
Hadi yang baru saja di antarkan oleh Asisten-nya yaitu Anton. Mengernyit heran saat melihat ada dua mobil yang baru saja keluar dari area pekarangan rumahnya.
Begitupun dengan Ariyanti yang berada semobil ia menatap dengan penuh tanya di dalam hatinya.
Sementara Adelia dan Rasya kini sudah berada di dalam kamarnya. Keduanya sama-sama terdiam. Hanya terdengar helaan nafas dari Rasya.
"Sayang ...," sapa Rasya akhirnya mengakhiri kebungkamannya.
Adelia menatap suaminya, "Ya ada apa, Mas?" tanyanya.
Rasya dengan memijit pelipisnya, "Sekarang kamu jangan banyak pikiran, ya!" ucapnya.
"Mas, kamu pusing?" Adelia tidak menanggapi ucapan Rasya. Ia malah mengkhawatirkan keadaan Rasya yang sedang memijit pelipisnya terus.
"Sedikit," jawabnya.
"Mas masuk angin?"
"Sepertinya begitu. Tapi nanti juga sembuh," Rasya kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, dengan mememjamkan kedua matanya.
"Aku buatkan, susu jahe ya, Mas" Adelia seraya berdiri.
"Boleh. Tapi hati-hati, ya!" Rasya menyetujui serta memberikan perhatiannya agar Adelia untuk berhati-hati.
"Iya, Mas" sahut Adelia dengan mulai melangkah keluar kamar.
Saat ingin menuju dapur. Adelia berpapasan dengan Ariyanti, dan juga Hadi Papa mertuanya.
"Del, tadi ada dua mobil keluar dari halaman rumah kita? ngomong-ngomong itu mobil siapa?" tanya Hadi yang sangat penasaran.
Adelia tersenyum dengan mulai mencari jawaban. Namun, baru saja Adelia akan menjawab. Rasya sudah mendahului menjawab, ia yang datang dan menyusul istrinya.
"Tadi teman-teman aku dan Adelia dulu saat kuliah," sahut Rasya.
Adelia kini tersenyum dengan perasaan lega.
"Oh, teman kalian" Hadi melanjutkan langkahnya kembali begitu dengan Ariyanti.
Keduanya menaiki anak tangga.
Rasya mengernyitkan dahi merasa heran akan kedekatan Ariyanti bersama Papanya.
"Mereka terlihat sangat dekat?" gumam Rasya yang masih bisa terdengar oleh Adelia.
"Mas?" panggil Adelia. Ia kemudian merangkul lengan suaminya seraya mulai berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
Rasya masih terdiam. Kepalanya yang serasa pusing. Kini di tambah rasa penasaran akan kedekatan Ariyanti bersama Hadi papanya. Sehari ini Ariyanti mengikuti Hadi keluar kota.
"Sayang ... apa kamu sependapat denganku, kalau Papa sama wanita itu, terlihat sangat dekat?" Rasya mempertanyakan apa yang ia rasa.
Adelia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Tapi, Mas. Mas jangan dulu berpikiran negatif. Bisa saja kedekatan Papa sama Dia karena merasa di titipin oleh orang tuanya," Adelia memberikan pendapatnya.
Rasya terdiam, "Iya mungkin bisa jadi " sahutnya.
Kini keduanya duduk di kursi meja makan. Lalu Adelia baru menyadari bahwa dirinya mau membuatkan susu jahe untuk suaminya.
"Sayang, kamu. mau kemana?" saat melihat Adelia bangkit dari duduknya.
"Aku lupa Mas. Tadi aku mau buatkan kamu susu jahe," Adelia seraya menghampiri lemari ketchen set. Kemudian ia membukanya dan mengambil kemasan susu jahe yang siap seduh.
Adelia membuka kemasan itu, dan menuangkannya ke dalam gelas cangkir, lalu ia seduh dengan air panas dari termos air.
"Ini, Mas" Adelia menaruh gelas cangkir itu di hadapan suaminya.
Rasya tersenyum dengan mengangguk, "Terima kasih ya Sayang," seraya mengelus pipi Adelia yang mulus.
Adelia menghela nafas, kemudian ia mulai bersuara. "Mas," panggil Adelia ragu-ragu.
"Apa?" jawab Rasya dengan lembut.
"Kita di kamar, Yuk!" ajak Adelia membuat Rasya menatap memicing ke arahnya.
Adelia sungguh malu mendengar kata-kata yang Rasya ucapkan. Sehingga pipinya berubah merona serta memanas.
"Ish ... Mas apaan sih? kok, ke arah sana!" Adelia sambil mencebikkan bibirnya.
Rasya tergelak, "Iya sayang. Memang mau apa di kamar?" tanyanya dengan baik-baik.
"Ada yang akan aku bicarakan. Ini serius dan penting sekali!" ujarnya dengan wajah serius.
Rasya manggut-manggut. "Ayo! tapi, kalau gak bener-bener serius. Aku seriusin kamu, agar mendesah" bisiknya membuat Adelia repleks memukul lengan Rasya.
"Auw sakit sayang ...," ringisnya.
Adelia tidak perduli apa suaminya itu benar-benar kesakitan atau hanya bercanda. Ia langsung pergi melenggang meninggalkan area dapur.
Rasya dengan tersenyum ia menyusuli sang istri. Ikut masuk ke dalam kamar mereka.
"Apa yang akan kamu bicarakan, Sayang?" tanyanya langsung setelah duduk di samping istrinya yang sedang memberengut.
"Gak jadi sekarang. Nanti saja," Adelia dengan memberengut menatap suaminya dengan tajam.
__ADS_1
Rasya terkekeh, "Kamu marah Sayang?" selidiknya.
"Mas harusnya gak usah tanya gitu. Tentu aku marah," Adelia menyahut dengan cepat.
Mood karena hamil membuat ia sedikit sensitif. Bagaimana tidak marah. Adelia ingin mengatakan hal yang serius. Namun, Rasya dengan santai malah menggodanya.
Rasya malah tergelak. Ia merasa gemas jika melihat Adelia yang sedang marah. Merasa lucu dan benar-benar sangat menggemaskan.
"Tuh 'kan, kamu malah ngetawain aku!" tuduhnya. "Ingat, karena Mas sudah membuat aku marah. Maka seminggu Mas gak boleh sentuh-sentuh aku," lanjutnya mengancam. Membuat Rasya yang tergelak menjadi terdiam.
Bagaimana bisa ia tidak menyentuh istrinya seminggu. Sehari saja seakan tangannya dan tubuhnya berubah menjadi tidak bertenaga.
"Sayang ... jangan galak-galak ih," Rasya dengan sengaja memeluk tubuh istrinya dari samping. "Aku itu ketawa karena merasa gemas. Melihat kamu yang marah dengan cemberut, dan pipi kamu yang gembul ini menggemaskan sekali," kelakarnya.
"Jadi dua minggu," sahut Adelia menambah.
"Maksudnya apa Sayang?" Rasya dengan menelan ludahnya dengan susah.
"Mas tadi sudah bilang pipi aku gembul. Aku tidak terima ya," ucapnya.
Oh Tuhan ... apa Rasya salah mengatakan rasa gemasnya. Mood ibu hamil ini menjadi sangat naik turun. Kadang galak, kadang sedih. Rasya menggeleng samar dengan menahan untuk tidak tersenyum.
"Tapi sayang ... mau apapun kamu, mau bagaimanapun kamu. Aku akan tetap mencintai kamu. Dan bahkan seperti kamu sekarang, aku sangat mencintai kamu."
"Aku sekarang bagaimana, Mas?" Adelia bertanya dengan matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya tubuh kamu, sangat seksi sayang ... walau perut kamu membesar," sahut Rasya dengan jujur.
"Tuh, 'kan Mas bilang begitu, itu artinya Mas sudah tidak suka lagi," ucapan Adelia membuat Rasya melotot tidak percaya. Kenapa setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu salah di pendengaran istrinya.
Adelia kini terisak. Membuat Rasya tidak mengerti.
"Sayang ... kenapa setiap aku berbicara dan memuji setiap apa yang ada di dirimu itu selalu salah? aku berbicara apa adanya, aku mencintai kamu," ucap Rasya dengan tegas.
Adelia masih terisak. Entah Adelia terlalu memikirkan apa yang telah ia dengar semalam membuat mood-nya menjadi tidak percaya diri. Bahkan kata-kata pujian dari Rasya seakan kata candaan untuk dirinya.
"Mas mau menikah lagi, kan?" pertanyaan Adelia membuat Rasya bungkam dengan terpaku. Bukan bungkam karena benar. Tapi Rasya tidak percaya istrinya bertanya seperti itu.
"Hei Sayang ... kamu bicara apa?" seraya tubuh Adelia di rengkuh oleh Rasya kedalam pelukannya. Menenangkan sang istri yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Adelia masih terisak dalam pelukan suaminya. Membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Sebenarnya aku gak tahu apa yang tengah ada di pikiran kamu. Tapi, aku mohon beritahu suami mu ini. Apa yang tengah melanda kegundahanmu. Karena aku tahu, kamu sedang tidak baik-baik saja,"
Rasya mengatakannya dengan tegas. Dengan tangannya mengelus punggung sang istri dengan gerakan lembut.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....