
Hari ini adalah hari pertama bagi Adelia semobil dengan Rasya setelah beberapa bulan tidak bertemu. Dan pada hari ini pula Adelia dan Rara akan tinggal bersama di kediaman Keluarga Rasya. Adelia merasa gugup rasanya akan bertemu dengan Tante Lia Ibunya Rasya, mungkin karena sekarang Adelia gugup Tante Lia sudah mengetahui bahwa Adelia adalah wanita yang di cintai Rasya anaknya.
Di mobil itu dalam keadaan hening tak ada suara perbincangan dari mereka. Hanya suara deru mesin mobil yang halus terdengar memenuhuli dalam mobil itu. Rasya kini melirik ke arah samping Adelia yang sedang menatap ke arah jendela.
"Del...." Rasya mencoba memecah keheningan.
Adelia pun menoleh ke samping, yang saat itu Rasya sedang melirik nya.
"Kita makan dulu Yuk. Aku laper dari pagi belum sarapan." Ajak Rasya untuk makan. Dengan mengatakan bahwa dirinya kini sedang lapar.
Adelia mengangguk. Dan kini menoleh ke jok belakang. Ternyata Rara sedang tertidur.
Beberapa menit kemudian Rasya menghentikan mobilnya di depan sebuah Cafe. Cafe itu sangat padat pengunjung, mungkin karena sedang saatnya waktu makan siang. Jadi orang-orang berdatangan untuk makan siang di Cafe itu.
Rasya keluar terlebih dahulu. Dan membuka kan pintu untuk Adelia keluar.
Rara pun terbangun. Dan menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka oleh Adelia.
"Kirain kamu belum bangun Ra?. Tadinya aku mau bangunin kamu. Ayo Turun kita makan siang dulu." Ajak Adelia.
"Wah makan?. Siaaap." Rara berbinar. Tentang makan-makan itu memang mau nya Rara. Yang Suka makan apapun apalagi gratisan. Ah Author dan Readers juga kalau tentang Gratisan pasti mau. Iya kan????.
Mereka berjalan melangkah ke arah dalam Cafe. Di edarkan pandangan Rasya untuk melihat meja yang kosong namun tidak ada. Yang ada hanya satu meja yang terletak dekat sekali dengan meja sang Cashier.
"Kita duduk di sana aja ya." Tunjuk Rasya pada meja yang dekat Cashier itu.
Adelia pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Rasya. Kalau Rara pasti selalu hanya mengikuti Sepasang itu dari arah belakang. Setelah sampai pada Meja tujuan Mereka pun duduk. Kebetulan meja itu hanya terdiri empat kursi. Rasya duduk berhadapan dengan Adelia. Sedangkan Rara duduk di kursi sebelah Adelia.
Mereka pun membuka buku menu dan tertera nama Cafe itu adalah Cafe Pratama. Adelia merasa tidak asing dengan nama Pratama. Tapi Ia hiraukan. Lalu kini matanya menatap nama-nama menu makanan.
Mereka pun memesan makanan yang mereka mau. Dengan seorang pelayan menuliiskan nya dan meminta mereka untuk menunggu.
"Del... Gue ke Toilet dulu ya...." Pamit Rara. Dan langsung berjalan menuju arah toilet. Namun Rara kebingungan tentang letak Toilet itu dimana. Lalu Rara pun bertanya ke salah satu pelayan yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Setelah di beritahu pelayan itu. Rara pun bisa menemukan letak Toilet tersebut. Ketika Rara mau menuju Lorong Toilet Wanita, Rara melihat seseorang yang sangat di kenalinya. Rara kaget, cemas sangat takut jika sampai Orang tersebut dapat melihatnya. Orang itu adalah seorang Pria yang baru saja keluar dari Toilet yang kebetulan Toilet Pria bersebelahan dengan Toilet wanita.
Rara menunduk dengan terus berjalan menuju Toilet Wanita. Dan Langsung masuk setelah berada di depan Pintu Toilet itu.
Huh..... Rara membuang nafas nya. Ia merasa lega karena berhasil menghindar dari orang tersebut. Rara pun dengan cepat menuntaskan niatnya. Kemudian setelah itu Rara membasuh muka. Ketika menatap wajahnya di cermin Rara menelan ludah dengan pelan. Ia teringat Adelia yang sedang ada di meja Cafe bersama Rasya. Bagaimana jika Orang itu sampai melihat Adelia yang masih hidup. Rara pun cepat bergegas keluar dengan tergesa-gesa. Ia melangkah dengan lebar ingin segera sampai pada meja yang Adelia duduki bersama Rasya.
Setelah sampai pada Meja. Rara pun dengan cepat duduk dan wajah nya berbinar kala melihat pesanan makanan nya sudah tertata di meja. Rara langsung melahapnya. Hingga lupa akan tadi yang membuatnya tergesa-gesa. Adelia menggelengkan kepala saat melihat Rara sampai dari toilet dengan cepat melahap makanan nya.
Mereka pun selesai menghabiskan makanan nya. Dan kini sedang meminum minuman yang tersisa.
"Aku ke Cashier dulu ya..." Ucap Rasya.
Adelia pun mengangguk. Namun Mata Rara melihat ke arah Cashier ada Orang yang tadi ia hindari sedang berbincang dengan Cashier itu.
__ADS_1
"Del, mending kita ke mobil duluan Yuk...." Bisik Rara.
"Emang kenapa?." Adelia juga menjawab dengan berbisik.
Tapi Rara cepat menarik tangan Adelia. Tanpa mengatakan apa alasan nya.
Adelia menurut saja. Tapi ketika Di Parkiran Adelia dan Rara hanya berdiri saja tanpa mau masuk ke dalam mobil Rasya. Karena Adelia dan Rara kebingungan bahkan lupa akan mobil Rasya itu yang mana.
Rasya yang setelah mendapat giliran menghadap Cashier. Ia terkejut melihat Sosok Pria yang sedang melihat-lihat ke arah Laptop Sang Cashier. Rasya tidak mau Pria itu sampai melihatnya. Ia dengan cepat membayar Struk yang memang sudah tertera harganya dengan menggunakan uang Cash.
"Tidak usah di kembalian." Rasya dengan cepat melangkah berjalan menuju arah keluar Cafe.
"Tapi mas...." Ucap Cashier itu dengan heran.
"Ada apa?." Tanya Pria yang di hindari Rasya.
"Itu Pak. Tadi ada pelanggan yang tidak mau di kembalian. Padahal kembalian nya besar. Lumayan buat makan tiga porsi lagi." Sahut Cashier itu. Dengan menunjukkan Uang Sebesar Delapan puluh lima ribu.
"Ya Udah bawa aja kembalian nya sama kamu. Buat uang pribadi kamu. Mungkin bagi orang itu kembalian segitu tidak ada artinya." Perintah Boss Cafe tersebut.
"Iya Terima kasih Pak Martin." Ucap Cashier itu.
"Koq Terima kasih sama saya. Ya sama orang tadi lah." Martin tergelak.
Dan ternyata Orang yang di hindari Rara dan Rasya itu Adalah Martin. Pemilik Cafe itu. Martin yang sempat menjadi kekasih Adelia. Ya walaupun sekarang juga masih bisa dikatakan 'masih', Karena belum ada kata putus dari mereka. Yang memang Martin anggap bahwa Adelia benar-benar sudah meninggal.
Rasya pun dengan cepat membuka pintu mobil depan Agar Adelia masuk terlebih dahulu. Di susul Rara pun dengan cepat masuk ke dalam mobil, dan duduk di jok belakang.
Setelah Rasya sudah duduk di belakang kemudi, Rasya dengan cepat melajukan mobilnya keluar dari Parkiran Cafe itu. Rasya melajukan mobilnya dengan cepat.
Jadi Itu Cafe milik Martin.
Rasya yang sedang menyetir bergumam dalam hatinya. Hingga tidak terasa Rasya sudah menghentikan mobilnya. Mobil Rasya sudah sampai di depan halaman Rumah Rasya. Mungkin karena Rasya menyetir dengan kecepatan cepat. Jadi tidak terasa sudah sampai saja di depan halaman Rumahnya. Memang dari arah Cafe tadi sedikit dekat jarak nya dengan Arah rumah Rasya.
"Ayo...." Ajak Rasya untuk turun.
Adelia pun dengan cepat membuka pintu mobil tanpa menunggu Rasya untuk membuka kan nya. Rara juga ikut turun Dan kini berdiri di dekat Adelia yang sedang gugup.
"Del, Ra Ayo." Ajak Rasya yang melihat Adelia dan Rara masih berdiri mematung.
Adelia dan Rara pun mengangguk dengan bersamaan. Mereka berdua mengikuti langkah Rasya yang menuju pintu utama. Rasya membuka pintu itu tanpa menekan bel atau mengetuk pintu. Rasya masuk yang di ikuti Adelia dan Rara. Terlihat Tante Lia sedang Duduk di ruang tengah dengan matanya fokus menatap layar Televisi.
"Ekhem...." Rasya berdehem agar Mamanya itu menoleh kepadanya. Dan benar saja Tante Lia langsung menoleh dan tersenyum melihat Rasya anaknya berdiri.
"Rasya...." Sapa Tante Lia mama Rasya, dan matanya beralih menatap Adelia dan Rara yang berdiri tidak jauh dari Rasya.
__ADS_1
"Adel, Rara...." Tante Lia dengan cepat bangun dari duduknya dan menghampiri Adelia dan Rara.
Adelia dengan cepat menyalami tangan Tante Lia. Begitupun dengan Rara.
"Alhamdulillah ternyata benar apa kata Rasya. Bahwa kalian masih hidup." Tante Lia dengan antusias senang melihat Adelia dan Rara.
"Iya Tante kami masih hidup." Jawab Adelia.
"Ayo kita duduk. Jangan berdiri terus seperti ini." Tante Lia menyuruh Adelia dan Rara untuk duduk. Mereka pun duduk di Sofa ruang tengah itu.
"Tante sedih waktu itu Del melihat Ruko kamu sudah tidak terbentuk lagi. Apalagi mendengar bahwa kalian berdua sudah meninggal hingga menjadi abu. Benar-benar Tante sama Serly sangat menangis mendengarnya." Tutur Tante Lia menceritakan saat dirinya melihat Ruko Adelia dan menangis mendengar bahwa Adelia dan Rara sudah tiada.
"Iya Tante. Kami bersyukur bisa selamat dari maut itu." Tukas Adelia menjawab.
Rara hanya bisa tersenyum saja menanggapi perbincangan Adelia dan Tante Lia.
Terlihat Rasya melangkah ke arah dapur, dan tak lama datang dengan sebuah nampan di tangan nya berisikan air mineral dan cemilan ringan di atasnya. Lalu setelah sampai ia taruh di meja. Kemudian Rasya duduk di sebelah Adelia.
"Syukurlah kalian bisa selamat." Ucap syukur Tante Lia.
"Serly mana ma?." Tanya Rasya menanyakan adik gadisnya.
"Tadi Ia pergi ke Mini Market katanya." Sahut Tante Lia.
"Kalau Papa belum pulang?." Tanya Rasya lagi kini menanyakan Papanya yang sedang di luar negeri.
Hadi Papa Rasya sehabis menikahkan Rasya, Ia menyibukkan diri bekerja. Hingga sekarang pun Rasya belum bertemu dengan Papa nya itu.
"Belum. Oh iya Sya... Mama takut Papa marah akan keputusan mu itu." Mama Rasya terlihat dari wajahnya mengkhawatirkan Papa nya Rasya akan marah pada Rasya.
Rasya sontak langsung mengerti akan apa yang di utarakan Mamanya. "Rasya akan menerima nya Ma... Jika Papa sampai marah pada Rasya. Sudah cukup Rasya merasakan hidup tertekan, dengan mengabuli pernikahan itu." Ucap Rasya dengan tenang.
Adelia dan Rara yang tadinya tidak paham antara yang di ucapkan Tante Lia kepada Rasya. Kini Mereka paham setelah Rasya mengatakan nya dengan jelas.
Jadi benar Rasya sudah mengakhiri pernikahan nya?.
Adelia bergumam di dalam hatinya dengan sedikit melirik ke arah Rasya yang duduk di sampingnya.
"Ya sudah Mama tidak akan mengatur kamu lagi. Mama cukup merasa bersalah akan hal itu. Sekarang Mama hanya ingin melihat kamu selalu tersenyum Nak... Mama tidak mau lihat wajah kamu yang dingin dan datar seperti saat-saat itu." Tante Lia sekarang tidak akan mengatur tentang kehidupan anaknya.
Tante Lia merasa bersedih kala mengingat Putranya jadi berubah setelah di jodohkan dengan Ariyanti.
"Ya kalau Mama ingin Rasya terus tersenyum dari mulai sekarang sampai kapan pun. Jangan coba-coba Mama Pisahkan Rasya dengan Adelia. Karena Rasya sangat mencintai Adelia." Sahut Rasya dengan tersenyum kepada Mamanya. Dan mulai mengambil tangan Adelia yang duduk di sampingnya, tangan itu lalu ia genggam. Adelia tercengang kaget bercampur malu, melihat Rasya yang menggenggam tangan nya di depan Lia Mama nya Rasya.
"Hiss kamu... mau romantis-romantisan di depan mama." Tante Lia dengan terkekeh melihat Putranya yang santai menggenggam tangan Adelia di hadapan nya.
__ADS_1
...Bersambung....