kosong untuk mereka duduk. Kebetulan, Resto tersebut tempat duduknya lesehan, hanya ada meja yang tersedia.


"Sayang, kamu mau makan yang mana?," tanya Rasya saat Adelia menatap buku menu.


"Aku samain sama punya kamu saja, Mas!"


Rasya tersenyum, "Baiklah," sahutnya.


Kemudian Rasya mengatakan makanan yang di pesannya pada Pelayan yang sedari tadi berdiri menunggu.


"Bagaimana perasaan mu, sekarang saat bersamaku?," ucap Rasya dengan memandang lekat wajah Adelia.

__ADS_1


"Senang. Nyaman" sahut Adelia dengan jujur.


Rasya tersenyum, "Apa kamu percaya, bahwa aku ini suami kamu?" tanyanya seraya tangannya terangkat menyelipkan rambut Adelia yang terkena terpaan angin Pantai.


Adelia menatap Rasya dengan serius bahkan hatinya menghangat karena sikap Rasya yang manis. "Aku Percaya Mas, walaupun aku tidak ingat semuanya. Tapi, kamu selalu datang dalam bayangan ingatanku," sahut Adelia.


"Aku mohon Mas, bantu aku untuk bisa mengingat semuanya!" pinta Adelia dengan menggenggam tangan Rasya yang berada di atas meja.


"Tanpa kamu minta. Aku akan membuatmu mengingat semuanya," ucap Rasya dengan tersenyum lalu mengecup tangan Adelia yang tadi menggenggamnya.


Percakapan merekapun terjeda saat Pelayan datang menghidangkan menu makanan yang tadi Rasya pesan. Terhidang Cumi saus tiram, dan Ikan Nila bakar, beserta nasi dan minumannya. Rasya dan Adelia pun melahap makanan tersebut dengan tidak banyak percakapan di antara mereka.


***


Adelia dan Rasya kini tengah berbaring di atas ranjang. Rasya sedang memperlihatkan Photo-photo kebersamaan-nya di ponsel miliknya kepada Adelia. Adelia tersenyum menatap photo-photo tersebut. Dan semakin percaya bahwa dirinya adalah istri dari pria yang sedang berbaring di sampingnya.


"Mas, apa aku dari dulu dekat sama kamu?" tanya Adelia saat setelah menatap photo yang masih memakai seragam SMA.


"Iya dari dulu. Bahkan banyak yang mengira kita Pacaran sejak kecil," sahut Rasya dengan tangannya kini merangkul Adelia kedalam pelukannya.


"Loh, jadi kita tidak pacaran dari dulu?" tanyanya merasa heran.


"Enggak. Kita sahabatan. Tapi satu sama lain menyimpan rasa yang sama," ujar Rasya.


"Terus, kenapa kita bisa menikah?"


"Panjang Sayang, kalau di ceritain. Gak bakalan cukup waktu dalam sehari semalam pun," ucap Rasya dengan terkekeh.


Adelia terdiam. Lalu kini ia mendongak menatap rahang leher suaminya yang kokoh.


"Apa Mas, mencintai aku?," celetuk Adelia membuat Rasya menunduk dan menatapnya dengan gemas.


"Kalau aku tidak mencintai kamu, tidak mungkin aku memperjuangkan semuanya. Bahkan aku melakukan Misi demi kamu," sahut Rasya dengan mencolek hidung mancung Adelia dengan gemas.


"Misi?, Misi apa?" Adelia bertanya dengan menautkan kedua alisnya bingung.


"Misi. Merebut istriku sendiri," ucap Rasya dengan tergelak.


Seketika Adelia teringat akan Rasya yang sudah berhasil menyamar menjadi Alsa. Dan sontak Adelia pun ikut tergelak.


Rasya telah terhenti dengan gelakan tawanya, kini ia menatap dengan penuh hasrat pada istrinya yang masih tergelak.


"Sayang ... apa aku boleh menyentuh mu?,"


Ucapan Rasya Membuat Adelia terhenti tertawa, dan kini ia merasa gugup. Dengan perlahan ia menganggukan kepalanya mengiyakan apa yang Rasya inginkan.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2