You Are My Mine

You Are My Mine
Rencana Rima Kepada Adelia.


__ADS_3

Sesuai rencana Rima. Rima kini sedang mengendarai mobil nya menuju ke kediaman Adelia. Rima dengan menyetir terus tersenyum, membayangkan rencana nya yang kini akan ia buat untuk menjebak Adelia.


Mobil Rima pun sampai di depan halaman Toko Kue Adelia. Rima keluar dari mobilnya, dan mulai bergegas melangkah menuju pintu depan Toko Adelia. Karena Pintu Toko Adelia terbuka, Rima pun langsung masuk saja. Dan Terlihat Adelia bersama Rara sedang duduk santai berdua.


"Hai, Del. Hai Ra." Rima menyapa Adelia dan Rara dengan melangkah mendekati keduanya.


"Hai Rim." Rara menjawab sapaan Rima.


Adelia pun tersenyum melihat Rima yang datang dan menyapa nya.


"Rima, kamu sudah pulang bukan dari Singapore?." Adelia dengan memeluk Rima.


"Iya baru hari kemarin. Auw...." Rima Hendak duduk, dan berpura-pura mengerang kesakitan.


Rara dan Adelia pun berwajah Khawatir.


"Rim Lu kenapa?." Tanya Rara.


"Iya Rim, kamu kenapa?." Kini Adelia yang bertanya.


Rima langsung berpura-pura menangis. Di depan Rara dan Adelia. Ternyata ia mulai melakukan aksinya.


"A-aku. Huuuu.... huuuu... " Rima tidak meneruskan perkataan nya, ia malah terus menangis.


Sontak Adelia dan Rara pun saling pandang satu sama lain, dan bergegas mendekati Rima untuk menenangkan nya. Rima terus menangis, bahkan tangisan nya sampai sesegukkan. Adelia dan Rara pun hanya diam, dengan sesekali mengusap-usap bahu Rima, untuk memberi kekuatan. Walaupun Adelia tidak tahu apa yang telah Rima Alami sampai menangis seperti itu.


Tangisan Rima kini mulai reda, ia mengusap pipinya yang basah karena habis menangis.


"Del, Ra... Maaf aku malah terus menangis di hadapan kalian." Ucap Rima dengan mencoba tersenyum.


"Gak apa-apa Rim. Kalau kamu berkenan tentang apa masalah yang menimpa mu, ceritakan lah pada kami." Adelia menawarkan untuk Rima menceritakan masalah apa yang menimpa nya.


Rara pun mengangguk menyetujui apa yang di katakan Adelia.


"Ini terlalu menyakitkan Del, aku tak yakin untuk menceritakan nya. Aku belum siap." Rima mencoba tidak akan bercerita sekarang, karena ia akan mengatakan nya suatu saat.


"Ya Sudah. Kalau kamu sudah siap. Ceritakan lah pada ku, siapa tahu aku bisa membantu mu." Adelia dengan menggenggam tangan Rima, untuk mencoba menguatkan Rima.


"Gue ambil minum dulu ya." Pamit Rara untuk mengambil minum ke dapur.


Rima pun mengangguk. Tak lama Rara pun datang dengan membawa nampan yang berisikan beberapa botol air mineral kemasan.


"Oh ya. Tumben Toko mu tutup Del?." Tanya Rima dengan memperhatikan Rolling dor Toko yang tertutup.


"Iya Rim. Aku sedang malas membuat kue hari ini. Dan kebetulan Stok kue di Toko pun kosong." Jawab Adelia.


"Oh Begitu. Ya kali-kali kamu harus refreshing lah Del. Jangan Sampai tubuh mu merasa kelelahan." Rima mencoba memberikan saran.


"Iya Bener itu. Gue juga pengen deh rasain liburan, ke pantai atau ke puncak gitu..." Rara antusias.


"Iya itu perlu. Gimana kalau Hari besok kita pergi berlibur?." Ajak Rima.


Adelia terdiam sejenak seperti berpikir. Namun Rara memasang wajah memelas kepada Adelia, agar ia pergi berlibur.


"Ya udah kita besok berlibur." Ucap Adelia dengan tersenyum.


"Yess... Gitu dong Del. Gue seneng banget akhirnya kita akan pergi berlibur." Rara dengan memeluk Adelia senang.


"Nanti aku atur tempatnya ya. Kebetulan aku punya teman yang mempunyai Vila di suatu Pantai. Untuk menyewa nya." Ucap Rima memberikan saran nya kepada Adelia dan Rara.


"Ya udah kamu atur aja. Lagian aku kurang tahu tempat liburan yang bagus." Adelia menerima saran dari Rima.


"Eh iya, apa benar Del, kamu secepat nya akan menikah dengan Martin?." Rima mencoba menanyakan perihal pernikahan Adelia.


"Iya sebulanan lagi. Memang kita tidak mau berlama-lama untuk terus pacaran. Ya Walaupun baru Lima bulanan, tapi aku yakin Martin akan menjadi pendamping hidupku yang baik. Aku juga sangat mencintainya, begitupun dia. Kita saling mencintai." Adelia memaparkan perasaan nya terhadap Martin dengan bibir tersenyum.


Rima mencoba tersenyum walau pun dalam hatinya kini tengah berkecamuk, mendengar penuturan Adelia.


"Iya Gue yakin koq. Martin akan jadi suami yang baik. Secara dia Bucin banget sama kamu Del." Rara menimpali ucapan Adelia.


"Ah kamu Ra. Di lihatnya dari Bucin nya aja." Adelia dengan mengerucutkan bibirnya.


"Haha... emang iya. Si Martin itu Bucin banget sama Lu." Rara terus menggoda Adelia.


"Apa nanti Martin kita ajak berlibur?." Tanya Rara kemudian.

__ADS_1


"Aku gak yakin dia akan ikut, soalnya dia sibuk banget." Jawab Adelia.


"Coba aja dulu Del, siapa tahu dia mau ikut." Saran Rima.


"Iya deh, Nanti aku coba ajak dia." Ucap Adelia.


Rima mengambil botol minum yang tadi di suguhkan Rara, dan mulai meminum nya.


Ketika meneguk air minum itu, Rima melirik ke Jari tangan Adelia, yang tersemat cincin emas putih permata satu. Rima yakin itu adalah cincin yang di berikan Martin.


Rima wajahnya berubah sendu, dengan hati nya berubah panas. Ia ingin sekali cepat menyingkirkan Adelia. Rima sudah tak tahan berada di depan Adelia saat ini.


"Del, Ra. Gue pamit ya. Gue mau mastiin Vila temen gue kosong atau enggak nya. Nanti gue kabarin lokasi untuk kita berlibur." Rima pamit ke Adelia dan Rara.


"Iya Rim. Nanti aku tunggu kabar nya ya." Adelia dengan berdiri untuk mengantarkan Rima ke depan bersama Rara.


"Ok. Bye..." Rima melangkah menuju mobil nya.


Adelia dan Rara pun melambaikan tangan. Dan mobil Rima pun mulai melaju meninggalkan halaman depan Toko Kue Adelia.


Adelia dan Rara pun kembali masuk ke dalam ruang tengah Toko Kue nya, dan duduk di sofa kembali.


"Eh Del, Lu perhatiin tadi si Rima gak? Duduk nya kaya kesakitan gitu?." Rara mulai membahas tentang Rima yang tadi ia lihat.


"Iya aku tadi perhatiin." Adelia dengan mengingat Rima tadi.


"Apa jangan-jangan keperawanan nya sudah ada yang ngambil, makanya ia kesakitan gitu, dan sampai menangis sedih?." Rara mulai menerka-nerka, dengan mulutnya yang nyablak.


"Huss... Ra, kamu jangan sembarangan kalau bicara." Cegah Adelia agar Rara tak asal bicara. Namun Adelia pun merasa ada benarnya dengan ucapan Rara.


"Gue gak asal, hanya menebak saja. Secara ya Tadi gue perhatiin duduk Si Rima kaya sakit gitu. Apabila keperawanan nya yang gak di ambil, atau mungkin dia juga lagi Ambeien." Rara dengan manggut-manggut, menerka-nerka.


"Hih... Ra udah ah. Aku belum tahu pasti. Sebelum dia menceritakan nya kepada kita, aku tak mau menerka-nerka." Adelia tidak mau salah sangka.


"Iya iya." Rara pun akhirnya diam.


Adelia mencoba meraih ponselnya yang tergeletak di meja depan nya.


Adelia mulai membuka aplikasi Chat nya, dan mengetik Pesan kepada Martin.


Martin kamu lagi apa?.


Dan Tak lama Martin pun menjawab Chat nya.


Martin.


Aku lagi di jalan mau ke situ.


Adelia pun membaca nya dengan tersenyum, karena Martin akan datang ke rumah nya.


"Napa Lu senyum-senyum?." Tanya Rara penasaran.


"Ah enggak. Aku hanya senang aja Martin mau datang ke sini." Jawab Adelia dengan masih tersenyum.


"Huh... Gue Keluar ah beli sesuatu Bentar. Percuma kalau gue di sini juga suka gak di anggap ada." Rara Dengan cepat meraih kunci motornya.


"Haha... Iya iya. Terserah kamu aja, yang lama juga gak apa-apa." Adelia mencoba menggoda Rara.


"Waah... Lu parah Del, Itu ngusir gue secara halus ya.." Rara sedikit marah.


"Haha... Enggak, gue cuma becanda koq, ya udah sana. Jangan cemberut gitu Cantik nya ilang Loh." Adelia tertawa dengan menggandeng tangan Rara.


"Iya Gue pamit." Rara pun keluar dengan mulai menaiki motornya.


Tak lama Martin datang dan menghentikan mobilnya. Rara melihat Martin datang dengan berteriak.


"Tuh Princess lu. Udah nunggu. Dah kangen katanya." Teriak Rara dengan mulai meninggalkan halaman Ruko.


Martin pun mendengarnya dengan tersenyum, dan iapun mulai turun dari mobilnya. Mulai bergegas melangkah masuk ke Pintu Toko yang terbuka.


Terlihat Adelia yang sedang berbaring di Sofa panjang dengan anteng bermain ponsel. Martin yang suka jahil, ia mendekat melangkah dengan tanpa suara.


Martin setelah dekat, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Adelia yang terbaring.


"Aaaahhh........." Teriak Adelia kaget, karena Ada seseorang yang menindih dari atas tubuh nya.

__ADS_1


"Hahahaaa..... Kaget yaa..?." Tanya Martin dengan tubuhnya masih di atas tubuh Adelia.


"Iih kamu ya ngagetin aja. Turun cepat, aku berat tahu." Perintah Adelia yang merasa berat akan tubuh Martin yang di atasnya.


"Sebentar. Itung-itung ini latihan buat kita, sebelum kita nikah." Goda Martin.


Adelia pun melotot dengan ucapan Martin yang ucapan nya mengarah ke arah sana.


"Martiiiin......." Teriak Adelia, saat Martin mulai mencoba menciumi leher Adelia.


Martin pun terus anteng, menciumi leher milik Adelia, dengan sesekali ia mencium bibir Adelia. Adelia yang sensitif akan sentuhan Martin akhirnya terdiam pasrah. Malah kini tangan nya ia lingkaran ke tubuh Martin. Dengan sikap pasrah Adelia, Martin pun tersenyum. Ia telah berhasil memberi sentuhan yang membuat Adelia diam.


Martin pun bangkit bangun dari posisinya yang menindih tubuh Adelia. Dan melepaskan ciuman nya. Sungguh Martin memang jahil, di saat Adelia merasakan tubuhnya seperti tersengat Aliran listrik dengan cepat ia menyudahi aksinya. Adelia pun bangkit duduk dengan jengkel.


"Aku haus..." Ucap Martin dengan mengambil botol minum yang sudah terbuka segel nya.


"Jangan yang itu. Itu bekas Rima." Cegah Adelia Agar Martin tidak meminum minuman bekas Rima.


Martin pun dengan cepat menyimpan botol tersebut, dengan menatap Adelia.


"Rima ke sini?." Tanya nya.


"Iya, ada Tiga puluh menitan yang lalu ia baru pulang." Jawab Adelia.


Martin pun terdiam, lalu meraih botol minum yang belum terbuka segel nya. Martin pun meneguk minuman nya.


"Aku senang Rima dengan cepat kembali. Jadi pernikahan kita nanti ia dapat menyaksikan nya." Ucap Adelia senang, dengan mulai membaringkan kepalanya di bahu Martin.


Martin mendengar Adelia dengan diam. Ia mengingat Rima yang tadi pagi meringis kesakitan ketika berjalan, dan ketika Tante Meli bertanya, Rima malah menatap Martin dengan sedih. Dan terpikir akan semalam Martin yang sedang mabuk. Martin takut sesuatu telah terjadi antara dirinya dan Rima.


"Martin... kenapa kamu terdiam?." Tanya Adelia dengan mendongak ke atas. Karena Adelia masih menempelkan kepala nya di bahu Martin.


"Ah iya. Maaf aku sedikit mengantuk." Martin beralasan.


"Kamu ngantuk?." Tanya Adelia lagi.


Martin pun mengangguk, dan kini Adelia ia tarik ke dalam pelukan nya. Martin peluk Adelia dengan lembut, dengan mengusap-usap rambut Adelia. Adelia pun membalas pelukan Martin dengan hangat.


"Kalau kamu ngantuk, tidur aja." Kata Adelia yang masih di peluk Martin.


"Tapi tidurnya sama kamu." Martin dengan terpejam, yang tangan nya masih memeluk Adelia.


"Hihh...." Adelia mencubit pinggang Martin gemas.


Martin pun kaget hingga matanya yang terpejam kini berubah melotot.


"Hei, kebiasaan yaa... cubit-cubit. Sakit tahu..." Martin dengan mengusap-usap bekas cubitan Adelia di pinggang nya.


"Lagian kamu. Bicara asal mangap aja." Ucap Adelia yang kini tengah duduk di samping Martin.


Martin seketika tertawa.


"Sayang, ya kalau bicara pasti mangap lah. coba aja kamu bicara, mulutnya di rapetin bisa gak?." Martin malah memberikan ide konyol.


Adelia pun mengerucutkan bibirnya, kesal sama Martin. Bisa saja Martin mengkarifikasi ucapan nya.


"Hahaa.. Bisa gak?." Tanya nya.


Adelia pun menggelengkan kepalanya.


Martin pun tertawa, dengan mecolokkan jari telunjuk nya ke pipi Adelia.


"Ayo, lesung pipi mu tampak kan." Martin dengan menekan kan jari telunjuk nya di pipi Adelia. Menyuruh Agar Adelia tersenyum.


Adelia pun menurut, ia tersenyum semanis mungkin di hadapan Martin.


Dan Martin pun tersenyum.


"Puas?." Tanya Adelia setelah ia tersenyum.


"Puas bagaimana, aku belum mencapai ******* sayang. Pemanasan aja belum." Martin menjawab dengan seenaknya saja yang membuat Adelia kesal dan gemas.


Adelia pun memukuli lengan Martin dengan bertubi-tubi. Ia gemas akan perkataan Martin yang selalu menjurus ke arah ranjang.


Martin terus tertawa yang terus di pukuli Adelia. Pukulan Adelia pun terhenti kala tangan nya yang merasa lelah dan sakit.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2