You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 179.


__ADS_3

Tepat pukul tujuh pagi. Di ruang makan Lia, Serly, dan Rara masih menunggu kedatangan sepasang suami istri yang belum terlihat batang hidungnya. Sudah merasa lama menunggu, akhirnya Lia menyuruh Serly untuk menghampiri Rasya dan Adelia di kamarnya.


"Serly, kamu coba temui Kakak mu!. Ini udah jam tujuh lho, apa dia lupa harus pergi ke kantor," suruh Lia kepada Serly untuk menemui Rasya di kamarnya. Bahkan Lia mengumpat Putranya.


"Iya Ma," ucap Serly menurut. Ia langsung bergegas pergi ke lantai atas di mana letak kamar kakaknya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Serly mengetuk pintu kamar Rasya. Sementara penghuni kamar, masih terbaring di atas ranjang. Setelah menghabiskan pergulatan panas saat tadi. Sepasang suami istri itu memutuskan untuk berbaring dan malah tertidur.


Rasya mengerjapkan matanya karena merasa pintunya ada yang mengetuk hingga beberapa kali. Ia kemudian langsung memakai kaos dan celana bokser nya, dan melangkah menghampiri pintu.


Ceklek ...


"Huh ... akhirnya Kakak buka pintu juga. Aku sudah ketuk pintu dari tadi sampai tangan aku pegal tahu, di tungguin dari tadi juga untuk sarapan. Apa kakak baru bangun?, ya Tuhan apa kakak lupa, harus pergi ke kantor?," suara Serly tanpa jeda dan beruntun membuat Rasya ingin menutup pintu kembali.


"Ih kakak itu nyebelin, bukannya berterima kasih aku sudah bangunin kakak," ucap Serly dengan mencebik. Tangannya menahan pintu yang Rasya akan tutupi.


"Sudah sana!!. Aku sudah bangun dari tadi juga. Sekarang juga aku akan turun," Rasya dengan wajah kesal karena ulah suara Serly yang berisik.


"Lalu kak Adel mana?" tanya Serly dengan sengaja ingin masuk ke dalam kamar.


Rasya langsung mendorong bahu adiknya dengan pelan. "Istriku sedang kelelahan, lebih baik kamu turun. Dan kalau mau sarapan kalian terlebih dahulu, biar aku nanti sama istriku saja," ucapnya. Rasya bukan tidak mau adiknya masuk kamar. Namun ia tidak mau sampai adiknya melihat Adelia yang masih berselimut tanpa pakaian.


"Ya sudah," sahut Serly. Ia pun langsung menuruni anak tangga kembali menuju ruang makan.


Setelah di pastikan Serly kembali. Rasya menutup pintu kamarnya dan tak lupa mengunci terlebih dahulu. Lalu ia menghampiri Adelia yang masih terlelap.


"Sayang ... bangun!, em ... apa kamu ingin mengikuti senam ibu hamil?" Rasya membangunkan Adelia seraya bertanya. Ia membangunkannya dengan mengelus kepala istrinya.


Adelia yang merasa mendapat pergerakan di kepalanya. Ia mengerjapkan matanya. Dan langsung tersenyum saat menatap Rasya yang sedang membangunkannya.


Adelia duduk dengan terbalut selimut.


"Sayang, apa kamu mau ikut senam ibu hamil?" tanya Rasya mengulangi pertanyaan nya tadi.

__ADS_1


Adelia mengangguk cepat, "Aku ingin ikut Mas," katanya senang. Ia merasa jenuh apabila terus di dalam rumah.


"Ok. Sekarang kita mandi dulu. Terus sarapan, nanti Aku antar kamu. Tapi kamu harus di temani Rara, ya ....."


Adelia mengangguk kembali dengan tersenyum. "Mandi bareng ya, Mas" katanya.


"Ayo!!" sahut Rasya dengan semangat.


***


Hampir pukul sembilan. Sepasang suami istri itu baru keluar dari kamar. Menuruni tangga dan melangkah menuju ruang makan. Rasya terlebih dahulu menarik kursi untuk istrinya duduk, kemudian setelah itu baru dirinya.


Rasya dan Adelia makan dalam keadaan hening. Lia yang baru saja dari taman belakang menggeleng saat masuk ke area dapur melihat putranya yang begitu santai.


"Rasya, bagaimana kamu ini, baru saja satu hari kerja. Dan sekarang ke dua harinya, kamu sudah berangkat siang. Mana sosok seorang pemimpin perusahaan nya?!!" pekik Lia dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ia memaki Rasya karena merasa acuh terhadap pekerjaannya.


Rasya dengan mengunyah, "Maaf Ma. Aku tadi kesiangan," ucapnya santai.


Justru Adelia menatap dengan rasa bersalah. Rasya kesiangan karena telah memadu kasih terlebih dahulu. Dan jika Adelia sendiri tidak melayani, pasti hal keterlambatan Rasya tidak akan terjadi.


"Ayo gerak cepat Rasya! Mama gemas ya lihatnya, kamu terlalu santai?!"


"Sayang ... lebih baik kamu ikut ke kantor saja ya,"


Adelia menggeleng cepat, "Gak mau Mas, bukannya aku hari ini akan ikut senam ibu hamil?" tolak Adelia seraya ia mengingatkan Rasya, bahwa dirinya akan ikut senam hamil.


Rasya tersenyum, "Ya sudah. Ma ... antar istriku ke Sanggar Senam ya!" ujar Rasya meminta Lia untuk mengantar Adelia.


"Iya Nanti Mama antar. Sekarang kamu cepat berangkat, Rasya!" Lia sungguh geram melihat Rasya yang masih saja sangat santai.


"Kalau saja Papa tahu, kamu lelet seperti ini. Pasti Papa juga akan kesal, Sya ...." Lia kembali mengomeli putranya. Lalu ia beranjak menuju Kitchenset membuka lemari, dan mengambil susu hamil. Ia berniat menyeduhkan susu ibu hamil untuk Adelia.


Rasya beranjak bangun dari duduknya, "Aku berangkat ya, Sayang ...," ucapnya seraya mengecup kening Adelia. Kemudian Adelia mengangguk dan mencium tangan Rasya dengan takzim.


Lalu setelah bersalaman dengan istrinya. Rasya beralih menyalami tangan Mamanya. Tak lupa Rasya pun menciumnya.

__ADS_1


"Aku berangkat ya, Ma ... Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam," jawab Lia dan Adelia secara bersamaan.


Rasya sudah melangkah keluar rumah. Sementara kini tinggal Adelia yang masih terduduk di meja makan. Lia melangkah mendekati menantunya.


"Ini susunya di minum, Nak" Lia menyerahkan segelas susu di depan Adelia yang telah ia buat.


"Terima kasih Ma," ucap Adelia dengan tersenyum. Ia mengambil gelas berisi susu itu dan meneguknya sampai habis.


Lia tersenyum, "Kalau sudah dengan sarapannya, kita siap-siap pergi ke Sanggar Senam," ajak Lia kepada menantunya itu.


"Aku sudah selesai kok, Ma ... kalau begitu, aku bawa tas dulu ya Ma, sama baju senamnya," kata Adelia. Ia beranjak pergi menuju lantai atas.


Lia khawatir melihat Adelia yang sedang menaiki anak tangga. Perutnya yang sudah membesar, membuat Lia menatap dengan cemas. Takut Adelia terjatuh atau terpeleset.


"Kamarnya sepertinya harus pindah di lantai bawah. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada menantuku," gumam Lia. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Lia sudah bersiap. Ia yang tidak bisa menyetir. Memilih untuk menaiki Taksi saja. Lia kini menghampiri Rara terlebih dahulu.


"Ra, kamu jaga rumah ya, Tante sama Adel mau ke Sanggar Senam dulu," ucap Lia meminta Rara untuk menjaga rumah.


"Iya Tante," sahut Rara.


Dan terlihat Adelia sedang berjalan melangkah menghampiri Lia dan Rara yang sedang berada di ruang tengah.


"Yuk, Nak!" ajak Lia. Ia langsung menggandeng tangan menantunya, saat Adelia sudah menghampirinya. Adelia tersenyum dengan mengangguk.


Lia dan Adelia pun berjalan keluar rumah. Setelah di pinggir jalan Lia dan Adelia berdiri untuk menunggu Taksi.


Namun, tak di sangka. Sebuah mobil mewah melintas dan menghentikan laju mesinnya tepat di depan hadapan Lia dan Adelia. Lia tersenyum saat melihat sosok seseorang yang membukakan kaca jendelanya. Tapi tidak dengan Adelia. Ia menatap dengan tajam. Dan bahkan ia sangat terkejut menatap seseorang yang tengah duduk di jok belakang tersebut.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah poinnya.


Terima kasih 😊


__ADS_2