
Siang itu pun di langsungkan pencarian oleh Hadi, Rasya, dengan lima warga lainnya melalui perahu sampan. Mereka memakai dua perahu, mereka menyusuri di kiri dan di kanan. Dengan menggunakan kayu untuk meraba-raba setiap ada kumpulan seperti sampah atau yang membuat mereka penasaran.
Hingga sampai ke suatu tempat yang di pinggir Sungai itu berjejer banyak Vila namun, Adelia belum di temukan.
"Sudahlah Nak, kita pasrahkan saja kepada Tuhan. Istrimu tidak dapat kita temukan," ucap Hadi dengan menepuk pundak sang putra dengan pelan.
"Tapi Pah, aku yakin bisa menemukan Adelia," sahut Rasya dengan matanya berkaca-kaca.
"Mana, dimana? buktinya semua tempat yang di sekitar Perkebunan itu sudah kita susuri, buktinya Adelia tidak dapat kita temukan. Dan bukti sandal itu Adelia sudah tiada," tutur Hadi.
Rasya kini terdiam mendengar penuturan Hadi ada sedikit sakit dihatinya yang mengatakan bahwa istrinya itu telah tiada. Namun, Rasya sendiri tidak bisa menyangkalnya karena Rasya sendiri tidak bisa menemukan keberadaan sang istri.
"Iya Mas, saya juga berpendapat begitu. Kalau istri Mas itu sudah tiada. Yang sabar ya Mas," ucap Security yang selalu setia menemani Rasya dalam pencarian istrinya.
"Ingat Mas, jangan terlalu bersedih. Karena semua ketentuannya sudah di gariskan oleh Tuhan. Yaitu, Rijki, jodoh, dan maut itu sudah ada gariskan," ucap Salah satu warga yang memberikan nasehatnya kepada Rasya.
Jadi apakah jodohku sampai disini bersama mu?. Kenapa Tuhan mempercepat kebersamaan kami?. Batin Rasya.
"Ayo sekarang lebih baik kita pulang, dan kita berdo'a bersama agar Adelia di terima di sisi-Nya," ucap Hadi mengajak Rasya untuk pulang.
Rasya pun mengangguk dan mereka pun pulang kembali dengan menggunakan Perahu sampan tadi. Hadi berniat setelah pulang akan mengadakan tahlilan untuk Adelia, agar Arwah Adelia tenang.
***
Di Klinik kesehatan, Adelia sedang tertidur pulas akibat sudah meminum obat dari Dokter. Dan sebelumnya Adelia sudah di pindahkan di ruang rawat. Sementara Albi, Arman, dan Dirga kini sedang makan siang di sebuah Restauran yang tidak jauh dari Klinik kesehatan itu. Lalu mereka mengobrol untuk rencana kedepannya.
"Albian, gue dengar tadi Lu mau rawat cewek itu sampai kesadaran nya pulih? Lu serius?" tanya Dirga.
Albi menjawab dengan mengangguk.
"Terus ada yang gue mau tanya sama Lu, Elu aneh deh menurut gue sekarang. Elu itu biasanya cuek sama cewek, tapi sama cewek yang udah Lu tolong ini, Lu bisa berbicara banyak, seperti Lu udah tertarik gitu," kata Arman.
Albi terdiam mencerna kata-kata Arman.
__ADS_1
Iya juga kata Arman. Sejak kapan aku suka bicara sama cewek. Selain sama Arumi. Pasti aku hanya kasihan saja. Batin Albi berbicara.
"Gue hanya kasihan saja sama dia. Kalau kita gak perhatian sama Arumi, siapa lagi yang perhatiin dia?" kata Albi menjelaskan.
"Serius cuma hanya kasihan saja?" tanya Dirga kini. Albi langsung mengangguk.
Kedua teman Albi pun merasa lega jika Albi hanya sekedar kasihan terhadap Adelia yang di beri nama oleh Albi, dengan nama Arumi.
Mereka kembali masuk ke dalam lorong Klinik itu setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Albi gak apa-apa kan, kalau kita tidur dulu di Mushola?" tanya Dirga dengan merangkul Arman.
"Ya sudah sana!" sahut Albi. Dengan langsung bergegas masuk kedalam ruang rawat inap Adelia.
Dirga dan Arman pun pergi melangkah menuju Mushola, mereka merasa mengantuk akibat samalaman tidak tidur. Sedangkan Albi yang sudah masuk kedalam ruang rawat Adelia, ia menyunggingkan senyumnya saat di suguhkan pemandangan wajah Adelia yang sedang tertidur pulas di ranjang pasien. Albi melangkah menuju sofa panjang. Ia berniat untuk merebahkan tubuhnya di sofa tersebut, namun mungkin karena Albi tidak tidur semalaman akhirnya Albi tertidur.
Selang beberapa lama terdengar suara gaduh di telinga Albi yang tertidur. Hingga Albi membuka matanya memastikan suara apa yang baru saja ia dengar. Dengan mulai terduduk Albi memastikan, ternyata suara gaduh tadi dari tiang infus yang terjatuh beserta tubuh Adelia nya. Albi pun langsung melangkah dan mendekati Adelia yang terjatuh itu.
"Kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Albi seraya tangan nya terulur untuk membantu Adelia berdiri.
"Maaf. Tidur Anda jadi terganggu karena saya" ucap Adelia.
Albi malah tersenyum. "Lalu kenapa kamu bisa terjatuh?" pertanyaan yang sama dari Albi.
"Saya mencoba untuk berdiri, karena saya kebelet. Tapi tubuh saya sangat lemas sekali," tutur Adelia.
Albi mengerti, dan dengan gerakan cepat Albi merangkul tubuh Adelia, hingga Adelia melotot kaget. Tangan Albi yang kiri merangkul, dan tangan yang kanan menggeser tiang infus.
"Tu-tuan--"
"Bukan nya kamu kebelet? Saya akan mengantar kamu sampai dalam toilet" kata Albi langsung memotong ucapan Adelia.
Adelia pun pasrah dan menurut. Setelah di dalam toilet Albi mendudukan Adelia terlebih dahulu, dan tiang infus ia dirikan pas sejajar dengan tubuh Adelia.
__ADS_1
"Apa kamu bisa mem--"
"Saya bisa buka sendiri Tuan. Terima kasih. Mohon maaf Tuan bisa keluar dulu" kata Adelia langsung memotong ucapan Albi yang hendak bertanya tentang Adelia bisa, atau tidak membuka celananya.
Albi pun menjadi kikuk, ia langsung keluar dan menutup pintu toiletnya.
Albi Lu gila, Lu mau bukain celana itu cewek? Gila gue sudah gak waras. Batin Albi merutuki sikapnya yang memalukan.
Albi masih berdiri di depan pintu toilet itu menunggu Adelia yang keluar. Namun, Adelia tak kunjung datang hingga Albi menjadi khawatir.
Tok tok tok... "Arumi, kamu tidak apa-apa, kan?" kata Albi merasa khawatir dan tidak dapat jawaban dari Adelia.
Tok tok tok... "Arumi, kenapa kamu lama sekali?" tanya Albi kembali. Tapi tetap tidak ada sahutan dari Adelia.
Hingga Albi menjadi cemas, dan ingin berusaha membuka pintu toilet itu. Namun, saat Albi baru saja ingin memegang handle pintu toilet tersebut, Adelia terlebih dulu membukanya dengan tubuh Adelia bersender di dinding.
"Syukurlah kalau kamu gak apa-apa Arumi" ucap Albi merasa lega.
"Tuan Maaf saya lama ya? saya tadi mencuci muka dahulu, dan gosok gigi" kata Adelia dengan tersenyum.
Gila gue sekhawatir ini? Dan kenapa jantung gue berdetak kencang saat dekat seperti ini?. Gumam Albi di dalam hatinya.
Adelia mencoba melangkah, tiba-tiba tangan Albi refleks untuk membantu Adelia berjalan kembali menuju ranjangnya. Dengan pelan Albi melepaskan pegangan nya, dan mengangkat kaki Adelia ke atas ranjang. Adelia terus memandang wajah Albi yang memang begitu tampan. Hingga pandangan Adelia tertangkap oleh Albi. Albi tersenyum menyadari kalau Adelia sedang memandangnya.
"Arumi, apa saya tampan?" tanyanya.
"Hah? em--"
Adelia menjadi gelagapan saat dirinya tertangkap basah memandangi wajah Albi, dan Albi malah menggodanya. Hingga pipi Adelia menjadi merona merah. Dan terlihat jelas oleh Albi.
Albi terus tersenyum melihat Adelia yang menahan malu.
Lucu sekali cewek ini!! Batin Albi.
__ADS_1
...Bersambung....
Jangan Lupa Like dan Comment nya yaa....