You Are My Mine

You Are My Mine
Bertemu.


__ADS_3

"Apa????" Adelia sungguh jengkel mendengar Rasya yang mengajaknya untuk ke sebuah salon.


"Iya Ayo sayang. Lihat salon nya berada tepat di dekat Butiq itu." Tunjuk Rasya kepada sebuah salon yang letaknya memang berada di sebelah Butiq yang baru saja Mereka kunjungi.


Adelia melotot matanya dan memanyunkan bibirnya. Sungguh Rasya hari ini menyebalkan baginya. Perut Adelia sudah sangat kelaparan tapi Rasya malah ingin mengajaknya ke sebuah Salon.


"Hei sayang ada apa, kenapa kamu malah manyun gitu?." Tanya Rasya melihat Adelia yang sedang memanyunkan bibirnya.


Baru saja Adelia mau membuka suaranya, namun kalah cepat dengan suara bunyi dalam perutnya yang terdengar oleh Rasya.


Kruuuuk..... kruuuuk..... Seperti itulah contohnya.


"Kamu lapar sayang?." Rasya malah masih menanyakan. Justru jelas suara perut Adelia itu tanda kelaparan. Sungguh Rasya bagi Adelia saat ini Tidak Peka.


Adelia terdiam saja sungguh dirinya tidak mau menjawab pertanyaan yang sangat tidak logis itu pikirnya. Rasya tersenyum kala melihat raut wajah Adelia yang sedang merajuk itu. Lalu Rasya mengedarkan pandangan nya ke seberang Jalan. Ternyata terdapat sebuah Resto mewah di sana.


"Ya udah Yuk, kita makan." Ajak Rasya dengan lembut menggandeng tangan Adelia.


Adelia pun menurut dan berjalan bersejajar dengan Rasya yang menggandengnya. Mobil Rasya tetap berada di parkiran Butiq itu, kini Mereka berjalan menyebrangi Jalan untuk menuju Resto yang Rasya tuju.


Setelah Sampai di depan Resto. Rasya melihat bahwa ada Ruang VIP di dalam sana. Lalu Rasya bertanya ke salah satu pelayan yang berdiri menyambutnya.


"Saya ingin pesan ruang VIP." Ucap Rasya.


"Mohon Maaf Tuan. Ruang VIP sudah penuh karena sudah di pesan oleh pelanggan lain." Tutur Pelayan tersebut.


"Ya sudah Terima kasih."


Lalu Rasya menggandeng Adelia ke sebuah meja yang terletak di dekat dinding kaca Ruang VIP. Kaca itu Tidak bisa melihat orang yang berada di dalamnya, namun orang yang berada di dalam bisa melihat dengan jelas ke arah luar.


Rasya duduk berhadapan dengan Adelia.


Rasya mulai membuka buku Menu Resto tersebut. Kemudian memesankan nya kepada Pelayan yang sudah berdiri di dekatnya. Begitupun dengan Adelia dengan cepat ia memesan makanan nya kepada Pelayan tersebut. Setelah itu pelayan tersebut pergi untuk membawa pesanan yang mereka pesankan.


Kini tinggal Adelia yang sedang cemberut di depan Rasya. Rasya malah terus tersenyum melihat Adelia yang cemberut seperti itu.


"Sayang jangan cemberut terus dong. Bersikap manislah pada suami mu ini." Rasya sengaja menggoda.


"Calon." Adelia meralat ucapan Rasya.


"Ya ya ya. Senyum dong. Malu sama orang yang lihat nanti katanya cantik-cantik koq jutek gitu."


"Aku gak perduli." Sahut Adelia dengan ketus.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Adelia dengan cepat melahap makanan nya yang sungguh sedang kelaparan tanpa menjaga sikap anggun seperti yang lain nya, di pikiran nya kini ia ingin cepat mengisi perutnya agar tidak terasa sakit. Rasya terkekeh di buatnya melihat gerakan makan Adelia yang sedikit cepat.


"Aku ini lapar Rasya sejak dari rumah tadi, tapi kamu ini malah datang ke Butiq terlebih dahulu yang memakan waktu satu jam lebih. Apalagi kalau aku menuruti kamu untuk berkunjung ke salon yang tadi kamu ajak. Bisa-bisa aku mati kelaparan." Celoteh Adelia di sela-sela suapan nya.


Rasya tercengang mendengar celotehan Adelia tersebut, tiba-tiba Rasya merasa bersalah.


"Maaf ya Sayang. Aku tidak mengerti kamu saat tadi." Rasya dengan mengelus pipi Adelia yang sedang penuh makanan di dalamnya.


Adelia pun mengangguk memberi tanda ia telah memaafkan nya. Lalu mereka makan dengan hening.

__ADS_1


Dari dalam Ruang VIP seorang pemuda sedang memperhatikan Adelia yang terlihat jelas dari dalam ruangan nya. Dia adalah Reyhan dan Dimas yang sedang menunggu kedatangan Martin. Sesuai rencana semalam Dimas mengajak Martin untuk bertemu, namun kini Martin belum saja datang.


Reyhan yang fokus melihat gadis yang sedang mengunyah makanan nya, membuat Dimas penasaran apa yang Reyhan lihat tersebut.


"Itukan Cewek yang beberapa bulan lalu gue tolong." Gumam Dimas setelah melihat Adelia di luar yang sedang makan.


Reyhan mendengar gumaman Dimas barusan. Lalu kini Ia menatap ke arah teman nya itu.


"Kapan? Dan Kamu tahu siapa dia?." Tanya Reyhan. Karena takut salah jika menyimpulkan wanita yang di lihatnya itu Adalah Adelia.


"Sudah lama. Pas Gue baru pulang dari Luar negeri. Wajahnya kaya pas cewek waktu dulu di Kampus itu Yang elu kejar sama si Martin. Noh panjang umur juga Anak itu datang." Ucap Dimas dengan melihat kedatangan Martin dari arah Pintu kaca tersebut.


Martin datang melangkah mendekati meja yang sudah ada Reyhan dan Dimas.


"Sorry Bro gue telat." Ucapnya setelah duduk di kursi hadapan Reyhan yang membuat Reyhan tidak bisa melihat wanita yang sedari tadi Ia perhatikan.


"Iya gak apa-apa." Kata Dimas.


"Oh ya makanan nya sudah kita pesankan jadi kamu tinggal melahap nya saja. Dan membayarnya." Tambah kata Dimas lagi.


"Apa-apaan Lu ini." Martin dengan mengepalkan tangan nya ke hadapan Dimas.


Dimas langsung terkekeh.


"Perjanjian dulu gitu kan. Siapa yang telat itu yang membayarnya." Dimas dengan tertawa. Mengingat dulu dirinya yang selalu datang tepat waktu agar menghindar dari membayar.


Martin kini mengernyitkan dahinya melihat Reyhan yang terus fokus menatap arah luar.


"Si Rey lagi menatap cewek yang membuat kalian dulu bertengkar." celetuk Dimas.


Martin tercengang kaget karena langsung teringat Adelia yang dulu sempat membuat dirinya dan Reyhan itu bertengkar.


"Rey... Adel sudah tiada. Lu lihat siapa?." Tanya Martin.


"Ya Ampun gue lupa. Sorry Martin walaupun Lu sempat memilikinya gue gak bisa melupakan perasaan gue. Gue tetap menyukai dia dalam diam. Tapi apakah wanita yang saat ini aku lihat orang yang mirip dengan nya. Lihat itu." Reyhan mengatakan yang sesungguhnya bahwa dirinya selama ini diam-diam tetap menyukai Adelia walaupun Martin sudah memilikinya. Kini Reyhan menunjuk gadis yang tengah tersenyum itu kepada Martin.


Martin pun kini dapat melihatnya. Matanya menatap tajam ke arah gadis tersebut yang begitu mirip dengan Adelia gadis nya. Lesung pipinya terlihat saat gadis itu tertawa. Rasa sesak di dada nya menyeruak dengan tiba-tiba. Mata Martin langsung berkaca-kaca. Dimas yang belum mengerti akan semuanya terdiam lebih dahulu. Mengikuti apa yang kini Reyhan dan Martin lihat.


Terlihat gadis itu meninggalkan meja tersebut, namun Pria yang bersamanya tetap duduk pada tempatnya.


"Aku ingin ikutin dia." Martin dengan cepat berdiri dan melangkah untuk mengikuti Arah gadis yang tadi di tatapnya.


Reyhan pun ikut menyusul Martin. Dimas yang dalam keadaan cengo pun membuntuti Mereka berdua.


Terlihat gadis itu masuk kedalam toilet. Martin berdiri di depan Toilet tersebut dengan Reyhan dan di susul Dimas.


Gadis yang masuk ke dalam Toilet tersebut adalah memang benar Adelia. Mereka hanya ingin memastikan yang sebenarnya.


Setelah beberapa menit gadis yang mereka tunggu pun keluar. Namun Pandangan gadis itu melotot saat ada tiga Pria yang Ia kenali berdiri di depan nya.


Ya Tuhan. Martin, Kak Rey, Dan ah siapa itu aku lupa lagi. Mereka ada di sini.


Bagaimana ini apa mungkin saatnya mereka tahu kalau aku masih hidup?.

__ADS_1


Lalu Bagaimana Jika Martin tahu kalau aku masih hidup, Apa Ia akan meninggalkan Rima?.


"Nona..." Tanya Dimas memecah kan gumaman Adelia didalam hatinya.


Martin dan Reyhan tetap menatapnya tanpa berkedip.


"Permisi." Adelia dengan cepat menghindari ketiga pria tersebut.


"Itu Suara Adelia." Martin kini bersuara dan melangkah cepat menyusul Adelia.


Langkahnya yang lebar hingga dengan cepat dapat meraih pergelangan tangan Adelia.


Adelia terkejut kaget dengan Martin yang kini memegang pergelangan tangannya.


"Adelia ini kamu kan?." Martin dengan matanya berkaca-kaca.


Tidak dapat Adelia pungkiri rasa sedih dan rindu itu datang pada dirinya. Namun Adelia harus sebisa mungkin mengelak. Ia tidak mau jika sampai Martin tahu bahwa dirinya masih hidup, Otomatis Rima juga akan mengetahuinya.


"Maaf Tuan salah orang." Kata Adelia berusaha berbohong.


"Tidak. Aku tidak mungkin salah. Wajah mu, suara mu, dan kini Aku merasakan semuanya ketika tangan ku ini menyentuh mu. Kamu Adalah Adelia. Adelia ku." Ucap Martin dengan menatap ke arah Adelia.


Ya Tuhan Bagaimana ini?. gumam Adelia di dalam hati.


"Maaf nama saya Cahaya. Saya harus cepat pergi. Suami saya sedang menunggu di depan." Adelia dengan cepat melepaskan tangan Martin yang memegang pergelangan tangan nya. Lalu Adelia pun berlari dengan cepat.


"Sudah Bro. Mungkin saja wanita tadi sangat mirip dengan Adelia mu." Dimas menepuk bahu Martin memberi ketenangan.


Aku juga berpikir sama dengan Martin. Bahwa itu adalah Adelia. Ucap Reyhan di dalam hatinya.


Adelia yang sudah menghampiri meja Rasya, dengan cepat menarik tangan Rasya.


"Ada apa sayang?." Tanya nya kaget dengan tangan nya yang di tarik dengan tiba-tiba.


"Ayo Sya cepat kita pergi dari sini." Adelia seperti sudah ketakutan.


Rasya pun tidak bertanya kembali. Karena makanan sudah Ia bayar saat Adelia pergi ke Toilet tadi. Rasya pun kini menurut pergi dari Resto itu.


Rasya dan Adelia pun dengan cepat menyebrang kembali ke arah butiq, yang terdapat Mobil Rasya yang terparkir.


Lalu dengan cepat membuka kan pintu Mobil untuk Adelia masuk. Rasya berjalan memutari depan Mobilnya untuk masuk di balik kemudi. Setelah Rasya masuk dan memasang seatbelt nya Rasya mulai bertanya kepada Adelia.


"Sayang kamu ini kenapa seperti ketakutan?." Rasya dengan mengusap kepala Adelia.


"A-aku bertemu dengan Martin. Dan Martin mencekal aku. Dia meyakinkan aku bahwa aku ini adalah Adelia." Jawab Adelia dengan membayangkan tadi dirinya di cekal Martin.


Nafas Adelia hingga terengah-engah.


Rasya pun dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan halaman Butiq tersebut tanpa bersuara. Rasya tidak dapat mengelak rasa ketakutan kehilangan Adelia ia rasakan saat ini. Dan itu tidak mungkin Rasya biarkan.


Aku akan melindungi mu semampu ku Adelia.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2