
Adelia kembali menekuk wajahnya merasa kesal. Karena Albi hanya memujinya dengan singkat dan padat. Bahkan Albi tidak menyadari Adelia yang sedang kesal itu.
"Sekarang kita berangkat," ajak Albi kepada kedua temannya.
"Ayo! eh, Arumi ... makasih ya, sarapan nya sungguh spesial," celetuk Arman.
"Iya. Masakan mu. Sungguh luar biasa. Kalau bisa, nanti Malam aku mau makan masakan mu lagi," sahut Dirga.
Mereka sengaja menggoda Adelia di hadapan Albi. Karena Albi sudah menahan kesal kepada mereka sedari tadi, yang terlihat oleh Arman dan Dirga.
"Iya. Nanti aku masakin lagi, hati-hati ya kalian kerjanya," kata Adelia dengan sengaja perhatian kepada Arman dan Dirga.
Albi melirik Adelia, "Apa kamu, tidak akan memberikan perhatian, kepada suami mu?" tanya Albi merasa kesal, karena Arman dan Dirga di perhatikan oleh Adelia.
Adelia tersenyum sinis, "Mas mau diperhatikan juga? Hati-hati!!" ucapnya ketus.
Arman dan Dirga, memperhatikan Albi dan Adelia dengan terkekeh. Merasa lucu dengan Adelia yang sedang kesal kepada Albi.
Albi menatap tajam kepada kedua temannya itu yang sedang terkekeh. Dan memberi isyarat untuk meninggalkan dirinya terlebih dahulu kepada Arman dan Dirga.
"Arumi, kenapa kamu ketus begitu?" tanya nya setelah Dirga dan Arman pergi meninggalkan dapur.
"Emang kenapa?" sahut Adelia dengan menatap tajam kepada Albi.
Albi menghela nafas, merasa harus bersabar ekstra menghadapi wanita di depannya ini. Albi paham bahwa Adelia saat ini sedang tengah kesal kepada dirinya. Namun, Albi tidak menyadari apa yang membuat Adelia kesal.
"Kamu kesal, marah, sama aku? karena apa?" tanya Albi dengan memegang tangan Adelia.
"Sudah sana berangkat. Nanti kamu kesiangan, dan kamu nanti di pecat!" ucap Adelia menyuruh Albi cepat pergi. Dan Adelia melepas genggaman tangannya dari Albi.
Shitttt... Albi sabar, sabar, sabar!!!
"Ya sudah, aku berangkat. Kamu hati-hati di rumah. Nanti, akan ada datang pelayan untuk membersihkan rumah," ucap Albi dengan mengacak rambut Adelia. Lalu Albi melangkah.
"Mas ...."
Langkah Albi terhenti, kemudian menoleh ke arah Adelia yang sedang berlari kecil. Adelia meraih tangan Albi dan menciumnya dengan takzim, membuat Albi merasa terharu bahkan hatinya menghangat.
"Hati-hati ya Mas, kerjanya!" ucap Adelia trsenyum setelah selesai mencium tangan Albi.
Albi sungguh merasa di hargai sebagai lelaki, bahkan seakan menjadi seorang suami yang sesungguhnya di hadapan Adelia. Albi menarik tubuh Adelia, lalu memeluk bahkan mendekap Adelia, dengan sesekali Albi mencium pucuk kepala Adelia.
Oh Tuhan. Apakah seperti ini jika aku menjadi suami sesungguhnya. Batin Albi terharu.
"Mas, aku sesak," ucap Adelia, dan membuat Albi merenggangkan pelukannya.
"Maaf, Sayang" kata Albi tanpa sadar.
Adelia tersenyum, karena baru kali ini Albi memanggilnya dengan kata sayang.
"Aku pergi sekarang ya," pamit Albi, dan Adelia mengangguk.
Adelia mengantar kepergian Albi hingga depan teras rumah. Albi terus tersenyum dengan melirik Adelia yang masih berdiri mengantar kepergiannya itu. Sampai Mobil Albi keluar dari gerbang. Adelia teru memperhatikannya.
__ADS_1
"Bro, elu serasa jadi suami benaran ya?" tanya Dirga memperhatikan Albi tersenyum.
Mereka pergi ke tempat kerja dengan satu mobil, Arman yang menyetirnya.
"Beneran Gue merasakan nya, begitu," ucap Albi.
"Gimana rencana lu selanjutnya?" kini Arman yang menyetir bersuara.
"Ya, mengikuti alur saja. Gak ada rencana apa-apa lagi," sahut Albi dengan menatap ke arah jendela mobil.
Dirga mengerutkan keningnya merasa heran akan ucapan Albi, "Lu gak mau gitu, bawa Arumi untuk terapi yang di katakan elu waktu itu,"
Albi menggeleng, "Nanti saja, setelah Arumi hamilnya besar. Aku takut jika di lakukan sekarang, Arumi pusing dan menjadi setress. Lalu kehamilannya terganggu," ucapnya.
Aku gak akan lakukan itu. Aku takut kehilangan Arumi. tambah Albi berucap dalam hatinya.
Tak lama, mobil yang di kendarai Arman masuk kedalam sebuah gerbang gedung tinggi yang mempunyai enam lantai.
Gedung tersebut merupakan cabang perusahaan yang Albi kelola, dengan berpusat di Kota M, kota kelahirannya. Perusahaan Albi bergerak pada cabang Tekstil, Batu bara, dan Kontruksi. Dengan nama Perusahaan nya Albian Company. Sedangkan Perusahaan pusatnya bernama Syaputra Grup yang merupakan Ayah Albi yang mengelola, beserta saudaranya.
Albi berkedudukan sebagai Presedir, dan Arman sebagai Asisten Presedir, di tambah Dirga sebagai Sekretarisnya. Selama mereka berlibur, pekerjaan masih terpantau melalui Gadget yang bawahannya laporkan lewat email.
Mereka bertiga mulai keluar, dengan Albi keluar di bukakan pintunya terlebih dahulu oleh sang Sekretaris Dirga. Mereka berjalan dengan serius. Hingga masuk lift, Dirga yang memencetkan tombolnya.
Setelah berada di lantai paling atas yang merupakan ruangan-ruangan mereka. Albi masuk kedalam ruangannya, begitupula Arman, dan Dirga masuk kedalam ruangannya masing-masing.
"Kenapa aku ingin cepat-cepat pulang? padahal, baru saja masuk kerja," gumam Albi.
Entah mengapa bagi Albi saat ini, ia ingin cepat pulang saja. Kehadiran Adelia membuat hati kosong Albi, terisi, dan berwarna.
"Tuan, apa ada sesuatu?" tanya Dirga yang melihat wajah Albi seperti tidak bersemangat.
Begitulah jika Di tempat kerja, Dirga dan Arman memperlakukan Albi sebagai atasannya. Dengan bahasa resmi, dan sopan.
"Iya saya sedang merasa tidak bersemangat," sahut Albi apa adanya.
"Apa anda, teringat dengan istri anda?" tanya Dirga membuat Albi tergelak.
"Kenapa anda malah tergelak, Tuan?" kata Dirga bertanya
"Tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Albi.
"Kalau begitu, saya undur pamit. Permisi!" pamit Dirga dengan membungkukan tubuhnya terlebih dahulu dan keluar dari ruangan Albi.
***
Sementara itu di tempat lain, Rasya baru saja selesai berolah raga pagi. Rasya sengaja mencari kesibukan untuk menepis rasa ingatnya terhadap Adelia yang selalu membuatnya sedih.
Rasya dengan masih memakai singlet, berjalan menuju dapur. Dan terlihat kedua orang tuanya beserta Serly, dan Rara sedang melakukan sarapan pagi.
"Syaa, ayo sarapan dulu," ajak Lia.
Rasya memperhatikan menu masakan di atas meja. Tak ada yang membuat selera makannya menggugah.
__ADS_1
"Aku ingin bakmie ayam, Ma" ucap Rasya lalu meneguk air mineral kemasan.
Lia menggeleng-gelengkan kepala, merasa aneh terhadap putranya itu. Kemarin Rasya menginginkan gudeg, dan sekarang Rasya menginginkan Bakmie ayam.
"Rasya ada apa dengan kamu? kemarin kamu minta gudeg, sekarang kamu ingin bakmie ayam?"
Membuat Hadi, Serly, dan Rara menghentikan aktivitas makannya, dan menoleh kepada Lia yang sedang berbicara serius kepada putranya itu.
"Iya Ma, aku juga aneh. Lihat menu makanan yang di meja, selera makan ku tak ada," ujar Rasya.
Ini aneh sekali, Rasya seperti masih saja mengidam seperti saat itu. Tapi kan, Adelia sudah tiada. Bagaimana Rasya masih tetap mengidam?. Batin Lia berbicara merasa aneh dengan Putranya.
"Rasya, apa kamu mau bekerja kembali di perusahaan Papa?" tanya Hadi mengalihkan pembicaraan serius antara Lia dan Rasya.
Rasya terdiam, sebenarnya ia merasa enggan untuk kembali bekerja di perusahaan Papa nya itu.
"Nanti saja Pah, saat ini Rasya belum bersedia," jawab Rasya.
Hadi menghela nafas, ia tidak akan memaksa Rasya yang belum bersedia bekerja di Perusahaan nya.
"Baiklah. Kalau kamu sudah bersedia, cepat katakan kepada Papa!," kata Hadi. Kemudian melakukan Sarapan nya kembali.
Rasya meninggalkan ruang dapur, dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Rasya akan mandi terlebih dahulu, dan setelah itu Rasya akan keluar untuk mencari makanan yang tengah di inginkannya itu.
Hingga selang beberapa lama, Rasya sudah berpakaian rapih. Lalu meraih kunci mobil beserta dompet. Rasya menuruni anak tangga, bergegas turun untuk menuju mobilnya.
"Rasya, kamu sudah rapih mau kemana?" tanya Lia saat berpapasan dengan Rasya di ruang tengah.
"Mau cari Bakmie," jawab Rasya dengan tersenyum.
"Lebih baik kamu pesan online saja, Nak" titah Lia.
"Enggak Ma. Aku ingin sekalian mencari udara segar," sahut Rasya.
"Ya sudah. Hati-hati, jangan ngebut, dan jangan ngelamun," pesan Lia.
"Iya Mama tersayang. Rasya anak tampan mu ini mau pergi ya, good bye Mamy," kata Rasya dan pergi berlalu.
Kemudian Rasya berlari kecil menuju halaman rumahnya, yang dimana mobil Rasya terparkir. Rasya pun mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya keluar mulai membelah jalanan.
"Dimana ya, bakmie yang enak?" ucap Rasya bermonolog.
Rasya teringat akan para pedagang yang berjualan, dengan berbagai macam makanan. Dan tempatnya itu di Alun-alun kota. Rasya tersenyum saat mengingat jenis-jenis makanan yang berjualan di Alun-alun kota itu.
"Aku sakalian beli seblak, em ... sama batagor, dan cilor," ucap Rasya.
Setelah sadar akan ucapannya yang mengatakan ingin berbagai makanan. Rasya akhirnya tergelak, merasa lucu, bahkan aneh pada dirinya sendiri.
"Rasya, kamu aneh. Makanan yang tak pernah kamu sukai dahulu, sekarang kamu menginginkan nya," ucap Rasya dengan masih tergelak. Tangan nya yang menyetir, dengan pandangan fokus ke jalanan.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1
Ajak Bikin seblak aja si Rasya nya, Readers!!
😁😁