You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 53.


__ADS_3

Kevin dan Serly masih berada di belakang pilar saat seseorang melangkah ke lorong buntu tersebut. Di saat seperti itu kesempatan bagi Kevin untuk memeluk tubuh Serly dengan erat.


Serly berontak. Namun Kevin berbisik untuk Serly agar tenang.


"Please Ser! diamlah!" bisiknya.


Serly mendongak. Lalu Kevin menunduk. Sehingga Begitu jelas wajah Kevin terlihat oleh Serly di saat berdekatan seperti itu.


Mata Serly dan Kevin saling menatap. Menyelami sorot mata masing-masing dengan dalam.


"Tadi Serly di sini aku tinggali kak," suara Kikan terdengar di telinga Serly dan Kevin.


Membuat Serly ingin terlepas dari pelukan Kevin. Namun, Kevin memeluk tubuh Serly dengan erat.


"Jangan bergerak. Nanti dia lihat!" bisik Kevin lagi.


"Terima kasih. Mungkin, Serly sudah ke arah depan," kata Dido kepada Kikan.


Dido tadi kebetulan berpapasan dengan Kikan. Lalu bertanya tentang keberadaan Serly. Dan Kikan langsung menunjukkan langsung ke tempat dimana tadi dirinya bersama Serly.


"Ah iya mungkin. Soalnya tadi dengar dia manggil aku juga sih. Tapi aku terburu-buru," ucap Kikan mengingat saat tadi Serly memanggilnya. Hanya dirinya tergesa melangkah untuk menemui ibunya. Namun, malah bertemu Dido dan menanyakan tentang Serly.


"Ya sudah. Aku pamit," kata Dido kemudian berlalu.


Kini hanya Kikan di tempat itu. Setelah ingatannya kembali akan niatnya, Kikan langsung bergegas lari dari lorong buntu tersebut.


Kevin dan Serly akhirnya merasa lega. Namun masih saling menatap di balik Pilar tersebut.


"Vin aku mau pulang," ujar Serly yang merasa risih sejak tadi Kevin memeluk tubuhnya terus.


Kevin tersenyum samar, "Kenapa terburu-buru?"


Serly melepaskan tubuhnya secara paksa. Sehingga pelukan yang Kevin berikan terlerai.


"Kenapa kamu jadi begini Vin?" tanya Serly yang merasa aneh dengan sikap Kevin menjadi lancang menyentuh dirinya.


Kevin tersenyum lalu kedua tangannya mengungkung tubuh Serly yang berdiri di balik Pilar.


"Aku begini karena kamu Ser,"


Serly merasa was-was dengan yang Kevin lakukan saat ini. Wajah Kevin semakin mendekat. Hingga terasa hembusan nafas Kevin menerpa wajah Serly.


"Vin menjauhlah! ini terlalu dekat!" Serly saraya tidak berani menatap Kevin yang begitu dekat dengan wajahnya. Serly berucap dengan menunduk.

__ADS_1


"Kenapa?" Kevin mengangkat dagu Serly. "Bukannya, kamu sudah melakukan lebih dari ini dengan Kak Dido?" sindir Kevin mengingat hal yang tadi ia dengar.


Serly melotot. Tidak ia duga Kevin mendengar semuanya.


"Aku menyesal saat itu. Jika aku yang membawamu pergi. Bisa kemungkinan aku yang mendapatkan sentuhan tubuhmu. Atau kita akan saling menyentuh. Namun, ternyata bukan aku yang mendapatkan. Melainkan Kak Dido," Kevin dengan menatap Serly intens.


Serly tertegun. Sebesar itukah keinginan Kevin untuk memilikinya. Walau sudah Serly tolak berkali-kali, tapi cinta Kevin masih terlihat besar dari sorot matanya saat ini Serly lihat.


"Vin itu bukan kehendak ku. Aku dan Kak Dido sama-sama menjadi korban. Kak Dido sudah bersikeras menjauh dan menolak serangan ku saat itu. Tapi pengaruh obat itu terlalu kuat. Membuat aku kehilangan rasa malu dan kesadaran," Serly bukan membela Dido. Namun Serly mengatakan yang sebenarnya. Serly berperan besar dalam hal itu padahal Dido sudah melarang dan menahan.


Kevin tersenyum miring, "Kamu percaya jika kak Dido menjauh dan menolak? tapi aku tidak. Aku akui aku lelaki normal. Pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang akan datang kembali, bisa jadi kak Dido juga seperti itu,"


Serly terdiam merasa termakan oleh ucapan Kevin. Tapi walau Serly akan marah saat ini. Itu tidak tepat. Karena semuanya sudah terjadi dan tak akan kembali seperti semula.


"Sudahlah jangan bahas soal itu. Sekarang aku ingin pulang. Singkirkan tangan mu, Vin!"


Kevin tidak menurut. Malah semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Serly.


"Vin ini terlalu de- mmm"


Ucapan Serly terpotong. Karena bibir Serly sudah lebih dulu Kevin bungkam dengan bibirnya. Bahkan tangan Kevin meraih tengkuk Serly agar ciumannya semakin dalam.


Tubuh Serly menegang. Tangannya mendorong dada Kevin. Membuat ciuman itu terlepas.


"Kenapa kamu lakukan ini Vin?" lirih Serly yang tidak pernah menyangka Kevin akan menciumnya.


Kevin mengelap bekas sisa saliva di bibirnya menggunakan ibu jari, dengan terus menatap ke arah Serly.


"Maaf! aku hanya meminta itu sebelum kamu benar-benar di miliki orang lain. Aku berikan ciuman dan pelukan pertama ku untukmu!"


Serly kembali tertegun atas ucapan Kevin. Walau ada rasa marah. Tapi Serly merasa tersentuh dengan niatan Kevin yang melepaskan sentuhan bibirnya untuk Serly.


"Sekarang kamu boleh membenci aku!" ujar Kevin kemudian berlalu meninggalkan Serly.


Serly terus menatap punggung Kevin hingga tiada terlihat. Kini Serly terduduk dengan perasaan tak menentu. Ada Rasa marah pada Kevin. Rasa kasihan juga ada.


"Ya Ampun sayang ... aku cari-cari kamu," suara Dido membuyarkan lamunan Serly.


Serly menatap Dido yang kini berjongkok menatap dirinya.


"Sayang kamu sakit? wajahmu merah seperti demam!" Dido kemudian menempelkan telapak tangannya menyentuh kening Serly.


"Tapi tidak panas," kata Dido kemudian.

__ADS_1


Serly menggeleng, "Aku tidak apa-apa kak,"


"Lalu tadi kamu kemana? kakak cari di sini tidak ada," tanya Dido yang ingat saat Serly tidak berada di tempat tersebut.


"Aku dari toilet kak. Lalu aku kembali duduk di sini. Di sini suasananya nyaman tidak berisik," jawab Serly bersikap santai seakan tidak ada terjadi sesuatu di tempat itu.


Dido manggut-manggut, "Ya sudah sekarang kita pulang yuk!" tangan Dido terulur untuk di raih tangan Serly.


Serly menurut. Dan kini Serly berjalan dengan tangan saling menggenggam bersama Dido.


"Kak," panggil Serly saat berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Apa sayang?" sahut Dido bertanya.


Serly tersenyum. Merasa senang mendengar Dido yang kini selalu memanggilnya dengan kata Sayang.


"Siapa yang nyebarin undangan acara tunangan kita?"


Dido menggeleng, "Kakak juga gak tahu. Teman sekelas kakak juga mendapat undangan. Apa di kelasmu dapat undangan juga?"


"Iya. Dan aku menjadi bahan perhatian mereka sehari ini,"


Langkah keduanya kini sampai di parkiran Kampus. Dido dengan cepat menyerahkan helm kepada Serly.


"Gak apa-apa. Biarkanlah teman-teman kita datang," ucap Dido yang seraya memakai helm.


Serly akhirnya terdiam. Merasa mau bertanya lebih. Tapi terlihat Dido tidak tahu sama sekali tentang perihal undangan tersebut.


Dido langsung menancapkan gas motor miliknya. Meninggalkan area Kampus.


"Kak, kenapa ke sini?" tanya Serly saat merasa jalan yang Dido lewati bukan ke arah jalan rumahnya.


"Kita ke suatu tempat dulu," sahut Dido tanpa menjelaskan.


Serly menautkan alisnya merasa bingung. Sementara Dido tetap fokus mengendarai motornya.


"Ayo!" ajak Dido saat laju motornya henti dan di parkir di area parkiran Pemakaman umum.


Serly akhirnya paham. Dido tengah mengajak dirinya untuk berziarah ke makam Ibundanya.


"Aku akan kenalkan kamu kepada Bunda," ujar Dido yang berjalan mendahului Serly.


...***...

__ADS_1


__ADS_2