
Sejak tiga hari Pertemuan dadakan malam di rumah keluarga Hadi. Dido dan Serly tidak bertemu kembali. Sehingga Serly merasa tidak ada jalan lagi untuk menolak bertunangan bersama Dido. Serly seakan tahu bahwa Dido sengaja menghindar dari dirinya. Dan membuat Serly ingin sekali menemui Dido secara langsung serta menanyakan alasan yang Dido tentukan.
Dan kini sekarang Serly sedang berjalan menyusuri koridor kampus dimana ruang kelas Dido berada. Tidak susah untuk mencari kelas Dido, di karenakan jurusan fakultas Dido sama dengan jurusan fakultas Serly, hanya Dido beda dua tingkat dengan Serly.
Serly sudah melihat Dido bersama teman kelasnya dari kejauhan. Membuat Serly merasa gugup beserta malu. Baru pertama kali inilah Serly akan menemui seorang pria secara langsung di area kampus dengan dirinya sendiri tanpa di dampingi Kikan teman dekatnya.
'Tenang Ser ... kedatangan mu menemui kak Dido untuk menanyakan keputusannya?' batin Serly menenangkan ketegangan dan kegugupannya.
Langkah kaki Serly terus membawa dirinya untuk mendekat ke arah dimana Dido dan dua temannya yang sedang duduk di bangku depan kelas. Dan terlihat banyak para teman kelas wanita Dido duduk tidak jauh darinya. Bahkan sudah memandang aneh serta sinis saat melihat keberadaan Serly.
Tanpa di sangka salah satu dari dua teman Dido melihat kedatangan Serly yang berdiri tidak jauh darinya.
"Do, Van ... ada junior cantik tuh?!" celetuk teman Dido yang bernama Oky sambil menatap ke arah Serly berada.
Vandu langsung melihat ke arah tatapan Oky tertuju. Dan Vandu langsung tersenyum senang melihat ada adik kelasnya yang memang begitu cantik, di tambah gadis tersebut memakai dress merah selutut, dan di balut dengan blazer denim hitam. Semakin menambah kesan keanggunan penampilan gadis adik kelasnya itu.
"Gue mau deketin dia," ujar Vandu bersemangat lalu bangkit dari duduknya.
"Do, lu anteng aja baca buku. Lihat si Vandu mau deketin junior yang berdiri di sana?!" Oky menepuk bahu Dido secara keras. Sehingga Dido langsung merespon dan mengomel kepada Oky.
"Apaan sih lu? ganggu gue aja!" omel Dido tanpa melihat yang di tunjuk Oky.
"Itu. Lihat si Vandu gak bisa diam kalau lihat cewek bening!" ucapan Oky kali ini membuat Dido langsung menatap ke arah Vandu yang sudah berdiri berhadapan dengan adik kelasnya. Hanya Dido tidak bisa melihat jelas siapa gadis yang di hadapan Vandu tersebut.
"Ya biarin lah. Bukan urusan gue. Lagian, si Vandu memang gitu! udah tahu dia emang playboy," sahut Dido cuek. Lalu membaca buku yang di pegangnya.
Oky menggeleng heran terhadap Dido yang terlihat cuek tidak seantusias dirinya jika membicarakan gadis yang cantik.
"Terserah lu deh. Gue mau samperin si Vandu bareng tuh cewek! siapa tahu, dia kepincut kegantengan gue!" Oky langsung berdiri dan meninggalkan Dido.
Dido hanya menggeleng dengan bibir tersenyum atas kenarsisan Oky, dengan masih menatap buku yang di pegangnya.
Sementara itu Vandu yang berdiri berhadapan dengan Serly tersenyum ramah dan menanyakan perihal kedatangan Serly.
"Hai, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Vandu basa-basi seraya memperhatikan wajah Serly yang cantik.
Serly terdiam. Masih menatap ke arah dimana Dido berada. Namun, kini terhalang oleh badan Vandu yang tegap. Sehingga dada Vandu yang kini Serly tatap.
"Saya sedang ada keperluan dengan kakak kelas di sini," jawab Serly setelah beberapa detik terdiam tanpa menatap ke arah Vandu.
Vandu tersenyum lebih lebar. Mendengar suara Serly yang halus dan merdu. Semakin Vandu ingin mendekatinya.
"Oh ya? siapa? saudara, atau kakak kandung?" tanya Vandu yang ingin lebih tahu.
Serly terdiam lagi. Kini ia menatap Oky yang mendekati ke arah dirinya.
"Van, siapa?" Oky seraya tangannya ngerangkul bahu Vandu. Sehingga Vandu menjadi risih dengan kehadiran Oky antara dirinya dengan gadis yang ada di hadapannya. Mau basa-basi untuk lebih jauh, otomatis bakal gagal. Di karenakan mulut Oky yang suka ceplas-ceplos.
"Apaan sih?!" sungut Vandu yang kesal.
__ADS_1
"Maaf. Kak, saya permisi!" Serly memilih untuk langsung menemui Dido yang masih terduduk fokus pada bukunya.
Vandu dan Oky langsung menatap kemana arah tujuan gadis cantik itu.
Lalu keduanya seketika melebarkan penglihatannya saat Serly berdiri menatap Dido yang duduk sendiri.
"Kak," panggil Serly lirih. Dengan menahan kegugupan dan dadanya yang beredebar secara tidak wajar.
Entah, suara lirih Serly begitu terdengar jelas di pendengaran Dido. Sehingga Dido menutup bukunya. Dan clingak-clinguk ke arah kiri-kanan memastikan suara yang tidak asing bagi pendengarannya.
"Aku rasa ada suara Serly memanggil?" gumam Dido tanpa melihat ke arah depan.
Serly mengernyit heran. Apa benar Dido tidak melihat keberadaannya?
sehingga Serly kembali memanggil, namun kini dengan suara agak keras.
"Kak Dido!"
"Ya?" kini Dido menjawab seraya menatap ke arah depan. Dido terpaku. Dido terdiam. Terlalu terkejut dengan keberadaan Serly di depannya. Sehingga kedua temannya kembali, lalu mengagetkan Dido.
"Woi, kesambet lu?!" pekik Vandu.
"Tadi cuek. Sekarang terkesima lihat tuh cewek!" celetuk Oky.
Dido langsung berdiri. Dan mendekat ke arah Serly. Membuat teman-teman Dido yang berada di sana memperhatikan. Bahkan menjadi pusat perhatian.
"Serly, ada apa?" tanya Dido setelah berhadapan.
"Em, a-aku ... ah iya, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak," Serly gugup berbicara di awal.
Dido paham. Kemudian menatap ke arah dua temannya.
"Van, Oky. Gue ada urusan sebentar ya!" Dido dengan tangannya langsung meraih tangan Serly, dan menarik Serly lembut ke arah parkiran.
Sehingga semua teman Dido yang sejak tadi memperhatikan menjadi tanda tanya besar. Bahkan ada yang sengaja mengintrogasi Vandu dan Oky. Yaitu seorang gadis yang sudah lama suka dan jatuh cinta sama Dido bahkan secara terang-terangan, namun Dido selalu menolak dan tidak menanggapi.
"Van, Oky. Kalian pasti tahu siapa cewek yang baru saja datang menemui Dido?" tanya gadis yang bernama Rosa.
Vandu dan Oky saling pandang untuk memberikan jawaban kepada Rosa.
"Sepupunya. Ya kalau gak salah." Oky yang menjawab.
"Beneran sepupunya?" Rosa seakan meyakinkan.
"Iya sepupunya. Lagian kalau adik, mana mungkin. Si Dido itu anak tunggal!" Vandu kini menimpali.
Bukan tidak ada alasan untuk Vandu dan Oky berbohong kepada Rosa. Melainkan untuk menjaga keselamatan Serly, agar Rosa tidak datang melabraknya di kemudian hari. Karena, sudah banyak gadis yang suka terhadap Dido selalu dapat perundungan dari Rosa beserta teman ganknya. Siapa tahu dengan di akui sebagai sepupu Dido, Rosa tidak akan menjahati Serly.
Rosa mengembangkan senyumnya, "Ok. Thanks informasinya. Gue akan dekati sepupu Dido itu. Supaya, bisa merestui gue atau menyatukan gue dengan Dido," kata Rosa lalu berlalu dari hadapan Vandu dan Oky.
__ADS_1
Vandu dan Oky kembali berpandangan.
"Wah, kita harus kabari si Dido. Kalau kita udah mengaku cewek tadi sebagai sepupunya. Sebelum si Rosa ketemu cewek itu," desis Oky berbisik kepada Vandu.
"Iya benar. Terus kita tanya hubungan yang sebenarnya antara mereka berdua. Ini langka men, seorang Dido menggenggam tangan seorang cewek," tambah Vandu.
"Benar juga kata lu! atau ... jangan-jangan tentang gosip waktu itu benar, Van. Yang banyak mengatakan kalau Dido sekarang suka membonceng cewek atau jalan sama cewek,"
"Bisa juga!" sahut Vandu.
Di Parkiran Kampus...
Dido membuka pintu mobil miliknya, kemudian menyuruh agar Serly masuk. Serly menurut masuk, dengan dahi mengkerut heran. Karena Dido membuka pintu belakang bukan pintu depan samping kemudi seperti biasanya.
Setelah Serly masuk, Dido pun masuk dan duduk di sebelah Serly. Lalu menutup pintu mobilnya.
Keadaan seketika hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Setelah lima menit lamanya. Barulah Dido yang membuka suara.
"Bagaimana kabarnya?"
Serly menoleh dengan mengangguk, "Kabar aku baik. Kakak sendiri gimana?,"
"Baik," jawab Dido singkat seraya matanya menatap Serly dengan dalam.
Serly menjadi gugup kembali. Bahkan sampai lupa dengan tujuan awalnya yang akan bertanya kepada Dido. Setelah Dido menanyakan barulah Serly ingat dengan tujuan dirinya.
"Jadi. Apa yang akan kamu bicarakan?"
"Oh iya. Maaf aku sampai lupa," Serly menyengir. "Em, aku hanya ingin tahu apa alasan kakak meminta bertunangan dan melamar aku dalam waktu dekat? sungguh, aku gak pernah berpikir kalau kakak akan senekat ini," Serly dengan meremas tangannya sendiri setelah mengeluarkan kata-kata yang sedari kemarin mengganjal hati dan pikirannya.
Dido menghela nafas sebelum menjawab apa yang di tanyakan Serly, "Karena. Kakak, tidak mau sampai ada yang tumbuh di dalam rahim mu sebelum kita menikah."
Serly terdiam mencerna ucapan Dido. Setelah itu Serly paham. Bahwa yang Dido takutkan dirinya hamil sebelum menikah dengan Dido.
"Apa hanya karena itu saja?" Serly merutuki dirinya setelah bertanya. Karena mulutnya yang tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan aneh, sudah jelas bahwa Dido ingin segera menikah dengan dirinya di karenakan takut dirinya hamil. Tidak ada hal lain.
"Ada," balas Dido setelah lama terdiam menjawab pertanyaan Serly.
"A-apa?" Serly gugup.
"Cinta," Dido menjeda ucapannya. Kini tangan Dido meraih jemari Serly dan menggenggamnya dengan erat. "Karena aku mencintai kamu. Karena aku ingin memperjuangkan cintaku. Ya walaupun aku tahu, kamu tidak mencintai aku. Tapi, aku harap dengan kita menikah. Kamu perlahan mencintaiku. Di tambah Aku tidak akan lepas dari tanggung jawabku," jelas Dido mengungkapkan perasaannya yang sudah tahu pasti Serly tahu.
Serly bungkam. Tidak bisa membalas ucapan Dido. Serly akui. Bahwa rasa cinta yang ia miliki masih milik Aldi. Namun setelah peristiwa itu. Dido perlahan mengusik hatinya. Menelusup masuk diantara nama Aldi. Bahkan bersentuhan dengan Dido. Membuat tubuh Serly berdesir. Entah, karena dirinya yang pernah bersentuhan lebih. Walau dalam keadaan tidak sadar, tapi Serly seperti pernah merasakan setiap sentuhan tangan dan tubuh lainnya yang Dido berikan. Di tambah setelah melihat adegan dirinya di rekaman cctv milik Dido saat itu.
"Bentar, kenapa Wajahmu memerah? apa kamu demam?" tiba-tiba Dido yang memperhatikan Serly merasa heran dengan berubahnya wajah Serly merah seperti tomat.
Serly gelagapan. Karena pikirannya barusan sudah berisi dengan hal kotor. Serly memilih tidak untuk menyahuti Dido. Sehingga Serly memilih menunduk, dengan tangannya yang masih Dido genggam.
...***...
__ADS_1