You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 246.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Kehamilan Adelia kini sudah memasuki usia sembilan bulan. Dan tinggal menunggu hitungan hari, jika sesuai hari perkiraan Dokter. Keluarga Argadinata kini hidup aman, damai dan tentram. Setelah keluarga Rony sudah tertangkap.


Perusahaan Milik Adelia pun kini di kelola oleh Rasya. Sementara perusahaan Hadi, kembali di kelola oleh Hadi. Kerjasama antara Perusahaan Albian Company, dan Argadinata Group pun masih terjalin. Di tambah kini dengan Perusahaan Adelia juga, yang di berinama ACL Corp (Adelia Cahaya Lestari) terjalin kerjasama.


Hadi merasa jatuh hati dengan sikap, dan kebaikan Albian Syaputra. Hingga Hadi menginginkan Serly untuk di jodohkan dengannya. Beruntung Albi dapat menerima, walaupun Albi masih meminta waktu untuk mengenal lebih jauh dengan Serly. Dan kebetulan juga Kedua orang tua Rasya belum mengetahui bahwa sebenarnya Albi sangat mencintai Adelia. Rasya yang sebagai anak pertama, ia tidak pernah memberitahukannya. Ia mendukung saja keputusan Hadi tersebut. Melihat dari sikap Albi, yang Rasya tahu adalah pria yang baik. Hingga Rasya pun percaya jika Serly sang adik memiliki pendamping seperti Albi.


Sedangkan Serly yang tahu akan di jodohkan. Ia pun tidak keberatan. Walau hatinya sudah jatuh hati pada Aldi, anak buah Rasya, yang sekarang menjadi Asisten pribadi Rasya. Namun, karena sikap Aldi yang terlalu dingin hingga Serly pun menyerah. Menerima apa yang Papanya rencanakan.


Serly kini sudah kuliah di Universitas ternama di kota J. Ia kembali sekelas bersama Kikan anaknya Anton, pamannya Aldi yang sebagai Asisten Hadi Papanya. Kikan kebetulan anaknya cerewet, ia sering menceritakan tentang Aldi yang sudah di anggap Kakak oleh Kikan. Kadang membuat Serly semakin bertambah perasaannya. Tapi, Kikan tidak pernah tahu kalau Serly ternyata menyukai Aldi saudaranya itu.


Seperti sekarang Serly dan Kikan kini tengah menunggu jemputan pulang. Kikan menunggu di jemput sopir keluarganya, sedangkan Serly menunggu di jemput oleh Kakaknya yaitu Rasya.


"Kan, kamu di jemput siapa?" tanya Serly.


"Sopir rumah. Tapi, belum nonghol juga" Kikan seraya menatap ponsel yang baru saja berdering. Lalu mengangkat sebuah panggilan masuk. Lalu setelah selesai dengan panggilan masuknya, wajah Kikan memberengut.


"Ya ... Pak Udin pantesan gak datang-datang, ternyata lagi ngantar Mama undangan keluar kota," cicit Kikan setelah selesai berbincang pada ponselnya.


Serly tersenyum, "Kalau gitu ikut aku saja. Aku lagi nunggu Kak Rasya, kok." Ajak Serly.


"Boleh," sahut Kikan.


Dan tak lama mobil milik Rasya datang dan berhenti tepat di depan dua remaja tersebut.


Serly dan Kikan pun langsung masuk.


"Kak, antarin Kikan dulu ya," ujar Serly tanpa menatap ke arah Kakaknya. Kebetulan rumah Kikan lebih dulu terlewati.


"Baik," jawab seseorang.


Serly terkesiap saat mendengar suara yang bukan milik suara kakaknya. Kikan hanya terkekeh menanggapi Serly yang terkejut.


"Kak Rasya, kemana? kok Kak Aldi yang jemput?" Serly akhirnya bertanya soal Rasya yang tidak menjemputnya.


"Pak Rasya sedang berada di Rumah Sakit. Nona Adelia sepertinya akan melahirkan," sahut Aldi datar seraya mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Benarkah? Nanti antar saja saya ke rumah sakit," pekik Serly dengan menyuruh Aldi untuk membawanya ke Rumah Sakit saja.


Aldi menjawab hanya dengan anggukan kepala.


Kikan mulai berbicara kepada Aldi, "Bang Al, ada salam dari si Rindu," celotehnya. Membuat Serly menatap Kikan dengan tatapan yang tidak dapat Kikan mengerti.


"Rindu?" sahut Aldi seolah bertanya.


"Iya. Si Rindu suka katanya sama Abang," seloroh Kikan. Serly yang mendengar ada yang menyukai Aldi menjadi lemas seperti tidak bertenaga.


Aldi tidak menanggapi. Begitulah Aldi. Terkadang Kikan dan Anton Pamannya seperti meragukan, kalau Aldi seperti tidak menyukai lawan jenis.


Aldi menepikan mobilnya di depan pagar Rumah Pamannya, Kikan pun berpamitan kepada Serly.


"Ser, mampir dulu?" Kikan menawari Serly untuk mampir.


"Lain kali saja Kan, sekarang aku ingin ke Rumah Sakit. Aku gak sabar ingin melihat Kak Adel," ujar Serly menolak.


"Oh ya, udah. Kalau gitu, hati-hati. Bang Al, pelan-pelan nyetirnya ya!, dan titip Sahabat cantikku," Kikan seraya menepuk bahu Aldi kemudian keluar dari dalam mobil.


Aldi hanya mengangguk saja. Lalu melajukan kembali mobilnya setelah memastikan Kikan masuk ke dalam rumah.


Aldi melirik spion tengah menatap dimana Serly tertidur di jok belakang. Terbit senyuman dari bibir Aldi, yang jarang ia tampilkan di hadapan orang lain. Entah mengapa Aldi tiba-tiba merasa senang bisa melihat wajah polos Serly yang tertidur lelap. Hingga Aldi leluasa menatapnya.


Sampai di parkiran Rumah Sakit pun Aldi tidak berani untuk membangunkan Serly. Ia terdiam di dalam mobil. Menunggu Serly terbangun dengan sendirinya. Hingga suara deringan ponsel milik Aldi berdering, Serly mengerjapkan matanya perlahan.


Dan menatap Aldi dari belakang yang sedang menerima telepon.


"Iya, Pak. Saya sudah di parkiran Rumah Sakit. Non Serly ingin di antar," sahut Aldi.


"Baik, kami akan datang ke ruang UGD," ucap Aldi kemudian. Dan panggilan itu berakhir.


Seketika mata Serly dan Aldi beradu pandang lewat spion tengah. Membuat Serly salah tingkah dan membuang pandangan ke arah lain.


"Maaf, aku ketiduran," ucap Serly membuka suara.


"Tidak apa-apa," sahut Aldi datar.

__ADS_1


Serly merapihkan rambutnya terlebih dahulu lalu berpamitan kepada Aldi.


"Aku masuk dulu ya, Kak." Serly seraya keluar dari dalam mobil. Aldi pun ikut turun membuat Serly kembali berbicara.


"Kak Al turun juga?"


"Saya mau masuk juga," ucapnya. Lalu mempersilahkan untuk Serly berjalan di depannya.


Serly berjalan dengan perasaan tidak nyaman. Jantungnya berdetak lebih kencang seperti biasanya jika Serly berdekatan dengan Aldi.


Serly tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Aldi hampir menabrak punggungnya.


"Ada apa, Nona?" tanya Aldi dengan menautkan kedua alisnya.


Serly menggeleng tanpa menoleh. Lalu dengan cepat ia berlari meninggalkan Aldi. Membuat Aldi menatap Serly dengan tidak mengerti.


"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Nona Adel?" gumam Aldi lalu ikut berlari juga.


Serly yang merasa sudah jauh dari Aldi. Ia berjalan seperti biasa. Namun, ia kaget saat menoleh Aldi datang dengan berlari seperti dirinya tadi dan berhenti berlari saat di dekat Serly.


"Loh, Kak Al kenapa berlari?" tanya Serly.


"Terus, Non Serly juga kenapa berlari?" tanya Aldi balik. Kemudian ia mensejajarkan langkahnya dengan Serly.


"Hah?" Serly menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia ingin menghindar dari Aldi. Karena jantungnya yang seperti ingin keluar dari tempatnya jika berdekatan dengan Aldi.


Serly menggeleng pelan. "Kenapa sih ... perjalanan ke ruang UGD serasa jauh. Please ... Kak Al, jangan dekat-dekat. Jantungku mendadak tidak sehat, kalau dekat denganmu," ujar Serly di dalam hati.


...***...


...Bersambung....


Maaf Author menyelipkan tentang Serly dan Aldi. Seebelum menuju launching baby twin Adelia dan Rasya.


Jangan Lupa Like dan Comment!


Lalu hadiah poinnya juga ya!

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2