
Kini Rasya meraih dagu istrinya yang ia dekap, hingga Adelia mendongak menatapnya "Sayang, katakanlah! apa yang membuat mu menangis!"
Adelia dengan terisak menjawab pertanyaan suaminya itu, "Rara ... ingin hidup mandiri, Mas. Aku ... aku gak mau berpisah dengan dirinya,"
Rasya yang baru saja sudah mendengar penjelasan sang istri, ia langsung menoleh ke arah Rara yang menunduk.
"Ra, kenapa kamu tiba-tiba ingin hidup terpisah?" suara Rasya yang tegas membuat Rara seakan tertekan.
Rara mencoba menatap ke arah Adelia dan Rasya. Sama dengan penjelasannya saat tadi kepada Adelia dan Rara, ia menjawab pertanyaan Rasya.
"Aku tidak mau merepotkan kalian lagi, kalian sudah terlalu baik, dan terlalu banyak menolongku. Sekarang, mumpung aku sudah kerja, dan mempunyai penghasilan. Maka, aku putuskan untuk memiliki rumah sendiri. Suatu saat juga, aku mungkin akan berpisah dengan kalian, bila suatu saat ada yang mempersuntingku. Jadi, aku rasa mencoba dari sekarang agar aku tidak terlalu sedih jika berpisah dengan kalian," Rara akhirnya mengeluarkan alasan dirinya untuk hidup terpisah dengan keluarga Rasya, dan juga Adelia.
Rasya setelah mendengarkan langsung dari Rara. Ia begitu paham. Dan ia tidak bisa untuk menahan Rara agar terus tetap tinggal.
"Sayang, dengar barusan alasan Rara bagi Mas sangat jelas. Mas bahkan paham. Mungkin, Rara sudah ingin hidup mandiri, memiliki rumah sendiri. Jika itu terjadi. Kita akan terus bisa bertemu dengannya, membawa Daffa dan Saffa main ke rumah Rara," Rasya memberikan penjelasan lagi kepada sang Istri yang terus terisak.
Adelia menatap sang suami dengan sendu, "Tapi, Mas. Bagi aku Rara adalah adikku. Aku khawatir jika hidup sendirian."
Rara tersenyum atas kekhawatiran Adelia terhadapnya.
"Sayang. Tenang ya, Rara cewek tomboy, dia bisa bela diri. Bahkan para preman juga pernah kalah 'kan sama dia. Jadi, kamu gak usah khawatir. Lagian, Rara tiap harinya akan pergi bekerja di kantor kamu," Rasya sengaja menyebutkan apa yang ada di diri Rara agar Adelia tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Rara yang mendengarkan ingin tergelak, walau di dalam hatinya membenarkan ucapan Rasya. Ia memang punya ilmu bela diri.
"Mas, apa boleh aku bekerja?" tiba-tiba pertanyaan Adelia membuat Rasya terbelalak. Permintaan Adelia saat ini mengejutkan dirinya.
"Tentu kamu boleh bekerja. Pimpin perusahaan kamu sendiri. Mas, tahu kamu punya bakat dalam ilmu perkantoran. Sedangkan, aku sebagai suamimu hanya bisa ilmu permesinan. Tapi, tidak terlalu bodoh sih, jika di paksakan," tanggapan Rasya membuat Adelia tersenyum.
"Beneran, Mas?" kata Adelia meyakinkan suaminya.
"Iya benar. Memang kamu sekarang, sudah percaya meninggalkan baby kembar kita dengan para pengasuhnya?" Rasya bertanya demikian, karena tahu Adelia seperti ragu untuk meninggalkan bayi kembarnya walau sudah mempunyai para pengasuh, walau dirinya pergi keluar sebentar saja.
"Aku sudah menilai mereka. Mereka baik-baik. Dan terlihat begitu sayang kepada bayi-bayi kita. Jadi, aku bisa lega jika pergi meninggalkannya, bekerja" tutur Adelia yang selama ini diam-diam menilai dan memperhatikan dua pengasuh bayi kembarnya, tanpa mereka ketahui.
"Ya syukurlah. Mas, senang jika kamu ingin bekerja di perusahaan mu sendiri. Jadi, Mas tidak usah mendengar gosip yang mengatakan kalau Mas pria yang menguasai harta istrinya," Rasya dengan menatap Adelia.
"Apa iya ada yang bergosip seperti itu, Mas?"
Rasya mengangguk. "Hampir semua sayang ... mungkin, setelah mereka tahu pemilik perusahaan yang sebenarnya adalah kamu. Mereka seakan sinis saat Mas mengambil alih kepemimpinan yang seharusnya kamu yang duduki. Tapi, Mas berusaha acuh, toh kamu baru saja melahirkan dan masih dalam pemulihan. Bahkan, suatu hari Mas pernah berpikir untuk mengajak kamu bekerja. Namun, Mas tidak berani mengungkapkan, karena di rumah saja kamu sudah lelah dengan mengurus si kembar, jadi Mas tidak tega,"
Adelia tersenyum mendengar ucapan suaminya yang begitu panjang. Mengeluarkan uneg-uneg yang suaminya pendam. Bahkan, suaminya sangat perhatian dan tidak mau istrinya sampai terlalu lelah.
__ADS_1
"Terima kasih Mas sudah memperhatikan aku," Adelia dengan berhambur memeluk Rasya.
Rasya membalas pelukan istrinya dengan mengecup lama puncak kepalanya. Hingga Rasya dan Adelia seakan lupa keberadaan Serly dan Rara yang masih berada di sana.
"Ehem ...," suara deheman keras kompak dari Serly dan Rara. Saat Rasya akan mengecup bibir istrinya.
"Woy, ada bocil di sini!" teriak Serly sengaja mengatakan dirinya kata Bocil yang seperti Rasya selalu katakan kepada dirinya.
Rasya langsung terkekeh saat sadar dengan keberadaan mereka berdua.
"Ish, Mas" Adelia yang malu memilih menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
"Jadi, aku boleh dong punya rumah sendiri?" kata Rara memastikan setelah melihat adegan uwu mereka.
Adelia dengan masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya menjawab.
"Memang kamu sudah punya uang banyak untuk membeli rumah?"
Rara dengan tersenyum, "Ya baru punya dp sih, aku sengaja ingin mengkredit," jawabnya. "Jadi boleh, ya?" kata Rara selanjutnya.
Adelia mengangguk, "Ya boleh,"
Rara tersenyum lebar.
"Den, ada tamu di depan. Namanya Mas Aldi," ucapnya. Membuat Rasya repleks melepaskan pelukannya pada Adelia.
"Mas, mau temui Aldi dulu," katanya. "Eh, iya Mas lupa. Sudah ninggalin Dido di ruang keluarga," ucapnya dengan terkekeh saat sadar bahwa ia mempunyai tamu saat ini.
"Ya Ampun Mas. Aku kira, anak itu sudah pulang" kata Adelia yang tercengang bahwa suaminya telah meninggalkan Dido dengan waktu yang lama.
"Iya, Mas ke depan dulu ya ...," dengan tangannya mengelus puncak kepala Adelia dengan sayang.
Adelia mengangguk. Rasya pun berlalu meninggalkan dapur.
Serly yang mendengar ada Aldi datang sontak menjadi diam.
Sedangkan Adelia meneruskan kegiatannya yang tadi sempat tertunda.
"Non, biar Bibi saja yang masak," kata Bi Ida yang tidak enak jika melihat majikannya malah memasak.
__ADS_1
Adelia yang tidak nyaman dengan raut wajah Bi Ida, ia menyetujui.
"Eh iya Bi. Ya sudah, Bibi lanjutkan ya. Ini bahan-bahan yang akan di masak untuk makan malam nanti. Aku mau lihat dulu si kembar," Adelia dengan menunjuk bahan masakan yang sudah ia keluarkan dari dalam kulkas. Terlihat Ikan Gurame, Kangkung, tempe, dan bahan-bahan sambal.
"Iya Non, Bibi akan lanjutkan," ucap Bi Ida dengan tersenyum.
Adelia yang baru melangkah untuk keluar dari area dapur, terhenti oleh pekikan Serly.
"Kak Adel, aku ikut!" pekiknya. Serly langsung melingkarkan tangannya di lengan Adelia.
Sedangkan Rara menggeleng menanggapi. Dengan meneruskan kegiatannya di dapur.
Langkah Adelia dan Rara sudah akan melewati area ruang keluarga. Serly merasa gugup saat ekor matanya menangkap sosok Aldi yang sedang duduk berbicara dengan Kakaknya. Serly berpura-pura tidak melihatnya.
"Serly," suara Dido menghentikan langkahnya.
Sementara Adelia meneruskan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar bayi kembarnya.
Serly terpaksa menoleh kepada Dido. "Iya, Kak ada apa?" jawabnya.
"Kakak pamit mau pulang," ucap Dido dengan tersenyum.
Serly menggerutu di dalam hati, "Ih kenapa harus pamitan segala sih kalau mau pulang, ya sudah pulang saja. Aku takut Kak Aldi salah paham. Eh Tapi kak Aldi cuek gitu."
"Ya hati-hati kak," akhirnya ucapan itu yang keluar dari mulut Serly. Terlihat Dido berpamitan juga kepada Rasya dan Aldi. Dan setelah itu Serly akan melanjutkan langkahnya, kini suara Rasya memanggilnya.
"Ser, sini!" panggilnya. Lagi-lagi Serly menghela nafas. Kini ia harus menatap kakaknya yang sedang berhadapan dengan Aldi sosok pria yang sudah memporak porandakan hatinya.
"Iya ada apa kak?" jawabnya setelah dekat dengan kakaknya.
"Begini, Aldi besok akan pulang dulu ke Kota B. Kakak menugaskan mu, untuk mencari oleh-oleh, untuk ibu dan adiknya. Kakak, sengaja menyuruh kamu. Karena kamu yang tahu pusat perbelanjaan yang menurutmu unik," kata Rasya menyampaikan agar Serly membelikan buah tangan untuk Aldi bawa pulang menemui keluarganya.
Aldi cepat menyanggah dan menolak niat baik Rasya.
"Pak Rasya tidak perlu. Bapak tak perlu repot-repot memberikan buah tangan untuk saya dan keluarga. Dengan ijin dari bapak saja saya sudah senang," ucapnya.
Rasya menggeleng. Tanda ia tidak mau Aldi menolaknya.
"Gak usah gitu, Al. Saya tidak merasa di repotkan sama sekali. Sudah, sekarang kamu antar adik saya untuk berbelanja. Sekalian, makan malam lah di luar," ucapan Rasya membuat Serly melotot tidak percaya. Kakaknya menyuruh dirinya makan malam bersama pria dingin yang di hadapannya.
__ADS_1
"Tahan Jantung ... tahan. Kamu gak usah merespon berlebihan. Toh dia saja biasa-biasa saja," gejolak batin Serly.
...***...