
Selamat Membaca.
Pria Tinggi yang Tangan nya penuh Tato itu kembali menghampiri kedai minuman Adelia yang nampak sepi. Ia akan kembali bertugas atas perintah Rima untuk menyingkirkan Adelia. Terlihat Yuda sudah tidak berada di sana, karena memang Yuda harus pergi memotret.
Adelia yang duduk sendiri di Hampiri pria itu. Pria itu seperti sedang merencana kan sesuatu, dengan mulai menyapa Adelia.
"Ekhem... Maaf Mbak. Saya mau pesan kue untuk besok." Kata Pria itu, serasa menemukan sebuah ide di otak nya ketika melihat Kertas yang Adelia Tempel di Dinding papan kedai nya bahwa Adelia menerima pesanan berbagai macam kue.
"Oh ya?. Kue apa Mas?." Tanya Adelia dengan antusias senang merasa ada tambahan uang untuk kehidupan nya.
"Kue untuk ulang tahun Mbak. Untuk keponakan saya yang berumur lima tahun. Apa Mbak bisa untuk hari esok?." Alibi Pria itu menyebutkan pesan kue ulang tahun untuk keponakan nya.
"Tentu saya bisa. Ngomong-ngomong Mau berkarakter atau biasa saja?." Adelia dengan mulai mengambil buku catatan kecil, untuk mencatat kue ulang tahun macam apa yang di pesan pelanggan nya.
"Biasa saja mbak. Nanti mbak sendiri langsung kirim ke alamat ini saja." Pria itu dengan mengeluarkan kertas kecil bertulis alamat yang Adelia nanti datangi yang sudah ia siapkan.
Adelia pun terulur tangan nya untuk mengambil kertas kecil dari tangan pria tersebut.
"Iya besok saya antarkan." Adelia dengan membaca alamat di kertas itu.
Pria itu tersenyum menyeringai. "Kalau begitu saya bayar sekarang. Jadi berapa?." Tanya nya dengan mulai meraih dompet yang berada di dalam saku belakang celana nya.
"Kue Ulang tahun biasa hanya tiga ratus ribu saja mas." Ucap Adelia senang karena pelanggan nya ini mau membayar di muka.
Pria itu pun mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan tiga lembar dari dompet, lalu ia serahkan kepada Adelia. Kemudian Adelia pun menerima uang tersebut dengan tersenyum.
"Terima kasih banyak mas. Saya akan pastikan besok mengantarkan nya tepat waktu." Adelia dengan menyanggupi bisa menyelesaikan hari besok juga.
Pria itu pun undur diri meninggalkan Kedai minuman Adelia. Hari yang memang sudah sore Adelia pun mulai menutup Kedai Minuman nya. Setelah itu menghampiri Rara yang agak jauh tempat nya dari tempat Adelia sekarang.
"Ra. Mau pulang kapan?." Tanya Adelia setelah sampai di tempat Rara yang menjual air kelapa muda.
"Ayo sekarang. Gue juga udah sepi. Terus udah lelah gue dari tadi bukain terus buah kelapa." Kata Rara ingin pulang sekarang juga , dan ia mengeluh telah kelelahan membuka kulit kelapa padahal ia membuka dengan alatnya.
Adelia dan Rara mulai melangkah pergi untuk pulang ke Vila milik Yuda, yang telah seperti milik nya sendiri. Adelia terlebih dahulu masuk kamar, dan bergegas mandi karena badan nya yang terasa lengket. Sedangkan Rara memilih duduk dahulu di tepi ranjang, untuk menunggu Adelia selesai mandi.
...----------------...
Rasya hari ini sedang melakukan perjalanan untuk pulang ke kediaman Ariyanti. Yang memang setelah menikah Rasya pun tinggal di sana. Setelah Tiga bulan lebih lama nya Rasya meninggalkan Ariyanti, ia kini ingin pulang. Rasya sudah berniat untuk ingin mengakhiri Rumah Tangga nya yang tidak pernah Rasya harapkan. Walaupun mungkin nanti akan berdampak setelah nya. Rasya tidak perduli itu, ia kini telah merasa mandiri tanpa bergantung kepada perusahaan Papa nya, karena Rasya yang memang sudah memiliki usaha sendiri walaupun belum terlalu banyak cabang nya. Setidaknya Rasya sudah terlepas dari segala suruhan Papa nya. Bukan Rasya ingin membangkang, namun Rasya ingin mandiri dengan hasil jerih payah nya.
Setelah menghabiskan perjalanan lima jam lama nya. Rasya sekarang sudah sampai di ambang pintu rumah Ariyanti.
Di lihat Jam yang di pergelangan tangan nya, menunjukan pukul 19:00. Rasya mulai memencet bel Rumah depan. Dan tak lama Asisten rumah tangga membuka kan pintu nya dengan tersenyum. Rasya juga ikut tersenyum sebentar untuk menjawab sapaan Art nya itu. Rasya mulai masuk melangkah ke dalam rumah, hingga ketika melewati ruang tengah teriakan Ariyanti yang terkejut atas kedatangan nya menghentikan langkah nya.
"Rasya...." Ariyanti terkejut sekaligus senang melihat suami nya telah pulang. Ia mulai berjalan menghampiri Rasya yang tiga bulan lebih lama nya ia rindukan.
__ADS_1
Rasya hanya memasang wajah biasa saja tidak ada raut wajah merindukan istri nya.
Ariyanti dengan cepat memeluk suami nya. Tanpa Rasya menolak, atau pun membalasnya.
Ariyanti seakan enggan melepaskan tubuh suami nya, karena merasa ini peluang emas Rasya tidak menghindar atau menolak Ariyanti memeluknya.
"Ekhemmm...." Suara deheman dari arah anak tangga membuat Ariyanti melepaskan pelukan nya. Di lihat Pak Rony, dan Bu Alin mertua Rasya tersenyum melihat anak dan menantu nya berpelukan, yang lebih tepat nya Ariyanti yang memeluknya.
Rasya tersenyum dengan menghampiri mertua nya lalu menyalami tangan kedua mertua nya tersebut.
"Kenapa kami baru pulang sekarang?." Tanya Pak Rony kepada Rasya menantu nya.
"Maaf Pak. Terlalu banyak yang belum terselesaikan. Jadi Rasya baru pulang sekarang." Rasya dengan sopan menjawab pertanyaan mertua nya itu.
"Kalau kami tidak masalah. Yang masalah nya istri kamu terus uring-uringan karena merindukan suami nya." Ucap Ibu Alin, sengaja menggoda Ariyanti.
Rasya melirik sekilas ke arah Ariyanti, lalu tersenyum tipis menanggapi ucapan Ibu mertua nya yang menggoda Ariyanti.
"Sudah kamu istirahat dulu sana. Nanti turun untuk makan malam." Suruh Pak Rony mengerti akan menantu nya yang merasa lelah.
Rasya pun mengangguk, dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar nya yang bersama Ariyanti.
Ariyanti mengikuti dari belakang untuk menuju kamar nya juga.
Setelah Rasya sampai di dalam kamar ia cepat membuka sepatu, dan Jas nya.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Rasya menjawab dengan datar. Kemudian mengurungkan niat untuk membuka kemeja di kamar nya. Lalu Rasya meraih baju dari lemari, ia bawa ke dalam kamar mandi. Rasya berniat mandi dan memakainya di dalam kamar mandi.
Ariyanti merasa geram yang sikap Rasya selalu saja datar dan dingin. Ariyanti mencoba menghela napas dengan dalam, ia mencoba Bersabar untuk menghadapi sikap cuek Rasya kepada nya.
Ariyanti mulai duduk di tepi ranjang untuk menunggu Rasya keluar.
Tak lama Rasya pun keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai Pakaian Rumah nya. Ariyanti memandang Rasya terpesona, melihat Rambut Rasya yang sedikit basah, dengan wajah Rasya terlihat fresh walaupun berwajah datar. Rasya melewati Ariyanti tanpa melirik atau menatap nya. Rasya mulai duduk di sofa, yang selalu jadi tempat tidur nya di dalam kamar itu.
"Rasya, mau sampai kapan kamu akan seperti ini kepada ku?." Ariyanti yang sudah kehilangan ke sabaran nya, mulai menanyakan akan sikap Rasya yang selalu seperti itu, cuek, dingin dan datar.
Rasya menatap dengan tajam ke arah Ariyanti. Seperti memberikan jawaban akan selama nya seperti itu.
"Rasya, kesabaran ku sudah di ambang kebatasan. Aku lelah, aku capek, aku tertekan. Aku selalu bersikap di hadapan orang-orang seperti biasa saja. Padahal aku ini tersakiti. Aku tidak pernah merasakan rumah tangga selayaknya orang lain. Yang pertama menikah merasakan malam pertama, bulan madu, dan bermesraan. Ini tidak bagi ku. Huuuu....." Ariyanti meluapkan emosinya, dan menangis. Ariyanti dengan mengatakan rentetan segala yang ada di benak nya. Rasya pun terdiam mendengarkan apa yang Ariyanti luapkan.
Setelah tidak terdengar kata-kata lagi dari Ariyanti. Rasya mulai bersuara.
"Aku juga sama tertekan. Pernikahan ini aku setujui tidak lebih untuk menuruti orang tua ku. Maka kamu jangan pernah mengharapkan lebih dari ku. Jika kamu merasa tersakiti, ayo kita akhiri semua nya. Agar aku dan kamu tidak akan selalu tertekan." Rasya berucap dengan menatap tajam Ariyanti.
Ariyanti menggeleng-gelengkan kepala nya, tanda ia tidak mau mengakhiri pernikahan nya. Karena bagaimana pun Ariyanti sangat mencintai Rasya suaminya.
__ADS_1
"Tidak Rasya. Aku tidak mau. Aku tidak mau mengakhiri nya." Ariyanti tidak mau kehilangan Rasya.
"Walaupun menderita bersama ku?." Tanya Rasya dengan cepat.
"Iya. Aku tidak mau berakhir Rasya." Ariyanti tetap ingin bertahan.
Rasya menyeringai, dengan tangan nya ia sedekapkan di dada.
"Aku akan mengakhiri nya Ariyanti. Aku akan membebaskan mu untuk mencari seseorang yang benar-benar mencintai mu. Aku tidak mau terlalu lama menyakiti mu karena sikap ku. Sungguh Aku tidak ada sedikit pun rasa kepada mu. Hanya ada raksa keterpaksaan di benak ku." Rasya menghela napas serasa lega telah mengatakan ke inginan nya.
Tidak dengan Ariyanti. Dada Ariyanti bagai di tusuk ribuan jarum, sungguh kata-kata Rasya menyakiti hatinya. Bagaimana tidak Rasya akan mengakhiri pernikahan nya, dan dengan gampang ia akan membebaskan Ariyanti untuk menemukan seseorang yang akan mencintainya, justru Ariyanti sendiri sangat mencintai Rasya suami nya.
Hening.
Rasya yang merasa sudah ada pembicaraan yang lain lagi dengan Ariyanti, ia melangkah untuk keluar kamar. Tiba-tiba Ariyanti. bersuara kembali setelah keadaan lumyan lama hening.
"Ok Baiklah jika itu ke inginan mu. Namun aku pastikan kamu tidak akan kembali kepada wanita itu. Karena Wanita itu telah Meninggal." Ariyanti merasa tidak bisa meneruskan pernikahan nya, dan Ariyanti merasa lega karena yang di anggap penghalang Ariyanti telah tiada yaitu Adelia. Sehingga kemungkinan suatu saat Rasya akan bisa rujuk kembali kepada dirinya. Itu pemikiran Ariyanti.
Rasya yang sudah memegang handle pintu terhenti mematung. Seperti teringat kembali akan Adelia yang sudah tiada.. Rasa sedih menyeruak kembali dalam benak Rasya.
Aku sudah mengetahui nya.
Aku sudah tahu.
Ucap Rasya di dalam hati. Lalu ia meneruskan niat nya untuk membuka handle pintu itu untuk keluar.
Ariyanti yang menunggu respon Rasya yang telah mengatakan Adelia telah meninggal, tidak memberikan respon apapun dari Rasya.
Ariyanti pun berpikiran mungkin Rasya sudah tidak mencintai Adelia. Atau mungkin Rasya sudah mengetahui nya.
...Bersambung....
Readers.... Tolong bantu Like sama Vote nya ya.
Dan berikan komentar positif agar Author bersemangat meneruskan cerita halu nya.
Ini Rasya sedang menatap dengan wajah dingin nya.
Bagaiman Readers meleleh tidak melihat wajah Rasya?
.
.
__ADS_1
😍😍😍