You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 68.


__ADS_3

Sesuai yang di ucapkan, Maharani menemani Ibu Aldi ke esok harinya. Sementara Alma kembali Kuliah serta kerja Part time di sebuah cafe. Sedangkan Aldi, sengaja mengajukan cuti untuk bisa menemani Ibu di Rumah Sakit.


Di hari itu, ibu Aldi melakukan terapi agar saraf-saraf yang tidak bisa bergerak menjadi normal sesuai yang di perintahkan Dokter. Selama terapi Maharani ikut mendampingi ibu dengan tulus dan penuh rasa sabar. Bahkan, Maharani merasa senang bisa dekat bersama ibu Aldi.


Hingga tujuh hari kemudian, ibu Aldi pulih. Dan sudah di bolehkan pulang oleh Dokter. Hanya Ibu Aldi di beri himbauan agar jangan dulu mengangkat barang-barang yang berat.


"Akhirnya, ibu bisa menghirup udara segar lagi," ucap Ibu saat keluar dari Rumah Sakit.


Maharani tersenyum seraya tangan nya mendorong kursi roda yang di pakai Ibu Aldi, "Iya bu. Alhamdulillah,"


Aldi sendiri menenteng barang-barang ibu, dan milik Maharani yang lumayan banyak sekali. Dengan perasaan was-was, takut ibunya membahas soal pernikahan sesuai tempo hari yang di katakan ibunya setelah keluar dari Rumah Sakit.


Kini Aldi, Ibu, dan Maharani sedang berada di perjalanan menuju rumah. Senyuman terus tersungging di bibir ibu. Membuat Aldi ikut tersenyum juga. Dan senyuman Aldi itu bisa di lihat oleh Maharani yang memperhatikan spion tengah di karenakan Maharani bersama ibu duduk di jok belakang.


"Al, bisa gak setiap saat kamu tersenyum seperti itu? semakin tampan wajah mu, dan aku suka itu," gumam Maharani di dalam hati. Namun, detik kemudian Maharani menggeleng merasa tidak setuju jika Aldi terus tersenyum. Pasti akan banyak wanita yang menyukai Aldi. Dan Maharani tidak suka itu. Dengan wajah datar dan cueknya Aldi saja sudah banyak yang suka. Apalagi dengan wajah yang ramah. Maharani tidak bisa membayangkan akan banyak yang memperebutkan Aldi. Hingga Maharani bertekad akan menjaga Aldi, agar tidak sampai berpaling pada wanita lain.


"Eh, pikiran aku jauh banget. Sekarang saja, Aldi belum cinta sama aku. Kenapa ekspektasi sangat berlebihan," gerutu Maharani di dalam hati dengan terus menggeleng-gelengkan kepala.


Ibu Aldi menoleh kepada Maharani dengan rasa ingin tahunya ia bertanya, "Eh, Neng kenapa?" tanya nya.


Maharani menyengir, "Tidak kenapa-kenapa bu. Hanya pusing saja," sahutnya beralasan. "Pusing mencari cara agar aku bisa menjaga putra ibu," lanjutnya di dalam hati.


"Neng pusing?" Ibu raut wajahnya sudah berubah dengan rasa khawatir.


"Al, Neng Rani pusing," Ibu memberitahu Aldi.


Aldi menatap Maharani dari spion tengah, "Beneran pusing?" tanya nya memastikan.


"Loh, kok malah tanya gitu sih kamu Al?!" cetus Ibu yang merasa aneh dengan pertanyaan anaknya seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Sedikit kok. Gak apa-apa, ini biasa bawaan dari menstruasi," kilah Maharani memastikan.


"Oh begitu toh? ya sudah, neng tiduran saja dulu. Soalnya perjalanan lumayan lama ini," titah ibu dengan mengelus rambut Maharani.


Sungguh Maharani terharu, serta bercampur rasa senang mendapat perhatian dari seorang ibu. Sementara dirinya, hidup bersama ibu tiri yang sangat galak, hanya bersikap baik saat di depan ayahnya saja. Sehingga, Maharani memutuskan hidup mandiri keluar dari kediaman keluarganya. Membuat Maharani hidup bebas.


"Loh neng kok nangis?" tanya Ibu yang merasa bingung, dengan Maharani yang tiba-tiba menangis.


"Begini ya bu, di perhatikan seorang ibu?" ucapnya dengan kini memeluk ibu Aldi.


Ibu Aldi terdiam mencerna ucapan Maharani barusan. Aldi yang sedang menyetir menatap pemandangan yang membuatnya tersentuh. Mendengar Maharani yang kini menangis terisak membuat Aldi bertanya-tanya.


"Apa yang membuatnya menangis tiba-tiba?" tanya Aldi dalam hati.


Sampai Maharani berhenti dengan tangisnya. Ibu perlahan melonggarkan pelukan nya. Dan ibu sungguh terkejut saat mendapati Maharani sudah tertidur.


"Neng?!" panggil ibu dengan sedikit lirih. Tidak tega untuk membangunkan nya, sehingga ibu merebahkan kepala Maharani pada bahunya.


"Ya bu?" sahut Aldi dengan menoleh ke arah spion.


"Tadi pas ibu usap kepala neng Rani. Tiba-tiba Neng Rani menangis, dan mengatakan 'begini ya bu di perhatikan seorang ibu?' katanya gitu. Apa kamu tahu, alasan dia menangis begitu?"


Aldi menatap sang ibu masih dari spion dengan pikiran menerka-nerka, "Aku kurang tahu bu,"


"Loh, kamu itu 'kan pacarnya, masa gak tahu apa penyebabnya?" selidik ibu dengan penuh kesal.


"Ya pacar baru delapan hari bu. Dan aku belum tahu banyak tentang dia. Apalagi sebab ia menangis seperti tadi," kata Aldi di dalam hati menjawab ucapan sang ibu.


"Al, kenapa malah diam nak?" tanya ibu yang mendapati Aldi malah terdiam.

__ADS_1


"Nanti saja ya bu ... aku tanya sama Maharani langsung," sahut Aldi menenangkan agar ibunya tidak banyak bertanya lagi.


"Ya harus itu! ibu juga, ingin tahu nanti," balasnya dengan tangan ibu membelai rambut Maharani kembali seperti tadi.


Selang tiga puluh menit kemudian. Aldi berhasil memarkirkan mobilnya di depan halaman rumahnya.


"Al, jangan di bangunin. Kamu gendong saja ya!" titah ibu yang merasa tidak tega jika harus membangunkan Maharani yang terlihat lelap tidurnya. Apalagi Maharani sudah membantu dan menemaninya di Rumah sakit. Tentu itu semua membuat waktu Maharani tersita.


Aldi tercengang, "Ke-kenapa harus di gendong sih bu? bangunkan saja!"


"Suttt! jangan keras-keras! sudah, gendong saja. Kasihan, dia sudah membantu menemani dan merawat ibu di rumah sakit. Pasti dia kelelahan,"


Aldi akhirnya mau tak mau, harus menggendong Maharani. Ia pun keluar dan membuka pintu belakang dimana Maharani tertidur. Sementara itu ibu setelah kepala Maharani terlepas dari bahunya. Ibu keluar dan bergegas membuka kunci pintu depan. Lalu membukanya.


"Di kamar tamu Al tidurkan nya!" kata ibu saat sudah melihat Aldi menggendong tubuh Maharani ala bridal style.


Aldi hanya mengangguk. Kemudian masuk dan langsung menuju kamar tamu. Di baringkan nya tubuh Maharani secara perlahan. Lalu menyelimutinya. Setelah itu Aldi memandang terlebih dahulu wajah Maharani yang sangat terlelap.


"Terima kasih sudah mau menemani ibu dan merawatnya. Tidurlah ... mungkin anda kelelahan nona. Karena saya tahu pekerjaan anda itu seperti apa. Sehingga sebelumnya saya pikir, anda tidak akan bisa melakukan nya, namun ternyata anda bisa!" kata ucapan terima kasih Aldi ucapkan dalam hati pada Maharani. Kemudian ia keluar, dan menutup pintu kamar dengan pelan-pelan.


Saat Aldi mau masuk ke dalam kamarnya. Aldi malah mendapat panggilan dari ibunya yang sudah menunggu di ruang tengah.


"Al, duduk dulu sini!" ujarnya.


Aldi pun menurut. Lalu bertanya, "Ada apa bu?"


Ibu menatap wajah putranya yang kini sudah berusia dua puluh empat tahun.


"Al, bagaimana soal pernikahan kamu dan neng Rani? ibu sudah pulih sekarang," katanya menagih ucapan yang saat itu di janjikan Maharani dan di setujui putranya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2