
Di Kediaman Albi...
Adelia sudah berbaring di ranjang dengan memejamkan kedua matanya. Sebelumnya Adelia sudah makan malam bersama Albi dengan terus berdiam tanpa bersuara. Hingga Adelia sekarang benar-benar tertidur. Dengan posisi memunggungi Albi. Karena Adelia masih kesal kepada Albi yang tidak mengijinkannya untuk pergi ke Cafe untuk melihat penampilan penyanyi pria yang sedang viral itu.
Sedangkan Albi masih terduduk dengan bersandar di atas ranjang. Albi menatap Adelia yang memunggunginya. Albi bingung karena Adelia sedari tadi saat makan sampai sekarang Adelia mendiamkannya.
Albi pun memilih keluar dari kamar, dan bergegas menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua, yang dimana kedua temannya Arman dan Dirga berada.
"Ada angin apa Bos datang ke sini?" tanya Dirga saat Albi menghampiri dan duduk di Balkon bersama Dirga dan Arman.
"Iya aneh biasanya kan, ngelonin si Arumi?!" timpal Arman.
Memang benar setelah adanya Adelia hadir, dan tinggal di rumah Albi. Albi jarang menemui kedua temannya di lantai atas saat berada di rumah.
"Terserah gue!!" jawab Albi dengan dingin.
Dirga dan Arman saling pandang seperti saling bertanya. Karena merasa ada sesuatu pada Bos nya itu yang berubah dingin.
"Bos, elu ada masalah?" kini tanya Dirga.
"Gak ada," sahut Albi datar.
"Oh gak ada ya??" ucap Arman.
Albi terdiam dengan memandang langit yang begitu gelap seperti akan turun hujan. Begitu pula Dirga dan Arman sibuk dengan gawainya masing-masing.
"Arman, tolong besok daftarkan Arumi untuk mengikuti senam ibu hamil!" titah Albi masih dengan berwajah datar.
"Siap Bos!!" jawab Arman dengan tatapan nya pada gawai yang di pegang.
"Gue kembali," ucap Albi dengan bergegas pergi meninggalkan mereka.
Lalu Albi kembali ke dalam kamar. Dan Albi memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam kamar itu.
Sementara Adelia yang sedang tertidur lelap bermimpi, dengan Pria yang tengah viral di bicarakan Alina. Adelia di dalam mimpinya tengah berpelukan, lalu saling bercengkrama.
"Adelia ... aku mencintaimu," ucap Sang Pria dalam mimpi Adelia.
Adelia tersenyum dengan senang. Mendengar pria tersebut mengatakan perasaaan nya.
"Aku tidak bisa hidup tanpa mu Adelia, aku mohon kamu jangan pergi terlalu lama. Aku tidak bisa jauh dari mu," ucap Pria itu lagi.
"Iya. Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak akan pergi lama. Aku pergi hanya sebentar. Percayalah aku pun sama tak bisa jauh dari mu," sahut Adelia kepada sang pria di dalam mimpinya.
Lalu Adelia dan Pria itu saling berpandangan. Kemudian saling menautkan bibirnya dengan lembut. "Aku akan setia menunggu mu untuk pulang kembali," ucap Pria itu setelah tautan bibirnya terlepas.
Lalu Adelia tiba-tiba pergi dan meninggalkan pria tersebut di dalam mimpinya.
Seketika Adelia terbangun dari tidurnya. Adelia menatap jam di dinding menunjukan pukul tiga pagi.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku bermimpi dengan pria yang baru saja aku lihat di ponsel kak Alina?" Adelia bermonolog dengan nada suara lirih.
"Dan pria itu memanggil aku Adelia?" sambung Adelia bermonolog.
Kemudian Adelia menatap ke arah samping yang terlihat kosong tak ada Albi tidur di sisinya. Tatapan Adelia mengarah ke sofa. Dan terlihat Albi yang sedang tertidur lelap di atas sofa tersebut.
"Kenapa Mas Albi tidur di sofa?" ucap Adelia.
Adelia memilih bangkit dari ranjang dan menghampiri Albi yang tertidur di sofa.
"Mas ... bangun!"
Adelia membangunkan Albi. Dan Albi seketika mengerjapkan kedua matanya. Dan langsung menatap Adelia yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ada apa, Arumi?" tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pindah tidurnya Mas! kenapa Mas tidur di sofa?"
"Maaf tadi aku ketiduran,"
Adelia langsung meninggalkan Albi. Dan Adelia kembali ke arah ranjang. Albi pun menuruti ucapan Adelia untuk pindah tidurnya di atas ranjang.
Albi membaringkan tubuhnya di samping Adelia. Yang kini Adelia tengah menatap Albi. Tidak seperti tadi Adelia memunggunginya.
"Mas,"
"Hmm"
"Aku ingin cerita Mas,"
"Cerita apa?"
"Aku baru sa--"
Duarrrr
Kata-kata Adelia terpotong saat terdengar suara petir yang menggelegar. Hujan deras mengguyur di waktu pagi itu. Sontak Adelia jadi ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Semenjak Adelia terjatuh ke sungai saat hujan yang begitu deras dan petir menggelegar, yang mengakibatkan Adelia menjadi kehilangan kesadarannya. Adelia menjadi takut saat mendengar petir dan suara hujan yang bergemuruh.
Kepala Adelia tiba-tiba seperti berputar, dan timbul ingatan tentang dirinya saat berada di pinggir sungai. Namun, ingatan tersebut buram seperti berkabut. Adelia dengan dahi berkeringat, tubuh bergetar, kedua tangannya memegang kepalanya.
"Mas ... kepalaku sakit," ucap Adelia.
Sontak Albi yang sedari tadi memperhatikan Adelia mendadak khawatir. Di tambah sekarang Adelia mengatakan bahwa kepalanya sakit.
"Arumi, apa yang terjadi? kepalamu sakit, bukan?"
Adelia mengangguk dengan kedua tangannya masih memegang kepalanya.
Albi memilih memeluk Adelia memberikan ketenangan, karena Albi melihat Adelia seperti ketakutan.
Adelia akhirnya memilih memejamkan kedua matanya. Namun, bayang-bayang tentang dirinya yang sedang tengah di pinggir sungai kembali datang.
"Tidak ... sakit sekali kepalaku Mas!" jerit Adelia yang berada di pelukan Albi.
Ya Tuhan apa mungkin Arumi mencoba berpikir keras untuk mengingat. ucap Albi di dalam hatinya dengan rasa khawatir.
"Tenang ya, Apa kamu mau minum? biar Aku ambilkan,"
"Tidak Mas. Aku ingin seperti ini saja,"
Adelia memilih untuk terus di peluk Albi. Rasa sakit di kepalanya berangsur hilang seiring pelukan hangat yang Albi berikan.
"Sudah baikan?" tanya Albi yang masih berwajah cemas.
"Iya Mas. Aku sudah baikan," sahut Adelia dengan tangannya mempererat memeluk tubuh Albi.
Albi pun merasa sedikit tenang. Walau di dalam hatinya ketakutan begitu besar. Albi takut jika sampai Adelia dengan waktu cepat mengingat semua tentang dirinya. Dan semua yang Albi rencanakan tentu akan hilang dan berantakan. Di tambah Albi harus kehilangan Adelia yang sekarang begitu Albi cintai.
Tidak! aku tidak mau sampai Arumi meninggalkanku!! gumam Albi di dalam hatinya.
Albi mengusap-usap punggung Adelia dengan lembut. Tak lama terdengar dengkuran halus dari Adelia. Ternyata Adelia sudah tertidur kembali dengan tangannya memeluk Albi.
Albi pun memejamkan kedua matanya memilih untuk tidur kembali. Hingga Albi dan Adelia tertidur dengan posisi saling memeluk. Sungguh terlihat begitu romantis.
***
Jam tujuh pagi. Hera keluar dari kamar bergegas menuju dapur. Namun, dapur terlihat begitu sepi tidak ada tanda-tanda orang yang sudah memasukinya.
__ADS_1
"Arumi sepertinya belum bangun?"
Hera pun memilih membuatkan sarapan untuk penghuni rumah. Hera berpikir bahwa Adelia belum bangun dari tidurnya. Hingga beberapa menit Hera menyelesaikan masakan nya. Dan tidak ada tanda-tanda Adelia datang.
Malah yang datang Alina bersama Luky, dan di susul dari belakang Dirga dan Arman.
"Pagi Ma ...." sapa Alina dan Luky.
"Pagi Tante ...." sapa Dirga dan Arman kompak.
Hera dengan tersenyum menyapa balik mereka, "Pagi juga,"
"Ma, ini Mama yang masak?" tanya Alina setelah duduk di kursi meja makan dengan menatap masakan hasil Hera yaitu nasi goreng.
"Iya ini Mama yang masak. Ayo sarapan!"
"Albi dan Arumi mana?" tanya Luky kini dengan matanya berputar menatap ruangan dapur.
"Oh iya, apa mereka belum bangun?" tanya Alina.
"Ayo sudahlah kalian sarapan saja. Nanti Mama lihat ke kamarnya."
Mereka pun akhirnya memutuskan sarapan terlebih dahulu tanpa Albi dan Adelia. Hingga sarapan mereka selesai. Albi dan Adelia belum juga datang.
"Mama mau lihat mereka," ucap Hera.
"Ja-jangan Tante!" cegah Dirga.
"Loh kenapa?" tanya Hera heran karena Dirga mencegahnya.
Aduh ... takut Albi masih tidur. Dan Albi tidurnya di sofa. Dirga membatin.
"Takut Tante ganggu, di maklum lah mereka kan, pengantin baru," ujar Dirga memberi alasannya.
"Justru aku harus melihatnya, dan kalian jangan cegah Tante!"
Hera dengan melangkah cepat ingin menghampiri kamar Albi dan Adelia. Hera ingin melihat bagaimana keadaan Adelia. Karena Hera tahu bahwa wanita hamil moodnya bisa berubah-ubah. Kadang gesit, kadang malas.
Loh pintu kamar mereka terbuka sedikit. ucap Hera dalam hatinya saat sudah berdiri untuk mengetuk pintu. Namun, pintu kamar Albi dan Adelia terbuka sedikit.
Hera mencoba mendorong pintu itu dengan lembut. Hera perlahan melangkah dan masuk ke dalam kamar. Namun, mata Hera menatap ke arah ranjang. Yang dimana Albi dan Adelia masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi saling memeluk.
"Oh ya Tuhan, ternyata putra ku bisa seromantis ini dengan istrinya," ucap Hera dengan suara lirih tidak ada yang bisa mendengarnya.
Hera dengan tersenyum keluar dari kamar. Dan menutup pintu kamar tersebut dengan pelan.
"Mana Albi dan Arumi?" tanya Alina saat Hera sudah duduk di ruang tengah.
Hera hanya tersenyum.
"Eh iya Tante, mana Albi dan Arumi?" tanya Arman kini.
"Sudah tak perlu di tanyakan. Lebih baik kalian cepat pergi ke kantor, tidak usah menunggu Albi," titah Hera bertujuan kepada Dirga dan Arman.
"Nanti Albi bisa marah sama kita," seloroh Arman.
"Tidak. Tante jamin. Kalau kalian mau tahu, Albi dan Arumi masih tertidur. Dan mengejutkan sekali, Anak itu bisa romantis sama istrinya," ujar Hera dengan terus menyunggingkan senyumnya.
"Maksud Tante Albi Romantis bagaimana?" tanya Dirga.
"Albi tidur dengan memeluk istrinya. Kemarin-kemarin Tante sempat berpikir bahwa Albi tidak normal seperti anak pria lainnya, karena Albi tidak pernah pacaran atau dekat dengan wanita. Tapi Sekarang Tante tenang sekali, anak itu ternyata bisa memperlakukan istrinya seperti itu, maka tidak heran istrinya cepat hamil," ujar Hera dengan terkekeh.
Wah gila si Albi sudah benar-benar jatuh cinta. ucap Arman di dalam hatinya.
__ADS_1
Si Albi enak sekali. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. gumam Dirga di dalam hati.
...Bersambung....