
"Bi, apa Ayah sudah pulang?" tanya Dido kepada Bi Sumi pelayan di rumahnya dengan menggandeng tangan Serly.
"Belum, Den ... Bapak 'kan baru tadi pagi berangkatnya,"
Bi Sumi menjawab pertanyaan Dido dengan memperhatikan gadis yang Dido gandeng tersebut.
Dido mengangguk, "Bi maaf tolong antarin Serly ke kamar aku. Aku mau ke depan dulu sebentar," kata Dido dengan menatap Serly yang seperti sudah sangat kepanasan akan efek obat perangkap Rindu.
"Boleh, ayo Non! bibi antar ke kamar Den Dido," ucap Bi Sumi dengan mulai berjalan mendahului Serly.
Serly menatap Dido, "Jangan tinggalin aku!" ucapnya dengan suara parau.
Dido tersenyum, "Iya. Kamu tunggu saja di kamar ku, aku mau ke depan dulu," Dido mengusap pipi Serly yang sudah memerah karena menahan gairah.
Serly mengangguk, dan kemudian mengikuti langkah Bi Sumi.
Dido menatap kepergian Serly. Dido bingung harus bagaimana untuk menghadapi Serly yang sudah penuh gairah. Bahkan tadi saat di atas motor saja, Serly memeluk Dido dengan erat tidak seperti biasanya, yang enggan untuk menyentuh Dido.
Dido keluar rumah menghampiri sebuah Mini Market yang tidak jauh dari rumahnya. Dido berniat membeli benda pengaman, jaga-jaga takut terjadi sesuatu antara dirinya nanti jika bersama Serly yang sedang bergairah. Di tambah membeli obat demam, karena Dido mengingat bahwa Serly sejak tadi memakai pakaian basah.
Selang beberapa menit Dido pulang ke rumah. Bi Sumi tidak terlihat di ruangan dapur saat Dido mengambil air minum.
"Bi Sumi kemana ya?" tanya Dido sendiri.
Dido beranjak dari dapur untuk melangkah ke arah kamarnya. Namun, terdengar Bi Sumi memanggil namanya dari arah kolam renang.
"Den, tunggu!"
Dido menoleh, "Ada apa bi?" jawabnya.
"Den, karena Aden sudah pulang. Bibi ijin pulang sekarang ya, kebetulan anak Bibi si Intan sedang sakit. Bibi merasa khawatir sebenarnya sejak tadi," Bi Sumi meminta ijin di waktu siang, biasanya ia pulang setelah magribh.
"Ya boleh bi. Semoga anak Bibi cepat sembuh ya," kata Dido kemudian merogoh dompet yang berada di dalam saku celananya, ia mengambil uang berwarna merah beberapa lembar, "Ini untuk berobat anak bibi. Terimalah!" Dido menyerahkan uang tersebut kepada Bi Sumi.
"Duh Den, gak usah bibi gak enak. Aden sudah terlalu banyak membantu bibi," kata Bi Sumi menolak.
"Bi, aku ikhlas bantu bibi. Ambil ya!" Dido tidak menerima di tolak Bi Sumi.
Bi Sumi akhirnya menerima uang pemberian Dido.
"Terima kasih banyak ya, Den!"
"Iya bi sama-sama." Dido berucap dengan tersenyum.
"Eh, Den pacarnya cantik" ucap Bi Sumi. Bi Sumi sempat heran, baru kali ini Dido membawa seorang gadis ke dalam rumahnya selama ia bekerja, walau dari pagi sampai sore.
"Iya, Bi" Dido menanggapi dengan tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu bibi pamit ya Den."
Dido mengangguk. Kemudian mengunci pintu utama setelah Bi Sumi pergi.
Dido menarik nafas sebelum melangkah ke dalam kamar, ia memperhatikan kantong kresek yang ia bawa.
Cekrek!!
__ADS_1
Dido membuka pintu kamarnya. Menatap sekeliling kamar tidak mendapat gadisnya yang ia bawa.
"Serly dimana?" Dido dengan melangkah masuk ke dalam kamar.
Terdengar gemercik suara air dari dalam kamar mandi. Membuat Dido melotot takut terjadi sesuatu kepada gadis tersebut.
"Serly, sudah jangan membasahi tubuhmu terus!" pekik Dido di balik pintu kamar mandi.
Suara air dari dalam kamar mandi terhenti. Serly melangkah dan membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Aku kepanasan kak, aku gerah!" ucap Serly dengan nafas yang memburu.
Dido menelan saliva saat menatap kemeja Serly yang sudah basah memperlihatkan bra warna hitam dari dalam kemejanya. Dido kemudian memfokuskan menatap wajah Serly.
"Kamu ganti baju ya. Kamu sudah basah kuyup sedari tadi," kata Dido memberikan saran agar Serly mengganti baju basah yang di kenakannya.
Serly tersenyum kemudian melangkah mendekati Dido. Di pandangan Serly wajah Dido berubah menjadi wajah Aldi.
"Kak," suara parau Serly. Tangannya menyentuh dada bidang Dido.
Dido menggeleng, ia tidak mau sesuatu sampai terjadi walau dirinya sudah berjaga-jaga dengan membeli benda pengaman, namun Dido tetap tidak menginginkan sesuatu tersebut terjadi.
"Kak Aldi," kata Serly.
Deg!!
Dido melotot kaget. Bisa-bisanya Serly memanggil dirinya dengan nama lain. Apa pengaruh obat tersebut sudah semakin parah. Dido masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak, aku mencintaimu. Aku tidak kuat kak, aku ingin--" Serly menggigit bibir bawahnya tidak meneruskan ucapannya.
Deg!!
Dido menghiraukan Serly, ia menunduk menatap lantai. Hatinya merasa perih setelah mendengarkan ucapan Serly yang mencintai pria lain.
Serly mendekati Dido, kemudian meraih tangan Dido,dan mengecup punggung tangan Dido, tanpa Dido duga.
Dido menatap Serly dengan tatapan kecewa. Dido tahu Serly sudah menganggap dirinya adalah pria yang di cintai Serly.
"Kak," Serly menatap Dido dengan tatapan sayu. Tatapan itu sudah menunjukkan bahwa Serly sudah sangat bergairah.
Dido menatap Serly dengan dada yang terasa sesak. "Ganti ya bajunya, lihat kamu sudah sangat basah. Nanti kamu sakit!" dengan tangannya yang masih di pegang Serly.
Serly tersenyum dengan mengangguk.
Dido melepaskan tangannya yang Serly genggam. Kemudian melangkah menuju lemari pakaiannya. Memilih baju kaos panjang serta celana training. Lalu menutup kembali pintu lemari.
Namun saat Dido membalikkan badan untuk menyerahkan baju ganti untuk Serly. Dido di suguhkan dengan Serly yang sudah tidak memakai pakaiannya hanya dua penutup di area pribadinya.
"Kenapa kamu membuka baju di sini? ayo cepat ganti dengan ini," Dido menoleh ke arah lain saat menyerahkan baju ganti untuk Serly.
Serly tidak meraih baju tersebut, namun malah memeluk Dido dengan erat.
"Astaga!!" pekik Dido di dalam hati.
"Kak, aku ingin di sentuh!" bisik Serly seperti seorang wanita yang suka menggoda para pria untuk menidurinya.
__ADS_1
Dido tercengang beserta gugup. "Tidak. A-aku tidak ingin menyentuh kamu, ka-kamu dalam keadaan tidak sadar."
"Aku yang menginginkan nya, aku sangat sadar. Aku tidak bisa menahan rasa ini," kata Serly dengan masih mendekap tubuh Dido.
"Kamu pasti akan menyesal!" Dido memperingati.
Serly menggeleng, "Tolong aku. Aku ingin menghilangkan rasa ini," katanya.
"Kamu sadar yang kamu peluk ini siapa?" Dido dengan merasakan pelukan Serly sudah membuat juniornya berdiri. Dalam keadaan hanya memakai dua benda yang menempel di tubuh Serly. Pelukan Serly seakan kedua benda yang terhalang tersebut menempel pada tubuhnya.
Serly mendongak, "Kak Dido," ucapnya.
Dido tercengang. Tadi dirinya di panggil nama lain. Sekarang namanya di panggil. Apa mungkin wajahnya terlihat bergantian di pandangan Serly.
"Ganti bajunya! atau kakak yang gantiin?" Dido tidak mau menanggapi kata-kata Serly yang meminta dirinya untuk menyentuh tubuhnya.
Serly menggeleng. "Aku gerah," kini tangan Serly memainkan dada bidang Dido.
Dido memejamkan kedua matanya. Tentu sentuhan tangan Serly membuat dirinya sedikit goyah. Namun, Dido kembali berpikir. Tidak mungkin melakukan tersebut dalam keadaan Serly yang tidak sadarkan diri akibat obat perangsang yang di perbuat Rindu.
"Kak," Serly kini mendekatkan wajahnya kepada wajah Dido yang matanya sedang terpejam.
Lagi-lagi Dido terkejut. Bibirnya telah di sentuh oleh bibir lembut Serly. Walau Serly hanya menempelkan bibirnya, tapi sentuhan bibir tersebut telah menyalakan percikan api gairah di dalam diri Dido.
Dido akhirnya menggerakkan bibirnya. Memberikan pergerakan hingga bibir tersebut tidak hanya menempel. Namun menjadi bertaut.
Serly dengan penuh gairah menerima pergerakan bibirnya.
Tangannya di kalungkan ke leher Dido. Dengan kedua mata masing-masing saling terpejam. Baju yang sedari Dido pegang akhirnya terjatuh. Tangannya kini memeluk pinggang Serly yang tidak terhalang kain penutup. Semakin menumbuhkan percikan api gairah dalam dirinya.
Dido melepaskan tautan bibirnya. Kemudian menatap Serly dengan tatapan sayu.
"Kamu jangan menyesal ya?!"
Serly mengangguk.
"Coba sebut siapa pria yang bersama mu ini?" Dido ingin memastikan kembali.
"Kak Dido," Serly dengan tersenyum.
Dido akhirnya menuntun Serly untuk berbaring di atas ranjang king size-nya. Namun, sebelum melakukan lebih jauh. Dido menyalakan fitur kamera Video dari ponselnya. Dido sengaja merekam kegiatan yang akan di lakukannya. Walau di kamar tersebut sudah terpasang cctv. Tapi Dido ingin mendokumentasikan untuk memperlihatkan kepada Serly saat nanti sadar. Bahwa dirinya tidak memanfaatkan keadaan.
"Kakak ayo!" Serly sepertinya sudah tidak sabaran. Bahkan suaranya dan wajahnya sudah terekam jelas.
Dido menoleh dengan tersenyum.
"Kamu jangan menyesal setelah ini!"
"Tidak. Aku tidak akan menyesal. Aku ingin kakak cepat memulainya!" Serly dengan cepat menarik tubuh Dido. Hingga tubuh Dido terjatuh di atas tubuhnya.
"Baiklah. Ini kamu yang minta. Namun, walau kamu yang minta. Kakak akan mempertanggung jawabkan semuanya. Kakak akan menikahimu,"
Serly mengangguk dengan tersenyum.
Kemudian terjadilah hal yang selama Dido hindari. Walau Dido tetap menolak. Dido akhirnya melakukan permintaan Serly. Tentu karena rasa cinta pada diri Dido, sehingga sentuhan dan tatapan Serly membuat percikan api gairah membara.
__ADS_1
...***...