You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 55.


__ADS_3

Weekend telah tiba. Serly merasa deg-degan menanti acara nanti sore. Serly kini tengah di dalam kamar, dengan memandangi setelan kebaya modern yang warnanya merupakan warna paforitnya, yaitu biru langit. Kebaya tersebut masih terpampang pada manekin.


Acara pertunangannya nanti akan di adakan di sebuah hotel masih miliknya Tuan Malik. Keluarga Serly hanya akan bersiap saat nanti waktunya tiba. Karena semua sudah di persiapkan oleh pihak Tuan Malik.


Tok tok tok!


Pintu kamar Serly ada yang mengetuk. Membuat Serly bergegas bangun dari duduknya, dan melangkah menuju pintu.


Ceklek!


"Kak Rasya?" Serly menatap Rasya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan menggendong baby Daffa.


"Boleh kakak masuk?" Rasya bertanya lebih dahulu. Takut adiknya tidak mengijinkan dirinya masuk.


Serly menjawab dengan anggukan kepala.


Lalu Rasya pun masuk dan langsung duduk di sofa kamar Serly.


"Hai Daffa sayang," Serly dengan menjawil pipi gembul Daffa.


Daffa hanya tersenyum dengan berceloteh tak jelas.


"Ada apa kak? tumben kakak, masuk ke kamar aku?" Serly bertanya langsung. Ingin tahu apa tujuan kakaknya itu datang ke kamarnya.


Rasya menatap adiknya, "Kamu sudah yakin untuk bertunangan dengan Dido?" Rasya langsung menanyakan niatnya datang ke kamar adiknya.


Serly mengerutkan dahinya, "Kenapa kakak bertanya begitu?"


"Jawab dulu!" Rasya tidak suka jika pertanyaannya di abaikan. Apalagi di tambah pertanyaan nya di jawab dengan pertanyaan.


"Aku yakin kak," jawab Serly dengan tenang.


"Apa kamu merasa terpaksa, atau memang keinginan mu?" Rasya yang tahu Papanya Hadi begitu antusias menerima perjodohan tersebut. Sehingga Rasya ingin memastikan lebih dulu sebelum acara pertunangannya terjadi.


Serly terdiam sejenak. Berpikir. Memang awalnya ia merasa terpaksa, di karenakan keadaan dirinya yang sudah melakukan hubungan terlarang bersama Dido. Namun, pada akhirnya Serly menerima dengan sepenuh jiwa. Apalagi mengingat perlakuan manis Dido pada dirinya. Sehingga Serly merasa benar-benar di cintai.


"Aku gak merasa terpaksa kok, kak. Aku sama kak Dido berpacaran. Jadi kita sama-sama menginginkan hal itu," balas Serly dengan tersenyum.


Rasya manggut-manggut, "Apa kamu mencintainya?"


"Pertanyaan macam apa itu? ya ... ya tentu aku cinta," sahut Serly seraya terkekeh, dengan rona merah pada kedua pipinya. Merasa malu mengatakan cinta di hadapan Rasya.


Cinta? benarkah dirinya sudah mencintai Dido. Serly masih ragu dengan perasaannya. Walau sering bersama Dido, Serly begitu nyaman. Namun, Serly tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Rasya.


Rasya menghembuskan nafas lega, "Ya sudah. Kakak hanya nanyain hal itu saja. Semoga kamu dan Dido rukun ya!" dengan tangan sebelahnya mengusap kepala Serly dengan rasa sayang.


Serly tersenyum senang dengan perhatian sang kakak yang tidak ingin dirinya terpaksa menjalani pertunangan nanti.


"Kamu gak kerasa sudah mulai dewasa," Rasya tersenyum menatap Serly. Mengingat saat dulu sering bermain bersama, karena umur Rasya dan Serly hanya terpaut lima tahun.

__ADS_1


"Ya aku 'kan tumbuh, kak" balas Serly dengan tersenyum.


Rasya mengangguk, "Dan kamu tumbuh dengan wajah yang sangat cantik. Sehingga, kakak sangat khawatir dengan pergaulan mu. Takut ada yang mencoba merusakmu,"


Serly hanya tersenyum menanggapi ucapan Rasya.


"Ya sudah. Sekarang kakak mau ke bawah. Nanti akan datang tim Make up yang akan merias kamu," Rasya dengan berdiri membuka pintu kamar Serly dan keluar.


Serly terdiam. Merenungi semua ucapan kakaknya tadi.


Drttt Drttt Drttt


Ponsel Serly bergetar. Menandakan ada yang memanggilnya.


"Kak Dido nelpon? ada apa ya?" gumam Serly saat melihat nomor yang meneleponnya.


Serly menyentuh tanda panggilan berwarna hijau, mengangkat telepon Dido.


"Halo, kak ada apa?" Serly menyapa Dido serta bertanya.


Di sebrang sana Dido tersenyum senang saat mendengar suara Serly yang halus dan lembut.


"Kakak kangen," jawab Dido mengatakan yang sebenarnya.


Serly tersenyum, "Apa sih kakak, nanti juga ketemu!" sahut Serly dengan hati berbunga-bunga.


Serly terkekeh, "Aneh kak Dido itu!"


"Serius sayang ... belum ketemu sama kamu itu rasanya hampa," Dido dengan menatap langit-langit kamar, posisinya tengah berbaring di atas ranjang yang pernah menjadi saksi kekhilafannya bersama Serly.


Serly terdiam dengan bibir yang terus melengkung, "Kakak lagi apa?" Serly sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Lagi kangen," jawab Dido dengan suara sensual. Membuat bulu kuduk Serly seketika meremang.


"Ih bukan itu," Serly berdesis.


"Kakak lagi tiduran di ranjang kita," ucap Dido.


Serly mengernyitkan dahi merasa tidak mengerti, "Ranjang kita?" ulangnya.


"Iya Ranjang yang pernah menjadi saksi kita,"


Serly menggigit bibir bawahnya, merasa aneh jika mengingat hal yang menyangkut tentang kekhilafannya tersebut.


"Sayang kok diem?" tanya Dido di balik telepon.


"Eng-enggak kok, kak" jawab Serly terbata.


"Udah sarapan belum?" Dido bertanya mengenai sarapan Serly.

__ADS_1


Serly kini membaringkan tubuhnya di atas kasur, "Sudah kak. Kakak sendiri sudah sarapan?" tanya Serly balik.


"Belum," jawab Dido singkat.


"Loh, kenapa belum? padahal sekarang udah mau jam sepuluh kak," Serly dengan menatap jam dinding di dalam kamarnya.


"Belum sarapan kamu," balas Dido santai.


Serly mengernyit heran, "Sarapan aku?"


"Iya sarapan kamu," Dido dengan menahan tawa membayangkan wajah Serly yang tidak mengerti saat ini.


"Apaan sih kak? kok ngaco," sahut Serly yang tidak mengerti.


"Pokonya kakak inginnya sarapan kamu," kata Dido sedikit berbisik.


"Iya iya nanti aku temani," balas Serly asal.


Dido terkekeh mengetahui Serly menjawab dengan asal.


"Sekalian kakak ingin menagih imbalan," kata Dido mengingatkan tentang imbalan, jika Dido berhasil nyanyi waktu malam itu.


"Iya kakak. Nanti katakan saja kakak mau apa!" Serly sedikit menguap merasa agak kantuk.


"Serius beneran?" tanya Dido memastikan.


"Iya kakak. Nanti kakak katakan saja. Oh iya, sudah dulu ya, aku ingin tidur dulu," pamit Serly yang ingin menyudahi obrolan.


"Baiklah. Siap-siap saja nanti. Bye sayang, I love you," pamit Dido dan langsung mematikan sambungan telepon.


Serly tersenyum merekah. Ucapan kata cinta yang baru saja Dido katakan, membuat debaran jantung Serly terasa kencang.


"Apa aku benar-benar sudah mencintai kamu, kak Dido?" tanya Serly pada dirinya sendiri.


Hatinya merasa tenang dan nyaman jika sudah berbicara dengan Dido.


"Aku lebih baik tidur siang dulu. Sebelum ada tim make up datang," ujarnya.


Serly memeluk guling dengan erat, berharap di dalam hatinya. Semua rencana berjalan dengan lancar.


Hingga tidak terasa, Serly tertidur dengan lelap.


Di Tempat lain...


Aldi tengah melamun di dalam kamar apartemennya. Menatap kartu undangan yang nanti ia akan bawa saat di acara Serly dan Dido.


"Semoga kamu bahagia, Nona," ucap Aldi dengan beralih menatap photo-photo Serly yang ia pajang di dalam kamarnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2