
Martin Pov.
Aku sungguh saat ini seakan enggan untuk membuka mulutku, dengan nafas yang sesak akibat sakit jantungku. Aku memang menyesal telah melampiaskan kekecewaan ku lewat minuman yang membuat ku seperti ini, namun bagaimana lagi aku sudah kepalang telah melakukan hal yang fatal berakibatkan kesehatan ku terganggu.
Aku bersyukur masih memiliki Tante Meli, dan kedua sahabatku yaitu Reyhan, dan Dimas. Mereka merawat dan menunggu ku secara bergantian. Dan saat itu ketika Tante Meli sendiri menunggu, aku melihat dari tatapan matanya yang sangat sedih melihatku, memang pantas saat ini aku di kasihani. Aku seperti enggan untuk bersuara, aku hanya bisa menggeleng dan mengangguk tanda merespon. Dan saat mendengar penuturan Dokter yang saat ini merawatku, beliau menyarankan aku agar berobat di luar negeri. Sungguh aku sendiri ingin cepat sembuh, dan aku menyetujuinya saat Tante Meli meminta persetujuan ku.
Dan di hari besoknya aku harus bersiap-siap, Tante Meli sudah mempersiapkan semuanya yang tak luput dari bantuan kedua teman ku.
"Martin, kamu harus semangat ya sayang. Kamu pasti sembuh," ucap Tante Meli menyemangati aku.
Aku hanya bisa mengangguk pelan memberi jawaban kepada beliau.
"Tante Keluar dulu ya sebentar, gak apa-apa kan, Tante tinggal dulu?," kata beliau terlihat sangat mengkhawatirkan ku.
Aku pun hanya bisa mengangguk 'kan kepala ku kembali.
Dan terlihat Tante Meli keluar. Sungguh aku saat ini merasa tidak berdaya. Aku akui, aku memang merasa bodoh, karena mencintai wanita yang ternyata selama berhubungan dengan ku masih menyimpan rasa cintanya begitu rapih terhadap mantan pacarnya itu.
Aku sekarang merasa tidak terlalu sakit jika saat mengingat saat-saat kenangan indah bersama gadis yang selama ini aku cintai. Aku berusaha tegar, dan mengikhlaskan semuanya. Semoga gadis yang aku cintai itu bahagia dengan pilihan nya. Bukan kah melihat seseorang yang kita cintai bahagia dengan orang lain kita harus ikut bahagia juga?. Mungkin bisa iya, atau tidak itu tergantung perasaan masing-masing.
Saat ini yang aku pikirkan adalah kesembuhan ku, aku memang menyesal telah melukai diriku sendiri dengan bermabuk-mabukan dengan berharap masalah itu akan cepat hilang dengan sendirinya namun, aku sangat salah akibat perbuatan ku aku membahayakan diriku sendiri, yang selama ini diriku sehat wal'afiat kini harus menderita sakit jantung.
Entah bagaimana sekarang keadaan Adelia saat ini. Semoga dirinya dalam keadaan baik-baik saja dan bahagia dengan pria pilihan nya. Tiba-tiba rasa kantuk menyerang aku mencoba untuk merebahkan tubuhku, namun ternyata susah sekali, aku merasa sesak jika tubuh ini di baringkan. Hingga aku memilih bersandar kembali di sandaran ranjang.
Tak lama Tante Meli masuk ke dalam ruangan, beliau tersenyum melihat aku baik-baik saja mungkin, Beliau duduk di kursi yang sedari bekas beliau duduk di dekat ku.
"Nak, Maafkan Tante ya... gara-gara anak tante, kamu jadi kehilangan gadis yang kamu cintai, dan menjadi seperti sekarang ini," ucap Tante Meli lirih dengan mengusap lengan kanan ku. Tersirat dari sorot matanya seperti merasa bersalah.
Tante aku mohon, tante jangan seperti ini. Semua ini bukan kesalahan tante. Ini mungkin semua sudah takdir. Aku sudah mengikhlaskan semuanya.
Batin ku berbicara, namun susah untuk terucap. Aku hanya bisa tersenyum kepada beliau, memberi jawaban bahwa aku tidak apa-apa dengan semua ini.
Tante Meli seperti sudah tahu tanda aku tersenyum kepada nya, beliau pun membalas tersenyum kepada ku.
"Kamu istirahat ya, Nanti Tante bangunkan untuk makan siang" titah beliau. Aku pun hanya bisa menjawab dengan mengangguk.
Beliau menyelimuti ku, yang membuat aku merasa mempunyai kasih sayang seorang ibu. Dan memang begitu menurut beliau aku sudah di anggap seperti anaknya sendiri maka beliau selalu menahan Rima anaknya untuk tidak mencintai ku.
Apa kabar dengan Rima?
Aku jadi mengingat tentang wanita itu. Wanita itu yang menginginkan aku bahkan sangat terobsesi hingga ia sangat nekat untuk menyingkirkan gadis yang aku cintai.
Tiba-tiba rasa kantuk benar-benar menyerang ku, dan dengan perlahan aku mulai memejamkan mata dan tertidur.
...----------------...
Author Pov.
Di tempat lain.
Rasya setelah selesai dengan sarapan nya dan menuju ke dalam kamar hendak untuk mengambil sebuah map yang sudah kemarin ia siapkan, namun pandangan nya teralihkan akan tempat tidur yang masih berantakan akan ulah semalam. Rasya pun berniat ingin merapihkan tempat tidur itu, dengan tangan nya mulai menyibakan selimut untuk di lipat, tapi matanya menatap ada noda darah di atas seprei bahkan noda merah itu sudah kering, bibir Rasya tersungging tersenyum bangga karena telah berhasil membobol pertahanan dinding sang istri yang selama ini ia jaga.
Rasya pun melepas kain seprei itu, dan menaruh di dalam keranjang tempat pakaian kotor. Saat hendak ingin menuju lemari Sang istri datang dan mengerutkan dahinya menatap Rasya bingung.
"Mas, sedang apa?" kata Adelia bertanya melihat Rasya sedang di depan lemari dengan tangan nya hendak membuka.
__ADS_1
"Aku mau mengambil Seprei,"
Adelia menatap ke arah kasur yang sudah nampak tanpa kain seprei membungkusnya.
"Kenapa Mas buka?" tanya Adelia lagi.
"Seprei nya kotor Sayang, ada bekas darah," ujar Rasya.
"Darah?" seketika tubuh Adelia menegang merasa takut bahkan keringat mulai keluar dari keningnya.
Rasya melihat Adelia yang seperti ketakutan, dengan tangan nya yang sudah mengambil Seprei yang baru, Rasya memeluk Sang istri memberi ketenangan.
"Makanya aku ganti Sayang, aku tahu kamu itu takut darah."
Rasya dengan mengusap lembut punggung Adelia.
Tapi Aneh pada darah Menstruasi istri ku ini tidak takut? Batin Rasya.
Ia ingin sekali menanyakan hal itu yang membuatnya penasaran, tapi Rasya pikir nanti saja setelah Adelia sudah merasa tenang.
"Mas, biar aku yang memasang kain Seprei nya, ya!" kata Adelia setelah merasa tenang.
"Ya udah ini, tapi pelan-pelan. Aku takut area bawah mu masih sakit. Em... apa masih sakit?"
Adelia menggeleng.
Asyik nanti malam bisa lagi dong?.
Pekik Rasya gembira di dalam hatinya.
" Enggak Mas, besoknya lagi ya, aku merasa masih perih sebenarnya," jujur Adelia.
Ah... Sabar Syaa, Sabar.
Istrimu masih perih anu nya.
Batin Rasya.
"Iya Sayang, gak apa-apa. Ya sudah aku mau menemui Aldi dulu," kata Rasya, lain di bibir lain dihati.
Rasya mengecup bibir istrinya terlebih dahulu, kemudian menyambar map yang sudah di sediakan nya. Lalu bergegas pergi.
Adelia pun meneruskan niatnya untuk memasangkan kain Seprei. Saat seprei itu sudah terpasang, Adelia merasa ingin berbaring. Hari ini Adelia tidak membuka toko kuenya, ia sengaja ingin bermalas-malasan. Dan tak lama Adelia mulai tertidur.
Sementara itu Rasya sudah berdiri di depan bengkel, melihat Para pekerja nya yang sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Rasya melangkah ingin menemui Aldi. Dan setelah sudah di dekat Aldi, Rasya pun duduk di kursi.
"Al...." Sapa nya.
"Iya Bos, ada apa?." Sahut Aldi.
Rasya menyerahkan Map yang sedari tadi ia pegang kepada Aldi. Aldi menerima nya dengan menautkan kedua alisnya bingung.
"Bos ini Map apa?," tanya Aldi penasaran.
__ADS_1
"Itu berkas persyaratan pendaftaran ke KUA."
Aldi tercengang kaget, Ia tahu tentang KUA adalah tentang pernikahan.
"Apa Bos mau menikah lagi?," Dan langsung dapat Jitakan di kepalanya dari tangan Rasya.
"Sembarangan!!."
"Lalu, ini apa? Bukankah, tadi Bos bilang ini persyaratan pendaftaran ke KUA," Aldi masih belum paham.
"Al, itu persyaratan pendaftaran untuk Menikah Saya. Saya ingin menikah secara agama dan negara. Saya ingin memiliki Buku Nikah."
Rasya sudah mempersiapkan semuanya sebenarnya, hanya waktu itu ia ingin benar-benar memiliki Adelia dengan menikah siri terlebih dahulu. Lalu di tambah suruhan Papanya untuk menikah siri. Dan sekarang barulah Rasya menyerahkan berkas-berkas itu kepada Aldi.
"Oh, begitu Bos. Ya sudah nanti saya akan ke KUA," kata Aldi.
"Sekarang Al, jangan nanti-nanti!!"
Kenapa Si Bos gak sabar banget sih?.
Gak lihat penampilan ku saat ini penuh dengan oli. Gerutu Aldi di dalam hatinya.
"Ya Pak, Saya mau membersihkan badan terlebih dahulu."
Rasya hanya mengangguk memberi jawaban.
Aldi bergegas masuk ke dalam toilet yang tersedia. Sedangkan Rasya kembali bergegas masuk kedalam rumahnya. Tapi saat Rasya melewati toko kue milik istrinya yang masih tertutup dengan rolling dor, langkah Rasya terhenti dan Rasya merasa bingung.
Apa istriku berniat tidak buka toko nya hari ini?.
Rasya pun berjalan kembali dan masuk kedalam rumah, dan tak lupa mengunci pintu rumah terlebih dahulu. Rasya memilih langsung menuju kamar, dan saat membuka pintu kamar Rasya sudah di suguhkan pemandangan indah di atas kasur. Istrinya terbaring tidur dengan dress yang sedikit menyingkap dan terlihat jelas paha putih dan mulus milik istrinya itu. Rasya mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.
Rasya menelan saliva nya, dan melangkah mendekat ke arah ranjang. Rasya ikut terbaring dengan tangan nya mulai memeluk istrinya. Tadinya Rasya ingin melakukan lagi seperti hal semalam, tapi ia urungkan karena teringat akan ucapan tadi istrinya.
"Enggak Mas, besoknya lagi ya, aku merasa masih perih sebenarnya,"
Rasya mendesah, dan menghirup nafas dengan kasar kini Rasya kecilnya sudah berdiri tegak. Sungguh baru dekat dan melihat tubuh istrinya membuat Rasya langsung bergairah.
Ah... aku sudah gak bisa menahan nya.
Rasya mulai nakal tangan nya, memegang salah satu gundukan yang menyerupai squishy itu. Adelia bahkan masih terpejam belum merasakan apa-apa dari tangan nakal suaminya. Tangan Rasya kini membuka kancing dress depan dada istrinya.
Untung tadi milih dress nya yang berkancing depan. Jadi mudah deh...
Rasya sungguh nakal, Ia setelah berhasil melepas kancing, dengan cepat Rasya menelusupkan tangan nya ke salah satu gundukan itu, dan menyembul lah gundukan itu, Rasya mulai menge**t gundukan itu bak seperti bayi yang sedang kehausan.
Repleks Adelia tubuhnya menggelinjang, bahkan dari mulutnya melenguh dan mendesah dengan matanya yang masih terpejam. Adelia bahkan seperti menikmati permainan suaminya itu. Adelia mengerjapkan matanya, merasa gairah panas menjalar keseluruh tubuhnya. Di lihat sang suami sedang anteng memainkan dua gundukan miliknya. Adelia pun tidak melarang dan tidak memberhentikan kelakuan suaminya itu. Bahkan Adelia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan-sentuhan dari suaminya.
Rasya yang menyadari istrinya terbangun, bahkan tidak melarang. Rasya mulai berbisik.
"Boleh ya, Sayang?."
Adelia mengangguk dengan matanya yang terpejam. Dan terjadilah pergerakan-pergerakan yang semestinya terjadi dari Sang Suami yang dominan mengeluarkan aksi-aksi yang membuat keduanya seperti melayang ke Nirwana.
...Bersambung....
__ADS_1