You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 192.


__ADS_3

Di Kediaman Albian Syaputra...


Pria tampan dengan perawakan tinggi baru saja melakukan renang, di kolam renang miliknya yang berada di lantai dua. Ia baru saja mengeringkan tubuhnya dan membalut tubuh atletisnya itu menggunakan handuk kimono.


Suara deringan dari ponsel yang ia taruh di meja pinggir kolam, mengalihkan perhatian. Ia terus berjalan dan mendekati benda pipih itu untuk ia raih. Saat menatap nama yang meneleponnya ia mendesah prustasi. Kata-kata, dan ucapan harus ia rangkai terlebih dahulu, agar bisa berbicara dengan jelas dan lancar kepada Hera, Mamanya itu.


"Hallo, Ma ...," sapa Albi setelah menekan tanda panggilan hijau.


"Albi ... bagaimana kabarmu, dan istrimu itu, Nak? dan kenapa belum juga kamu bawa, ke kediaman Mama?"


Benar dugaan Albi. Ia sudah berpikir bahwa Mamanya akan menanyakan hal itu kepada dirinya, yang selama ini ia di tunggu kedatangannya oleh keluarga besarnya yang berada di Kota M.


"Maaf, Ma. Em ... akhir-akhir ini pekerjaan Albi sedang sibuk-sibuknya, dan juga keadaan Arumi harus bedres, karena kandungannya yang sangat lemah. Jadi dia tidak bisa di ajak pergi jauh-jauh," tutur Albi ia merasa lega setelah memilih kata-kata yang tepat untuk menunjang kebohongannya.


"Ya Ampun. Kasihan sekali Arumi. Dan kenapa kamu tidak kasih tahu Mama, jika Arumi keadaannya seperti itu?" pekik Hera dari seberang telepon.


Lagi-lagi Albi harus mencari kata-kata, walau dari lubuk hatinya rasa bersalah dan rasa dosa menyelimuti. Tapi, Ia tidak akan mengatakan yang sesungguhnya. Karena Albi takut sakit jantung Hera akan kambuh, sebab ulah kebohongannya.


"Maaf Ma. Maaf sekali lagi. Jadi Albi tidak mau Mama sampai mengkhawatirkan Arumi di sana. Jadi Albi tidak memberitahukannya kepada Mama. Jadi Mama tenang ya, Arumi baik-baik saja kok," Alasan Albi dan berupaya menenangkan sang Mama.


"Mama besok akan datang ke kota J. Mama akan menjenguk dan menyemangati menantu wanita Mama satu-satunya itu," ujar Hera. Dan membuat Albi menelan salivanya dengan susah.


Albi menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak mau sampai Mamanya datang. Dalam keadaan rumah yang tidak nampak kehadiran Arumi, pasti akan lebih runyam lagi pertanyaan dari Mamanya, yang harus Albi jawab.


"Ma, tidak perlu ke sini! lebih baik Mama doakan saja dari sana, agar keadaan Arumi baik-baik saja. Albi tidak mau sampai Mama kecapek-an dan akhirnya kondisi Mama jadi drop. Albi Mohon Ma ...," cegah Albi dengan nada lirih pada akhir ucapannya.


"Mama baik-baik saja Albi. Mama sehat kok. Justru Mama akan drop kalau Mama di sini sampai banyak pikiran, karena mengkhawatirkan Arumi di sana. Besok Mama akan datang. Jangan cegah kedatangan Mama, Ok! Bye Albi"


Tutt ... Hera langsung menutup sambungan teleponnya. Hingga Albi menjadi prustasi.


"Astaga ... bagaimana ini?" gumam Albi. Ia terduduk di kursi pinggir kolam, dengan menyugarkan rambut hitam tebalnya.


Secara bersamaan Dirga dan Arman datang dari arah tangga. Keduanya menatap ke arah Albi yang sedang prustasi.

__ADS_1


"Bro ... wajahmu kenapa muram begitu?" celetuk Dirga yang mendekati Albi.


Albi terdiam. Ia menghela nafas dengan panjang. "Dirga, Arman ... Mama ku akan datang besok, bagaimana ini?!" pekiknya.


"Bagaimana apa maksudnya? ya tinggal sambut saja, kedatangan Tante Hera besok" sahut Arman dengan santai.


Albi menatap tajam ke arah Arman, "Bisa-bisanya, kamu berucap santai seperti itu? kamu lupa, saran gila yang kamu berikan?!" pekik Albi.


Arman langsung teringat, akan ide gilanya yang di berikan kepada Albi. "Gawat Bos! bagaimana dong, Arumi tidak ada di rumah?!" Arman kini berwajah panik.


"Justru itu, makanya aku bingung dan gak bisa kedatangan Mama hari esok!" sahut Albi.


Dirga seperti tengah berpikir, ia terdiam dan mencari akal. "Bro, bagaimana kalau kita menyewa orang?" saran Dirga.


"Nyewa orang untuk apa, Lu?" Albi menatap tajam.


"Maksud gue gini. Bukannya, suami Arumi masuk ke dalam rumah Lu, tanpa kita curigai karena dia berwajah seperti wanita pada umumnya. Berarti, kita juga bisa dong. Nyewa orang, terus pakaikan topeng sesuai wajah Arumi, bagaimana?" Dirga menyarankan untuk menyewa orang, dan orang itu memakai topeng sesuai wajah Arumi. Tentu Dirga akan membuatnya terlebih dahulu, kepada pengrajin topeng karet yang bisa di pesan sesuai wajah yang kita inginkan.


"Kita kasih imbalan yang besar, agar pengrajin topeng itu mau menyelesaikan pesanan kita dalam waktu singkat. Bagaimana?" ujar Dirga.


"Ok! aku serahkan semuanya pada kalian. Tapi, ingat waktu kita gak banyak. Mama akan datang hari esok!" Albi menyerahkan semuanya kepada Dirga dan Arman.


"Tentu. Bos tenang saja!" ucap Dirga menenangkan.


Albi berlalu begitu saja dari hadapan Arman dan Dirga. Ia akan memakai pakaiannya terlebih dahulu. Dan kini Albi merasa agak tenang, karena urusan tentang kebohongannya sudah di serahkan kepada Dirga dan Arman.


Albi dengan gerak cepat, sudah memakai pakaiannya. Ia kembali keluar dari kamar dan sudah di sambut oleh kedua temannya.


"Bos, pengrajin topeng itu berada di Mall pusat kota. Bagaimana kalau kita pergi ke sana, dan datangi secara langsung?" tutur Dirga. Yang sudah menemukan koneksi pengrajin topeng yang berada di kota J.


Albi mengangguk. Mengiyakan ajakan Dirga. Dan ketiga pria tampan itu akhirnya berlalu keluar rumah. Menghampiri mobil Mewah yang tentu pemiliknya adalah Albian. Dengan Arman yang selalu menjadi pengemudi.


Ketiganya kini sudah berada di dalam mobil. Arman mulai melajukan mobilnya, dan di bukakan gerbang pagar oleh Tono dan Budi terlebih dahulu. Kemudian mobil itu melenggang menuju Mall pusat kota yang megah, dan luas.

__ADS_1


Tidak berselang lama. Ketiga pemuda tampan itu keluar dengan cepat bergegas menuju outlet pengrajin topeng karet. Namun, saat ketiganya berjalan. Mereka dengan jelas bisa melihat keberadaan sepasang suami istri yang tengah duduk di sebuah cafe yang berada di dalam Mall tersebut.


Albi, Dirga ,dan Arman serempak saling pandang. Seperti mendapatkan ide cemerlang. Akan ada sesuatu yang akan Dirga lakukan setelah melihat keberadaan Arumi di Mall itu.


"Arman, bagaimana kalau kamu buntuti si Arumi itu?" Dirga memberikan perintah kepada Arman.


"Maksud Lu, gue harus culik si Arumi?" dengan berbisik Arman bertanya kepada Dirga.


Sedangkan Albi terus menatap ke arah wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta. Ia merasa senang walau bisa menatap Adelia secara dari kejauhan.


"Ya, kalau gak bisa Lu ajak baik-baik. Terserah Lu mau di culik juga. Tapi, kalau bisa elu jangan sampai menculik, karena suaminya pasti sudah tahu siapa pelakunya. Yang penting tugas Lu, bawa Arumi ke outlet pengrajin topeng itu, gue dan si bos tunggu di sana," ujar Dirga.


"Oh, gue ngerti. Elu mau memperlihatkan langsung wajah Arumi, ke pengrajin itu?" tebak Arman.


"Benar. Elu pintar juga. Ya sudah, gue nunggu di outlet ya!"


Dirga langsung menarik tangan Albi. Membuat Albi merasa bingung.


"Kenapa Lu tarik tangan gue?"


"Bos kita harus cepat ke outlet pengrajin topeng itu. Waktu kita gak banyak,"


"Terus Arman mana?" Albi dengan clingak-clinguk mencari keberadaan Arman.


"Arman sedang bertugas. Nanti bos juga akan tahu," sahut Dirga.


Albi pun tidak merespon, ia terus berjalan sejajar dengan Dirga yang akan membawanya ke outlet Pengrajin topeng.


...***...


...Bersambung....


Jangan Lupa Like dan Comment!!!

__ADS_1


__ADS_2