You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 191.


__ADS_3

Adelia dan Rasya kini berada di dalam kamar. Mereka berdua meninggalkan meja makan lebih cepat, tentu itu karena keinginan Rasya. Adelia yang sedang duduk di sofa terdiam. Berpikir kenapa ia tidak tahu bahwa Ariyanti kini berada di rumah Rasya.


"Mas, kenapa wanita itu ada di sini?" celetuk Adelia bertanya. Membuat Rasya yang akan masuk kedalam kamar mandi terhenti.


Rasya membalikkan tubuhnya untuk menatap istri tercinta, "Ariyanti, maksud kamu?" jawab Rasya dengan bertanya.


"Aku tidak tahu namanya siapa. Yang jelas wanita itu yang tadi ikut sarapan bersama!" jelas Adelia.


Rasya tersenyum, lalu duduk di sebelah Adelia. "Dia akan tinggal di rumah ini untuk sementara waktu. Kedua orang tuanya menitipkan ke Mama sama Papa. Karena orang tuanya sedang pergi ke Thailand untuk mengurus perusahaannya. Dan dia juga akan bekerja di perusahaan Papa," tutur Rasya menjelaskan sesuai yang ada. Hanya saja Rasya tidak mengatakan bahwa Ariyanti adalah mantan istrinya, karena Rasya tidak mau kalau Adelia sampai banyak pikiran karena sedang hamil, dan yang kedua karena amnesia.


"Oh begitu ya, Mas. Ya sudah, kalau Mas mau mandi, pergi sana!"


Rasya menggeleng. Membuat Adelia bertanya. "Loh, kok enggak. Bukannya, tadi Mas mau mandi?"


"Iya asalnya aku mau mandi. Tapi karena kamu bertanya aku gak jadi,"


"Terus?" Adelia bertanya dengan menautkan kedua alisnya.


"Ya tidak semudah itu kamu mendapat jawaban. Kasih imbalannya dong!" rajuk Rasya.


Adelia membelai pipi Rasya, "Suami tampanku ini, mau imbalan apa?" goda Adelia ia sengaja melayani gurauan Rasya.


Rasya tersenyum senang karena di puji istri cantiknya, "Kiss atau apa ya?" Rasya mencoba berpikir.


Cup


Adelia mencium bibir Rasya sekilas. Membuat Rasya tersenyum nakal.


"Itu cuman cukup untuk satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan kamu banyak tadi," goda Rasya.


"Ish ... kamu itu Mas. Mas saja yang menjawab secara detail. Aku hanya memberikan pertanyaan hanya satu kok,"


"Iya. Tapi tetap sa--"


Adelia langsung membungkam mulut Rasya dengan bibirnya. Memberikan lu**tan hingga Rasya terbuai akan cumbuan yang di berikan istrinya itu. Membuat Rasya membalas dengan tidak kalah menggairahkannya.


Setelah merasa tidak ada pasokan oksigen pada keduanya. Rasya melepaskan tautannya.


"Mas, sudah sana mandi," ucap Adelia dengan tersengal.


Rasya menggeleng, "Aku akan mandi tapi sama kamu," ujarnya dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


"Enggak ah ... nanti bukan mandi kalau bareng Mas," tolak Adelia.


"Ya sudah. Kalau gitu, aku tidak akan mandi hari ini," rajuk Rasya.


Adelia menggeleng-gelengkan kepala. Merasa bingung, dan aneh terhadap suaminya. Yang tidak pernah puas akan masalah ranjang. Bukannya semalam sudah melakukannya. Tapi Rasya pagi ini sudah memintanya kembali.


"Mas ... ingat gak, tadi Papa nyuruh kamu ajak aku jalan-jalan?" Adelia sengaja mengalihkan.


"Ingat," sahut Rasya.

__ADS_1


"Ayo cepetan Mas, aku gak sabar ingin keluar rumah," ujar Adelia dengan antusias.


"Ya sudah ayo kita berangkat," ucap Rasya enteng.


"Tapi aku dan kamu belum mandi, Mas" Adelia dengan memindai penampilan dirinya dan juga suaminya. Adelia masih memakai daster yang semalam Rasya pilihkan, dan Rasya masih memakai kaos dan celana pendeknya.


"Resikonya itu. Sekarang kamu pilih mau jalan-jalan dengan mandi dulu bareng aku, atau jalan-jalan dengan penampilan seperti ini?" Rasya mengajukan pertanyaan konyol, seraya tersenyum nakal andalannya.


Adelia menghembuskan nafas dengan kasar. Tanpa menjawab pertanyaan konyol dari suaminya, ia langsung menarik tangan Rasya ke dalam kamar mandi. Membuat Rasya tersenyum dengan penuh kemenangan.


***


Sementara itu Ariyanti mencoba mengakrabkan diri dengan penghuni rumah lainnya. Ia sengaja ingin mendekati Rara dan Serly, yang kini tengah duduk di bangku taman belakang.


"Boleh aku ikut gabung?" tanya Ariyanti dengan tersenyum ramah kepada Rara dan Serly.


"Boleh. Silahkan duduk, Kak Ariyanti" sahut Serly. Sedangkan Rara hanya tersenyum dengan mengangguk.


Ariyanti ingin menanyakan sesuatu yang selama ini menghantui pikirannya. Yaitu tentang Adelia dan Rara yang masih hidup, padahal sebelumnya telah dinyatakan meninggal saat Ruko Adelia terbakar.


"Em ... Ra. Boleh aku bertanya?" Ariyanti basa-basi.


"Sudah ku tebak. Dia pasti akan bertanya sesuatu kepadaku, tapi belum aku tahu apa yang akan dia tanyakan?" Rara berbicara di dalam hatinya seraya mengangguk mengiyakan Ariyanti yang bertanya.


Sementara Serly, diam mendengarkan apa yang akan Ariyanti tanyakan.


"Maaf ya Ra. Aku hanya ingin tahu saja. Soalnya aku penasaran banget. Bukannya, kamu dan Adelia sudah di kabarkan meninggal. Lalu kalian ternyata masih hidup. Bagaimana ceritanya?" Ariyanti memasang wajah yang seramah mungkin.


"Begitu ya? Tapi syukur ya. Kalian masih selamat, aku senang bisa bertemu lagi." Tentu Ariyanti bersandiwara, memasang wajah yang begitu ramah.


"Iya Ariyanti," sahut Rara singkat. Rara membalas senyuman yang sedari tadi Ariyanti sunggingkan kepadanya.


"Tapi Ra ... kenapa Adelia seperti tidak mengenali ku, ya?" Ariyanti bertanya kembali.


Rara menatap ke arah Serly terlebih dahulu. Serly yang di tatap menggeleng. Entah apa yang di maksud Serly, membuat Rara tidak mengerti.


"Oh itu karena Ad--"


"Ra ... sini dulu, Nak!!" teriak Lia dari ambang pintu dapur. Membuat Rara tidak meneruskan ucapannya.


"Maaf ya, Ariyanti. Aku di panggil Tante Lia," ucap Rara dengan langsung berdiri dan melangkah menghampiri Lia.


Kini tinggal Ariyanti bersama Serly. Serly duduk dengan anteng bermain ponsel, tanpa tahu bahwa kini ia terduduk bersama Ariyanti.


"Ser ... kamu mau jalan-jalan?" tanya Ariyanti. Tentu ajakannya, agar ia dapat dekat dengan Serly. Dan setelah dekat, Ariyanti akan mengambil hati Serly agar berpihak kepadanya.


"Kakak ngajak Serly?" jawab Serly dengan bertanya.


"Iya. Itu juga kalau kamu mau,"


"Boleh Kak. Ayo!"

__ADS_1


Serly langsung berdiri dan menggandeng tangan Ariyanti. Membuat Ariyanti tersenyum penuh kemenangan. Keduanya kini masuk ke dalam rumah melewati area dapur terlebih dahulu.


"Eh, Ser ... Yanti, "sapa Lia. Lia dan Rara seperti sedang mencatat sesuatu. Terlihat Rara yang memegang ballpoin serta kertas di tangannya.


"Iya Ma ...," sapa Serly.


"Iya Tante," sapa Ariyanti


"Kalian antar Rara belanja ya, sekalian boleh kalian jalan-jalan terlebih dahulu," ujar Lia.


"Emang kita mau jalan-jalan, Ma" sahut Serly.


"Iya Tante. Ayo Ra, kita sekalian jalan-jalan" ucap Ariyanti. Menjawab Lia terlebih dahulu lalu mengajak Rara.


"Ya sudah kalian hati-hati, ya" ujar Lia berpesan.


Setelah Rara selesai mencatat keperluan yang harus ia beli. Rara, Serly, dan juga Ariyanti melangkah bergegas ke halaman rumah. Dan tepat saat mereka bertiga keluar. Adelia dan Rasya baru saja keluar kamar.


Adelia dan Rasya sudah berpenampilan dengan gaya casual masing-masing. Sehingga menambah kecantikan pada wajah Adelia dan menambah ketampanan bagi Rasya.


"Kalian baru mau berangkat?" tanya Lia seraya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 siang.


Adelia tersenyum, "Iya Ma," sahut Adelia.


"Memang kenapa gitu, Ma?" Rasya bertanya, karena merasa heran akan pertanyaan Lia.


"Enggak ada apa-apa. Mama kira tadi kamu setelah sarapan, mandi dan langsung keluar. Eh ternyata kalian baru saja keluar kamar," seloroh Lia.


Rasya tersenyum kikuk, tentu karena tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya. Ya. Rasya dan Adelia bertempur dulu di dalam kamar mandi sesuai permintaan Rasya. Membuat waktu semakin tidak terasa berputar.


Rasya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Tadi, kami mandi mengantri Ma. Bukan begitu, Sayang?" Rasya dengan tersenyum memberikan kode kepada Adelia.


"Iya Ma. Tadi kami mandi bersama. Eh .. eh maksudnya, tadi kami mandi mengantri," ujar Adelia keceplosan dan meralat ucapannya.


Lia yang tahu betul gelagat anak dan menantunya, ia tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ingat Sya ... istrimu jangan terus kamu forsir. Kasihan bayi yang ada dalam kandungan, baru saja empat bulan lebih, kasih jaraklah jangan siang malam kamu tengok," celetuk Lia menggoda anak dan menantunya.


Sehingga Adelia menunduk menahan malu, begitupun Rasya ia tersenyum dengan kikuk, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


...***...


...Bersambung....


Semangati Authornya dong! kasih, bunga atau kopi gitu, biar semangat menghalu untuk episode selanjutnya!! πŸ˜‰πŸ˜„


Dan terima kasih untuk Readers tercinta yang setia terus membaca karya author ini. Semoga sehat selalu, ya Readers!! 😘


Maaf jika karya author ini, masih banyak kesalahan dan kekurangan nya!!. πŸ™πŸ™


Salam dari Adelia ❀Rasya.

__ADS_1


__ADS_2