
Adelia tersenyum menatap pada Arman dan Rasya bergantian, "Ekhem, Ciyee Arman lamar Alsa ceritanya?" goda Adelia kepada Arman yang sedang serius menatap Rasya.
"Aku serius Alsa, menikahlah denganku?" ucap Arman dengan menatap Rasya penuh cinta.
Tidak. Tidak. Kenapa ini menjadi seperti ini?.
Aku di sini menyamar agar dekat dengan istriku, bukan untuk menemukan kekasih sesama jenis. Astaga!!!
Rasya memilih terdiam, dan berbicara di dalam hati. Ia tidak bisa merangakai kata saat ini. Apalagi masalah serius yang sudah Arman katakan kepadanya. Rasya takut tidak bisa mengontrol emosinya saat harus mencari alasan, karena saat ini ia tengah merasa jengkel.
Adelia menatap Rasya yang berada di sebelahnya, "Alsa, ayo katakan saja. Jika kamu mau atau tidak. Arman pria baik, kok" ucap Adelia memberikan saran untuk menjawab perkataan Arman.
Ini Istriku lagi kenapa seperti mendukung?
Huh ... gara-gara si Arman ini!!. Gerutu Rasya di dalam hati.
"Maaf. Saya tidak bisa menerimanya," ucap Rasya datar.
"Loh kenapa Alsa?" tanya Arman merasa kecewa mendapat penolakan dari Rasya.
"Maaf Tidak bisa," ucap Rasya lagi.
Arman langsung meninggalkan ruang tengah tersebut. Lalu pergi bergegas menaiki tangga menuju lantai atas. Dengan rasa kecewa di dalam benaknya.
Rasain Gue tolak!!!.
Lagian, masa Gue main pedang-pedangan sama dia? Sedangkan istri gue, lagi butuh sentuhan. Gumam Rasya seraya menatap kepergian Arman dan beralih menatap Adelia.
Rasya masih mengingat akan tentang tadi yang ia dengar, pembicaraan antara Adelia bersama Albi. Rasya berpikir bagaimana caranya untuk menyentuh wanitanya itu, dan memberikan sentuhan yang kini Adelia inginkan dari suaminya.
Rasya berpura-pura terisak, ia ingin mendapatkan rasa iba dan simpati dari Adelia.
"Hik ... hik ..."
Suara isakan Rasya sontak membuat Adelia duduk untuk lebih dekat. "Alsa, kamu kenapa?" tanyanya seraya memegang bahu Rasya.
Rasya dengan terisaknya, menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin kamu menangis, kalau tidak apa-apa?," ucap Adelia seraya mengelus bahu Rasya.
"Non. Bolehkah saya memeluk Nona? saya merasa butuh kekuatan," ucap Rasya. Padahal itu hanya modus saja.
Adelia tersenyum, "Sini aku peluk kamu. Sebenarnya apa yang membuatmu menangis?" Adelia merentangkan tangannya untuk memeluk Rasya seraya bertanya.
Rasya berhambur memeluk Adelia. Dengan tersenyum bibirnya di balik punggung Adelia.
__ADS_1
"Saya merasa bersalah kepada Tuan Arman, Nona" ujar Rasya.
Adelia dan Rasya masih berpelukan.
"Itu hak kamu Alsa. Jika kamu merasa tidak cocok, kamu berhak menolaknya," tutur Adelia memberikan pengertian, seraya tangannya mengelus-elus punggung Rasya yang bidang.
"Alsa tubuhnya kekar sekali seperti pria?, dan kenapa aku merasa nyaman berpelukan dengannya," batin Adelia merasa aneh dengan tubuh Rasya yang ia peluk.
"Begitu ya Nona?. Dan saya merasa tidak cocok karena saya dan Tuan Arman, bagaikan langit dan bumi," tutur Rasya masih dengan memeluk Adelia.
Akhirnya aku bisa memeluk istriku dengan lama. Sayang ... aku begitu merindukan mu. Berilah celah untuk aku bisa secepatnya, membuatmu tersadar dari amnesiamu.
Rasya kini melerai pelukannya, lalu tangannya mengusap perut Adelia yang mulai terlihat. Sontak Adelia merasa heran, dengan apa yang baru saja Rasya lakukan.
"Nona terima kasih. Saya sekarang merasa lega," ucap Rasya dengan tersenyum.
Adelia pun tersenyum, "Iya sama-sama. Bukan kah, kita teman?" tutur Adelia.
"Iya kita teman. Dan Nona juga jangan merasa sungkan untuk bercerita tentang masalah Nona," ucap Rasya dengan lekat menatap wajah Adelia.
"Iya Alsa. Kalau begitu aku ke kamar dulu ya," ucap Adelia dengan melangkah ke dalam kamar. Sebenarnya ia merasa ngantuk.
Rasya pun meninggalkan ruang tengah, ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Adelia yang sudah berada di dalam kamar, memegang dada kirinya. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang saat berdekatan dengan Alsa. Apalagi saat berpelukan, Adelia merasa ada kenyamanan yang ia rasakan.
Ceklek ...
Tiba-tiba Albi masuk ke dalam kamar. Lalu menatap Adelia yang sedang melamun. Albi pikir Adelia melamun masih memikirkan akan hal yang tadi Adelia inginkan.
Albi merasa bersalah, tapi tidak mungkin ia menuruti apa yang Adelia inginkan.
"Arumi," panggil Albi seraya mendekati Adelia yang duduk di tepi ranjang.
"Mas," sahut Adelia dengan menatap Albi yang kini sudah duduk di dekatnya.
Albi langsung merengkuh tubuh Adelia ke dalam pelukannya, "Maafkan aku," ucapnya.
Adelia tidak menolak pelukan Albi, ia malah mempererat pelukannya. "Tidak apa-apa Mas, aku mengerti,"
Albi dan Adelia terdiam dalam posisi saling memeluk hingga beberapa saat.
"Mas, aku ngantuk" ujar Adelia dengan sedikit menguap.
"Kamu mau tidur siang?"
__ADS_1
"Iya"
"Aku temenin ya,"
Adelia mengangguk, dan Adelia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang tersebut, di susul oleh Albi berbaring di sampingnya. Posisi Adelia dan Albi saling menghadap. Albi tersenyum menatap Adelia yang perlahan matanya terpejam, begitu dengan Albi yang sama merasakan kantuk. Albi tangannya memeluk Adelia, dengan mulai menyusul Adelia ke dalam mimpi.
Hari ini hari minggu, jadi Albi bersama kedua temannya menghabiskan waktu di dalam rumah. Dirga dan Arman pun melakukan hal yang sama, yaitu tidur siang secara bersamaan di dalam kamarnya masing-masing.
Tapi tidak dengan Rasya. Ia tengah menyusun strategi untuk membuat Adelia kembali mengingat tentang dirinya. Hal itu akan Rasya lakukan saat Albi bersama kedua temannya nanti pergi ke Pulau K.
***
Waktu Sore telah tiba...
Rasya keluar dari kamar setelah melakukan ritual mandi dan ibadah shalat Ashar. Rasya mulai ingin melakukan kembali perannya sebagai pelayan. Ia mulai berkutat di area dapur. Ingin memasak untuk nanti makan malam.
Istriku kemana, ya? biasanya jam segini dia masuk area dapur.
Rasya clingak-clinguk ke arah ruangan dalam. Ia menatap heran pada ruangan rumah yang nampak sepi. Rasya pun melangkah, ia penasaran dengan penghuni rumah yang tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Apa istriku ada di dalam kamarnya?
Rasya perlahan melangkah menuju kamar yang di tempati Adelia dan Albi. Ia kini sudah berdiri di depan pintu kamar tersebut. Rasya menghela nafas dengan dalam. Ia ingin mencari tahu apa yang tengah di lakukan Adelia di dalam kamar. Ia mulai memegang handle pintu untuk membukanya.
"Alsa?"
Ada suara seseorang menyapa dari arah belakang tubuhnya. Sehingga Rasya tidak jadi membuka handle pintu kamar tersebut.
"Tuan Dirga?," sapa Rasya saat membalikkan tubuhnya melihat siapa yang menyapanya.
"Sedang apa kamu di depan pintu kamar Albi?" selidik Dirga.
Rasya berusaha tenang, "Saya tadi mau mengetuk pintu, untuk memanggil Nona Arumi. Tapi Tuan Dirga mengagetkan saya, jadi saya urungkan,"
Dirga menatap Rasya lebih lama seperti sedang mencari kejujuran dari apa yang telah Rasya ucapkan, "Begitu?. Coba kamu ketuk pintunya sekarang!" tantang Dirga.
Justru Rasya malah senang di suruh untuk mengetuk pintu tersebut, "Baiklah Tuan," sahutnya.
Dan tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu. Namun, pintu telah lebih dulu di buka dari arah dalam. Sehingga tangan Rasya mengetuk dada Albi. Sontak Rasya kaget dengan apa yang ia lakukan. Walaupun tidak sengaja, pasti ia akan mendapat omelan dari Albi majikan-nya itu.
Albi langsung menatap tajam ke arah Rasya. Sungguh Albi tidak menyukai bila tubuhnya ada yang menyentuhnya selain Adelia.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja!" ucap Rasya seraya menunduk berpura-pura merasa bersalah.
"Hmm" sahut Albi, karena tahu Rasya melakukan nya tidak sengaja.
__ADS_1
Sialan sombong sekali dia. Cuma hmm ... doang? Awas ya, saat ingatan Adeliaku kembali, maka kau akan menangis darah!!!
...Bersambung....