
Seusai jadwal makan siang. Sesuai yang sudah di diskusikan. Kini Rasya dan Aldi tengah berjalan. Dengan tangan Aldi memegang tas yang berisi dokumen-dokumen penting, dan laptop juga Macbook miliknya. Keduanya akan berjalan menghampiri mobil milik Rasya.
"Siang, Aldi ... Rasya," sapa Ariyanti saat langkah Aldi dan Rasya di loby. Ariyanti tengah berdiri di samping Hadi yang sengaja menunggu kedatangannya.
"Siang, Mbak Yanti," sapa Aldi kembali. Tapi tidak dengan Rasya. Ia hanya memberikan anggukan saja.
"Pah, kenapa gak Mita yang akan mendampingi di pertemuan nanti?" Rasya mencerca papanya. Yang sedari tadi ia tahan, karena belum ada kesempatan bertemu.
Sungguh Rasya berani sekali protes. Walaupun tanpa langsung menyebutkan nama yang kini akan mendampinginya. Jelas membuat Ariyanti terperangah, dan merasa tidak nyaman.
"Rasya ... kalau Mita ikut kamu. Terus siapa yang akan menghandle pekerjaan kamu?" Hadi malah menjawab dengan pertanyaan.
"Apa tidak bisa posisinya di balik saja?" Rasya benar-benar enggan mengatakan secara jelas. Kalau maksudnya itu, jika Ariyanti saja yang menghandle pekerjaannya. Tapi, ia benar-benar seakan tidak mau menyebut namanya.
"Rasya, Ariyanti sudah berpengalaman dalam bidang ini. Ariyanti selalu melakukan pertemuan-pertemuan dengan Klien besar. Dan Papa percaya itu," ujar Hadi memperjelaskan.
Rasya berdecak, "Baiklah. Tapi aku harap, Papa tidak ada sesuatu rencana di balik ini semua," Rasya langsung masuk ke dalam mobilnya, dan Aldi mengikuti pergerakannya.
"Om, bagaimana?" Ariyanti bertanya tentang kelanjutannya.
"Ikut saja," titah Hadi. Tanpa bertanya kembali Ariyanti menghampiri mobil Rasya. Dan di sana Aldi sudah berdiri membukakan pintu untuk Ariyanti masuk.
"Rasya, aku kira sepanjang perjalanan. Aku akan duduk di samping kamu." Ariyanti seraya masuk berbicara di dalam hati. Kala melihat Rasya yang duduk di samping Aldi yang akan menjadi sopir.
Ariyanti sudah berpikir jauh. Bahwa perjalanan yang akan berjam-jam itu, ia akan duduk berdampingan dengan Rasya. Namun ternyata, Rasya malah memilih untuk duduk di depan. Membuat moodnya kurang baik saja.
Sementara Rasya yang duduk di depan samping Aldi. Ia memilih memakai handsfree, dan ia sambungkan dengan ponsel miliknya. Agar perjalanan tak jenuh tentunya, Rasya memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
Di Kediaman Albian...
Sesuai kesepakatan. Albi ingin menghabiskan waktu seharian dengan Adelia hari ini. Ia tidak kembali ke Kantor. Dirga yang akan menghandle pekerjaannya. Sementara Arman beserta orang kepercayaannya, sedang melakukan perjalanan untuk meninjau lokasi yang sudah bertahun-tahun terjalin dengan Perusahaan Argadinata Group.
"Apa kamu akan jalan-jalan dengan penampilan seperti itu?" Albi menatap Adelia yang masih memakai baju serba panjang, dan berwarna hitam.
"Kalau iya, bagaimana?" Adelia dengan menatap dirinya sendiri.
"Aku lagi ingin mengenang kebersamaan hari ini. Bukan seperti yang sedang berkabung. Ayolah! jangan buat aku seakan sedang berduka," Albi dengan berwajah memelas seperti memohon.
__ADS_1
"Apa masih ada baju-baju yang waktu itu kamu siapkan?" tanya Adelia. Ia bertanya tentang baju-baju yang Albi siapkan di lemari, saat Adelia tinggal di sana.
"Ada. Apa aku boleh memilih baju untuk kamu pakai?"
"Apa itu dari sebagian permintaan, mu?"
Albi mengangguk, dengan tersenyum.
"Baiklah. Silahkan" Adelia tidak mempermasalahkan.
Albi langsung bergegas ke dalam ruang ganti. Ia membuka lemari yang masih banyak tersusun baju-baju wanita. Yang ia khususkan saat itu untuk Adelia. Mengingat kehamilan Adelia yang sudah sedikit membesar. Albi memilihkan sebuah dress yang menurutnya akan nyaman di pakai oleh Adelia. Ia memilih Dress selutut, dengan bahunya terbuka. Albi sudah membayangkan bagaimana nanti saat di pakai Adelia, tentu sangat membuatnya tergoda.
"Aku pilih yang ini. Tolong kamu pakai. Dan jangan lupa pakai make-up yang secantik mungkin," Albi menyerahkan dress yang sudah ia pilih, kemudian ia mengedipkan mata menggoda Adelia.
"Oh jadi menurut kamu. Aku selama ini tidak cantik?, lihat saja kalau aku sudah berdandan," Adelia seakan tertantang. Ia langsung membuka pintu ruang ganti, dan menutupnya.
Albi yang mendengar Adelia berujar seperti itu. Terkekeh. Merasa gemas terhadap Adelia.
"Kamu itu cantik. Makanya aku seperti gila telah mencintaimu, walaupun kamu bersuami" Albi bergumam dan memilih duduk di sofa.
Tak lama Adelia keluar dari ruang ganti. Ia seakan percaya diri dengan memakai dress yang Albi pilihkan. Walau sejujurnya, Adelia merasa risih karena bahu hingga dadanya yang terbuka lebar. Adelia melangkah dan duduk di kursi meja rias. Seakan ia ingin membuktikan kepada Albi, ia akan berpenampilan cantik.
Hingga selama lima belas menit lamanya, Adelia selesai memoles make-up di wajah cantiknya itu. Menggerai rambutnya yang lurus. Dan melangkah mendekati Albi. Yang sudah menatap sedari tadi tanpa berkedip.
"Bagaimana apa aku sudah sesuai apa yang kamu harapkan?" Adelia seakan meminta penilaian tentang penampilannya saat ini.
Albi tidak lansung menjawab. Namun, ia berdiri dan lebih mendekati Adelia yang sedang menatapnya berdiri. Albi mengikis jarak antara dirinya dan Adelia. Membuat Adelia memundurkan langkahnya.
"Kamu, sangat cantik" bisik Albi hingga nafasnya menyapu leher dan bahu Adelia yang terbuka.
"Ya Ampun ... Kenapa harus berbisik seperti itu, sih?" Adelia tak habis pikir dengan Albi yang membuat jaraknya terlalu dekat. Dan berbisik mengakibatkan bulu-bulu halus tengkuk Adelia meremang.
"Kenapa? apa ada masalah?" Albi kini memegang kedua bahu Adelia.
Adelia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Ia menepiskan kedua tangan Albi yang memegang kedua bahunya.
"Tolong, jangan sentuh aku!"
__ADS_1
Albi terdiam. Tanpa kata ia langsung menyambar kunci mobil, ponsel, dan dompet. Lalu melenggang keluar kamar.
Adelia pun melakukan yang sama. Ia keluar mengekori Albi.
"Wah ... sepertinya kalian mau pergi?" celetuk Lucky yang tengah duduk di ruang tengah melihat Albi dan Adelia berjalan beriringan. Bahkan Lucky terkagum-kagum saat menatap penampilan Adelia yang seperti itu.
Albi tahu bahwa Lucky menatap Adelia, dengan tatapan berbeda. "Iya kami akan pergi. Tolong jaga penglihatan mu, Kak!"
Lucky yang langsung mengerti, terkekeh kecil. "Baiklah, baiklah ...."
Albi menggenggam tangan Adelia dengan cepat, dan berjalan melangkah menuju mobil miliknya. Lalu membukakan pintu untuk Adelia masuk. Setelah itu ia masuk ke arah pintu sampingnya.
"Kita mau kemana?" tanya Adelia saat Albi sudah melajukan mobilnya, keluar gerbang kediamannya.
Albi menoleh sebentar, "Rahasia," ujarnya.
Adelia menjadi kesal. Karena Albi tidak mengatakan tempat tujuannya. Ia mencebikkan bibirnya. Dan menghadap ke jendela mobil. Tangannya ia sedekapkan ke dada dan memunggungi Albi. Albi tersenyum melihat mood Adelia yang kini sedang cemberut.
"Arumi apa kamu marah?" Albi bertanya seraya fokus pada setirnya.
"Adelia ... namaku, Adelia" Adelia meralat panggilan yang Albi berikan.
"Ok. Adelia apa kamu marah?" Albi mengulang kembali pertanyaannya, dengan mengganti nama panggilannya.
"Aku marah. Bahkan aku benci," sahut Adelia tanpa menoleh.
Albi tersenyum, "Kalau kamu benci sama aku. Nanti, anak yang ada di dalam kandungan mu, akan mirip seperti aku loh," seloroh Albi. Membuat Adelia mendelik dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Itu tidak mungkin."
"Mungkin bisa. Karena sering aku dengar, bahwa ibu hamil yang membenci seseorang. Anaknya lahir mirip seperti orang yang ia benci," ujar Albi dengan mengulas senyum.
"Aneh sekali. Mana bisa?" Adelia kini menatap lurus ke arah jalanan.
"Bisa," sahut Albi tidak mau kalah.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....