
Martin masih memeluk Adelia dengan erat, begitu pun dengan Adelia yang masih membalas pelukan Martin. Bibir Martin terus melengkung tersenyum mengingat dirinya kini bisa menjadi kekasih Adelia, teringat dulu ia begitu konyol medekati Adelia dengan cara yang membuat Adelia sebal.
Martin mengecup kening Adelia, lalu mulai melepaskan pelukan nya. Kini di tatap nya Adelia dengan lekat dengan bibirnya yang terus tersenyum. Adelia pun membalas tatapan Martin dengan tersenyum juga.
"Sebulan dari mulai hari ini aku akan menghitung nya." Martin mengingatkan pernikahan nya.
Adelia pun tersenyum dengan mengangguk.
Kemudian Martin mengusap pipi milik Adelia, dan mengecup kembali kening Adelia. Adelia tersenyum akan perlakuan Martin saat ini. Biasa nya ia akan usil menjahili Adelia, tapi kini ia begitu manis dengan terus mengecup apa yang di wajah Adelia, dari mulai kening, lalu turun ke mata, terus ke pipi, dan berhenti di bibir mengecup nya dengan lama.
"Martin...." Adelia mulai bersuara akan sikap Martin saat ini, Adelia merasa geli karena terus dapat kecupan dari Martin.
"Heemm..." Martin masih mengecup apa yang di wajah Adelia, dengan terus di ulang kembali dari kening hingga bibir.
"Berhenti gak?. Aku geli tahu. Ada apa sih kamu aneh banget?". Proses Adelia karena sudah tidak tahan.
Martin menghentikan aksi nya, kini ia menatap Adelia dengan lekat, dengan tangan nya memegang kedua bahu Adelia. Sorot Mata Martin memancarkan penuh cinta.
"I beg you, never turn your back on me.
promise me. Because I love you so much." Martin memohon kepada Adelia, agar Adelia tidak berpaling darinya.
"Ehmmm.... gimana ya?." Adelia malah menggoda Martin, seakan berpikir terlebih dahulu.
"No need to think. If you are really sure. say yes." Martin dengan wajah serius. Ucapan nya seperti memaksa.
"Okay. I will not turn away from you. I will be serious. Are you satisfied?." Adelia dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Martin, dengan matanya sedikit melotot.
Martin pun sontak tertawa karena merasa Adelia sangat lucu.
"Hei, kenapa anda tertawa?. Bukan nya itu yang ingin anda dengar?." Adelia tak mengerti dengan Martin yang tertawa.
"Kamu lucu nona, wajah serius mu tetap menggemaskan di mata ku." Martin mengatakan alasan nya tertawa.
"Menyebalkan...." Adelia pun bangkit, dan melangkah ke luar kamar.
Martin malah tambah tertawa, kini tawa nya begitu keras. Sampai matanya keluar air, sungguh ini tertawa yang baru pertama kali Martin rasakan setelah beranjak dewasa.
Memang dengan kenal Adelia, Martin kini tahu apa arti senyuman dan kasih sayang terhadap lawan jenis. Setelah kepergian kedua Orang tuanya.
Martin pun bangkit dari duduknya, ia telah merasa lelah karena tertawa, kini ia menyusul Adelia ke bawah. Di bawah terlihat ada beberapa pembeli yang sedang di layani Adelia dan Rara. Martin pun hanya bisa melihat dengan duduk di sofa ruangan tengah Toko milik Adelia. Martin mulai merogoh ponsel yang berada di dalam saku celana nya. Dan mulai membuka layar ponselnya, terlihat ada notifikasi pesan dari nomor baru. Martin pun mulai melihat pesan itu, ternyata pesan itu berupa photo. Martin pun mengklik pesan photo tersebut. Terlihat photo tersebut Adelia sedang memegang tangan seseorang pria, yang terlihat hanya punggung nya saja.
Adelia sedang memegang tangan siapa ya?.
Martin bergumam. Dengan mengingat punggung seseorang yang berada di dalam photo. Martin melotot akan teringat seseorang yang selalu di cemburuinya.
Martin ingin cepat menanyakan nya ke Adelia, namun pembeli seakan berdatangan. Adelia pun masih melayani para pembeli nya.
Terlihat tinggal dua orang pembeli, Martin mencoba menghampiri Adelia yang sedang berdiri di depan ettalase.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara sekarang." Martin dengan berbicara pelan di dekat Adelia.
"Sebentar, ya. Ini tanggung. Bu kue nya yang mana lagi?." Adelia menjawab Martin terlebih dahulu, dan mulai bertanya kembali kepada pembelinya.
Martin pun masih berdiri di dekat Adelia.
"Yang rasa itu mbak Adel." Tunjuk pembeli itu.
Adelia pun mengambil kan kue yang di tunjuk pembeli itu, dan memasukan ke paper bag.
"Mbak Adel, itu si Mas ganteng pacar nya ya?." Tanya pembeli itu dengan melirik ke Arah Martin.
Adelia pun mengangguk dengan tersenyum.
"Mbak, sekarang harus hati-hati. Banyak pelakor yang berkeliaran. Apalagi pacarnya ganteng banget gitu, saya sudah ikat dia." Ucap Pembeli tersebut.
Adelia pun melirik ke Martin terlebih dahulu sebelum menimpali ucapan pembelinya.
"Kenapa harus takut bu. Jika Pacar saya benar-benar mencintai saya, tidak mungkin kan sampai terjerat pelakor?. Dan tak perlu di ikat juga dong bu." Ujar Adelia dengan sedikit terkekeh.
"Ah i-iya juga Mbak Adel. Kalau gitu saya do'akan semoga kalian cepat menikah ya." Pembeli itu mendo'akan Adelia dan Martin.
"Aamiin...." Martin mengaminkan pembeli tersebut sebelum Adelia mengucapkan Aamin.
"Aamiin..." Ucap Adelia, yang tersenyum ke Martin.
"Ah, kalian serasi banget. Saya jadi iri lihat nya. Yang Satu cantik, yang satu nya ganteng. Duuh benar-benar Perfect couple deh." Ucap Pembeli itu memuji Adelia dan Martin.
Martin dan Adelia pun tersenyum mendengar Ucapan pembeli tersebut.
"Terima kasih ya bu. Oh ya ini semua nya jadi empat ratus lima puluh ribu semua nya bu." Adelia dengan menyerah kan struk yang harus di bayar ibu pembeli tersebut.
"Oh iya ini mbak uang nya." Ibu pembeli itu dengan menyerahkan uang tunai.
"Saya hitung dulu ya." Adelia dengan menghitung uang yang si serahkan pembeli tersebut.
"Ada pas semua nya bu. Terima kasih ya sudah berbelanja kue di Toko Adel, semoga Ibu puas berbelanja di sini. Dan kembali lagi berbelanja." Adelia dengan tersenyum.
"Iya Mbak Adel, sama-sama. Ya sudah saya pamit ya, dah Mas ganteng." Pembeli itu pamit, dan melambaikan tangan kepada Martin.
Adelia pun tertawa akan perlakuan pembeli tersebut. Dan bergegas ingin duduk di dekat Rara. Martin yang masih berdiri, ia pun menyusul Adelia yang tengah duduk. Tiba-tiba Martin menyerahkan ponselnya kepada Adelia.
Adelia pun dengan bingung mengambil ponsel yang Martin serahkan.
"Lihat photo itu!." Perintah Martin dengan di kuasai rasa cemburu.
Adelia pun menurut, dengan mulai melihat photo yang berada di pesan ponsel milik Martin. Adelia pun mengernyitkan dahinya. Dan mulai mengingat-ingat.
Rara pun menoleh ke arah ponsel yang masih menyala yang di pegang Adelia, karena ia penasaran. Rara pun mengernyitkan dahinya juga karena bingung.
__ADS_1
"Ini Aku, Martin." Ucap Adelia.
"Dengan siapa?. Dan kenapa sampai berpegangan tangan seperti itu?." Martin bertanya tentang orang yang di pegang tangan nya oleh Adelia.
"Oh Astaga. Aku sampai lupa belum menceritakan nya sama kamu. Waktu itu aku habis mengunjungi Anak-anak jalanan yang di kawasan jalan xy, ketika itu aku hendak menyebrang, namun ada sebuah mobil yang melaju cepat. Untung orang itu dengan cepat menolongku, sampai aku dan dia terguling ke pinggir trotoar. Dan anehnya orang itu begitu melindungi ku sampai ia yang terluka." Adelia menceritakan tentang Dimas yang waktu itu menolongnya. Karena Adelia yang tengah melamun tentang Rasya. Namun Adelia tak mungkin mengatakan ia tengah melamun tentang Rasya kepada Martin.
"Apa kamu tidak apa-apa?. Lalu kamu koq bisa berpegangan begitu?." Martin masih penasaran.
"Aku gak apa-apa. Ah itu ketika aku membantu dia bangun, masa iya aku diam saja. Dia yang sudah rela menolongku dengan sikut nya yang berdarah, aku obati luka nya. Dan dia sempat berkenalan dengan ku." Ucap Adelia.
Martin terdiam seperti sedang berpikir. Kini muncul pertanyaan Siapa yang sudah berani kirim photo tersebut kepada nya. Seperti ingin memprovokasi hubungan Martin dan Adelia renggang.
"Lalu, kamu berkenalan?." Tanya Martin dengan masih pikiran nya bertanya-tanya tentang yang mengirim photo tersebut.
"Iya. Kalau gak salah waktu itu nama Dia, ehmmm.... Dimas. Iya Dimas nama nya." Adelia dengan yakin mengatakan nama Dimas yang sempat menolong nya itu.
Martin kaget atas nama yang di sebut Adelia.
Dimas?. Apakah Dimas teman nya yang lama belum bertemu.
"Apa kamu masih mengingat orang itu?." Martin bertanya kembali tentang orang tersebut.
Adelia pun menggeleng, karena ia memang lupa. Karena waktu itu ia memang tidak fokus, karena merasa syok.
Martin pun menghela nafas.
"Maaf, aku sempat cemburu. Bahkan aku berpikiran yang lebih jauh, setelah melihat photo itu." Martin meminta maaf dengan menggenggam tangan Adelia.
"Jadi kamu cemburu karena photo itu?. Astaga.... dan kamu tahu siapa yang mengirim photo itu?." Tanya Adelia.
"Iya tentulah aku cemburu. Milik ku berpegangan tangan dengan orang lain, dan sempat aku berpikir kalau orang itu Dia. Tentang yang mengirim photo, aku pun tak tahu." Jawab Martin.
"Dia? maksud kamu siapa?."Adelia penasaran akan seseorang yang di sebut kata Dia oleh Martin.
Martin memegang pelipis matanya dengan menunduk.
"Rasya." Ucap Martin.
Adelia pun tersenyum dan merangkul bahu Martin dari samping.
"Sudah jangan cemburuan. Aku sudah melupakan nya, dan lihat cincin ini. Kita sebentar lagi akan menikah." Adelia dengan merentangkan jari tangan nya di depan Martin.
Martin yang sedang menunduk pun, langsung menoleh dan tersenyum ke arah Adelia.
Seketika Rara bersuara, karena Martin hampir saja akan mencium Adelia di depan nya.
"Woy.... Gue di sini dari tadi. Gue bukan patung yaaa....." Teriak Rara.
Sontak membuat Martin kaget, sampai beradu pandang dengan Adelia dan akhirnya mereka tertawa.
__ADS_1
...Bersambung....