You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 254.


__ADS_3

"Rumah mu dimana?" tanya Dido. Keduanya kini sedang berada di dalam mobil dengan Dido yang menyetir kembali.


"Dari sini. Belok kiri. Dan nanti ketika ada pagar tinggi berwarna gold, itulah rumahku" Serly memberitahukan alamat rumahnya yang kebetulan saat ini jaraknya semakin dekat.


Dido manggut-manggut. Kemudian tak lama mobil yang di setirinya belok kiri sesuai arahan Serly tadi. Hingga setelah puluhan meter, barulah Dido melihat pagar tinggi yang sesuai di katakan Serly tadi.


"Ini," kata Dido dengan menghentikan laju mobilnya.


"Iya," sahut Serly.


Dido melajukan kembali mobilnya, dan belok kiri masuk ke arah halaman rumah Serly yang luas.


"Mobilnya aku bawa ya?" celetuk Dido setelah menghentikan mobilnya. Mobil itu tepat di samping tiga mobil yang terparkir.


"Hah?" Serly yang akan melepas seatbelt terperangah.


"Nanti aku kembalikan setelah motorku sudah selesai di bengkel," ucapnya dengan tersenyum. Dengan membawa mobil milik Serly ada alasan bagi Dido untuk besok bisa menjemputnya saat berangkat Kuliah. Dan di balik itu beralasan karena motornya yang masih di bengkel.


"Ya sudah. Gak apa-apa" Serly tidak keberatan. Kemudian ia keluar dari mobil.


"Kamu, gak ngajak masuk dulu?" Dido sebenarnya menyindir.


Serly terdiam, kemudian ia terkejut saat melihat di teras ada Rasya dan juga Aldi yang sedang fokus pada laptopnya.


"Lain kali saja, Kak. Aku soalnya sudah ngantuk, dan--"


"Gak usah banyak alasan. Kalau gak mau ngajak bilang saja!" cetus Dido memotong ucapan Serly dengan cepat. Dido tahu, Serly pasti mengeluarkan alasannya agar Dido tidak bisa berkunjung ke dalam rumahnya.


Serly terdiam dan dengan cepat Dido berpamitan tanpa menunggu Serly berucap lagi.


"Aku pulang, selamat malam" ucapnya dengan langsung menarik pedal gas dan meninggalkan halaman rumah Serly.


Serly menghirup nafas dalam-dalam kemudian membalikkan badan dan melangkah menuju teras.


"Mobilmu di bawa siapa?" tanya Rasya yang fokus pada layar laptopnya tanpa menatap sang adik yang kini mematung.


Sementara Aldi menatap Serly dengan tajam. Dan Serly tidak tahu arti dari tatapan Aldi tersebut.


"Di bawa teman, Kak" sahut Serly.


"Tadi pagi, kata Kikan adik Pak Rasya telah menyerempet pengendara motor" celetuk Aldi membuat Rasya mendongak menatap adiknya.


"Benar itu?" tanya Rasya memastikan dan dapat anggukan kepala dari Serly.


"Kok kamu ceroboh? lalu bagaimana dengan pengendara itu, apa dia luka-luka?" kekhawatiran sang Kakak yang tidak mau sampai adiknya melukai orang lain.


"Tidak. Hanya motornya ringsek," jawab Serly dengan menunduk.


Ada helaan nafas lega dari sang kakak, saat mendengar tidak ada luka pada korbannya.


"Syukurlah. Dan kamu sudah tanggung jawab?"


"Belum, karena waktunya keburu sore," sahut Serly.

__ADS_1


"Kan, bisa kamu kasih uangnya saja pada korban itu?"


Serly mulai pusing mendengar pertanyaan sang kakak yang beruntun. Di tambah Serly merasa tidak nyaman karena mendapatkan tatapan tajam dari Aldi.


"Iya aku lupa," ucap Serly dan langsung melenggang masuk ke dalam rumah.


Rasya berdecak. Menatap adiknya yang pergi begitu saja.


"Al, sepertinya pekerjaan ini di sambung besok saja."


"Baik, Pak" sahut Aldi dengan membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


Rasya menghirup nafas dengan dalam. "Al ...," panggil Rasya. Dan menghentikan gerakan tangan Aldi yang sedang memasukkan berkas-berkas tersebut pada tas kerjanya.


"Ada apa, Pak?" sahut Aldi dengan bertanya.


"Mulai besok. Saya minta kamu antar jemput Serly. Saya jadi khawatir dengan keselamatannya," pinta Rasya dengan memelas.


Aldi tidak bisa menolak. Ia menjawab dengan anggukan kepala.


"Bisa?" Rasya memastikan kembali.


"Iya bisa Pak." Aldi dengan tersenyum tipis. "Kalau, begitu saya pulang sekarang ya, Pak?" lanjut Aldi berpamitan. Setelah berkas-berkas itu masuk ke dalam tas kerjanya.


"Kenapa buru-buru? makan malam dulu di sini, Al!" pinta Rasya.


"Terima kasih, Pak. Lain kali saja" sahut Aldi menolak.


"Ya sudah. Hati-hati Al!" Rasya menepuk bahu Aldi setelah Aldi berdiri.


Setelah Aldi di pastikan pergi. Rasya masuk ke dalam rumah. Dan langsung menuju kamarnya dimana tiga orang kesayangannya berada.


"Mas, sudah selesai?" tanya Adelia yang melihat Rasya masuk ke dalam kamar.


"Sudah," sahut Rasya lalu beralih menatap dua bayi kembarnya yang sedang berceloteh tidak jelas.


Rasya memangku baby Saffa, kemudian ia menciumnya dengan gemas. "Sayang ... kamu mirip sekali dengan bunda," celetuknya. "Sangat cantik," lanjut Rasya. Baby Saffa tersenyum dan memainkan pipi Rasya yang berada di dekat wajahnya.


Adelia hanya menanggapi dengan tersenyum.


"Mas, aku mau siapin dulu buat makan malam ya!" Adelia dengan menggendong baby Daffa kedalam kain gendongan.


"Ayo, baby Saffa juga mau ikut sama Ayah juga," sahut Rasya dengan berdiri menggendong baby Saffa.


"Ya sudah, ayo!" ajak Adelia mengiyakan Rasya.


Pasangan suami istri itu keluar dari kamar dengan memangku bayi kembarnya. Dan langsung menuju ruang makan berada.


"Ya ampun Cucu Oma, mau ikut makan juga?" pekik Lia senang saat melihat dua cucunya masuk ke area dapur.


"Ah, Adel telat ya, Ma? tadinya, Adel mau nyiapin buat makan," Adelia menatap makanan di atas meja yang sudah tertata.


"Gak apa-apa, Del. Jangan merasa gak nyaman gitu. Mama ingin kamu fokus saja sama si kembar," Lia dengan terakhir menata piring di meja.

__ADS_1


Datanglah Hadi, Serly, dan Rara.


Hadi langsung menghampiri baby Saffa yang Rasya gendong. "Sini, sama Opa!" Hadi dengan mengambil alih Baby Saffa dari Rasya.


"Padahal, Papa makan dulu. Baby Saffa biar Mas Rasya yang jagain!" kata Adelia yang tidak enak.


"Gak apa-apa. Kalian saja makan duluan!" Hadi dengan tersenyum menatap cucu wanitanya.


"Iya, Del. Baby Daffa juga sini, sama Oma" Lia dengan tersenyum ingin menggendong Baby Daffa. Namun, baby Daffa menggeleng dengan mengeratkan tangannya memegang kain gendongan isyarat bahwa dirinya tidak mau di gendong Lia.


"Loh, Cucu Oma yang tampan kok, gak mau sama Oma?" Lia dengan memelas menatap bayi itu merasa kecewa karena tidak mau ia gendong.


Rasya terkekeh, "Lihat saja wajahnya, Ma. Mirip sekali dengan aku. Maka tidak heran kalau Baby Daffa tidak mau jauh dari Bundanya. Seperti aku yang tidak mau jauh darinya," seloroh Rasya membuat Lia menggeleng.


"Tapi, baby Daffa lebih tampan dari kamu, Syaa ...," sahut Lia.


"Wah, masa iya, Ma?" Rasya dengan menatap baby Daffa yang memegang kain gendongan.


"Ah ... kamu jadi saingan Ayah." Rasya dengan mulai mengisi piring Adelia dengan makanan.


"Makasih, Mas" ucap Adelia.


"Iya sama-sama." sahut Rasya. "Sayang, tampannya Ayah. Ayah gendong ya?" ajak Rasya kepada Baby Daffa. Ia sengaja ingin mendahulukan Adelia makan. Takut, dari salah satu bayi tersebut ingin meminta Asi. Jika Adelia sudah makan terlebih dahulu, akan lebih tenang pikir Rasya.


Baby Daffa tersenyum lebar, dengan mulai berceloteh.


"Yayah ...," ucapnya. Membuat semua yang ada di sana tergelak.


"Ah, Ayah jadi gemas" ucap Rasya yang kini sudah menggendong Baby Daffa.


"Papa sudah menemukan Baby Sister dan Art buat bantu-bantu Rara," kata Hadi. Membuat Rasya menoleh kepadanya dengan tersenyum.


"Kapan Pa?" tanya Lia yang kini sedang melahap makanannya.


"Besok. Papa sengaja sediain baby Sister dua orang buat si kembar. Dan Art juga dua. Papa sebenarnya, mau Rara bekerja saja di kantor," ujar Hadi.


Lia tersenyum senang, "Iya, benar Pa. Mama senang dengarnya, jadi buat Adel tidak perlu kerepotan lagi. Dan begitu juga dengan Rara. Bekerjalah di kantor Om!" sahut Lia dengan menatap Adelia dan Rara.


"Terima kasih sebelumnya Om, dan Tante. Dengan senang hati Rara akan menerimanya," kata Rara dengan tersenyum senang.


Hadi dan Lia merespon dengan mengangguk.


Sementara Adelia merasa keberatan kalau bayi kembarnya itu di asuh orang lain. Harap maklumlah, Adelia baru menjadi seorang ibu. Dan ia tidak percaya jika dua bayi kembarnya itu ada yang mengasuh selain dirinya dan keluarganya.


Rasya sang suami sangat peka terhadap perubahan roman wajah sang istri. Rasya mengelus punggung Adelia dengan lembut sebagai menunjukkan kalau tidak akan terjadi apa-apa.


"Boleh dong, kalau sudah ada Baby Sister aku berbulan madu?" celetuk Rasya.


Membuat Hadi menggeleng, begitupun dengan Lia.


Sementara Adelia tiba-tiba tersedak.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2