
Adelia masih menatap dengan tajam ke arah Arman, dan Dirga. Bahkan ia sekuat mungkin mengatur nafasnya yang seakan tercekat. Ia tidak menyangka hari ini akan bertemu dengan Albi, Dirga, dan Arman. Adelia akhirnya memilih untuk menunduk.
Mereka terlihat begitu ramah dengan menyunggingkan senyuman kepada Lia. Membuat Adelia bertanya-tanya. Begitupun Lia Mama mertuanya, terus tersenyum sedari tadi.
"Apa mungkin Mama dan mereka saling kenal?" gumam Adelia di dalam hati. Ia merasa tubuhnya berubah menjadi lemas. Entah karena takut, atau terlalu gugup. Bahkan keningnya mengeluarkan keringat dingin.
"Hai, bu apa kabar?" sapa Arman ramah kepada Lia. Sedari tadi menyunggingkan senyuman, membuat Arman merasa canggung jika tanpa berbasa-basi.
"Baik, Nak. Kita ketemu lagi," jawab Lia dengan ramah. Tangan Lia masih menggandeng lengan menantunya.
"Sepertinya Ibu mau pergi. Oh ya, menantu ibu sudah sehat?" tanya Arman dengan melirik sekilas ke arah Adelia.
Lia menoleh kepada Adelia dengan tersenyum, "Iya kami mau pergi. Alhamdulillah menantu saya sudah sehat. Oh ya, Nak ... mereka adalah orang yang telah menolong Mama kemarin, membawa kamu ke Rumah Sakit," ujar Lia menjawab Arman seraya menceritakan tentang ketiga pria yang di dalam mobil kepada Adelia. Sontak Adelia menegakkan kepalanya, menatap ke arah Arman.
"Terima kasih," ucap Adelia dengan tersenyum tipis.
Arman mengangguk dengan tersenyum. Ia tahu bahwa Adelia merasa gugup atau ketakutan. "Bu, mari masuk ke dalam mobil kami. Sanggar Senam, kebetulan kami akan melewatinya," ajak Arman kepada Lia.
Lia menatap Adelia terlebih dahulu. Adelia yang merasa di minta persetujuan mertuanya, repleks menggelengkan kepala tanda ia menolak ajakan Arman.
"Tidak perlu Nak, kami tidak mau merepotkan kalian lagi," tolak Lia secara halus. Ia tahu bahwa Adelia tidak mau ikut bersama mereka.
Albi yang duduk di belakang merasa kecewa. Karena ajakan Arman di tolak oleh Lia. Bahkan Albi sendiri melihat Adelia yang sebelumnya terlebih dahulu menolak. Sedangkan Dirga terdiam saja. Ia terus tersenyum menatap Adelia yang semakin cantik.
"Tidak bu. Kami tidak merasa di repotkan." Arman kini turun dari mobil, kemudian membuka pintu belakang agar Lia dan Adelia masuk. Mobil yang Arman kendarai kini berkapasitas tujuh orang. Hingga Ia bersikukuh mengajak Lia ikut. Entah apa yang akan di rencanakan Arman di dalam benak Albi dan Dirga mempertanyakan.
Lia merasa tidak enak jika Arman sengaja turun bahkan membukakan pintu mobilnya.
"Ayo Sayang, nanti keburu di mulai acaranya," ucap Lia sengaja menarik Adelia dengan lembut. Dan bahkan Lia membiarkan agar Adelia masuk terlebih dahulu.
Adelia pun hanya bisa menurut. Sebenarnya Adelia tidak mau ikut, dan Adelia tidak mau sampai Mama mertuanya mempertanyakan. Karena tidak mungkin Adelia mengatakan alasannya, bahwa mereka yang sebenarnya telah menolong dan membohonginya.
Adelia kini sudah terduduk di tengah-tengah antara Albi dan Lia. Adelia merasa gugup beserta canggung berdekatan dengan Albi. Sedangkan Albi berpura-pura sibuk dengan menatap Tablet di tangannya. Mengontrol laporan-laporan perusahaan.
Lia merasa heran kepada Albi. Kenapa tidak pindah kebelakang padahal di belakang masih terdapat kursi kosong. Mungkin karena perjalanan Lia sebentar, membuat Albi tidak pindah ke kursi belakang begitu menurut Lia. Tapi, padahal Albi sengaja ingin berdekatan dengan Adelia. Dengan sesekali melirik, dan menghirup aroma parfum yang Adelia kenakan.
Tidak berselang lama. Mobil yang Arman kendarai melintasi Sanggar Senam yang Lia tuju. Dengan ucapan terima kasih berulang-ulang Lia dan Adelia turun dari Mobil.
Kini di dalam mobil. Albi menatap punggung Adelia yang berjalan semakin jauh dari pandangannya. Ia bahkan menyuruh Arman agar tidak langsung melajukan mobilnya. Ia ingin menatap Adelia dari kejauhan.
"Bos ... mau sampai kapan kita di sini? kita sebentar lagi akan bertemu Klien," tanya Arman. Ia merasa bosan. Rencananya malah mengancam pada pertemuan dengan Klien batal.
"Sebentar," sahut Albi datar.
"Huh ... kalau tahu gini hasilnya. Gue tadi gak usah bujuk Ibu tadi agar ikut menumpang," gerutu Arman namun, terdengar di pendengaran Dirga.
__ADS_1
"Jadi maksud Lu apa?, Lu sengaja rencanain itu semua?" tanya Dirga dengan berbisik ia tidak mau sampai Albi tahu.
"Tadinya gue membiarkan si Arumi ikut numpang. Siapa tahu, membuat si Bos lebih bersemangat. Tapi nyatanya, lihat dia malah terlihat seperti orang bodoh!" bisik Arman tepat di telinga Dirga. Ia bahkan menunjuk spion tengah agar Dirga melihat Albi yang terus mengawasi Adelia lewat jendela.
"Oh ... ya ya gue paham," Dirga manggut-manggut.
"Kalian ghibahin gue ya?. Em ... gue turun di sini. Gue harus menjelaskan semuanya kepada Arumi," ucap Albi. Kemudian ia membuka pintu mobil, dan keluar.
Arman dan Dirga saling tatap. Dengan menggeleng-gelengkan kepala secara bersamaan.
"Kenapa gak dari tadi sih, kalau mau turun?" gerutu Arman seraya tangannya mulai menyetir kembali.
"Sudah. Lebih baik kita cepat temui Klien kita. Yang menjanjikan ketemu di Resto Xy," ujar Dirga.
Sementara itu Albi yang kini berjalan masuk ke dalam Sanggar Senam. Menatap perkumpulan ibu-ibu hamil. Mencari keberadaan Adelia. Dari pertama perkumpulan berbagai macam senam Albi lewati. Dan akhirnya Albi menemukan Adelia yang berada di perkumpulan senam yoga.
Albi menatap Adelia dari kejauhan. Keberadaannya membuat heran para pengunjung. Tapi Albi cuek. Ia tetap ingin menemui Adelia. Namun, Albi belum mendapatkan bagaimana caranya bertemu dengan Adelia tanpa sepengetahuan Lia.
Lumayan Albi berdiri sudah hampir dua puluh menitan. Dan terlihat Adelia seperti meminta ijin kepada Lia. Lalu Adelia pergi dari perkumpulan senam. Kesempatan bagi Albi. Ia langsung mengikuti kemana perginya Adelia. Langkahnya terhenti.
Saat Adelia masuk ke dalam salah satu toilet. Albi akan menunggu Adelia di depan toilet tersebut. Dengan menyandarkan tubuhnya di dinding, tangannya seraya ia masukkan ke dalam saku celana. Membuat kesan ketampanannya bertambah.
Terlihat pintu toilet Adelia buka. Albi langsung berdiri tegap. Dan mencekal tangan Adelia dengan cepat. Kemudian Albi masuk ke dalam toilet tersebut. Lalu Albi menguncinya. Adelia benar-benar di buat terkejut. Dengan keberadaan Albi di hadapannya kini. Bahkan Albi kini bersama dengannya di dalam toilet.
Albi tersenyum menatap wajah Adelia, dengan tangannya kini berubah posisi menjadi menggenggam. Adelia terdiam saking terkejutnya. Tubuh Adelia dan Albi hanya berjarak sekitar lima senti saja.
Adelia kini menatap wajah Albi yang sendu itu. Ia tahu pasti kata 'Maaf' yang Albi ucapkan, pasti karena menyadari kesalahannya. Adelia mengatur nafas terlebih dahulu. Ia menerima keberadaan Albi yang kini berada di hadapannya. Adelia berpikir. Ini waktu yang tepat untuk mempertanyakan alasan Albi membohonginya.
"Mas, kenapa kamu bohongi aku?."
Albi masih menatap Adelia dengan rasa penyesalan dan kerinduan. "Maaf Arumi ... aku telah jahat. Aku telah memanfaatkan hilang ingatan mu," lirih Albi. Matanya yang berkaca-kaca tadi kini tumpah.
Adelia merasa iba. Tapi ia belum puas. Karena belum tahu sebab dan alasannya.
"Apa alasan Mas, bohongi aku?"
Albi terlihat menghirup nafas, sebelum menjelaskan kepada Adelia. "Pertama aku bukan bohongi kamu saja. Aku telah bohongi keluargaku. Aku sengaja mengatur kebohongan itu. Agar terhindar dari perjodohan. Kedua. Aku membohongi kamu mengatakan bahwa kita suami istri. Dan membuat buku nikah palsu serta identitas palsu untuk mu. Maaf Arumi ... Aku mohon maaf. Aku telah jahat kepada mu," jelas Albi menjelaskan dengan terperinci.
"Jadi, karena Mas tidak mau di jodohkan. Mas mengatakan kepada keluarga, bahwa kita sudah berumah tangga. Ya ... aku masih mengingatnya saat kedatangan Mama, Kak Alina , dan Kak Luky mereka mempertanyakan yang sebenarnya. Sehingga Mas mempersiapkan bukti-bukti palsu. Oh ya Tuhan ... kamu salah besar Mas. Kamu membohongi keluargamu," pekik Adelia menjabarkan apa yang di ingatnya saat Keluarga Albi datang ke kediamannya.
Kepala Adelia menggeleng. Ia tidak habis pikir akan kebohongan Albi. Sesuatu kesalahan yang sangat fatal menurut dirinya.
"Mas, apa kamu tidak pernah berpikir bahwa suamiku mencari-cari dan bahkan keluargaku menganggap aku sudah tiada?, padahal aku di sembunyikan oleh sang penolong, demi memenuhi rencana kebohongannya. Ya Tuhan ...."
Adelia melepas genggaman Albi. Ia merasa marah, kecewa. Tapi, Adelia teringat kembali bahwa dirinya di selamatkan oleh Albi dan teman-temannya. Seakan rasa marah dan kecewa itu hilang.
__ADS_1
"Tapi Mas, aku berterima kasih sama kamu. Kamu telah menolongku. Dan bahkan memperlakukan aku dengan baik. Kamu orang baik Mas, aku punya hutang budi sama kamu," ucap Adelia ia kini menatap Albi yang sedari tadi menatapnya.
"Namun, di balik itu semua aku di bohongi. Dan pada akhirnya kebenaran datang dengan cepat. Suamiku sendiri datang dengan bersusah payah. Ia sengaja bersabar dengan menyamar menjadi pelayan. Sehingga pada akhirnya aku sendiri yang menemukan bukti kebohonganmu, dan saat itu Suamiku memiliki bukti-bukti yang begitu kuat, bahwa aku adalah istrinya yang sesungguhnya," lanjut Adelia. Ia mengatakan semua yang mengganjal di pikiran Albi. Sehingga Albi kini paham bahwa pelayan itu adalah Rasya.
Albi kini berjongkok di lantai ia menyesali perbuatannya. Rambutnya ia jambak. Dengan sesekali ia memejamkan matanya menahan sesak akan kesalahan terbesar yang ia lakukan.
"Maaf, Arumi. Aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku," ucapnya dengan lirih.
Adelia sendiri bisa merasakan permintaan maaf Albi itu sangat tulus. Adelia yang orangnya tidak memiliki rasa dendam. Ia mengangguk, memaafkan Albi begitu saja.
"Aku maafkan Mas, tapi dengan satu syarat,"
"Apa itu syaratnya?" Albi kembali berdiri. Ia sangat antusias mendapatkan maaf dari Adelia walaupun ada syaratnya.
"Mas, harus jujur kepada keluarga Mas ... bahwa Mas telah membohongi mereka," ujar Adelia.
Tidak Arumi. Jika aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku tidak mau sampai penyakit jantung Mama kambuh. Albi membatin. Ia mengkhawatirkan kesehatan Mamanya.
"Mas," Adelia mengguncang bahu Albi. Karena melihat Albi terdiam.
Albi kini menggelengkan kepalanya. "Arumi syarat itu aku tidak bisa mengabulkannya. Itu sangat sulit bagiku," ucapnya.
"Kejujuran itu penting Mas. Keluarga Mas pasti akan menerimanya," kata Adelia menenangkan.
"Tidak Arumi. Memang mereka mungkin akan menerima kejujuranku. Namun, aku tak bisa mengambil resiko harus kehilangan Mama. Mama mempunyai penyakit jantung. Aku takut pengakuanku membuat ia syok,"
Adelia pun terdiam ia tidak mau juga bila harus itu terjadi.
"Ya sudah. Aku ingin keluar Mas. Mas sudah aku maafkan," katanya. Adelia seraya berjalan menuju pintu.
Namun, Albi meraih tangan Adelia dengan cepat. Dan Adelia seketika membalikkan tubuhnya. Dan tanpa di sangka. Albi mencium bibir Adelia. Mel**at dan menye**pnya dengan lembut. Adelia berontak. Tapi dengan sigap, Albi mendorong tubuh Adelia hingga terjerembab pada dinding tembok. Dengan kedua tangan Adelia ia pegang.
Setelah merasa kehabisan nafas. Albi baru melepaskan ciumannya. Adelia masih mengatur nafas. Ia sungguh menjadi marah kepada Albi saat ini.
"Aku mencintaimu Arumi," ucap Albi kini dengan tangannya megusap pipi Adelia.
Adelia menggelengkan kepala. Albi benar-benar membuat rasa marah dan syok bercampur di benak Adelia. Hingga Adelia tidak mengerti akan jalan pikiran Albi.
Plakkk ...
Adelia menampar pipi Albi. Ia bahkan dadanya turun naik. Merasa sedang menahan emosi. "Aku benci kamu, Mas ...,"
Lalu Adelia melangkah menuju pintu, dan membukanya dengan cepat. Takut Albi kembali menahannya.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....