
Rasya membersihkan bekas semburan makanannya yang berada di atas ranjang. Adelia hanya memasang wajah datar. Karena sedari tadi Rasya tidak membuka suara. Adelia pun memutuskan keluar kamar Rasya. Dan Rasya menatap kepergian Adelia dengan wajah sendu.
Rasya memilih membuka baju penyamaran dan topengnya. Ia merasa kegerahan. Sekarang ia tidak perduli jika Adelia sampai mengetahuinya. Toh di rumah hanya ada dirinya dan Adelia. Ia kini hanya mengenakan baju kaos pendek, dan celana pendek. Ia membaringkan tubuhnya, yang sekarang merasa lemas tak bertenaga akibat muntah-muntah tadi. Sehingga begitu cepat Rasya terlelap tidur di pagi itu.
Sedangkan Adelia mencari sesuatu yang ingin di ketahuinya di rumah itu tentang dirinya dan Albi. Semenjak Alsa mengatakan dirinya hilang ingatan. Adelia jadi meragukan sosok Albi yang mengatakan bahwa dia adalah suaminya.
Adelia penasaran dengan lantai atas. Ia selama tinggal di rumah Albi belum pernah menginjakkan kakinya di lantai atas tersebut. Hingga sekarang Adelia berjalan menaiki anak tangga dengan hati-hati. Takut terpeleset dan terjatuh.
Adelia terperangah saat sudah sampai di lantai atas. Bagaimana tidak terperangah. Di lantai atas nampak ada kolam renang, dan setiap sudut ruangan berdesign modern. Bahkan banyak bingkai photo-photo besar terpajang. Saat Adelia mencoba menatap bingkai photo satu persatu. Ia tidak menemukan satupun photo dirinya. Semua photo adalah photo keluarga Albi. Membuat Adelia semakin bertanya-tanya. Bukankah dirinya adalah istrinya Albi. Jangankan photo pernikahan, photo dirinya sendiri dengan Albi pun tidak ada.
Adelia menuruni anak tangga kembali. Ia sekarang ingin mencari sesuatu di dalam kamarnya. Ia membuka setiap laci dan nakas-nakas yang ada di kamar itu. Dan saat membuka laci meja rias. Adelia menemukan cincin yang saat itu Albi lepas dari jari manisnya.
Ini cincin yang waktu itu Mas Albi lepas dari jariku?. Apa ini bisa menjadi bukti, kalau ini adalah milikku sebelum hilang ingatan?.
Adelia memakai cincin yang baru saja ia temukan. Cincin itu adalah cincin pernikahan-nya bersama Rasya yang sengaja Albi lepas. Adelia pun memilih keluar kamar. Ia ingin menemui Alsa. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang sudah di temukannya.
Adelia berjalan menuju kamar Alsa. Ia membuka handle pintu dan kebetulan pintu kamar Rasya tidak terkunci. Adelia menatap ke arah ranjang yang dimana tubuh Rasya terbalut selimut. Sehingga tidak nampak penampilan asli Rasya di penglihatan Adelia.
Namun, Adelia memilih ingin mencari sesuatu di kamar Rasya. Ia semenjak melihat photo pria yang selalu di dalam mimpinya dan seorang wanita yang mirip dengannya di layar ponsel Alsa. Ia menaruh curiga, bahwa Alsa menyembunyikan sesuatu. Apalagi di tambah Alsa mengatakan bahwa dirinya hilang ingatan, membuat Adelia memiliki pemikiran bahwa Alsa mengetahui tentang siapa dirinya.
Adelia mulai membuka lemari. Tapi ternyata lemari itu kosong dan hanya ada koper di dalamnya. Adelia pun berniat ingin membuka koper itu. Di lihat isinya baju-baju muslimah milik Alsa dan beberapa kerudung. Namun, tatapan Adelia mengarah pada dalam dasar koper. Ia melihat banyak kertas. Dan Adelia pun mengambilnya. Lalu mata Adelia terbelalak kaget saat membalikkan kertas-kertas itu adalah sebuah photo Dirinya dengan Pria.
Semua photo itu banyak ragam fose. Ada yang Adelia sedang memakai baju sekolah, sedang tersenyum, sedang cemberut, dan yang lebih menarik perhatian Adelia adalah photo yang memakai baju pengantin.
Dan terlihat di photo tersebut jari Pria itu memakai cincin yang sama. Hanya milik Adelia ada permatanya. Sedangkan milik Pria itu polos. Adelia syok atas banyak penemuannya hari ini. Adelia mencoba mengingat-ingat, tapi kepalanya mendadak sakit. Sehingga Adelia hanya bisa mengerang menahan rasa sakit di kepalanya.
"Argghhh ...."
__ADS_1
Suara Adelia yang mengerang membangunkan Rasya yang tertidur dalam balutan selimut. Ia repleks bangun dan langsung menghampiri Adelia yang sedang terduduk di lantai dengan tangannya memegang photo-photo.
Rasya melotot kaget melihat Adelia sedang memegang photo-photo tersebut. Bahkan Rasya melihat lemari dan kopernya terbuka. Dengan ragu Rasya merengkuh Adelia ke dalam pelukannya. Tak perduli jika nanti Adelia semakin syok dengan penampilannya kini tanpa alat penyamaran.
"Alsa, apakah ini milik kamu semua?" tanya Adelia tanpa menatap tubuh Rasya dan wajahnya. Ia terus mengarah menatap photo-photo yang di genggam.
"Iya" jawab Rasya dengan suara aslinya tanpa suara penyamaran.
Deg
Adelia mendongak, dan melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Rasya. Ia menatap wajah dan penampilan Rasya. Pria yang selalu dalam mimpi dan bayangan-nya kini hadir menjelma di hadapannya.
Adelia kini menatap jari Rasya yang di mana jari manisnya melingkar cincin yang sama.
Rasya membiarkan Adelia menatap dan memindai dirinya. Adelia terdiam terpaku. Ia begitu syok. Namun, sialnya isi kepala Adelia tidak bisa mengingat pria tampan yang kini ada di depannya itu.
"Aku Alsa," jawab Rasya dengan serius.
Adelia menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak percaya.
"Aku Alsa. Aku sengaja menyamar menjadi pelayan di rumah ini. Demi dekat dengan istriku dan calon bayiku," tutur Rasya menjelaskan.
Adelia lagi-lagi menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak percaya.
"Ayolah percaya sama aku! Aku Rasya suami mu, Adelia!!"
Rasya kini mendekat. Dan memegang kedua tangan Adelia dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Percayalah!, Albi adalah pria yang sengaja memanfaatkan amnesiamu, Sayang ...."
Adelia menatap pada netra mata hitam milik Rasya. Sehingga kini keduanya bertatapan. Adelia bisa menemukan, kejujuran dan keseriusan dari tatapan mata Rasya. Mata yang memancarkan penuh cinta, kerinduan, dan kasih sayang. Adelia dapat melihatnya.
"Lihat, ternyata kamu memakai cincin yang sama!" tunjuk Rasya mengarah pada jari manis milik Adelia dan jari manis miliknya.
Adelia masih terdiam.
"Ini bukti cincin pernikahan kita Sayang ... ayo bicaralah!"
Rasya mengelus pipi Adelia dengan lembut. Adelia tidak menolaknya. Bahkan Adelia terus menatap pada wajah Rasya.
"Jelaskan semuanya!" Adelia kini bersuara, dan meminta Rasya untuk menjelaskan.
Rasya tersenyum senang karena akhirnya Adelia bersuara.
"Awalnya kamu hilang saat pergi ke perkebunan teh bersama Serly dan Rara."
Rasya menjeda, dan Adelia terus menatap seakan ingin Rasya melanjutkan kembali ucapannya.
"Entah apa yang terjadi, sehingga dirimu hilang Sayang, aku mencari mu setiap hari. Hingga saat menemukan sandal milikmu di pinggir sungai, memberatkan kecurigaan semua orang. Kamu hanyut, dan di makan hewan buas. Dan kamu telah tiada. Namun, tidak sampai di situ, aku terus mencari mu di bantu Papa dan warga menyusuri arus sungai. Tapi Nihil aku tidak dapat menemukan mu. Sehingga dengan berat hati aku menerima kenyataan bahwa kamu telah tiada," ujar Rasya dengan berurai air mata.
"Lihat air mataku jatuh tanpa permisi!, aku cengeng sekarang, semenjak kamu hilang, aku gampang nangis,"
Rasya tersenyum dengan air mata yang masih saja berjatuhan. Adelia bisa merasakan bagaimana Rasya sesedih itu.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....