
Hallo Readers!! terima kasih yang masih setia membaca cerita author ini. Dan terima kasih banyak atas dukungan like, komentar, atau pun hadiahnya.
Maaf jika cerita author ini tidak sesuai apa yang readers inginkan. Atau ceritanya datar-datar saja. Namun inilah kemampuan author yang masih banyak kekurangan.
Semoga para readers tidak bosan.
...----------------...
...----------------...
Dido masih berada di rumah keluarga Rasya. Karena Rasya yang meminta. Rasya merasakan ada teman mengobrol. Bukan berarti istrinya tidak bisa di ajak ngobrol. Namun, jika selalu berdekatan dengan sang istri, gairah kelakiannya selalu naik. Maka dari itu, untuk menghindar dari gairahnya tersebut, Rasya mengajak Dido untuk tanding main Playstasion di ruang keluarga.
Tentu Dido senang bukan main. Dirinya bisa dekat dengan kakak dari gadis yang di sukainya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dido. Tak apalah. Jika gadis yang di sukainya belum saja luluh, yang penting masih bisa berkomunikasi ataupun saling tatap bagi Dido itu hal membahagiakan.
Antara Rasya dan Dido yang anteng bertanding bola di Playstasion. Keduanya di kejutkan dengan suara tiga wanita, yaitu Rara, Sarah, dan Nina.
"Assalamualaikum," suara tiga wanita tersebut.
"Wa'alaikum salam" jawab Rasya dan Dido dengan tetap kedua matanya menatap layar televisi.
Rara mengernyit heran dengan pria yang di samping Rasya. Rara baru saja melihatnya. Dan membuat Rara penasaran ingin tahu, tapi tidak ia tanyakan.
Sarah, dan Nina menatap kagum atas ketampanan dua pria yang duduk bersebelahan tersebut, hingga di kedua bibir mereka menyunggingkan senyuman.
"Mbak Sarah, dan Mbak Nina. Belanjaannya tolong di bawa ke dapur ya, aku mau ke kamar mandi dulu sebentar," ujar Rara yang sudah kebelet ingin buang air.
Sarah dan Nina mengangguk. Keduanya langsung menuju dapur untuk merapihkan barang belanjaannya di lemari Kitchen set.
"Nina, siapa itu ya yang bareng Pak Rasya?" bisik Sarah kepada Nina.
"Aku gak tahu, baru lihat dia kali ini" sahut Nina dengan tangannya mulai mengeluarkan barang-barang belanjaan dari dalam Totebag.
Sarah mulai mengikuti gerak tangan Nina. Keduanya sudah tidak terasa hampir dua minggu bekerja di rumah itu.
"Bi Ida kemana ya?" Nina kini bertanya tentang keberadaan Bi Ida yang selalu berkutat di area dapur.
"Mungkin lagi mandi. Ini udah sore, 'kan?" sahut Sarah dengan tebakannya.
Nina pun manggut-manggut.
Kemudian datang Rara yang sudah memakai baju santai rumahan. Rara memang sengaja mandi terlebih dahulu agar badannya terasa segar saat ini.
"Lagi di rapihin ya?" tanya Rara dengan mengambil totebag lain yang berisi bahan masakan.
"Iya, Mbak Rara" sahut keduanya kompak. Rara tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Kalau Mbak Nina sama Mbak Sarah mau mandi. Mandi saja dulu, biar ini semua aku yang beresin," kata Rara kini menyuruh agar Sarah dan Nina mandi terlebih dahulu.
"Baik Mbak. Tapi kayanya Nina dulu deh yang mandi. Soalnya 'kan kamar mandinya cuma satu," sahut Sarah dengan menyuruh agar Nina terlebih dahulu mandi.
"Ya sudah aku dulu deh," timpal Nina dengan segera beranjak menuju kamar Art dan Baby Sister yang sama.
Kini di dapur tinggal Sarah dan Rara.
"Mbak Ra, sudah lama tinggal di sini?" Sarah mulai membuka suara untuk menanyai tentang Rara.
"Iya sudah lama. Sudah hampir dua tahun lebih deh," sahut Rara.
"Itu, siapa yang bareng Pak Rasya di depan?" Sarah penasaran dengan sosok Dido yang baru ia lihat keberadaannya di rumah ini.
"Oh itu. Aku juga gak tahu, baru kali ini lihatnya," jawab Rara dengan sama-sama penasaran. Rara mengingat-ingat karyawan yang di kantor Rasya, tidak ada yang berwajah seperti pria tersebut.
Tiba-tiba suara Serly mengejutkan mereka.
"Dia teman aku," ucapnya membuat Rara dan Sarah menatap ke arahnya. Serly mendekati ke arah mereka.
Rara tersenyum, "Teman ya?" godanya.
"Iya teman." Serly menyahuti dengan datar. "Kak Rara, aku ingin cerita sama Kakak. Tapi nanti ya, nunggu waktu kakak santai," selanjutnya Serly mengutarakan keinginannya sejak semalam.
"Beneran kak, Dia teman aku. Nanti saja deh, aku ke kamar kak Rara" ucap Serly dengan meraih sebotol air mineral dari dalam kulkas.
"Ya sudah nanti saja," kata Rara.
"Eh, maaf Mbak Rara. Aku mau ke belakang dulu ambil jemuran," Sarah dengan langsung ke arah pintu belakang.
Rara membalas dengan mengangguk.
"Lagi ngapain ni di dapur?" suara Adelia yang masuk ke area dapur membuat Serly dan Rara tersenyum menatapnya.
"Lagi beres-beres hasil belanjaan Del." Rara menjawab.
Serly langsung bergelayut manja di lengan Adelia.
"Tahu gak, Kakak tadi nyebelin!" cicit Serly membahas saat Adelia dan Dido terus mengobrol dengan Serly yang menjadi bahan percakapannya.
Adelia terkekeh, "Maaf adikku sayang. Kakak, lagian seneng tahu lihat wajahmu yang merah dan cemberut. Menggemaskan,"
"Ish ...," Serly mencebikkan bibirnya.
"Kakak mau apa ke dapur?" Serly kini mengalihkan.
__ADS_1
"Mau masak. Lagian Daffa dan Saffa lagi pada tidur," ujar Adelia dengan mulai membuka lemari pendingin dimana bahan-bahan masakan tersimpan.
"Asyik aku makan lagi masakan Kak Adel," Serly dengan riang.
"Sutt ... gak boleh gitu," kata Adelia memperingati Serly untuk tidak berekspresi berlebihan. Apalagi kini Ada Bi Ida yang bertugas tentang hal memasak.
Serly tersenyum dengan mengangguk.
"Aku bantuin deh," Serly dengan mendekati Adelia yang sudah mengeluarkan bahan masakan yang sebentar lagi akan di eksekusi.
"Del, aku mau mandiri ya?!" tiba-tiba Rara berujar ingin hidup sendiri. Membuat Adelia menatap tajam serta selidik kepadanya.
"Maksud kamu mandiri, tinggal sendiri, apa-apa sendiri?" Adelia yang tidak mau berpisah dengan Rara merasa tidak rela jika harus berpisah.
"Iya Del. Aku sekarang 'kan sudah bekerja. Bekerjanya juga di perusahaan milik kamu sendiri. Dan aku sudah sangat banyak merepotkan kamu. Apalagi di tambah merepotkan keluarga suami kamu," Rara mulai meraih tangan Adelia untuk ia genggam. Memberikan ketenangan untuk Adelia yang terlihat marah dengan keputusannya yang baru saja ia katakan.
"Kenapa harus tinggal di tempat lain?" Serly kini menimpali. Ia juga sama-sama tidak ingin Rara keluar dari rumahnya.
Rara mencoba tersenyum. "Aku ingin hidup dari jerih payahku sendiri. Aku sudah banyak merepotkan kalian. Aku tidak ingin terus bergantung pada kalian. Jadi aku berpikir untuk mencoba hidup sendiri." Rara mengatakan alasannya mengapa ia ingin hidup mandiri. "Boleh, ya Del?" lanjut Rara dengan menatap Adelia penuh harap. Berharap kali ini Adelia mengijinkannya.
Adelia terdiam. Rara sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Keberadaannya, merasakan ada salah satu dari keluarganya yang peduli. Walaupun Rara bukan berasal dari keluarganya atau keturunan orang tuanya. Membuat hidup Adelia seakan berwarna.
"Ra, kamu janji sama aku. Jangan tinggalin aku. Aku hanya punya kamu," Adelia berucap dengan lirih bahkan matanya kini berkaca-kaca.
Rara menjadi tidak tega melihat wajah sang Malaikat penolongnya.
"Del, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku hanya ingin hidup mandiri saja. Kamu tetap sebagai Malaikatku, Bidadariku, dan kamu tetap sebagai keluargaku. Aku hanya punya kamu di dunia ini, Del ...," Rara menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya.
Begitupun dengan Adelia kini ia terisak, membayangkan bagaimana berjauhan dengan Rara yang sudah menemaninya lima tahun lebih lamanya.
"Sayang ... kamu nangis kenapa?" Rasya yang baru saja masuk ke area dapur terkejut dengan istrinya yang sudah berurai air mata. Rasya merangkul Adelia untuk masuk ke dalam dekapannya. Tangannya terulur untuk menyeka air mata yang semakin deras keluar dari mata istrinya.
Rasya kini menoleh ke arah Rara. Ia terkejut. Rara ternyata sama-sama berurai air mata.
"Kalian menangis? apa yang membuat kalian menangis?" tanya Rasya dengan perasaan bingung. Sedangkan Serly memilih terdiam tak mampu untuk menjelaskan kepada Kakaknya.
"Ser, kamu tahu?" Rasya kini menoleh ke arah adiknya yang berada di sana.
"Gara-gara kak Rara ini," Serly berucap dengan langsung menangis. Membuat Rasya mengerutkan keningnya tidak mengerti. Kini di dapur di penuhi tangisan dari tiga wanita tersebut.
"Sudah-sudah ... aku tidak tahu apa yang terjadi. Katakan! jangan terus menangis seperti itu!" kata Rasya mencoba ingin penjelasan.
Kini Rasya meraih dagu istrinya yang ia dekap, hingga Adelia mendongak menatapnya "Sayang, katakanlah! apa yang membuat mu menangis!"
...***...
__ADS_1