You Are My Mine

You Are My Mine
Di Dapur.


__ADS_3

Adelia membuka kan kedua mata nya yang terpejam , dengan nafas yang masih tersengal. Ia melihat wajah tampan Yuda yang masih berjarak dekat karena memang kening kedua nya masih menempel.


Yuda matanya terbelalak saat ia membuka mata, terlihat Adelia sedang menatap nya. Yuda pun perlahan memberikan jarak, dengan tangan nya masih berada di pinggang Adelia.


Yuda tersenyum melihat Adelia yang sedang menatap nya, begitupun Adelia ia tersenyum di tambah rasa malu, Adelia dengan sadar memeluk dan mencium Yuda duluan. Suara mikser membuat Adelia teringat akan kegiatan nya. Cepat-cepat Adelia fokus kembali dengan mulai memasukan margarin dan tepung ke dalam Mikser. Yuda terdiam memperhatikan setiap gerak-gerik Adelia, Detak jantung nya masih terpompa begitu cepat sisa ciuman barusan.


Yuda duduk kembali ke kursi dengan meminum air putih yang berada di meja. Setelah merasa tenang. Yuda kembali memperhatikan Adelia dan berdiri di dekatnya.


"Maaf." Yuda mengatakan kata Maaf kepada Adelia. Adelia pun menoleh dengan raut wajah tak mengerti akan kata Maaf yang yuda ucapkan.


"Maaf permintaan ku sungguh aneh." Yuda melanjutkan ucapan nya setelah Adelia menatap kepada dirinya.


"Sudah Tak apa Yuda. Aku hanya bisa melakukan itu yang aku bisa." Adelia merasa tak masalah dengan permintaan Yuda tadi yang meminta Adelia memeluk dan mencium nya.


"Padahal aku tadi bercanda Del, enggak serius. Tapi gak apa-apa deh aku senang. Sungguh aku tak menyangka kamu akan melakukan nya. Kalau bisa sering-sering yaa...." Yuda mulai berkata santai kembali, dengan mulai menggoda Adelia.


Wajah Adelia menjadi merah merona akan perkataan Yuda, terlintas ingatan barusan dengan sadar Adelia memeluk dan mencium Yuda.


"Yuda udah. Aku malu...." Adelia pipinya bersemu merah.


"Aku tak tahu kamu bercanda atau tidak. Yang aku lakukan cara ku untuk membalas budi kepada mu. Itu yang terlintas di pikiran ku. Lalu yang membuat ciuman lama kamu sendiri."


Yuda terkekeh gemas kepada gadis yang di hadapan nya.


"Ya, emang aku sengaja memperdalam nya. Lagian kamu juga gak nolak."


Adelia malu dan geram, tangan nya terangkat ingin memukul lengan Yuda yang kekar. Sungguh Adelia malu terus di goda Yuda seperti itu.


"Auw... Sakit Del." Yuda pura-pura kesakitan dengan mengusap-usap lengan nya.


"Bodo." Ketus Adelia membuat Yuda tergelak tawa, sungguh Yuda gemas kepada Adelia.


Kemudian Yuda menoel sisa tepung di plastik lalu ia oleskan ke hidung Adelia.


Mata Adelia melotot akan kejahilan Yuda, Adelia pun tak mau kalah, ia membalas kembali menoel tepung dan di oleskan ke pipi Yuda. Seketika Adelia pun tertawa melihat wajah Tampan Yuda berbalut tepung.


Yuda pun mendekat seperti ingin membalas kembali, Adelia dengan cepat menghindar dengan memundurkan tubuhnya dengan suara yang masih tertawa. Tubuh Adelia mentok di tembok, dengan cepat Yuda mengunci pergerakan tubuh Adelia. Tawa Adelia pun terhenti kala melihat Tangan kanan kiri Yuda mengunci di sisi kiri kanan nya. Namun Mata Yuda menatap Serius wajah Adelia. Sungguh seketika Adelia di buat gugup akan tatapan Yuda yang seperti memindai wajah Adelia.


"Yuda, kam... Hempt....." Kata kata Adelia terpotong karena Yuda sudah menutup mulut Adelia dengan bibirnya. Adelia pun melotot namun tidak menolak, ia membiarkan Yuda mencium bibirnya. Mata Adelia mulai terpejam, Yuda pun dengan cepat memperdalam ciuman nya, lidah nya terjulur untuk membuat mulut Adelia terbuka, Adelia pun membuka sedikit mulutnya hingga lidah milik Yuda pun bertemu dan berbelit dengan lidah milik Adelia.


Sudah serasa ke habisan nafas, Yuda melepaskan ciuman nya dengan tangan nya yang masih mengungkung tubuh Adelia di tembok.


Lidah Adelia terasa kelu, ketika ingin berucap. Di karenakan Wajah Yuda yang begitu dekat dengan wajah nya.


"Aku mencintai mu Adelia." Yuda mengucapkan kata cinta yang kedua kalinya di hadapan Adelia.


Adelia terdiam, sungguh bingung.


Hingga Adelia tidak memberi jawaban apapun kepada Yuda.


Yuda pun melangkah pergi ke dalam kamar nya, meninggalkan Adelia sendiri di dapur.


"Sungguh serumah dengan gadis yang aku cintai membuat aku gila. Aku tidak bisa mengontrol Hasrat cinta ku terlalu lama.


Semoga Adelia mengerti itu."


*Batin Yuda.


Yuda merutuki dirinya yang tadi telah berani mencium Adelia. Kini ia berbaring di atas ranjang, dan mulai terlelap tidur.


Adelia yang masih terdiam dengan berdiri di sudut tembok. Buyar. Ia lupa bahwa dirinya sedang membuat adonan kue.


Yuda... Kamu mengganggu aktivitas ku.


Adelia mulai memasuki cocoa bubuk, untuk perisa coklat, setelah selesai ia masukan kedalam loyang persegi lalu Adelia oven.

__ADS_1


Setelah matang Adelia merias Kue berbentuk persegi itu dengan riasan yang begitu cantik.


Hingga Sinar mentari pagi mulai menyinari kaca jendela kaca Dapur itu.


"Seperti nya sudah pagi." Adelia berbicara sendiri.


"Aku mau mandi terlebih dahulu. Sebelum aku terlambat mengantarkan kue pesanan."


Adelia pun masuk ke dalam kamar, dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Hoaaam...." Rara terbangun dengan menguap. Ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran ranjang.


Terlihat Adelia yang keluar dari kamar mandi, dengan sudah memakai pakaian rapi.


"Ra... Maaf aku tinggal dulu ya. Aku mau nganterin pesanan kue." Adelia dengan menyisir rambutnya.


"Gue anter..." Rara menawarkan diri untuk mengantar Adelia.


"Tidak perlu. Lagian pesanan nya cuma satu biji koq. Mending kamu jagain kedai minuman aja dulu sebelum aku pulang." Tolak Adelia dengan menyuruh Rara untuk menjaga kedai minuman miliknya, sebelum ia kembali.


Rara pun mengangguk. "Ya sudah gue mandi dulu." Rara dengan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia pun setelah cukup dengan penampilan nya yang terlihat di cermin. Adelia meraih tas selempangnya, lalu memakai sepatu sneakers milik nya.


Rarapun keluar dari kamar mandi. Melihat penampilan Adelia yang seperti sudah siap untuk berangkat.


Kemudian Adelia dan Rara keluar kamar bersamaan. Setelah di dapur Rara mengedarkan pandangan nya untuk mencari keberadaan Yuda, yang biasa nya sudah terduduk di kursi meja makan.


"Yuda belum bangun?." Tanya Rara setelah tidak menemukan Yuda di dapur.


Adelia menggeleng menjawabnya.


Mungkin Dia sedang bermimpi indah Ra. Dia tadi telah menggoda dan mencium ku sebelum tidur.


Adelia mulai memasukan Kue Tar itu kedalam Kardus kemasan, Lalu memasukkan ke dalam Paper bag. "Aku berangkat sekarang ya." Pamit Adelia.


"Loh kamu gak mau sarapan dulu?." Tanya Rara yang sedang hendak ingin sarapan Roti tawar.


"Tidak Nanti saja. Seperti nya aku sebentar koq. Tidak lama. Nanti bilang ke Yuda aku sedang pergi mengantar pesanan ya...."


Rara pun mengangguk dengan mulutnya sudah terpenuhi Roti tawar.


Adelia pun bergegas pergi keluar, berjalan menyusuri jalan kecil. Dan berniat untuk naik ojek. Terlihat Motor melintasi Adelia. Adelia pun dengan cepat memberhentikan tukang ojek tersebut.


"Bang Ojek?." Tanya Adelia, setelah Abang Ojek itu memberhentikan motornya tepat di depan Adelia.


"Iya neng. Neng mau naik ojek?." Jawab Tukang ojek. Lalu bertanya kepada Adelia.


"Iya Bang. Anterin saya ke alamat ini." Adelia dengan memperlihatkan catatan kertas kecil yang berisi alamat yang di tuju nya.


"Baik neng."


Adelia mulai naik ojek tersebut dengan sudah memakai Helm milik si abang ojek.


Setelah agak jauh perjalanan, Si Abang Ojek mengajak ngobrol Adelia.


"Neng yakin mau pergi kesana?."


Adelia mengerutkan dahi nya karena tidak mengerti dengan pertanyaan Tukang Ojek itu.


"Saya yakin Bang. Saya kesana hanya ingin mengantarkan pesanan." Jawab Adelia.


"Neng belum tahu alamat itu?." Tanya Abang Ojek Lagi.


"Ya kalau saya tahu. Tidak mungkin menunjukkan kertas tadi ke abang untuk menuju Alamat di kertas itu." Jawab Adelia lagi.

__ADS_1


Si Abang Ojek pun terdiam tidak bersuara kembali. Adelia melihat Jalanan yang sekarang di lewati begitu sepi. Sekeliling nya dipenuhi Perkebunan Pohon Karet. Tidak terlihat Ada Perkampungan atau Rumah sedikit pun. Adelia kini paham atas pertanyaan Abang Ojek tadi, mungkin karena jalanan yang sepi seperti ini Pikirnya.


Abang Ojek menghentikan laju motor nya.


"Neng saya nganter nya sampai sini aja ya...."


"Loh, emang masih jauh lagi bang?." Tanya Adelia dengan berwajah heran.


"Sebentar lagi sih Neng, Cuma saya takut jika melintasi atau sengaja berhenti di markas depan." Kata Si Abang Ojek yang seperti ketakutan.


"Ya sudah. Tapi Abang tunggu sini ya. Saya tidak lama." Adelia berpesan kepada Tukang Ojek itu untuk menunggu nya karena memang Adelia tidak akan lama, ia hanya mengantarkan pesanan kue nya saja.


"I-iya Neng." Abang Ojek itu seperti ketakutan.


Adelia pun berjalan melangkah ke arah depan jalan, Terlihat ada Rumah sederhana di sana yang hanya ada satu. Tanpa Ada Rumah yang lain. Adelia mengedarkan ke samping kiri kanan nya, terlihat sepi tanpa ada rumah lain di tempat itu.


Apa mungkin ini rumah nya?.


Tapi koq aneh sekali, rumah nya di tempat ini hanya ada satu. Terus sepertinya sepi sekali.


Adelia berbicara dalam hatinya, seperti ragu untuk melangkah lagi mendekati rumah tersebut. Tiba-Tiba Pintu rumah itu terbuka, Keluar seorang Pria yang kemarin menurut Adelia.


Iya itu benar orang nya.


Adelia mempercepat langkah kaki nya hendak mendekat kepada Pria tinggi dengan lengan nya yang penuh Tato tersebut.


"Permisi Mas. Saya mau mengantar pesanan kue, yang Mas Pesan kemarin." Adelia setelah dekat.


Gak Gua sangka. Ini Cewek sudah datang saja ke sini. Dia datang Tanpa Mencurigai ku.


Pria itu bergumam di dalam hatinya, dengan menatap menyelidik Adelia.


"Ayo masuk." Pria itu mengajak Adelia untuk masuk kedalam rumah sederhana nya.


"Maaf tidak perlu. Saya tidak lama. Ini Kue nya." Adelia dengan cepat tangan nya menyerahkan Kue yang di jinjing nya sedari tadi.


Pria itu pun menerima Paper bag yang di serahkan Adelia.


Kemudian Terlihat keluar dua orang Pria bertubuh Kekar dari dalam rumah yang merupakan teman Gang Juana tersebut.


Adelia merasa ganjil dengan penglihatan nya di sekitaran sini. Seperti bertemu dengan para pembunuh, yang terlihat tubuh Pria tersebut berbadan Kekar dan berwajah seram.


Adelia kini benar-benar paham akan pertanyaan Si abang ojek tadi yang kini tengah menunggu nya.


Jadi apa karena orang-orang ini yang menyeramkan yang sempat Tukang ojek tadi meyakinkan ku untuk datang kesini??.


"Saya undur pamit. Terima kasih Mas telah mau pesan kue dari saya." Adelia dengan cepat melangkah pergi.


Tanpa sepengetahuan Adelia, Dua Pria kekar yang baru saja keluar langsung menghalau langkah Adelia.


"Kamu mau kemana cantik?." Tanya salah satu pria itu.


"Sa-Saya ma-mau pulang." Adelia ketakutan melihat kedua pria itu menghalangi langkahnya.


Tanpa Adelia ketahui, Pria yang bernama Juana, Membius Adelia dengan menggunakan sapu tangan nya.


Dan Tanpa Mereka duga Si Abang Ojek yang merasa menunggu lama, mengintip dari Ujung jalan melihat Adelia yang di bius dan di bawa masuk ke dalam rumah tersebut.


Si Abang Ojek, melangkah menuju motor nya dengan bergetar. Ia sungguh ketakutan dengan apa yang Ia lihat.


Maafin Saya neng. Saya tidak bisa menolong. Saya sungguh takut, Saya tidak mau anak istri saya kehilangan saya dengan cepat.


Abang Ojek dengan tubuh bergetar berbicara dalam hatinya, setelah berhasil menstater motornya Ia pun cepat menancap gas nya. Melajukan motornya dengan kencang, karena takut dari Salah satu orang tadi melihat Ia di sekitaran tempat itu.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2